Warna Pelangi Cinta
Rahasia Pemilik HP
”Ayo pulang,” Faza memberesi buku-bukunya. Lama menunggu rapat TDB, sambil mencoret-coret konsep untuk kegiatan Ghuroba ke depannya. Hafidz di sebelahnya masih menekuri Al-Quran, membacanya pelan karena takut mengganggu konsentrasi Faza. Setelah menceritakan kisahnya, hatinya sedikit terasa lapang. Ternyata hidup ini memang tidak sendiri, masih banyak saudara-saudara. Hanya dalam ingatannya masih teringat Zulfa, dimanakah dia kini? Dia hanya ingin melindungi gadis itu selamanya, karena dia yang membuat semuanya hancur.
”Yang terpenting kau harus selalu memohon ampunan pada Allah, menjadikan dirimu terbaik dalam pandangan Allah. Kau harus yakin padaNya, suatu saat Allah akan mempertemukanmu dengan Zulfa Insyaallah,” Faza memegang pundak Hafidz. Matanya menatap teduh saudaranya itu, ”Maukah kau mendengarkan salah satu firman Allah. Kau sudah menghafalnya, tapi kebetulan aku tadi siang mengisi kajian di SMA 3 tentang taubat. Mungkin bermanfaat untukmu,”
”Bacakanlah untukku Kak.”
”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang – orang yang fasik.” (QS. Al-Hadiid : 16). sudah waktunya kita bertobat dan memohon ampun setiap saat kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla akan mengampun dosa-dosamu yang lalu.
Allah melihat dari arsyNya, dari singgasanaNya. Dia melihat kesungguhan taubat seorang hambaNya. Apakah sungguh-sungguh dengan taubatnya atau hanya mempermainkan Allah dan menipuNya. Dan janganlah sekalipun kita merasa bahwa Allah tak mengampuni dosa-dosa kita, sebesar apapun dosa-dosa kita.
”Katakanlah, ’Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya’.” (QS. Az-Zumar : 53-55) itulah Rabb kita yang akan mengampuni dosa-dosa kita.
Dalam masalah taubat, Allah sangat bermurah hati lebih dari urusan rezeki, urusan kematian dan urusan jodoh. Rasulullah saw yang mulia bersabda, ’Sungguh, Allah membentangkan tanganNya setiap malam agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari mau bertaubat. Dan Dia juga membentangkan tanganNya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari mau bertobat.’ (HR Muslim dan Imam Ahmad ). Yakinlah bahwa Allah mengampuni dosa-dosa kita. Kau telah menebus setiap dosa-dosa dengan kedekatanmu menghafal ayat-ayatNya.” Faza menjulurkan jemarinya. Dia mengusap airmata yang sedari tadi tidak surut di wajah bersih Hafidz, terlihat wajah yang lama memendam penyesalan. Guratnya lebih terlihat daripada usianya.
”Jazakallah (terima kasih) Kak,” Hafidz memeluk erat orang yang dianggapnya pengganti sosok Ayah yang pernah memberinya wasiat untuk menjaga Allah di hatinya.
Beberapa saat mereka terdiam, Hafidz sudah bisa lebih tenang.
”Kak Faza kesini ada urusan apa?”
”Agenda rapat Team Dakwah Bersama dengan organisasi yang lain.”
Wajah Hafidz berubah, ”Kakak tidak tahu infonya?”
”Info apa?” wajah Faza keheranan.
”Untuk hari ini, rapat TDB ditunda minggu depan karena ada beberapa agenda di Tajdid, At-Taghyir dan IMM yang tidak bisa ditinggal. Maka rapatnya ditunda. Apa kak Faza tidak mendapat infonya?”
Faza menatap lurus ke samping kiri, menatap ke luar masjid melalui kaca-kaca jendela yang mengelilingi masjid. Alam terbuka, tampak gedung-gedung sekolah dan Perguruan Tinggi berjejer. Matanya menatap keindahan alam, ’Apa hanya karena aku miskin? Aku tak bisa mendapatkan informasi penting seperti ini? Hp butut besarku hanya kuisi pulsa lima ribu perbulan. Aku tak mengeluarkan pulsa jika tidak penting, aku jarang membalas sms yang masuk jika bisa aku jelaskan jika bertemu. Karena itukah mereka tak mau menghubungiku?
Padahal berapa waktu ku menganggur menunggu rapat yang tak jadi. Walau aku yakin Engkau mencatatnya sebagaimana niat, namun waktu itu tetap tak kembali lagi. Aku telah merugi dalam urusan produktifitas waktu ya Allah. Alangkah pentingnya nilai sebuah informasi walau lebih banyak yang menggunakannya untuk maksiat,’ sejak masuk kuliah setelah cuti, hidup Faza harus menghemat untuk kebutuhan kuliah dirinya dan adiknya. Sungguh Faza telah mengikhlaskan segalanya.
”Belum ada yang menginformasikannya padaku Fidz, ya sudah kita pulang saja yuk?” Anggukan Hafidz membuat mereka segera beranjak pulang ke Baitul’ilmi. Meneruskan tugas-tugas dan amanah yang harus ditunaikan.
Saat dalam perjalanan pulang, sebuah sms masuk.
”Hallo, blh kenlan? Gadis cantik, Salwa. ”
Faza tersenyum menatap langit, lalu menatap Hafidz yang seiringan jalan dengannya. Senyum langit dan Hafidz sama-sama teduh. Sudah biasa bagi Faza, ada saja yang mengerjainya. Tidak adakah pekerjaan yang lebih bermanfaat daripada bermain di dunia sms dan cyber? Faza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Salwa menendang rak sepatu dalam kamarnya beberapa kali, hingga dua sepatunya terjatuh. Desisnya memenuhi ruangan kamar. Dia tertidur rebahan di atas kasur, matanya menatap atap kamarnya. Tadi siang hendak sms, dia selalu ragu karena dari suara waktu mengangkat telpon hatinya mendesir. Ada rasa yang menelusup lembut tiba-tiba. Apakah ada orang jatuh cinta hanya mendengarkan suaranya saja? Ini gila! Tapi ini menarik. Petualangan akan dimulai, Tuhan, izinkanlah hambaMu berpetualang. Senyumnya merekah. Dia baru berani menghubungi nomor itu setelah menimbang-nimbang hingga sore. Dia mengetik huruf-huruf singkat. Senyumnya tersungging, kini petualangannya adalah menjadi pengintai. Ya, pengintai.
Setelah mengirim sms, ditunggu begitu lama tak ada jawaban sedikitpun. Telpon enggak, balas sms enggak. Pemilik Hp macam apa itu? Ataukah dia miskin sehingga tak punya pulsa sama sekali? Mungkin juga. Aku akan mengisi pulsanya, dia pasti akan menaruh simpati dan mungkin meneleponku atau minimal menghubungiku.’ Idenya menggelitik cepat. Dihubungi langganan pulsanya dan meminta mengirimkan pulsa 20 ribu ke nomor misterius itu. Lalu senyumnya kembali tersungging indah.
Lalu jemari-jemirinya kembali mengetik sms beberapa kata.
”Hey, pulsanya udh masuk kan? Itu dariku. Salwa ” salwa sudah kehabisan kata-kata. Memikirkan kata yang lain tapi dia sangat susah jika merangkai kata. Dulu, pernah Salwa belajar merangkai kata sewaktu training jurnalistik. Tapi, dia jenuh dan langsung pulang walau kegiatan itu belum selesai.
Tak ada balasan hingga seperempat jam. Kesabarannya habis, ditendangnya rak sepatu sebagai pelampiasan kekesalannya. Ditendangnya sekali tak juga menyembuhkan kekesalannya, tendangannya kembali melayang. Lebih lega dadanya. Fiuuhh! Ada kepuasan walau sementara. Awas! Kukerjai habis-habisan nanti jika pemilik nomor telpon itu telah takluk di bawah kendaliku. Jangan panggil namaku Salwa jika aku tak bisa membuatnya bertekuk lutut.
Sebuah sms masuk ke Hp-nya. Diraihnya Hp yang tadi sempat dibantingnya di atas kasur. Senyumnya merekah. Dari nomor telepon misterius itu.
”Asw., dahulukanlah salam jika anda Muslim, nama Salwa adalah kecantikan. Siapa anda, saya akan mengembalikan pulsa anda.”
Salwa membalas sms, ”Gak usah! Boleh kenalan? Dgn itu saja bayarnya.”
Ditunggunya begitu lama tapi tak ada balasan.
”Asw. Sp namamu? Mugkn kt bs saling curhat dr hti kehti. Mugkn bs menjadi teman yg slg mengerti. Aku bisa menjadi tmn yg baik,” ada gamang setelah mengirim sms itu. Teman baik? Tapi sebenarnya mau mengerjai.
Balasan sms masuk lagi.
”Wa’alaikumsalam Warrahmatullah, bukannya aku tak ingin meladeni anda. Tapi, sesungguhnya aku sudah punya kekasih. Aku sangat mencintainya, aku takut membuatnya cemburu jika aku berhubungan dengan wanita walau hanya di Hp sekalipun. Maaf ya Salwa.”
Salwa membaca sms itu berkali-kali. Ternyata masih ada cowok kayak gini? Sms-nya aja gak pake singkatan, apa nih orang gak pernah sms kali ya? Lurus ditulis semua. Apalagi bahasanya culun banget, masak setia banget sama kekasihnya. Padahal banyak sekarang ini mereka punya cadangan kekasih di Hp, interned, atau terang-terangan sekalipun.
Salwa Salsabila semakin penasaran, semakin tertantang.
”Mf ggu lg, seorg laki2 tu boleh lho punya cadagan. Rasul aja, istrinya lebih dri dua. Jadi org jgn setia2 gtu, Aq mau koq jd cadanganmu wlw gk slmanya. Kekasihmu gak akan tahu, aq akan menjaga rahasia. Sungguh,” ada kelegaan dalam hembusan nafasnya yang lembut.
Lama tak ada jawaban. Jemarinya mengetik kembali.
”Hey, balas gak pakai lama. Please,” kekesalan demi kekesalan telah merasukinya. Entah kenapa, Salwa semakin penasaran pada pemilik nomor misterius itu. Masalahnya, tidak boleh menelpon hanya sms, hanya sms. Baru pertama kali ini rasanya, dalam hidupnya dicuekin habis orang lain.
Saat mendekati waktu Maghrib, sebuah sms yang dinantinya masuk ke Hpnya.
”Asw.Masyaallah, bertaubatlah saudaraku. Kekasihku itu tahu dari setiap gerakku, dia tahu dari sorot mataku jika aku khianati cintanya, dia tahu jika hatiku mendua, dia tahu jika berpaling darinya walau hanya besitan dalam jiwaku.kau tak akan bisa menyainginya.maaf saya sedang bekerja, nanti saya akan menghubungi anda untuk membayar pulsa yang anda kirim. Maaf.”
Asy Haduallaa Ilaa Haillallaah
Asy Haduallaa Ilaa Haillallaah
Asy Haduan Namuhammadar Rasuulullaah
Asy Haduan Namuhammadar Rasuulullaah
Salwa masih bingung mencerna kata-kata dalam sms di Hp-nya. Beriringan dengan adzan yang menggema, memanggil jiwa-jiwa. Adzan bersahut-sahutan dari puncak-puncak menara yang menjulang, bagai angin yang menelusup ke setiap celah. Angin itu menyampaikan adzan dari Al-Aqsha, masjid Babussalam, masjid Muhajirin, masjid El-Fikri STAIN dan masjid Ulul Albab UMM ke seluruh penjuru. Suara panggilan shalat itu begitu indah bagi siapa saja yang mempunyai iman di hatinya. Panggilan itu adalah undangan jamuan yang dihidangkan Allah, jamuannya adalah penghantar menuju kenikmatan abadi.
Hayya ’Alash Shalaah
Hayya ’Alash Shalaah
Salwa semakin meniliti setiap makna dalam sms yang baru diterimannya, ada yang masuk lembut, membelai hatinya yang tak pernah menemukan ketulusan dan kekuatan cinta yang dahsyat. Yang membuat pencinta merasa selalu diawasi, merasa sang kekasih selalu ada di hatinya. Adakah kesetiaan semacam ini di dunia yang telah hancur ini? Hati Salwa bergetar, tak mampu merasakan cinta yang sejati itu. Apakah ada cinta sejati? Hatinya masih meraba-raba, tidak percaya. Karena dia tidak pernah merasakan cinta dan ketulusan. Ayahnya hanya sibuk dengan pekerjaannya, keluar kota. Ibunya sibuk dengan urusan salon dan bisnis kecantikannya. Salwa anak tunggal, satu-satunya pewaris Ayah dan Ibunya. Antara dia dan orangtuanya pun, seolah tak ada saling percaya. Bahkan, mereka untuk bertemu pun seolah bagaikan kebetulan-kebetulan saja.
Kekasihku itu tahu dari setiap gerakku
Sebegitu kuatkah rasa cinta kekasihnya itu? Salwa tak percaya ada kata-kata seperti itu. Hidupnya tak pernah sekalipun merasa diperhatikan, uang tinggal mengambil saja di ATM. Dia menitikkan airmatanya pelan. Hangat mengaliri pipinya.
dia tahu dari sorot mataku jika aku khianati cintanya, dia tahu jika hatiku mendua
Bagaimana mungkin kekasihnya bisa tahu? Dari pandangan matanya? Atau dari hatinya? Mana mungkin! Pasti pemilik nomor itu hanya bercanda, tapi..., sejenak Salwa merasa gamang. Kulihat ketulusan dari bahasanya yang polos. Firasatku mengatakan dia tidak bohong.
dia tahu jika berpaling darinya walau hanya besitan dalam jiwaku.kau tak akan bisa menyainginya
Salwa menutup telinganya, seolah kata-kata itu terngiang dalam telinganya. Sangat keras dan membisikinya keras.
Hayya ’alal falaah
Hayya ’alal falaah
Hanya bersitan di hati? Seperti apa hubungan mereka hingga menciptakan rasa saling percaya yang tidak bisa dijangkau? Hati Salwa tiba-tiba perih, dia iri melihat hubungan seperti itu. Matanya tak lagi kuat membendung gumpalan yang berdesakan, airmatanya meleleh. Alirannya merembes hingga ke hatinya yang terdalam. Belum pernah rasanya Salwa menangis seperti ini, dan kini dia menangis hanya karena membaca sms dari seseorang yang hendak dikerjainya.
Allahuakbar, Allahuakbar.
Laillahaillallah
Salwa semakin keras menutupi telinganya. Semuanya masa lalunya terbayang dalam ingatannya. Dia menangis di kamar kostnya. Pintu terkunci, tak ada yang tahu. Tapi Allah melihatnya dari singgasanaNya. Salwa meluruskan kedua kakinya di lantai keramik, tubuhnya bersandar di ranjang. Pandangannya masih kosong, Allah menengadahkan tanganNya. Tapi, Salwa belum mau meraih ampunan Allah. Dia masih berdiam diri, mungkin suatu saat nanti. Dan, hanya Allah yang tahu segalanya.
Ratih menatap Rini. Matanya beradu, “Rin, kenapa kau lakukan itu?”
“Kau tahu,” Rini memegang pundak sahabatnya itu, “Perasaanku sakit, sangat sakit. Romi yang dulu setia padaku, dia memutuskanku karena dia mencintai wanita lain. Dia bilang tak bisa lagi bersamaku. Kau tahu alasannya?”
Ratih hanya menggeleng.
“Romi mencintai Salwa, dia mengkhianatiku Rat. Hatiku sakit, lebih sakit lagi karena Salwa yang merebut pacarku. Selama ini, Salwa bagaikan ratu. Dia memerintah kita seenaknya saja. Mungkin, itu bisa aku terima. Tapi kini, dia merebut pacarku Rat! Kau tahu kan bagaimana rasanya dikhianati?” airmata Rini luluh.
“Salwa tak akan melakukan itu padamu Rin.”
“Aku melihatnya sendiri Rat, seminggu yang lalu saat aku tidak ada mata kuliah. Aku melihat Salwa pulang kuliah diantar Romi dengan mobilnya. Mereka sungguh terlihat mesra. Dan itu terjadi setelah Romi memutuskan hubungannya denganku,” sesenggukan semakin menyayat, memenuhi kamar mereka berdua yang berselang jarak satu kamar dari kamar Salwa yang juga menangis dalam masalahnya sendiri.
“Mungkin itu hanya kebetulan saja, Romi mengantar Salwa.”
“Aku tahu lirikan Romi saat melihat Salwa melangkah meninggalkannya. Mata setiap lelaki yang jatuh cinta terlihat Rat, aku merasakan perih yang menyayat hatiku bagai dipotong-potong hatiku dengan pisau,” Rini memeluk sahabatnya itu.
“Tapi..., kenapa kau memberikan nomor telepon yang harus kuberikan pada Salwa. Siapa dia?”
“Dia Faza, Mahasiswa semester delapan UM. Dia juga telah melukaiku,” Rini masih sesenggukan di pelukan Ratih.
“Faza yang mendapatkan beasiswa Supersemar tertinggi karena nilai IP-nya tertinggi itu? Bukankah dia ketua Ghuroba dan rumahnya di sebelah kost-kost kita?”
“Iya”
Ratih kaget. Bukankah Faza orang yang baik? Bahkan Faza pernah melindunginya sewaktu Protama, saat akan dihukum Anto Kakak tingkat. Saat dihukum untuk merayu dirinya sebagai hukuman karena tak membawa pita. Lelaki tampan itu datang dan melarangnya melakukan itu, kemudian hukuman diganti dengan membersihkan ruang di BAK. Anto pun tak berkutik di hadapan Faza.
“Kenapa dengan kak Faza? Bukankah dia tidak mengganggumu?”
“Dia telah memukul adikku yang masih SMA di Ganesa. Adikku dipukulnya, hingga wajahnya ada luka. Aku hanya ingin memberi pelajaran padanya saja, tidak akan melakukan yang lebih. Kini, hatiku lebih lega. Biarkan Salwa dan Faza kukerjai, itu bagiku cukup untuk membalas sakit hatiku. Aku tak akan mencampuri urusan mereka. Ya, Rat. Hatiku terasa tenang kini,” Rini melepas pelukannya dan ada senyum di wajahnya.
Ratih balas tersenyum. Ratih berjanji dalam hatinya, suatu saat dia akan meminta maaf pada Salwa dan kak Faza. Dia merasa perbuatannya tadi siang dengan berbohong dan curang. Karena sebenarnya, mereka pura-pura menelepon. Lalu, tantangan itu hanya dilakukan oleh oleh Salwa semata. Ratih serba bingung, di satu sisi dia tidak mau menasehati Rini yang tidak stabil, di satu sisi kebaikan kak Faza dibalasnya dengan keburukan dan juga kebaikan Salwa padanya juga sudah banyak.
Ratih beranjak berdiri mengambil sandal.
“Mau kemana?” Rini penasaran.
“Shalat maghrib. Aku akan meminta ampunan pada Allah karena dosaku siang ini besar. Membohongi dua orang yang baik.”
“Tumben mau shalat.”
Ratih tetap berjalan ke kamar mandi. Dirasanya hidupnya sudah saatnya bertaubat, dosa-dosa terasa menghimpitnya. Kini, dia ingin shalat setiap waktu. Sungguh, perasaan untuk tobat itu berdebam kuat dalam jiwanya.
”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang – orang yang fasik.” (QS. Al-Hadiid : 16)