Wanita Tanpa Rahim

Utang Budi 25

Senyumku luntur ketika tahu kedatangan Siti tidak sendiri. ‘Dia lagi?’ gumamku.

“Sini masuk, Sit. Ya Allah, kangen banget … gimana kabarmu, Sit?’

“Apik, Ai. Kamu yang ndak ada kabar. Kata orang-orang sekarang kamu jadi orang kaya,ya? Melu seneng aku Ai. Sekarang kamu beda.”

“Beda kenapa to, Sit?” tanyaku bingung. Perasaan tak ada yang berubah dariku kecuali penampilan ini. Dulu aku nggak berjilbab, sekarang berjilbab sempurna.

“Kamu tambah ayu,” ucapnya cengengesan yang hanya kutanggapi dengan senyuman. Kang Edi yang datang bersama Siti menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan. Seperti rindu yang lama terpendam. Namun aku mencoba mengabaikan. Kuajak Siti masuk tanpa memedulikan Kang Edi. Bukannya nggak sopan, aku hanya mencoba untuk tidak memberi harapan.

Bude segera membuatkan minuman untuk tamu tak diundang ini. Aku terus saja mengobrol panjang lebar dengan siti. Mengenang masa-masa bersama dulu tanpa menghiraukan sekitar. Mas Akmal duduk dan berusaha mengakrabkan diri dengan Kang Edi yang hanya bergeming mendengarkan obrolan kami. Sesekali menimpali. Sambil berusaha mengingatkan kebaikannya dulu.

Jika ia mengatakan itu dulu, aku akan merasa senang karena merasa seperti memiliki pahlawan. Tapi sekarang, mendengar ia mengungkit kebaikannya rasanya ingin muntah. Jadi untuk apa ia melakukan itu jika ada udang di balik batu. Kupikir apa yang ia katakan dulu hanya ucapan cinta monyet yang akan luntur seiring perkembangan waktu. Namun ternyata aku salah. Ia benar-benar berjuang untuk mendapatkan aku. Bahkan setelah ia tahu kalau aku telah menikah.

“Aira, apa kamu ingat dulu aku selalu ada untukmu? Aku selalu melindungimu dari kejahilan teman-temanmu. Menunggumu di depan gerbang untuk pulang bersama. Dan membantumu mengerjakan tugas sekolah saat kamu harus membantu bude jualan?”

Kulirik mas Akmal dengan ekor mataku. Sikapnya begitu tenang mendengar kang Edi yang berusaha memanas-manasi. Siti yang tadi semangat bercerita, langsung diam mendengar kalimat kang Edi yang tiba-tiba. Duduknya gelisah. Sesekali menatap aku dan mas Akmal bergantian. Mungkin ia takut akan terjadi adu mulut antara kami. Atau lebih parahnya takut terjadi adu jotos antar dua lelaki yang sama-sama menyukai ku ini.

   “Ya, makasih untuk itu semua,” ucapku datar. Aku berusaha mengendalikan diri agar tidak terpancing provokasinya. Meski dalam dada ini sudah bergemuruh, aku tetap tenang dengan senyum mengembang.

“Lalu saat kamu masuk rumah sakit dulu, bude sedang tak ada panenan sama sekali. Kasihan sekali lihat bude kebingungan mencari uang untuk membayar biaya rumah sakitmu. Kamu tahu siapa yang akhirnya membayar?” lagi, dia mencoba menarik perhatianku. Aku tahu waktu itu bude sedang kesulitan. Tapi bukankah waktu itu akhirnya bude menjual sapi untuk membayari biaya pengobatanku? Ah, apa sebenarnya yang di rencanakan pria ini? Apa dia mau bilang kalau yang membiayai dia juga?

Kutatap bude yang menunduk. Mencari jawaban atas apa yang aku pikirkan. Namun bude hanya bergeming. Tatapannya sendu seolah mengatakan sesuatu yang aku tak suka.

“Bude, a—apa kang Edi yang membayar biaya rumah sakitku?”

Netra bude sudah merebak. Kepalanya mengangguk samar, tapi aku masih bisa melihatnya. Kualihkan pandanganku pada pria yang dulu pernah kukagumi ini. Namun sekarang rasa kagum  itu menguap entah kemana. Melihatnya yang berubah seperti ini, semua cap baik yang kusematkan padanya dulu, hilang berganti kecewa yang besar.

“Maafin bude, Ai. Bude nggak punya uang waktu itu. bude berbohong. Bude nggak punya sapi kerena sudah habis buat modal cocok tanam. Dan Edi yang membayar semua. Sebenarnya bude sudah berusaha mengganti saat kamu kirim uang, tapi dia nggak mau. Katanya dia ikhlas membantu.”

Kutarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan. Membuang sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Jadi dia sengaja membuatku berhutang budi padanya supaya aku bisa menerima cintanya? Picik sekalli pemikiran lelaki ini.

“Berapa jumlah semuanya, Bude?” tanya mas Akmal membuatku menoleh. Tatapannya lurus menghadap kang Edi yang tersenyum jumawa. Aku seperti tak mengenali sosok itu lagi. Dulu, dia seorang kakak yang penyayang dan tulus. Kini seolah berubah menjadi orang lain yang tak kukenal.

   “Tujuh juta,” ucap bude lirih. Tatapannya tak mau bertemu denganku. Harusnya aku yang merasa bersalah kerena telah menyusahkan keluarga ini. Tapi kenapa bude yang merasa takut? Ya Allah, bude, apa aku semenakutkan itu?

“Baik. Akan saya bayar sekarang semuanya,” ucap mas Akmal tegas. Ia bangkit meninggalkan kami lalu kembali lagi membawa dompet. Lalu menyodorkan lembaran uang merah kepada kang Edi yang hanya bergeming menatap uang itu.

“Ini sebagai bayaran utang istriku.  Terimalah supaya kamu tidak mengungkitnya lagi,” ucap mas Akmal yang hanya ditanggapi cibiran. Pria itu tak mau menerima. Tatapannya tajam seolah menantang mas Akmal.

“Terimalah, Kang. Supaya utangku padamu lunas. Terima kasih sudah banyak membantuku waktu itu. semoga Allah membalas dengan kebaikan.”

“Tidak, Ra. Utangmu nggak akan pernah lunas sampai kapan pun. Meski suamimu yang sok kaya ini membayar dengan mobilnya yang kelihatan mewah itu, tak akan mampu membayar utangmu padaku.”

Hah, apa maksudnya ini. Bukankah kata bude utangnya Cuma 7 juta. Kenapa tidak lunas meski mobil itu sebagai tebusannya. Apa sekarang kang Edi jadi rentenir, sehingga setiap utang dilipatgandakan?

Kami salling berpandangan. Tak tahu apa maksud ucapan kang Edi yang ambigu. Mas Akmal menatapku seolah bertanya, apakah ada utang lagi yang lebih besar? Aku hanya bisa menggeleng tanda tak tahu. Karena seingatku aku tak pernah utang uang secara langsung padanya. Bahkan dulu ketika aku masih miskin dan tinggal bersama bude sekalipun tak pernah utang padanya. Aku juga tak pernah mau diberikan uang untuk membeyar biaya SPP saat itu. karena aku tak mau berutang. Khawatir taka da uang untuk membayarnya.   

“Maksudmu apa, Kang? Apa kamu mau meminta bunga dari utang itu? maaf, Kang. Kami tidak bisa memberi bunga,” ucapku tegas.

“Kamu berhutang budi padaku Aira sayang. Jasa dan kebaikanku padamu dulu tak akan bisa dibayar dengan uang.” Kang Edi tersenyum miring menampakkan giginya yang sedikit menguning akibat nikotin dari rokok yang dihisabnya. Aku benar-benar sudah tak bisa mengenallinya lagi. Tujuh belas tahun ternyata mampu mengubah segalanya. Ketulusan dan sikap seseorang bisa terkikis oleh waktu. Seperti saat ini, kulihat ketulusan yang dulu dimiliki pria ini berganti menjadi obsesi  yang memuakkan.

“Kalau begitu, dengan apa aku harus membayar JASA-mu dulu, Kang?”

 

“Kamu. Aku menginginkan kamu, Aira.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!