"Jika aku tidak menghormati mendiang suamiku, sudah kuludahi wajahmu itu!"
Suara Bunda menggema, raut wajahnya dipenuhi oleh kebencian, bola matanya menatap tajam mengarah ke madunya itu.
Abdi menelan ludah, sembari menggeleng pelan melihat situasi saat ini. Lalu Abdi menarik kuat Ibu dan Kakak tirinya itu, Abdi tidak mau mental Bundanya akan terganggu lagi. Karena ulah mereka.
Dengan langkah yang terburu-buru mengarah ke luar pintu ...
Brak!
Ibu dan Mbak Nengsi dilempar keluar dengan kasar layaknya barang bekas yang tidak berguna lagi.
Semua mata tertuju pada Ibu dan anak perempuannya itu, mereka bagaikan pengemis yang terusir oleh Tuannya.
"Tunggu pembalasanku, Abdi Manggala! Akan kubuat kalian menderita seumur hidupmu!" Ibu melempar senyuman piciknya mengarah ke Abdi.
"Ibu kebanyakan nonton sinetron ikan terbang, Buk! Mending sekalian kalian pulang ke rumah orang tuaku itu, kalian kan nggak punya apa-apa! Begitu kok masih mau betingkah!"
Suara Abdi tegas, mungkin sebagian orang yang melihat kejadian ini melihat Abdi sangatlah angkuh terhadap Ibu paruh baya ini. Tetapi di sisi lain, Abdi sangat puas bisa dengan mudah melawan Ibu tirinya. Yang di mana selama ini, Abdi terus menerus mengikuti perintah sang Ibu tirinya itu. Sebagai baktinya terhadap Ibu sendiri.
Tetapi, semua seakan berbanding terbalik di hati Abdi. Saat Abdi mengetahui semua kebusukan dari mereka.
"Kenapa, Bun? Kenapa raut wajah Bunda begitu?" tanya Abdi, sembari melemparkan tubuhnya ke sofa.
"Abdi ... apa yang Abdi lakukan tadi, itu nggak baik, Nak! Bagaimana pun juga Ibu itu adalah Ibumu juga," ucap Bunda pelan.
Berlin yang mendengar ucapan sang Ibunda, langsung memicingkan wajahnya. Seolah tidak setuju apa yang baru saja ia dengar. "Biarin to, Bun! Mereka juga udah jahat sama kita, wajar kalo Abang marah! Untung tadi ada Mbak Naura. Kalo nggak, gimana coba Bun?" Berlin menimpali perkataan Bunda dengan gemas.
"Iya, Bun. Selama 2 tahun lamanya pernikahanku bersama Mas Abdi, tidak sedikit pun mereka menganggapku seperti bagian dari keluarga mereka, hinaan, cacian, bahkan berburuk sangka padaku itu, adalah makanan sehari-hari untukku, Bun!"
Naura mulai menundukkan kepalanya, buliran air mata yang berjatuh tidak tertahan dengan cepat ia menghapusnya.
Selama ini hidup Naura bersama Abdi benar-benar bagaikan burung dalam sangkar emas, para tetangga melihat mereka akur, rukun dan damai. Nyatanya setiap hari hanya tangisan batin yang dapat Naura rasakan.
Jika berkumpul bersama keluarga Abdi, Naura selalu disindir tidak ada habisnya ... seolah hatinya tidak akan tersinggung mendengarkan itu semua! Perkataan tidak adanya keluarga Naura, menjadi makanan Naura sehari-hari.
Terkadang ...
Naura berfikir, di mana hati mereka sebenarnya? Mereka berkata seperti tidak punya hati sama sekali.
Atau sebenarnya, mereka senang melihat diri ini menderita? Itulah yang selama ini Naura pertanyakan di dalam benaknya.
Sebenarnya ... Naura tidak ingin dianggap seperti yang lainnya, hanya saja menganggapnya ada di keluarga besar mereka saja ... diri itu sudah senang.
Naura ingin mereka tahu, jika Naura pun mempunyai hati sama seperti mereka.
"Sabar, sayang. Sekarang kan sudah ada Bunda ..." ucap sang Bunda mencoba menenangkan anak menantu tersayangnya itu, sembari menepuk bahu Naura dengan pelan.
"Bunda tahu? Saat Mas Abdi bilang ... Ibu bukanlah Ibu kandungnya, hati ini sangat senang, Bun! Ditambah lagi saat Mas Abdi memberi tahu Bunda yang sebenarnya. Dan saat Bunda ke rumah ini pun, Bunda seakan menjadi Anugerah terindah yang Tuhan hadiahkan untuk Naura."
Suara Naura menggebu dan bergetar sembari terisak dengan air mata yang deras. Mereka berpelukan haru, saat ini Naura sangat bersyukur! Inilah rumah tangga yang Naura harapkan dari dulu.
Rumah tangga yang tidak memandang siapa dirinya, rumah tangga yang di dalamnya bisa menerimanya dengan lapang dada dan ketulusan.
Karena bagi Naura, menikahi bukan hanya sekedar dirimu hidup bersama suamimu. Tetapi, di mana saat dirimu mengucapkan kata pernikahan. Dirimu harus sudah siap menjadi bagian dari keluarga mereka.
Nah! Masalahnya saat dirimu siap menjadi bagian dari mereka, tetapi mereka selalu menghindarkan diri saat dirimu ingin menyatukan bagian itu.
****
Di sebuah kamar minimalis, Bram mengurung diri dari sepulangnya tadi. Tidak pergi makan bersama, tidak menemui mamahnya bahkan untuk sekedar keluar kamar menyapa keluarganya di ruang keluarga pun tidak!
Ya, beginilah Bram! Dokter muda tampan berumur 26 tahun itu, jika sudah urusan percintaannya bersama Naura pasti akan rumit, jika ada hambatan sedikit saja ... Bram akan pusing tujuh keliling memikirkannya.
Sebenarnya, sang Mamah pun sudah mengetahui sifat anaknya itu. Tetapi, baginya sampai kapan akan terus seperti ini?
Ia yakin ... Bram akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dibanding Naura. Dan lambat laun pun, Bram pasti akan mencintai perempuan itu juga. Karena ini hanya soal waktu!
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan keras dari pintu kamar, Bram masih bergeming ia tidak menoleh sedikit pun.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan itu mulai terdengar sangat keras!
Bram dengan terpaksa beranjak dari tidurnya, melangkah terhuyung menuju ke arah pintu. Merasa kesal siapakah yang berani mengganggu dirinya, saat ini.
"Siapa?" tanya Bram sembari membukakan handle pintu itu dengan perlahan.
"Ini Mamah!" sahutnya pelan.
Dengan melenggang masuk begitu saja, sang Mamah masuk dan mendudukan dirinya ke ranjang.
"Bram, maafkan Mamah. Mamah hanya ingin yang terbaik untuk dirimu, Bram! Hanya itu. Sungguh! Tidak lebih," ucap Mamah menatap sorotan mata Bram yang mulai nanar.
"Mah, Bram mohon. Kali ini aja, Mah. Bram sangat mencintai Naura, Mah! Naura pun nggak salah. Naura udah berkali-kali ngejauhin Bram, Mah! Tapi, Bram nya yang nggak bisa! Mah ... Bram mohon,"
Dengan suara yang menggebu sembari menggenggam jemari sang Mamah, Bram menangis di hadapannya. Seolah dirinya saat ini ingin sekali dimengerti bukan di nasehati.
Irna menelan ludahnya, hatinya sangat sakit melihat anak lelaki yang ia sayangi itu. Bisa menangis karena cintanya. "Bram ... Mamah yakin, ini hanya soal waktu. Yang sendirinya Bram bakalan lupa sama Naura, dan bisa nerima perempuan lagi ... di sini!" ucap Mamah pelan sembari menunjukkan ke arah hati Bram.
Bram menggeleng cepat, saat ini Bram benar-benar seperti anak kecil yang merengek meminta untuk dibelikan jajanan kecil. "Mah, nggak bisa! Selama bertahun-tahun aja, Naura ninggalin, Bram. Bram masih nyari pontang panting, Mah! Apalagi sekarang, Naura udah mengandung anak dari Bram, Mah."
Dengan suara yang kuat dan mata yang berkaca-kaca, Bram mengatakan dengan sangat tulus.
Irna melepaskan genggaman anak lelakinya, kini hatinya mulai mengalah. Anak lelakinya berhak untuk mengejar kebahagiaannya meski kebahagiaan itu di dapat dengan cara yang salah.