"Kalian dari mana aja sih? Aku takut sendirian di kamar Bram." Naura mencoba beranjak duduk perlahan.
Bram dan Zoya saling menatap bergantian, "Kami sedang membicarakan rencana balas dendam," sahut Zoya.
"Tapi bukan balas dendam yang kaya di film-film horor ya, Nau. Ntar kamu mikir yang enggak-enggak lagi," jawab Bram menimpali.
Naura kembali menutup matanya kembali dan perlahan menyenderkan kepalanya di tempat tidur. "Terus? Apa rencana kalian?" dengan perlahan Naura membuka matanya.
"Aku ingin membuat Abdi cemburu dan kehilangan kau, Naura."
"Lalu?" Naura mengerutkan dahi.
"Di saat rencana itu berhasil, baru nanti kita buat Abdi menderita dengan kesalahannya yang sekarang," ucap Zoya sambil tersenyum miring.
"Sebenarnya kebencianku dengan Abdi tidak ada apa-apanya, dibanding benciku terhadap keluarganya." Naura tersenyum menghela napas kasar. Tatapan wajah yang datar dan penuh kebencian, menatap sinis ke arah depan dengan hati yang mungkin terus memaki keluarga suaminya. Kedua sahabat Naura melihat perilakunya, bergidik seolah ini bukan hal main-main lagi.
Kemudian pembicaraan itu mulai menjadi serius, Zoya dan Bram melangkah duduk mendekati Naura. "Apa harus ada yang terbunuh, Nau?" tanya Zoya memastikan dengan nada yang sedikit khawatir.
Naura meremas dadanya kuat, ntah berapa kali ke dua sahabatnya melihat darah mengalir di baju Naura. "Nau, Aku mohon jangan terlalu memegang kuat dadamu. Itu bisa menyakitimu atau malah membuat luka di dadamu infeksi," ucap Bram menurunkan tangannya perlahan dari dada Naura.
"Sakitnya ini, tidak ada apa-apanya, Bram ... dengan semua perlakuan mereka! Mereka itu keluarga gila!" jawab Naura menatap Bram dengan mata yang berkaca-kaca.
Bram memeluk Naura, "Tenang lah, Nau ... tenang ...," bisiknya ke telinga kanan Naura.
"Aku ingin pulang," bisik Naura saat Bram memeluknya.
Kemudian Bram membuang tatapan tajam ke arah Zoya. Dengan kedua alis yang sengaja dinaikkan, sebagai isyarat pertanyaan bagaimana.
Zoya hanya membalas dengan kedua bahu yang terangkat.
"Maksutmu bagaimana sih, Nau? Katanya mau balas dendam? Terus ... kok malah pulang?" tanya Zoya
"Bagaimana aku ingin membalas dendam, jika aku tidak tinggal bersama mereka." Naura tersenyum sinis ke arah kedua sahabatnya itu.
Tangan Bram yang semula memeluk Naura erat kini ia renggangkan, kemudian menaruh kedua tangannya ke wajah Naura. "Kau yakin?" tanya Bram Ragu.
Naura menghela napas perlahan dan menghembuskannya sembari memejamkan matanya dengan tekanan. "Aku yakin," ucap Naura dengan pelopak mata yang masih tertutup.
Di fikiran Naura saat ini, hanyalah sebuah kabut hitam yang puas diguyur dengan genangan air mata.
Kalian harus membayar tuntas!
Kalian harus menanggung apa yang aku rasakan semuanya!
Dan kalian akan mati di tanganku!
"Kalian akan mati di tanganku," desis Naura pelan dengan mata yang masih tertutup.
Bram menoleh ke arah Zoya bingung atas sikap dan perilaku Naura, Bram khawatir tindakan Naura akan di luar batas kemanusiaan.
Zoya lagi-lagi hanya mengangkat ke dua bahunya. Menandakan dirinya sedang tidak mengerti, Zoya pun baru pertama kalinya melihat Naura bertingkah laku aneh seperti ini.
"Nau kau nggak apa-apa kan?" tanya Bram khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Bram. Aku sangat baik sekarang," jawab Naura dengan pelopak mata yang perlahan terbuka, kemudian tersenyum dingin ke arah Bram.
Bram bergidik ngeri melihat tatapan dan senyuman itu. Tatapan itu adalah tatapan kebencian! Bram tahu tatapan itu. Tatapan yang sering Bram jumpai saat melakukan autopsi jenazah yang terbunuh oleh seorang psikopat. Dan rata-rata para pembunuh itu menatap dan tersenyum seperti Naura!
Tidak!
Tidak!
Dan tidak pernah mungkin!
"Aku mengenal siapa Naura, Naura bukanlah orang yang mempunyai riwayat penyakit mental seperti itu. Aku yakin Naura saat ini hanya sedang di landa kebencian saja."
"Iya! Pasti benar begitu!"
Fikiran Bram bermain dengan sendirinya ... membiarkan Naura yang masih tersenyum sembari menangis kecil dengan menatap ke arah depan.
"Oke kau mau pulang kapan, Nau. Maaf bukan aku bermaksut mengusir. Tapi kalo rencana ini berjalan lebih cepat kan malah lebih baik," ujar Bram.
"Besok pagi," jawab Naura enteng tanpa beban.
"Oke karna besok pagi kita bakal nganterin Naura, gimana kalo sekarang kita tidur?" Zoya akhirya menimpali perkataan mereka.
Kemudian dengan sadar diri, Bram melangkah malas ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Good Night girl!" ucap Bram dengan santai.
****
Pukul 05:30 pagi jam di atas berdenting membunyikan alarm yang kencang.
Naura membangunkan kedua sahabatnya itu, "Aaaaaaaaaaaaa." Teriakan keras terdengar dari bibir Naura.
Anehnya yang terbangun hanya Bram, Zoya yang di sampingnya malah tidak ada tanda kehidupan sama sekali.
"Kau kenapa, Nau?" tanya Bram panik.
"Hee ... nggak apa, Aku hanya ingin membangunkan kalian berdua saja," ucap Naura dengan cengengesan, tidak memasang rasa bersalah sedikitpun.
Bram melangkah pelan menuju ke arah Naura, kemudian berdiri tepat di hadapannya. Tanpa sadar Bram menyusuri wajah tanpa polesan Make up. Bram menempelkan bibirnya pada Naura.
Anehnya lagi Naura tidak melawan sedikit pun, di pikiran Naura saat ini adalah. "Dendam." Mungkin saat ini adalah baru saja rencana dendam itu dimulai.
Bram turun ke jenjang area sensitif wanita, Naura menelan ludahnya dengan kasar. "Aku mencintaimu ... Nau, sungguh! Hiduplah bersamaku dan jadilah milikku selamanya," bisik Bram panas.
Mendengar perkataan itu, benih cinta yang dulu pernah ada di hati Naura kini muncul kembali.
Kemudian melihat respon Naura yang tidak melawan, Bram membopong tubuh Naura ke arah dalam kamar mandi. Mereka kini saling berpagut kasih, Bram sibuk menjajah Traveling tidak ada hentinya ke seluruh tubuh Naura.
"Sekarang apa bedanya diriku dan dirimu, Mas? Sama-sama kotor kan? Bedanya Aku bermain lebih lembut, tidak menyakiti siapa pun," batin Naura bergumam sembari meneteskan air mata.
Dirinya kini sudah tidak lagi suci sebagai seorang istri, tetapi untuk apa kesucian itu tetap utuh? Sedangkan rumah tangganya pun sudah diambang perceraian.
"Mas? Ingatkah dulu terakhir kau membelaiku? Memperlakukan aku seperti ini? Mungkin beberapa bulan yang lalu aku sakit, tetapi ... apa kamu tau diriku juga kesepian?"
"Melihat adegan yang kau pertontonkan di depan istrimu sendiri. Dan kau pun tidak pernah malu untuk menunjukkan aksi buasmu ke wanita sewaan itu di depan aku, istrimu! Kau gila!"
"Aku menaruhkan perasaan, cinta, harga diri bahkan hati dan jiwaku goyah karena nafsumu. Semua kulakukan karena diriku ingin kita tetap bersama seperti dulu. Seperti beberapa bulan yang lalu, sebelum kau mengenal wanita itu."
"Aku tahu diri ini memang salah, tetapii lagi-lagi aku katakan semua itu karena aku mencintaimu."
"Tapi sudahlah!"
"Semuanya sudah menjadi bubur. Maafkan aku Mas!"