Wanita Penghibur untuk Suamiku

Bertemu sang Bunda

"Ntah lah ... Mbak, Berlin belum berfikir sampai kesana. Yang aku fikirkan saat ini, di mana sebenarnya anakku." 

 
Berlin meletakkan kedua tangannya di atas jemari Naura. "Mbak percaya kan dengan apa yang aku ucapkan?" Berlin menatap mata Naura penuh harap.
 
Naura menyingkirkan genggaman tangan Berlin dan beranjak berdiri, kemudian duduk di sisi kanan ranjang. "Apa yang membuatmu meragukan Mbak, Lin?" tanya Naura dengan nada sangat rendah, sembari mengelus kepala Berlin lembut.
 
Berlin menyenderkan kepala di bahunya, air mata Berlin terjatuh tidak tertahan saat ini. "Aku hanya takut ... Mbak, takut jika perkataanku malah membuat kalian bertanya-tanya tentang kebenarannya," ucap Berlin yang terlanjur nyaman di dekapan kakak iparnya itu.
 
Naura tidak tahu apa yang saat ini sedang Tuhan rencanakan, seolah semuanya dibuat rumit tidak ada lagi celah untuk menyelesaikannya.
 
****
Setelah semalaman Berlin menceritakan semuanya terhadap Naura, Naura berinisiatip mengajak Abdi untuk mempertemukan Berlin dan Bunda mereka. 
 
Karena bagaimana pun, tidak ada seorang Bunda yang tidak merindukan anaknya sedetik pun saat mereka terpisah jauh dari dekapannya. Begitu pun sebaliknya.
 
Tadinya Abdi menolak, tetapi ... setelah rayuan maut Naura keluarkan. Akhirnya seorang Abdi yang terkenal tegas tetapi selalu manis pada istrinya itu, tidak kuat melawan seluruh rayuan maut sang istri yang membuat Abdi akhirnya tidak bisa berkutik lagi dan dengan terpaksa harus mengiyakan ajakan itu.
 
"Tapi janji ya ... Nau dengan mas, Nau bisa menerima Bunda seperti orang tuamu sendiri," ujar Abdi memohon.
 
"Aku janji ... Mas." Naura tiba-tiba mencium bibir tipis suaminya.
 
Abdi hanya mengulum senyumnya penuh kehangatan.
 
Tiba-tiba, Berlin datang dengan kursi roda yang didorong oleh suster keluar dari arah ruangan tempat pengecekkan seluruh memar di tubuh Berlin. 
 
"Mau ke mana, Bang? Kok udah nunggu Berlin aja," ledek Berlin seraya menggoda.
 
"Kamu lagi pingin kemana?" bisik Abdi.
 
"Aku pinginnnnn banget ketemu Bunda, Bang!" seru Berlin penuh harapan.
 
Naura dengan mantap melangkahkan kakinya menghampiri Berlin. "Sekarang juga kita menemui Bunda ya," ucap Naura melempar senyuman ke arah Berlin. 
 
Dan mereka melangkah bersama melewati koridor rumah sakit mengarah ke parkiran.
 
****
Bagi Bram Mahesa jaya kesuma, keramaian saat ini tidak lagi membuat dirinya senang. Salah satunya adalah hiruk pikuk kerabat pasien yang sedari tadi berlalu lalang melewati dirinya. 
 
Mungkin saat ini semua orang sedang menganggapnya dokter aneh! Yang suka bengong sendirian dan hobi menyesap minuman kopi hangat dari kantin rumah Sakit.
 
Pikirannya hanya terlalu fokus pada seorang wanita yang kini sudah menjadi milik orang lain, semua apa pun yang ia kerjakan selalu saja Naura ada di sana. Di pikiran Bram, yang ntah sampai kapan pikirannya tentang Naura menghilang.
 
Sampai saat ia duduk menyendiri disini, ia selalu mengingat wajah Naura di mana-mana.
 
"Eh tunggu! Tapi itu memang Naura kan?" Bram bergumam sendirinya sambil menyesap kopinya, melihat satu wanita yang hadir berjalan anggun penuh pesona.
 
Ia hanya bisa memperhatikan wanita pujaannya dari kejauhan. Tidak bisa mendekat apa lagi memeluk! Itu sangat tidak mungkin!
 
"Kamu tau ... Nau, sangat berat rasanya melihat dirimu sudah benar-benar menjadi milik orang lain." Bram tetap memperhatikan langkah mereka dari kejauhan sampai akhirnya bayangan mereka tidak terlihat lagi. 
 
Bram mengambil dompet dari balik sakunya dan mengeluarkan foto Bram berdua bersama Naura saat itu. Sebenarnya foto itu adalah foto persahabatan mereka bertiga, namun Bram dengan sengaja melipatnya yang membuat diri Zoya tidak terlihat di foto itu.
 
"Aku ingin kembali pada saat itu ... Nau, di saat dirimu hanya membutuhkanku seorang. Bukan yang lain." Bram meneteskan air matanya dan tetesannya membasahi foto itu.
 
Dengan kedua tangan mendekap ke dadanya yang di selipi oleh foto itu. Bram berdoa dengan sangat halus. "Aku ingin dirinya Tuhan, sekali saja." Bram menguatkan dekapannya.
 
Sekarang Bram benar-benar sudah menjadi orang yang gila karna jatuh cinta, jatuh ke dalam cinta yang sulit. Yang membuatnya tidak bisa berkutik dalam keadaan apa pun. 
 
***** 
 
Di sisi lain, sekarang Abdi, Naura dan Berlin sedang menyusuri taman di rumah sakit jiwa tempat di mana selama ini sang ibunda mereka dirawat. 
 
Abdi mengamati orang yang berada di sana satu persatu, sesuai perintah perawatnya tadi. Abdi mencari Bundanya yang memakai baju kuning flower dan jepit kuning di sisi kiri rambutnya.
 
Sebenarnya Naura sempat terkejut saat perawatnya memberi ciri-ciri baju yang dikenakan oleh sang Ibunda, Karena secara kebetulan warna itu adalah warna kesukaan sang Adiknya Naura. 
 
Namun, dengan cepat Naura menepiskan perasaan itu, ia tidak mau menambahkan beban Abdi jika ia harus terlalu larut dalam masalah keluarganya.
 
"Nah itu dia ...." Abdi dengan cepat melangkah ke arah wanita itu.
 
Sesampainya di sana Naura sangat kaget melihat mertuanya saat ini, ia benar-benar memakai baju yang sama dan jepit yang sama saat adiknya meninggal.
 
Namun ... lagi-lagi Naura mencoba tetap tenang dan berusaha rileks, seolah sedang tidak terjadi masalah apa pun.
 
"Maafkan aku, maafkan keluargaku ...," ucapan itu terus berulang keluar dari dalam mulut wanita paruh baya itu, terlihat tua tetapi wajahnya sangat berseri.
 
"Bun, ini Berlin dan Abdi datang," ujar Abdi sembari mendorong Berlin ke arah sang ibunda. 
 
"Berlin ... Abdi." Mata sang ibunda sontak berkaca-kaca.
 
"Maafkan Bunda ... Nak, tidak mampu menjaga kalian," ucap Bunda diiringi dengan derasnya air mata yang terjatuh.
 
"Dan ini istriku ... Bun," Abdi menarik Naura ke arah yang sama.
 
"Namaku Naura ... Bun," Naura mengenalkan dirinya saat diri Naura ingin menyalami tangan mertuanya. 
 
Bunda tiba-tiba histeris berteriak. "Maafkan aku ... maafkan keluargaku." teriak Bunda.
 
Naura sepertinya sudah mengerti dengan keadaan saat ini, ia mengingat kembali seluruh cerita Berlin kemarin, dan menggabungkannya dengan keadaan sang ibunda saat ini. Bisa dipastikan Bunda sangat memendam perasaan yang amat sangat dalam. 
 
Dengan langkah yang mantap Naura menghampiri mertuanya itu. Menggenggam kuat jemarinya. "Bun, aku adalah salah satu keluarga yang selamat dari kecelakaan itu. Aku mewakili seluruh keluargaku sudah memaafkan inseden kecelakaan itu Bun," ujar Naura dengan haru, bersimpuh di kedua kaki mertuanya.
 
Bunda langsung memeluknya dengan erat, "Terimakasih Nak, Bunda sangat senang mendengarnya." 
 
Kemudian tiba-tiba tubuh Bunda terhuyung. Tentu saja Naura langsung tanggap dan menangkap tubuh Bunda yang kini masih pinsan tidak sadarkan diri 
 
Abdi dengan cepat membopong sang Ibunda ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya ke kasur. "Buk ... apa ibuk baik-baik saja?" Abdi mengguncang pelan tubuh Bunda. 
 
Dengan perlahan pelupuk mata sang ibunda terbuka lebar. "Naura," Bunda langsung memeluk Naura dengan sangat erat. "Maafkan Bunda ya ... Nak. Terima kasih akhirnya permintaan maaf itu bisa Bunda sampaikan dengan sendirinya. Bunda selalu berdoa pada Tuhan agar bisa bertemu denganmu ...," ucap mertuanya itu, kini mereka berdua berlukan sangat haru penuh dengan kebahagiaan.
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!