Wanita Tanpa Rahim

Pria Masa Lali 24

“Aira? Kamu benar Aira kan?”

Kami menoleh bersamaan mendengar namaku disebut. Entah dari mana orang ini datang. Tiba-tiba muncul tanpa peringatan. Dan … kahadiran orang itu membuatku membeku.

“Kang Edi?”

Mas Akmal merapatkan tubuhnya padaku. Merangkul pundak ini seakan menunjukkan pada pria berkulit cekelat itu bahwa aku miliknya. Kucoba tersenyum meski terpaksa. Dada ini berdetak lebih keras dari biasanya. Bukan karena memiliki perasaan padanya, tapi karena merasakan aura permusuhan di antara dua pria ini.

“Aira, akhirnya kamu kembali,” ucap lelaki itu dengan senyum mengembang. Tangannya hendak meraih tangangku. Spontan aku mundur dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Mas Akmal menatap tajam tangan itu, lalu beralih menatapku.

“Maaf, Kang, kenalin ini mas Akmal suamiku. Dan Mas, ini kang Edi kakak kelasku dulu waktu SMP.”

Kulihat mas Akmal meraih tangan yang masih menggantung di udara itu, menyalami dan tersenyum tulus padanya. Aura tegang yang sempat menguar perlahan mulai mencair, meski tatapan Kang Edi masih setajam elang. Ekor matanya tak lepas dariku. Entah apa yang akan dilakukan pria itu seandainya tidak ada mas Akmal di sini. Jantungku masih belum terkendali saat mas Akmal memintaku untuk pergi dari tempat ini. Acara nostalgia kami terpaksa terhenti karena kedatangan pria tak diundang ini.

“Maaf, Kang, kami permisi dulu.”

Tanpa menunggu jawabannya, kami melangkah pergi menjauhi tempat yang sudah tak asik lagi ini. Berjalan bergandengan tangan sambil sesekali bercanda ria.

“Aira! Asal kamu tahu, aku tetap menunggumu!” teriak pria perusak suasana itu. seketika langkah kami terhenti. Mas Akmal langsung berbalik menghadap pria itu.

“Aira sudah punya suami. Tak perlu menunggu lagi.”

Lalu kami benar-benar meninggalkannya dalam keadaan terpaku. Aku tak peduli. Dari dulu sudah mengatakan padanya jika aku hanya menganggapnya kakak, tidak lebih. Namun dia selalu mengatakan akan setia menungguku. Hari ini dia membuktikan ucapannya. Padahal sudah 17 tahun berlalu.

Waktu itu aku masih kelas tiga SMP saat ia mengungkapkan perasaannya padaku.

“Aira, aku suka sama kamu. Nanti kalau aku sudah bisa cari uang sendiri kita menikah, ya?” ucapnya sambil menatapku. Kami selalu pulang sekolah bersama karena letak rumah kami searah. Dia yang sudah SMA kelas dua selalu menungguku di depan gerbang setiap pulang. Dia pulang jam setengah dua, sedangkan aku pulang jam setengah empat. Ya, aku selalu mengikuti les tambahan menjelang ujian.

“Aira kan masih kecil, Kang. Cita-cita Aira masih panjang. Aira pengen mondok, pengen kuliah, terus kerja,” ucapku sambil menerawang. Membayangakan suatu saat aku akan menjadi orang sukses sehingga tidak lagi mendapat penghinaan dari para tetangga.

“Nggak papa, aku akan setia menunggumu.”

“Tapi, Kang … itu kan masih lama, nggak usah menunggu lah. Lagian orang tua Kang Edi, kan nggak suka sama Aira.”

Kami terus berjalan sambil mengobrol. Membicarakan keinginan dan cita-cita masing-masing. Tidak ada janji apa pun yang terucap dari bibir ini. Tapi kang Edi selalu mengklaim jika aku ini calon istrinya. Padahal kami tidak pernah jadian. Apalagi pacaran. Tapi dia selalu posesif padaku. Menghalangi setiap cowok yang mau berteman denganku.

Apa aku senang? Tentu saja aku senang dia selalu melindungiku. Aku yang selalu dibully karena yatim piatu dan juga miskin, memiliki pahlawan pelindung yang selalu ada jika aku membutuhkan. Namun rasaku padanya tidak lebih dari sekadar adik pada seorang kakak.

“Dek!” ucapan mas Akmal membuyarkan lamunanku yang melanglang buana ke masa lalu. Tak terasa kami sudah sampai di rumah bude. Di teras rumah sudah berkumpul ibu-ibu yang kemarin. Sempat terpikir, apa mereka ini nggak punya kerjaan hingga sepagi ini sudah berkumpul di rumah tetangga.

Mas Akmal menunduk tanda hormat, lalu melangkah masuk. Aku melakukan hal yang sama. Namun lagi-lagi langkahku harus terhenti oleh panggilan bu Sartun. Sebenarnya aku nggak suka terlibat obrolan unfaedah dengan emak-emang rempong dan ahlul ghibah ini. Namun apa daya, mereka akan samakin mengataiku sombong jika tak menuruti keinginannya.

“Maaf bulek, Aira mau mandi dulu,” ucapku beralasan.

“Alah, sebentar aja kok, Ai. Kamu kan sudah lama to ndak pulang, sekali-kali ngobrol dulu di sini ndak masalah to? Lagian kamu ini nggak usah mandi yo wis ayu kok.”

Mas Akmal melenggang meninggalkan kami. Terpaksa aku berhenti dan duduk lesehan bersama mereka. Seperti semut menemukan gula, mereka mengerumuniku dan mencecar berbagai pertanyaan. Jiwa kepo meraka meronta-ronta.

“Aira, suamimu itu kerja apa to kok bisa punya mobil bagus begitu? Pegawai negeri yo? Atau pejabat DPR?”

Aku tersenyum menanggapi pertanyaan itu. selama pertanyaannya tidak menyinggung urusan momongan, masih bisa kutolelir.

“Mboten Bulek, mas Akmal hanya berwiraswasta. Kebetulan punya bisnis percetakan sendiri. Alhamdulillah.”

“Woo, opo to kuwi?”

“Pabrik buku Bulek. Ya seperti tempat untuk mencetak buku-buku gitu,” ucapku. Dudukku sudah tak nyaman. Ingin segera beranjak meninggalkan mereka. Namun bulek Sarti memegang tanganku erat suapaya aku tak beranjak dari situ.

“Wah, berarti bojomu iku sugih banget yo, Ai. Duwe pabrik dewe. Wong mobile ae kinclong ngono.”

“Pangestune, Bulek.”

Aku harus bersabar meladeni pertanyaan-pertanyaan mereka. Seperti wartawan sedang wawancara, aku dikerubuti dengan berbagai pertanyaan yang kadang membuatku ingin tertawa, terkadang membuatku ingin menjerit. Sungguh, situasi ini sangat menyiksaku. Kemana sih mas Akmal? Kenapa tega meninggalkanku sendirian dikeroyok emak-emak super kepo seperti ini. Bahkan cacing diperutku sudah protes minta diisi. Dari pagi belum ada sesuap pun makanan yang masuk. Hanya segelas teh hangat sebelum jalan tadi. Namun lagi-lagi tanganku ditarik saat hendak berdiri. Rupanya mereka belum puas mengorek kisah pribadiku. Aduh gimana ini, bisa jadi artis dadakan kalau aku nggak segera lepas dari mereka. Pasti setelah ini kabar aku yang pulang membawa suami ganteng dan kaya ini akan menyebar ke seantero kampung. Dulu beberapa tahun lalu memang aku pernah pulang dengan mas Akmal, tapi tak seheboh ini. Bahkan emak-emak itu tak ingin tahu sedikit pun tentangku. Mungkin karena saat itu aku nggak bawa mobil. Bahkan mereka enggan mendekat. Itulah sebabnya mereka terbelalak melihat mas Akmal yang gagah dan tampan.

Ide untuk mencari alasan tiba-tiba muncul di kepala, segera aku pamit pada emak-emak ini untuk buang air karena kebelet. Nggak sepenuhnya bohong, sih. Karena faktanya juga begitu. Sekalian saja aku bisa mandi dan memenuhi hak tubuh ini dengan sarapan yang sudah terlewat.

Dengan sedikit berlari, aku gegas menuju kamar mandi yang ada di belakang rumah. Tidak seperti di rumahku, kamar mandi di kampung ini kebanyakan dibuat di luar rumah. Entah apa tujuannya. Padahal lebih praktis kalau di dalam rumah. Lima belas menit kuhabiskan untuk buang air dilanjut bebersih diri. Lalu sarapan dengan menu sederhana. Tapi rasanya sangat nikmat.

Pukul setengah delapan malam, kami berkumpul di depan TV. Pakde dan bude bercerita banyak hal selama aku tak berkunjung  ke sini. Menceritakan hasil ladangnya yang lumayan melimpah. Katanya hasil panen cengkeh dua tahun ini bisa digunakan untuk membeli sapi. Raut bahagia tak lepas dari wajah tua itu yang menular pada kami.

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian kami. Bude segera membuka pintu yang sudah dikunci. Kebiasaan di kampung ini, selepas isya’ semua pintu sudah dikunci. Masing-masing penghuni akan berdiam diri di rumah sambil menghabiskan waktu menonton TV sebelum tidur. Jarang sekali ada yang bertamu malam-malam kecuali ada acara kendurenan atau hajatan. 

 

“Siti? Karo sopo bengi-bengi tekan kene?” kata bude membuatku menoleh. Siti adalah teman akrabku dulu waktu SMP. Tentu saja kedatangannya membuatku senang dan langsung berdiri menyambutnya. Namun senyumku luntur ketika tahu kedatangan Siti tidak sendiri. ‘Dia lagi?’ gumamku.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!