Wanita Tanpa Rahim

Diculik Preman 26

"Kamu. Aku menginginkan kamu, Aira."

Gila. Dia benar-benar gila. Mana mungkin dia menginginkan istri orang, sedangkan suaminya ada di depan mata? Apa dia tidak menggunakan akalnya? Inilah efek kebebasan berekspresi. Tidak memandang halal dan haram. Baginya, mungkin aku barang yang bisa dimiliki siapa saja. Oh, tidak. Sampai kapan pun, aku tak akan menuruti pikiran aneh lelaki itu.

Mas akmal sudah mengepalkan tangannya. Buku-buku jarinya tampak memutih. Rahangnya mengeras dengan tatapan nyalang seperti elang. Aku tahu ini tanda bahaya. Mas Akmal tidak pernah marah jika tidak menyangkut tentangku. Bagaimana ini? Aku mencolek Siti. Memberi kode agar mengajak pulang kang Edi yang sudah hilang kewarasan ini. Pikirannya sudah dikuasai nafsu setan. Hingga tak lagi mampu membedakan mana benar mana salah.

Pakde dan bude yang hanya menonton karena takut, akhirnya berdiri. Meminta kang Edi untuk pulang. Namun tampaknya pria itu belum puas membuat kami terbakar. Tatapan matanya beradu dengan mas Akmal. Aura permusuhan terlihat kentara dari keduanya. Sungguh mengerikan.

"Sit, tolong ajak kang Edi pulang, ya?" bisikku di telinga Siti yang sudah gemetar. Aku tahu dia takut dengan kang Edi yang seperti ini. Dulu pria itu selalu lembur padaku. Ringan tangan dalam membantu setiap melihatku dalam kesulitan. Namun sekarang, dia seperti menjelma menjadi sosok lain yang tidak kukenali.

"Tolong, Kang. Jangan buat keributan malam-malam. Aira mohon, pulanglah," ucapku memohon. Kedua tangan ini menangkup di depan dada sebagai tanda permohonan padanya. "Bawa uang itu untuk bayar utangku, ya," kutatap ia dengan pandangan memohon.

"Aira, aku nggak menyangka kamu tega melukai hatiku. Ku pikir kamu tahu arti balas budi, ternyata aku salah. Kamu tak ada bedanya dengan perempuan lain yang sudah sukses. Seperti kacang lupa kulitnya." Edi menatapku dengan tatapan kecewa bercampur amarah.

 

Pria itu lalu mengambil lembaran merah itu dan pergi tanpa pamit. Siti tergopoh-gopoh mengikuti dari belakang. Sepeninggal pria itu, bendungan di mataku jebol. Bukan karena menyesal telah membuatnya terluka. Tapi kecewa karena ternyata kebaikannya selama ini tidak tulus. Andai waktu bisa kuulang lagi, aku akan memilih sendiri saat di-bully. Nggak masalah tidak ada yang melindungi. Toh aku sudah terbiasa dengan cacian dan hinaan. Tubuh ini juga sudah terbiasa dengan rasa sakit akibat perundungan.

Mas Akmal menetralkan emosinya dengan berwudhu. Aku mengikutinya, sekalian pamit pada dua orang pengganti bapak dan ibu untuk langsung istirahat ke kamar. Sesampainya di kamar aku langsung duduk di tepi ranjang. Menatap setiap gerakan Mas Akmal. Tiba-tiba ia berdiri di hadapanku. Aku sampai harus mendongak untuk menatapnya yang tampak menjulang.

"Besok kita langsung pulang aja. Di sini sudah nggak kondusif. Sepertinya si Edi itu masih belum sepenuhnya menerima kenyataan. Ia pasti masih akan berjuang untuk mendapatkanmu."

Aku hanya mengangguk tanpa menanggapi ucapan mas Akmal. Rasanya sudah malas bicara tentang dia. Apalagi mengingat ucapannya terakhir, membuatku muak dan ingin muntah.

"Sebagai lelaki, aku tahu arti tatapannya padamu. Ia begitu memujamu. Pasti dia akan berjuang mati-matian, karena wanita sepertimu memang layak diperjuangkan."

Mas Akmal menatapku dalam. Untuk sesaat aku melihat ada kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah teduh suamiku.

"Apa mas Akmal juga akan berjuang untuk mempertahankan Adek?"

"Tentu saja. Kita akan berjuang sama-sama. Tak boleh ada seorang pun yang menggangu hubungan rumah tangga kita." Mas Akmal membelai lembut rambutku yang tergerai. "Kita akan menua bersama."

Kalimatnya sederhana. Namun mampu menembus hingga ke dasar hatiku. Menggetarkan seluruh saraf dan pembuluh darah, sehingga setiap tarikan napas ini, selalu ada namanya yang ikut keluar.

 

***

Pagi ini, saat cahaya mentari mulai menyapa bumi, kami memasuki mobil untuk menempuh perjalanan pulang. Bude melepas kepergian kami dengan derai air mata. Tak rela aku pulang secepat ini. Namun aku terus meyakinkan bahwa suatu saat nanti kami pasti akan kembali lagi ke sini. Saat ini kami harus menjauh dulu pria obsesif itu.

Kami mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, suapaya bisa menikmati pemandangan alam yang memukau. Tepat sampai di jalanan sepi, tiba-tiba ban mobil kami bocor. Terpaksa mas Akmal turun dan mengganti bannya sendiri. Karena tidak mungkin untuk memanggil derek di sini.

Sementara mas Akmal mengganti ban, aku sibuk berselancar di dunia maya. Melihat beberapa postingan mbak Zahra. Sepertinya mereka hidup bahagia. Hati ini terasa lega melihatnya. Karena bagaimanapun aku telah banyak berutang pada keluarga mbak Zahra.

Bahkan atmosfer kebahagiaan mereka sampai menular padaku hingga tanpa sadar aku tersenyum. Andai waktu itu Mas Akmal menerima pinangan Abah, mungkin akan lain ceritanya. Terlebih dengan kondisiku yang seperti ini.

Kuhela nafas panjang sekadar untuk melepas rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada setiap kali mengingat bahwa aku bukan wanita yang sempurna. Aku tak sanggup memberikan kebahagiaan pada suamiku karena rahimku sudah tiada.

Tiba-tiba sekelompok preman datang menghampiri kami. Seorang yang tidak kami kenal menodongkan senjata tajam ke arah mas Akmal. Hal ini membuatku menggigil ketakutan. Mas Akmal tetap terlihat tenang meski diancam. Entah apa tujuan mereka membegal kami. Padahal tak ada satu pun dari para preman ini yang mencoba merebut harta kami.

Entah datang dari mana seseorang yang tiba-tiba membuka pintu mobil dan menyeretku keluar. Aku mencoba berontak tapi justru sebilah pisau menggores sedikit pada pipiku. Rasa perih menjalar ke seluruh area wajah ini. Kulihat mas Akmal menatap nyalang pada preman ini. Namun ia pun tak mampu berkutik. Mungkin khawatir para preman ini nekat menusukku dengan benda tajam yang tampak berkilau ini.

”Mas Akmal, toloong," ucapku saat pemuda itu menyeretku ke sebuah motor. Mas Akmal hendak berdiri tapi lagi-lagi mereka menekan pisau ke leher mas Akmal hingga menyebabkan berdarah.

"Ayo, cepat bawa perempuan itu ke bos. Biarkan lelaki ini saya yang ngurus," ucap salah satu preman yang mencoba mengintimidasi mas Akmal.

Lalu tanpa perasaan, dua orang preman lagi menyeretku dan menaikkan ke motor. Aku diapit oleh dua pria berbadan penuh tato. Tenagaku sudah habis untuk bisa memberontak. Belum lagi seorang yang dibelakangku sengaja menutup mata ini dengan kain.

Ya Allah, lindungi hamba. Tolong beri petunjuk agar mas Akmal bisa menemukan aku. Sesampainya di sebuah gubuk di tengah hutan, aku diturunkan. Ternyata di sana sudah ada seseorang yang menunggu. Mataku terbelalak melihat seringainya muncul menampilkan gigi-giginya yang agak menguning. Sorot matanya jatuh pada manikku hingga membuat tubuh ini menggigil takut.

Tanpa sadar aku meremas kedua sisi bajuku untuk menetralkan rasa takut yang merajai diri ini. Kedua mataku langsung melotot melihat sosok yang menunggu di sana.

 

'Dia, mau apa sebenarnya orang ini?' gumamku.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!