"Baiklah, Bram. Jika hanya Naura yang membuat dirimu bahagia ... Mamah merestui hubungan kalian, meski sebenarnya hubungan kalian salah. Tetapi ... sudahlah, oh iya, lain kali ajak Naura kerumah ya."
Irna menepuk bahu Bram dan beranjak dari duduknya melangkah dengan gontai meninggalkan anak lelakinya itu sendiri.
Bram langsung melebarkan senyum di wajahnya, ia merebahkan tubuhnya dengan senang.
Dengan fikiran yang masih tertuju pada Naura, Bram mengirimkan pesan pada Naura.
"Besok, jangan lupa pemeriksaan rutin di rumah sakit! Jam 10 pagi." isi pesan itu.
Tring
Notif pesan balasan dari sebaris nama My Heart di layar ponselnya.
"Oke." Balas Naura singkat.
Meski balasan itu hanya singkat, tetapi hati Bram tetaplah senang. Karena Bram tahu besok adalah jadwal Abdi meeting bersama clientnya di semarang dari pagi buta ia pasti sudah berangkat. Dan Naura pasti melakukan pemeriksaan kesehatan itu dengan sendirinya tanpa ditemani siapa pun.
Bram sengaja memilih jadwal yang sama, seperti Jadwal Abdi sedang sibuk-sibuknya. Bram dengan rela merogoh sakunya mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk seorang mata-mata di kantor Abdi, untuk mencari tahu tanggal berapa saja Abdi sibuk di luar rumah.
Ya, semua itu Bram lakukan hanya demi Naura seorang. Hanya demi waktu bersama Naura lebih panjang, ia harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan waktu kebersamaan itu.
Dan dengan cara inilah Bram bisa meluangkan waktu rindunya lebih lama bersama Naura, baginya tidak ada hari selain merindukan kebersamaan bersama sang kekasih.
****
"Bun! Ayo ... kita berangkat!" ucap Abdi sumringah dengan mendorong kursi roda Berlin ke arah mobil.
Naura menuntun Bunda perlahan memasuki mobil, kini mereka menuju hotel bintang 5 hanya untuk sekedar mengistirahatkan diri sejenak.
"Abdi, sekarang udah sok-sokaan. Ngebawa Bunda numpang istirahat di hotel mewah. Dulu mah Bunda inget banget kita berempat tidur di depan ruko-ruko karena keusir dari kontarakan,"
Suara bunda pelan dengan sedikit senyuman manis yang terasa haru di wajahnya.
"Karna dulu kita susah, Bun. Makanya sekarang Abdi kerja keras untuk kalian, Abdi pengen kita semua bahagia. Termasuk Bunda, Abdi pengen ngebahagiain Bunda di masa tua Bunda ini."
Sahut Abdi dengan suara yang tegas, kini keharuan mulai terasa di dadanya.
Abdi tahu, hanya inilah yang bisa ia buktikan ke pada sang Bunda. Hanya keberhasilanlah yang membuat Bunda bahagia, meski belum sepenuhnya bakti itu ia utarakan. Tetapi, setidaknya keberhasilan Abdi mengobati sedikit luka yang menggores setelah kejadian yang bertahun tahun lamanya.
Cit ...
Mereka turun tepat di depan pintu masuk hotel mewah itu, dengan tatapan haru sekaligus bangga, Bunda mengedarkan pandangannya ke arah sudut yang berkilauan indahnya.
Demi apa pun, ini pertama kalinya ia melangkahkan kaki itu di hotel mewah ini. Dulu jangankan untuk bermimpi menginjakkan kaki disini, berkhayal pun rasanya diri itu tidak pantas.
Bunda hanya mampu berjalan melangkah di belakang mengekori mereka, dirinya tidak sanggup untuk menjajarkan langkahnya. Diri itu terlalu takut jika seandainya ia salah melangkah dan membuat kericuhan, lalu menjatuhkan harga diri anaknya.
Abdi berjalan menuju lift, mereka masuk dan menekan tombol lantai 35. Mereka berdiri dan bergeming seolah sibuk dengan fikirannya masing-masing, lalu Bunda ... jangan tanya lagi ia sedang apa. Ia sedari tadi sibuk mengedarkan pandangannya dan terperangah atas keindahan hotel ini.
Kling ...
Pintu lift terbuka
Mereka berjalan menyusuri koridor yang lagi-lagi keindahan interior itu membuat sang Bunda tidak habisnya memuji. Bunda terpukau dengan keindahan hotel ini, rasanya Bunda akan kurang jika diharuskan hanya singgah sebentar saja di hotel mewah ini.
Abdi menggesek Id Cardnya mendorong pintu kamar, lalu melangkah masuk. Selama beberapa saat, Bunda lagi-lagi mengedarkan pandangannya ke segala arah sudut ruangan ini.
Sampai kemudian, Bunda merebahkan dirinya ke ranjang yang sama empuknya sama seperti kasurnya di rumah Abdi.
Itu artinya kasur di rumah Abdi, itu sekelas hotel bintang 5! Fikiran sang Bunda meracau berlari kemana-mana.
"Oke, Bunda sama Berlin di kamar ini ya, Abdi sama Naura di kamar samping," ucap Abdi dengan pelan lalu meninggalkan mereka dengan langkah cepat menarik lengan Naura yang tidak ingin pisah dari mertuanya.
Bunda hanya mengulum senyumnya, melihat tingkah laku mereka yang seolah mengingatkannya pada jaman di mana mendiang sang suami masih hidup. Abdi sama seperti suaminya, watak dan sifat mereka sangat mirip. Hampir tidak ada bedanya!
****
Abdi menghidupkan Ac dengan celcius yang sangat dingin, tangan kekar itu perlahan menarik dres Naura lalu melucutinya dengan kedipan mata yang ia lemparkan untuk Naura. Abdi menyuruh Naura untuk membersihkan dirinya agar bisa tidurnya nyenyak katanya. Padahal itu hanya akal-akalan Abdi saja agar Naura sehabis mandi akan kedinginan, lalu mau tidak mau Naura pasti meminta Abdi untuk menghangatkan dirinya.
Dan benar saja, selesainya Naura mandi dengan handuk yang melekat di tubuhnya ia bergemetar kedinginan.
Melihat bagian tubuh Naura yang hanya terlilit handuk, rasanya membuat Abdi tidak ingin lagi menunggu untuk lebih lama lagi.
Abdi melangkah cepat memeluk Naura, dan menjatuhkan handuknya ke arah yang ntah ke mana.
Kini rasa dingin yang seakan menusuk langsung kedadanya, membuat Abdi menjatuhkan tubuh mereka ke ranjang. Abdi melilitkan tangannya ke tubuh Naura erat, dengan menyipitkan matanya.
"Nau, Mas kangen ..." bisik Abdi di telinga kanan Naura yang terdengar berat dan panas.
Abdi mengikuti napsunya dan dengan buasnya ia langsung mulai membelai Naura dari telapak kaki sampai ke bagian yang paling sensitif.
Naura hanya menggeliat malu-malu, Abdi yang melihat respon dari Naura hanya mengulum senyum lucunya.
Baginya, Naura tampak selalu lucu saat di ranjang, ia selalu saja tersipu malu meski pernikahan mereka sudah menginjak 2 tahun lamanya.
*****
Cess
Cess
Cess
Suara parfum dengan aroma yang merebak menusuk hidung Naura, wangi parfum itu seolah membangunkan dirinya yang tengah terlelap setelah bertempur semalaman bersama sang suami.
Naura menggeliat dan menyipitkan matanya. Pandangannya tertuju pada Abdi yang sudah mengenakan kemeja putih dan setelan jas berwarna biru.
"Loh! Mau kemana, Mas?" tanya Naura dengan alis yang ditautkan bingung.
"Mas ada meeting, Sayang. Kau jaga dirimu baik-baik ya." Abdi mencium kening Naura sembari menengok ke arah jamnya dan melangkah terburu-buru.
Klep!
Pintu kamar itu tertutup kembali dengan seiringnya langkah kepergian Abdi.
Naura beranjak dari tidurnya, ia menarik gorden dan melihat langsung suasana kota dari dalam kamar hotel berlantai 35 ini.
Ia menopang dagu dengan kedua tangannya, Naura memikirkan sesuatu tentang Bram.
Apa benar Bram menyesuaikan jadwal kontrolnya ke rumah sakit, sama seperti jadwal sibuknya Abdi?
Karena beberapa bulan ini, setiap kali Naura kontrol pasti bertepatan dengan jadwal meetingnya Abdi!
Jika itu memang benar, bagaimana caranya Bram melakukan itu semua?
Naura mulai menyenderkan kepalanya ke kursi, ia mengambil ponselnya dan memandangi layar ponselnya beberapa saat. Tidak ada notif pesan apa pun dari Zoya, mengapa Zoya seakan menjauhi dirinya?
Waktu di acara 3 bulanan kemarin pun, Zoya tidak menghadiri acara itu. Tidak seperti biasanya Zoya begini!
Apa ini ada hubungannya dengan perasaan Bram padaku?
Naura mengetik sesuatu di layar ponselnya, dan mengirimnya ke Zoya. Tidak lama kemudian, pesan notif terbalaskan dari Zoya.
Naura terperanjak melihat balasan dari Zoya, tatapan nanar dengan bola mata yang berkaca menatap layar ponselnya.
Maafkan diri ini sahabatku ...
Jika memang ada yang harus disalahkan, salahkanlah diri ini ....