Wanita Penghibur untuk Suamiku

Kemenangan Demi Kemenangan

"Mas!" jerit Aqila tubuhnya kini mulai melemah. 

 
Abdi dengan santai menoleh mengarah pada Aqila. "Sabar ya ... Aku segera menelpon satpam untuk membopongmu keluar," ujar Abdi memasang wajah datar.
 
"Halo ... Pak, tolong ke ruangan saya sebentar ya, ada emergency sedikit. Cepat ya, Pak." Abdi berbicara datar.
 
Lalu dengan wajah yang datar, Abdi kembali lagi duduk tanpa menaruh iba sedikit pun pada Aqila. Ia pun sempat mempotret Aqila dan mengirimkan gambar itu pada Naura.
 
"Nau, Aqila jatuh ke lantai karna ulahku. Mungkin saat ini bayi di dalam kandungannya tidak selamat. Apa istri mas ini senang sekarang?" 
 
Isi pesan itu beserta gambar Aqila yang berlumuran darah di kedua kakinya.
 
"Hah? Apa dirimu gila mas? Itu anakmu, darah dagingmu. Setega itukah kamu Mas?" balas Naura cepat.
 
"Anak itu pun tidak ingin dilahirkan dari wanita rendahan, seperti Aqila, Sayang!" balas Abdi, tetapi pesan kali ini tidak dibalas oleh Naura. 
 
Abdi melemparkan kepalanya ke kursi, meremas rambutnya pusing dan mengabaikan wanita penghibur itu yang tengah merangkak ke arahnya, meminta sedikit belas kasih dari seorang yang ia anggap calon suaminya itu.
 
Tetapi sebelum Aqila sampai menggapai Abdi, ketukan pintu terdengar yang membuat mereka secara bersamaan menoleh ke arah luar.
 
Tok ....
 
Tok ....
 
Tok ....
 
"Pak, ini Saya Kiki yang ditugaskan Bapak, apa Saya boleh masuk?" tanya suara berat seorang pria dari balik pintu.
 
Abdi hanya berdeham, menandakan security itu untuk segera masuk saja. "Astaghfirullah ... Buk, ini ada apa, Pak? Saya bingung harus gimana, Pak?" tanya security itu mimik wajahnya seketika berubah sangat panik.
 
Dalam keadaan sangat panik, Pak Kiki langsung mengangkat Aqila dengan cepat. Abdi yang menanti akan kematian Aqila itu hanya melangkah santai mengekori Securitynya.
 
Di saat mereka bertiga baru saja keluar dari dalam lift, sontak semua netra tertuju pada mereka. Pandangan aneh dilempar ke arah Abdi dari seluruh semua karyawannya.
 
Yang bisa Abdi lakukan sekarang adalah, mengulum senyumnya dengan sangat manis. Lantas ia harus apa lagi? Marah dengan semua karyawannya? Atau malah memecati mereka satu persatu? Melakukan hal yang jelas-jelas bukan salah mereka? Itu terlihat sangat bodoh bagi Abdi.
 
Dengan santainya Abdi melangkah keren melewati koridor, "Selamat siang ...." Abdi menyapa seluruh karyawannya. 
 
"Siang, Pak," balas seluruh karyawan dengan tatapan senyum.
 
Sesaat Pak Kiki ingin menaikkan wanita yang kini dalam gendongannya, ke dalam mobil Bosnya. Dengan segera Abdi mencegah. "Kita tunggu Ambulance saja ... Pak, Mobilku akan untuk menemui client hari ini. Tidak enak kalo baunya amis," sanggah Abdi dengan elakan yang cukup menawan.
 
"Mas ...." panggil Naura dari kejauhan sembari melambaikan tangannya. 
 
Abdi seketika berlari menghampiri istri tercintanya itu, "Nau, kau jangan kemana-mana! Mas nggak mau ada apa-apa dengan calon anak kita," ujar Abdi sembari mengelus perut Naura. 
 
Naura dengan kasar menelan ludah, melihat suaminya sangat mengharapkan kehamilannya. Bahkan dengan tega ingin menghabiskan wanita penghiburnya yang selama ini ia bela, demi dirinya! Ah rasanya Naura sangat senang dengan kehamilan ini. 
 
 
Lantas ... bagaimana saat Mas Abdi tahu bahwa janin ini bukan anaknya? 
 
"Ah! Tidak! Saat ini bukan waktu yang tepat memikirkan itu," batin Naura mencerca, sebenarnya Naura tidak ingin kehilangan anak yang di kandung Aqila! Meski sebenarnya Naura sangat membenci ibunya! Tetapi bagaimana pun, anak itu adalah benih dari Mas Abdi yang sejatinya adalah anak tiri Naura. 
 
"Mas ... aku menginginkan anak Aqila!" ujar Naura sembari mengelus bahu Abdi.
 
Sedangkan Abdi yang mendengar ucapan Naura hanya bisa cemberut, seolah tidak suka dengan apa yang di ucapkan Naura barusan.
 
"Aku tidak ingin membuat urusan di kemudian hari ... Nau, katanya dirimu ingin kita bahagia kan? Nau percayalah hidup kita nanti akan sangat bahagia, jika hanya kita bertiga tanpa tambahan orang lain," jawab Abdi pandangannya menerawang dan bibir yang mengulum senyum.
 
Naura menunduk pilu, tidak mampu lagi menjawab perkataan suaminya. Bukankah memang hal itu yang ia harapkan? Lantas sekarang mengapa Naura seakan tak rela? 
 
"Pak Abdi ...," ucap laki laki yang berseragam Satpam itu menghampiri mereka tersengal-sengal.
 
"Buk, pak, gimana ini? Ibuk ini sudah sangat sekarat! Jika dibiarkan berlama-lama bisa jadi wanita ini meninggal Pak. Dan kantor kita akan terkena dampaknya!" Pak Kiki menjelaskan dengan panik.
 
"Apa yang dikatakan Pak Kiki benar ... Mas, sepertinya jika kita menunggu Ambulance itu sangat lama. Kita harus pake mobilmu ya." Naura mengangguk membenarkan perkataan Pak Kiki. 
 
"Tapi ... Nau?" sanggah Abdi.
 
"Mas tolonglah." Naura merayu suaminya.
 
Dan Abdi segera membopong Naura ke mobilnya. Dengan syok Naura membulatkan mata ke arah Abdi "Hah? Aku malu ... Mas, turunin!" rengek Naura. 
 
"Persetan dengan Mereka ... Nau, bodok amat tentang tanggapan Mereka yang terpenting istriku baik-baik saja. Kau jangan bawel! Ke mobil itu jauh! Mas nggak mau Kau jalan sejauh itu." 
 
Dengan tas yang menutup wajah seolah malu, tetapi yang sebenarnya hati Naura sedang menari bahagia. Sebenarnya gombalan seperti ini sering ia terima setelah mereka menikah. Tetapi lain hal dengan perasaan yang sekarang, ntah mengapa situasi ini sangat berbeda. Rasanya seperti menang dalam pertarungan yang sangat sengit. 
 
Abdi menaruh tubuh Naura dengan hati-hati di kursi mobil. "Terima kasih ... Mas," lirih Naura ramah. 
 
Semua karyawan pun tersenyum melihat Abdi menggendong Naura dengan romantis, mereka sangat mengagumi sosok pasangan suami istri ini sedari dulu. Tetapi fikiran para karyawan saat ini penuh dengan pertanyaan, siapa yang sebenarnya wanita yang di gendong security itu? Bukankah wanita itu selingkuhan Bos Mereka? Lalu mengapa Ada Buk Naura mendampingi Pak Abdi? Para karyawan pun berkumpul, dengan menggeser kursi mereka bersamaan. Sesaat setelah Bos Mereka baru saja pergi! Bukan untuk melakukan tugas kantor, melainkan berkumpul untuk menggosipkan Bos Mereka sendiri.
 
****
Di tengah lajuan kencang mobilnya, tiba-tiba mobil itu terhenti di depan warung kaki lima. "Mas ngapain?" tanya Naura sembari menatap heran suaminya.
 
"Aku mau membeli selop jepit untukmu Nau, liat tuh kamu pake high heels! Nggak bagus buat para Ibu hamil muda tau!" Abdi mendengus.
 
"Astaghfirullah ... Buk, ini temennya pak Abdi udah sekarat. Kok masih mikirin sendal jepit!" Pak Kiki menggeleng melihat kelakuan Bos besarnya yang selama ini ia kenal sebagai pria yang dermawan.
 
"Maap ya ... Pak," Naura membalikkan tubuhnya dan menyatukan kedua tangannya untuk meminta maaf. 
 
Tiba-tiba Abdi membuka pintu mobil Naura, dengan posisi berjongkok di kakinya untuk menggantikan sendal Naura.
 
"Mas ... kayanya jangan lebay begini deh, Nau bisa memakainya sendiri." Naura tersipu malu.
 
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!