Wanita Penghibur untuk Suamiku

Menjelaskan

"Aku sangat mencintaimu, Nau. Sungguh!" ucap Bram pelan dengan bibir yang masih menempel di bibir Naura.

 
Kemudian, Bram melepaskan bibirnya dari bibir lembut Naura. Bram memeluknya erat, "Sekarang Kau tau kan, Nau? Perasaanku sama sekali tidak berubah dari dulu," ucap Bram dengan kedua tangan memegang wajah Naura lembut.
 
Naura menyoroti dalam mata itu, mata yang dulu sering memandanginya dengan tulus. Dan sekarang ... seandainya, Bram tahu. Jika Naura pun masih tetap mencintainya seperti dulu. 
 
"Nau, apa Kau masih mencintaiku?" tanya Bram dengan mata yang masih menatap Naura. 
 
Naura berdiam seketika saat mendengar pertanyaan dari Bram, ia menundukkan kepalanya perlahan. Dirinya bingung harus mengatakan hal yang bagaimana? 
 
"Aku masih mencintaimu, sama sepertimu, Bram! Tidak ada yang berubah sedikit pun!" Naura menangis dengan deraian air mata.
 
Bram menelan ludahnya, jantungnya berdegup kencang! Seolah ini hari pertama ia mendengar kata-kata itu. Hatinya seperti ingin melompat keluar dari tempatnya dan berdansa bersama karena terlalu senang.
 
Bram mencoba mengatur ritme napasnya, dengan pelan ia mengangkat wajah Naura. "Lalu bagaimana perasaanmu saat ini pada Abdi, Nau?" tanya Bram menyatukan kedua alisnya bingung.
 
"Aku juga mencintainya, Bram! Maaf." Naura menjawab pelan dengan kepala yang masih menunduk.
 
Dengan perlahan, Bram melepaskan tangannya dari wajah Naura. Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa, ingin rasanya diri itu membanting seluruh perabotan yang ada di kamarnya. Mengutuk semua orang atas jawaban Naura kali ini, Bram ingin selalu menjadi satu-satunya di hati Naura sampai kapan pun.
 
Kemudian, Bram tersadar dari fikiran yang bergerumuh. Wajar saja, Naura saat ini mencintai Suaminya! Tidak ada yang salah kan? Yang salah itu saat Naura sudah menikah, tetapi ... masih mencintai dirinya.
 
Bram, melemparkan kepalanya dengan pusing. Ia memijiat dahinya dan menoleh ke arah Naura, ia mengamati Naura yang tengah duduk di sampingnya dengan wajah yang menunduk pilu.
 
Ia menghampiri Naura, mengelus bahunya dengan pelan. "Apa lagi yang kamu tangisi, Nau?" tanya Bram.
 
Naura tidak menjawab apapun, ia hanya bergeming sembari menangis. Tangisan itu terdengar menyakitkan bagi Bram. Keadaan Naura saat ini tidak bisa digambarkan, oleh apa pun! Naura, sangat terpukul dengan keadaan yang tidak jelas asalnya.
 
"Nau, Aku mohon. Jangan pernah menangis lagi ya ...." Bram menarik tubuh Naura dan memeluknya erat.
 
"Memang, Aku yang salah kan, Bram?" tanya Naura. 
 
Bram mendorong tubuhnya pelan ....
 
"Salahmu di mana, Nau?" Bram menyoroti mata Naura, yang penuh dengan genangan air mata di pelupuk matanya. 
 
"Se-sebenarnya, dulu ... Aku menikah nggak mencintai Abdi, Bram!" jawab Naura pelan.
 
Bram membulatkan matanya mengarah lurus ke Naura, ia menatap bingung wanita yang ada di hadapannya ini. "Lalu?" tanya Bram singkat.
 
Naura menceritakan semuanya dengan sangat detail ....
 
Naura bercerita, saat itu ... dirinya tengah duduk merenung di depan jendela kamar, sembari berharap tenang dengan tiupan angin yang menyejuki seluruh tubuhnya.
 
Kemudian, tanpa sengaja ia melihat segerombolan pemuda sepantaran dirinya masuk mengarah ke koridor panti asuhan tempat ia tinggal dulu. Naura mengamati mereka satu persatu, sampai tiba matanya terhenti. Pada pemuda yang dulu pernah semobil dengan pelaku tragedi kecelakaan keluarganya.
 
Naura selalu mengingat wajah nya, wajah yang manis, berambut hitam, dengan tahi lalat kecil di samping matanya. 
 
Ia mengamati pemuda itu dengan jelas, sampai akhirnya pemuda itu sadar dirinya diperhatikan, sehingga ia melempar senyuman manis mengarah pada Naura. Dengan reflek Naura membalas senyuman itu.
 
 
Dan pemuda itu melangkah ke arah lain, sampai hilang dari pandangannya. Di saat malam telah tiba, Naura mulai meragukan tebakannya. Ia mulai mencoba menenangkan dirinya kembali, tetapi telah mencoba hal apapun! Dirinya tetap saja semakin kacau setelah melihat wajah pemuda tadi yang sangat mirip dengan apa yang ia lihat dulu.
 
Di malam itu, ia menangis sepanjang malam menatap bulan. Bulan yang ia yakini adalah tempat di mana keluarganya kini bersama sepanjang hari. 
 
Dengan dingin anginnya malam ia melentangkan tubuhnya di balkon dengan mata yang mengarah lurus ke atas langit. Ia melakukan itu agar ia tetap bersama keluarganya meski dengan keadaan yang tidak sama lagi.
 
Diiringi riyuhnya suara denting gerobak nasi uduk dan ayam yang berkokok saling bersautan. Naura membuka pelopak matanya pelahan, dirinya menatap kaget mengarah ke semuanya. Ia tidak menyangka jika hari sudah sepagi ini! Itu berarti dirinya tidur semalaman di balkon belakang dengan sendirinya. 
 
Naura mulai beranjak duduk perlahan, ia mengamati hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang dari atas balkon. Naura menatap wajah-wajah orang itu, mereka bahagia seperti tidak ada kesedihan yang berat seperti dirinya. 
 
Tubuhnya lemah seakan tidak ada lagi harapan untuk hidup, di setiap harinya ia hanya berdoa untuk Tuhan, agar cepat mengambil nyawanya dan mengumpulkan ia kembali bersama keluarganya.
 
Lama sudah ia mengamati di sekitar ... tiba-tiba dari arah belakang pintu balkon, seperti ada yang melangkah menghampirinya. Tadinya Naura tidak terlalu memperhatikan suara langkah kaki itu.
 
Hingga akhirnya, Buk Ranti memanggil Naura dan mengenalkannya pada pemuda yang kemarin tersenyum ke arah dirinya. 
 
Naura menatapnya dengan seksama, Benar! Dia benar-benar persis seperti pemuda di dalam mobil itu. Pemuda itu mulai mengenalkan dirinya dan saat ini Naura tahu pemuda yang selama ini ia cari bernama Abdi Manggala. 
 
Naura tersenyum manis pada Abdi saat dirinya mulai mengenalkan namanya. Sejak hari itu, Abdi selalu saja mencari celah untuk menghiburnya! Bahkan mendekatinya dengan romantis agar dirinya bisa memiliki diri Naura seutuhnya.
 
Yang Abdi lupa saat itu ialah, ia lupa Naura ini adalah korban pembunuh bayaran dari papanya. Karena hal itulah, Naura mendekati Abdi bahkan rela menikah dengannya tanpa rasa cinta. 
 
Sebenarnya, meski Abdi tidak dengan susah payah melakukannya sebaik mungkin, Naura pasti akan tetap bersama dirinya. Bahkan jika waktu itu Abdi menjauh, sudah bisa dipastikan, Nauralah yang akan mengejarnya.
 
"Dan saat ini, Aku sudah menikah bersama Abdi! Aku sudah memberi tahu siapa diriku sebenarnya. Aku malah nggak bisa membalaskan dendamku, Bram! Diri ini malah terjebak sendiri dengan rencana yang Aku buat." Naura berteriak ke arah Bram dengan emosi yang tidak terkontrol.
 
Bram dengan cepat memeluk Naura, menangis sembari menciuminya. Bram tidak menduga sebelumnya, bahwa hidup wanita yang ia cintai ini sangatlah pelik. 
 
Kini dirinya semakin mencintai Naura, setelah tahu, sebenarnya Naura tidak pernah menghianati cintanya. 
 
Bram, mencium bibir Naura seperti menyalurkan napas, Napas Naura yang terlihat sesak di karenakan Naura bercerita tiada jeda sedikit pun. 
 
Dan perasaan Naura saat ini pun lega, setelah menceritakan semuanya pada Bram.
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!