2 hari setelah penjelasan itu, pikiran Naura seolah pulih tiada dendam. Pikiran itu seakan sirna setelah Mas Abdi menjelaskan semuanya.
Tetapi setelah penjelasan itu, pikiran Naura tertuju pada keluarga suaminya. Malang nian nasip keluarga Mas Abdi, Naura tidak habis pikir istilah tentang Ibu tiri itu benar adanya.
Lalu bagaimana keadaan Berlin sekarang? Ingin sekali aku menemui mereka. Naura membuang napas nya kasar, dengan lembut dia menatap wajah Mas Abdi yang berbaring di sebelahnya.
"Kenapa Nau? Kamu mandangin Mas nyampek segitunya, ada maunya ya?" ledek Mas Abdi sembari mencubit batang hidung Naura.
Naura meremas rambutnya dengan pusing, "Aku mikirin Adikmu Mas dan bunda tentunya. Nau ingin bertemu mereka," ucap Naura tetap nanar.
"Mas pun memikirkan hal yang sama, Nau. Tapi kayanya Ibu nggak akan ngizinin."
"Apa harus dengan cara kasar, Mas?" tanya Naura dengan membulatkan bola matanya.
"Enggak... enggak! Mas nggak mau lagi ada kekerasan."
"Baik lah ... Mas, oh iya apa sekarang kamu mau ninggalin Aqila Mas? Demi aku?" tanya Naura dengan secercah harapan.
Mendengar pertanyaan Naura, Abdi segera beranjak duduk dari tidurnya. Kemudian membuang napas dengan berat. Jujur saja, Abdi menginginkan kehidupan rumah tangganya sama seperti yang lain. Bahagia tanpa masalah sedikit pun!
Lalu Abdi membalikkan tubuhnya ke arah Naura, "Maafkan Mas ... Nau, Mas nggak mungkin meninggalkan Aqila. Aqila hamil anak Mas ... Nau," ucap Abdi perlahan.
Naura tidak terkejut mendengar perkataan itu, memang sudah sejak lama Naura mengkhawatirkan perihal ini. Tetapi harus bagaimana lagi? Bukan kah Naura yang sudah mengobarkan apinya sendiri. Lantas sekarang?
"Aku harus apa, Tuhan?" batin Naura bergumam.
Naura mengatur ritme napasnya yang mulai terasa sesak.
"Nau, Mas mohon. Mas nggak tau harus berbuat apa lagi?" sebuah suara dengan nada sangat lembut.
Naura kini hanya menunduk pilu, bimbang atas apa yang saat ini terjadi pada hidupnya. Sebenarnya kehamilan Aqila tidak membuat dirinya pusing. Tetapi malah dirinya lah yang saat ini membuatnya pusing tujuh keliling tiada henti.
"Aku juga hamil ... Mas," ujar Naura dengan lemah.
"Hah? Apa kau hamil, Nau?" sahut Abdi bola mata yang berbinar dengan air mata yang tertahan di pelopaknya.
Naura dengan cepat mengangguk, melihat suaminya berbahagia seperti itu. Rasanya perasaan bersalah semakin bergemuruh di dadanya. Seandainya Mas Abdi tahu jika anak yang ia kandung ini bukanlah dari benih dirinya, melainkan hasil perselingkuhan Naura dan Bram! Apakah Mas Abdi tetap menerima anak ini?
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi! Sampai kapan pun, anak ini akan tetap menjadi anak Mas Abdi!"
"Nau, kenapa malah bengong tooo?" ucap suaminya sembari melambaikan ke lima jarinya, di hadapan wajah Naura yang sedari tadi memberi tatapan kosong mengarah ke depan.
Naura mengerjap, kemudian menyenderkan kepala di bahu suaminya. "Kapan ya ... Mas, kita hidup bahagia lagi seperti dulu?" tanya Naura dengan lemah lembut.
"Ah! Sekarang pun Mas sangat bahagia ... Nau, karna sebentar lagi. Kita akan bertiga."
"Berlima Mas, Aqila dan anaknya?" ucap Naura yang tengah sibuk menghitung jemarinya.
"Sssuttt, itu mah jangan di hitung," sanggah Abdi dengan memberi kode jari satu yang di tempelkan pada bibir Naura.
"Oh iya ... Nau, Mas ke kantor dulu ya. Mumpung masih jam 10 nih, nggak enak dengan karyawan Mas. Kalau datengnya selalu telat." Abdi menimpali kembali.
Naura hanya menjawabnya dengan tersenyum, kemudian membaringkan tubuhnya ke ranjang. Menatap langit-langit dengan sinar yang param, pikirannya kembali mengingat di pagi itu. Di hari saat di mana untuk pertama kalinya Naura bersenggama dengan pria lain, selain suaminya.
Kemudian Naura membalikkan tubuhnya, mencari ponsel untuk menghubungi Bram. Naura pikir, Bram harus tahu soal kehamilannya ini.
"Bram Aku hamil." Isi pesan itu yang di kirimkan pada Bram.
"Sungguh? Itu anakku kan?" Bram membalas pesan itu dengan cepat.
Kemudian Naura segera cepat menghapus pesan itu dengan terburu-buru. Naura tidak ingin Abdi bisa melihat pesan itu.
****
Dengan ketampanan yang rupawan, Abdi melangkah menyusuri koridor. Semua mata menunduk melihatnya, semuanya masih terlihat sama. Meski isu perselingkuhan itu mulai menyeruak sampai ke penjuru kantor ini.
"Tiiittt ...."
Suara kartu akses yang ditempelkan ke atas scanner.
Dengan kedua mata yang membulat saat pintu akses itu terbuka, Abdi mendapati Aqila berdiri dari dalam ruangan lift itu.
Abdi menghela napas berat, lalu dengan langkah yang terburu-buru menutup tombol lift itu dengan kasar. "Qil udah aku omongin berkali-kali kan? Jangan pernah ke kantorku!" bentak Abdi.
"Mas jangan gitu dong, aku udah berusaha tau! Nyolong card akses dari tas milik karyawanmu." Aqila mendengus sebal.
Abdi dengan cepat menggelengkan kepalanya berusaha sekuat mungkin untuk menahan amarahnya, yang sebenarnya ingin sekali mencerca wanita di hadapannya saat ini.
Pintu lift terbuka, dengan langkah yang sangat cepat Abdi meninggalkan Aqila. Berharap wanita itu menyusulnya dengan berlari dan jatuh, hingga akhirnya menyebabkan dirinya harus keguguran.
Yah! Itulah fikiran busuk Abdi saat ini, mengharapkan anak itu tidak pernah ada di dunia, meski itu darah dagingnya sendiri.
Kini Abdi menyesal telah berhubungan dengan wanita lain selain istrinya, bagi Abdi tidak ada yang melebihi istrinya dalam bentuk apapun. Meski saat ini tubuh Naura tidak seindah Aqila, tetapi Naura tetap begitu sempurna di mata Abdi. Apa lagi setelah tahu, bahwa Naura adalah korban dari mendiang papahnya dulu.
"Maafkan Masmu ini, Nau ... yang telah bodoh menaruh luka di hatimu," ujar Abdi sembari memijat dahinya pusing.
Abdi melemparkan tubuhnya ke arah kursi besar yang tersedia, dengan mata yang tertutup seolah bingung diri itu harus melakukan apa lagi untuk keutuhan rumah tangganya?
Mungkinkah dengan cara menggugurkan anak itu?
Atau malah harus menghabiskan Aqila?
"Enggak! Itu nggak mungkin!"
"Gilak kali, gue jahat banget!"
Otak Abdi kini seolah tiada hentinya mencerca, tiba-tiba dengan sentuhan lembut terasa, Aqila menduduki tubuh Abdi yang sedari tadi kelihatan pusing.
Hembusan demi hembusan panas keluar dari bibir Aqila menyusuri telinga Abdi, tetapi anehnya tidak sedikit pun Abdi tergoda pada wanita yang sejak tadi berada di atasnya. Abdi malah merasakan pengap dan reflek mendorong sangat kuat Aqila ke lantai, hingga ia terjatuh dengan posisi terduduk.
"Arh!" Aqila mengerang sakit darah yang mengalir di lantai, membasahi kedua kakinya.
Kemudian Abdi menoreh senyum di bibirnya, Lalu menatap Aqila dengan tatapan tajam nan sinis.
"Mas, tolong panggilkan satpam," rengek Aqila sembari memegang perutnya kesakitan.
"Oke," sahut Abdi singkat.
Abdi mengangkat telepon di mejanya, menekan tombol yang sengaja di buat lama. Sembari berharap wanita yang terkulai lemas meringkuk kesakitan itu, mati karena kehabisan darah.