Wanita Penghibur untuk Suamiku

Diusir Ibu Mertua

Alarm berbunyi kembali menunjukkan pukul 06.00 WIB.

 
 
Zoya membalikkan tubuhnya ke arah kiri, mendapati Naura sudah segar bugar dengan rambut yang basah. Baju pun sudah tergantikan. 
 
Zoya menatap heran. "Kau mandi, Nau? Terus bajumu?" tanya Zoya bola matanya menyusuri dari atas sampai ke bawah.
 
"Aku panas, jadi tadi minta tolong Bram untuk bawa Baskom berisi air dan yang ngebersihin pun aku sendiri. Tenang ... Zoy, aku sekarang sudah mahir kok," sahut Naura mencoba untuk menampik kecurigaan sahabatnya itu.
 
"Oke, aku siap-siap dulu ya. Terus kita langsung caps! Nganterin kamu pulang."
 
Setelah 30 menit lamanya Bram dan Naura menunggu Zoya, akhirnya kini mereka turun ke lantai bawah menuju ke area parkir Apartement. 
 
Di sepanjang koridor Zoya memperhatikan tingkah laku Bram dan Naura tidak seperti hari kemarin. Mereka seperti sepasang kekasih seperti dulu.
 
Zoya sangat lama menatap dari punggung belakang mereka, sebenarnya Zoya rindu saat moment mereka seperti ini. Jika boleh jujur, dirinya tidak rela menyerahkan sahabat terbaiknya tinggal lagi bersama keluarga gila. Itulah sebutan dari Naura terhadap keluarga terkutuk itu! 
 
Sesaat Bram ingin menaiki Naura ke kursi depan, Zoya dengan cepat mencegahnya. "Nau, kau yakin?" tanya Zoya menatapnya serius.
 
Naura hanya menunduk pilu, bibirnya kini seolah telah kehilangan fungsi. Naura kelu, tidak dapat lagi menahan gejolak dendam. Keluarga mereka selalu saja membayang-bayangi benaknya, kekejaman di masa lalu seolah tumbuh kembali menjadi sebuah kebencian yang mendalam.
 
Dengan perlahan Naura melepaskan genggaman Zoya dan menyuruh Bram untuk menaikinya ke dalam mobil.
 
Sebenarnya Zoya kecewa dengan sikap Naura, yang mengambil keputusan secara sepihak. Tetapi ... bagaimana pun itu memang urusannya kan? Memang Nauralah yang pantas memutuskan rencana apa yang harus ia rencanakan.
 
Di sepanjang perjalanan Zoya mengurung diri seolah sangat tidak rela melepaskan sahabatnya, bagaimana jika Naura hilang kembali? Bagaimana jika Nauralah yang malah terjebak oleh dendamnya.
 
Bola mata Zoya sibuk menyusuri jalan dengan fikiran yang terbang ke sana ke mari, bagaimana cara dirinya menolong sahabatnya itu di dalam kekalutan hidup? 
 
Bram yang heran dengan keheningan saat ini, mencoba menoleh ke arah Zoya dengan perlahan. Dan benar saja Bram melihat Zoya dengan raut wajah yang super duper berantakan. "Kau kenapa Zoy?" tanya Bram dengan hati-hati takut menyakiti perasaan Zoya.
 
Namun, kali ini tidak seperti biasanya, Zoya hanya bergeming tidak menjawab sepatah kata pun. "Kau memikirkan Naura?" tanya Bram lagi, lalu dengan cepat Zoya membalikkan tubuhnya dan menatap balik Bram.
 
"Aku hanya takut," sahut Zoya sangat pelan. 
 
"Aku akan tetap baik-baik saja ... Zoy, tenanglah," sahut Naura dengan menimpali perkataan Zoya. 
 
Dengan perlahan Zoya merebahkan kepalanya ke kursi. Dirinya memandang nanar ke arah punggung sahabatnya. 
 
"Bram ... kau tak khawatir?" tanya Zoya
 
"Sangat! Tapi aku menghargai keputusan Naura." 
 
Zoya terdiam seketika saat mendengar perkataan Bram, mengapa dirinya segelisah ini? Dirinya benar-benar takut. Banyak keraguan yang melintas di benaknya. Dia tahu betul bagaimana sifat Naura, Naura tidak mempunyai watak kebuasan sama sekali di dalam dirinya. Naura lebih menjadi perempuan yang takut melakukan hal apapun. Hal itulah yang membuat Zoya enggan pada rencana Naura kali ini.
 
Cittt ....
 
Decitan mobil Bram berhenti di depan rumah suami Naura, Zoya yang termenung sedari tadi di tepuk keras oleh Bram. "Oiy! Turun nggak?" Zoya mendadak linglung. Kemudian dirinya turun bersama Bram dan Naura yang sudah menunggu.
 
Ding dong ... ding dong ....
 
Bram memencet Bel, kemudian terdengar dari balik pintu suara ricuh dari anak kunci. 
 
Klek! 
 
Pintu terbuka, Ibu mertuanyalah yang membukakan pintu rumah mewah berwarna putih ke emasaan.
 
"Namun, mengapa Ibunya mas Abdi tinggal di rumah ini?" Naura bergeming di dalam hati.
 
"Kau pulang untuk apa? Untuk mengambil semua bajumu?" desis kesombongan yang keluar dari dalam mulut Ibu mertuanya.
 
"Aku pulang untuk memperbaiki rumah tanggaku," Naura menjawab sangat enteng.
 
"Sudahlah Naura, tidak ada lagi yang perlu diselamatkan dari pernikahanmu. Kau itu sekarang sudah menjadi manusia yang tidak berguna."
 
"Itu bukan urusanmu, buu ...." Naura meremas tangan mengepalnya kuat. Seolah rasanya ingin meninju lawan bicaranya ini, tetapi Naura sadar beliau tetaplah mertuanya yang harus Naura hormati. 
 
"Siapa buk?" panggil suara wanita yang berasal dari dalam, Naura mengenali suara itu, itu adalah suara milik Aqila. 
 
Dan tak salah lagi, Aqila datang menyusul ibu memakai dress berwarna peach tengah melangkah ke arah Naura. Menatap datar nyonya besar yang telah meninggalkan rumahnya berhari-hari.
 
Naura meremas pelan jemarinya guna menyalurkan resah yang perlahan hinggap. Bahkan sudah berulang kali dia menarik napas dan menghembuskannya pelan. Mencoba menenangkan jantung yang sejak tadi berdegup dengan kencang.
 
"Kau yakin." bisik Bram dengan perasaan ragu dan Naura tidak menjawab pertanyaan itu. Dirinya hanya mengangguk dengan mantap.
 
Lalu tatapan Naura beralih ke wanita penghibur suaminya itu, "Sejak kapan kau kuizinkan untuk tinggal di rumah ini? Sadar dirimu hanyalah seorang wanita rendahan! Jangan berlaga untuk menjadi Nyonya besar di rumahku!" Naura menatapnya dengan tajam.
 
"Heleh, wanita cacat yang berlaga menjadi Nyonya besar. Mana bisa!" ucap Ibu mertuanya sambil memicingkan bibirnya.
 
"Lagi-lagi kukatakan, itu bukan urusanmu, Ibu!" Naura menjawab dengan enteng.
 
Zoya dan Bram hanya bergeming, mereka terlebih dulu Naura katakan. Jangan pernah berbicara apa pun, apa lagi untuk sekedar membelanya di depan keluarga Mas Abdi. 
 
"Awas, buu ... aku ingin masuk!" ucap Naura, ke arah ibu yang sedari tadi menghadang mereka di pintu.
 
"Aku mengusirmu! Kau tidak mempunyai hak sedikitpun di rumah ini!" bentak ibu.
 
"Ibu tidak berhak mengusirku, ini rumah suamiku! Dan aku adalah istrinya. Jika ada yang paling berhak mengusir disini, itu adalah aku!" Naura mengatakannya dengan keras dan tegas.
 
"Heh kurang ajar kau ya!" bentak ibu tangannya diangkat tinggi yang ingin menampar Naura, tetapi ... dengan sigap Bram menepis lengannya.
 
"Jangan pernah menampar Naura, Buk. Aku adalah Dokter yang bisa kapan saja memvisum Naura. Dan melaporkan ibuk ke polisi." Bram mengingkari janjinya untuk tidak membela Naura, dirinya sudah cukup geram melihat apa yang bola matanya saksikan.
 
Mendengar ancaman Bram, mertua Naura cukup takut mendengar ancaman itu. Kini dirinya tidak mampu lagi untuk berbuat apapun ....
 
Bram mendorong Naura untuk masuk lebih dalam lagi ke rumahnya. Sesaat mereka masuk, Bram bertatapan langsung pada Abdi yang baru saja turun dari anak tangga. Menuju ke arah mereka. 
 
"Kau?" tanya Abdi heran.
 
"Aku hanya mengembalikan istrimu. Tolong jaga dia. Usahakan jangan ada yang lecet sedikit pun atau kalian berurusan denganku! Oh iya ... satu lagi asisten Naura akan datang 1 jam lagi," ucap Bram dengan suara berat.
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!