Wanita Kedua

Perlahan Mulai Terkuak

Garis polisi kuning sekarang melintang di sepanjang dermaga Sektor 7, berkibar ditiup angin laut yang kini terasa lebih hangat seiring naiknya matahari. Tim penyelam kepolisian baru saja mengangkat tubuh kaku Tuan Hardian dari sela-sela tiang pancang pelabuhan. Pria yang selama puluhan tahun memegang kendali atas ekonomi kota itu kini hanya menjadi seonggok daging yang dibungkus kantong jenazah plastik berwarna oranye.

Damar duduk di tepi ambulans dengan selimut darurat menutupi bahunya. Paramedis baru saja selesai membalut luka di pelipisnya. Di sampingnya, Kiara masih memegang map hitam itu, namun matanya tidak lepas menatap ke arah laut lepas, ke titik di mana sekoci itu menghilang ditelan kabut tadi subuh.

"Mas," bisik Kiara, suaranya masih serak. "Wanita itu... dia tidak mungkin benar-benar Mbak Lela, kan? Kita semua melihat pemakamannya. Kita melihat peti mati itu diturunkan."

Damar terdiam lama, matanya menyipit menembus cakrawala. "Aku tidak tahu lagi apa yang nyata dan apa yang tidak, Kiara. Tapi satu hal yang pasti, ayahku takut padanya. Dia melihat sesuatu yang seharusnya sudah terkubur."

Tiba-tiba, seorang petugas kepolisian mendekati mereka, membawa sebuah ponsel milik Kiara yang sempat terjatuh saat konfrontasi tadi. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian rapi namun tampak sangat kelelahan. Kiara mengenalnya; dia adalah Pak Baskoro, pengacara pribadi keluarga Hardian yang paling setia—atau setidaknya, begitulah kelihatannya selama ini.

"Nyonya Kiara, Tuan Damar," sapa Baskoro dengan suara rendah yang penuh hormat. "Saya diminta untuk menyampaikan ini kepada kalian. Seseorang meninggalkan pesan di kursi belakang mobil saya sepuluh menit yang lalu."

Baskoro menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna putih bersih. Di depannya, tertulis nama Kiara dengan gaya tulisan yang sangat dikenal: lekukan huruf 'K' dan 'R' yang sempurna.

Kiara merobek amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kamar hotel dan secarik kertas kecil bertuliskan: Kamar 402, Hotel Batavia. Datanglah sendirian jika kau ingin tahu mengapa aku memilih untuk 'mati'.

Rahasia di Balik Kamar 402

Satu jam kemudian, Kiara berdiri di depan pintu kayu kokoh Hotel Batavia, sebuah bangunan tua yang sarat sejarah tak jauh dari kawasan pelabuhan. Damar menunggu di lobi atas permintaan Kiara; ia tahu ini adalah percakapan yang harus dihadapi Kiara sebagai sesama wanita yang hidup di bawah bayang-bayang keluarga Hardian.

Kiara menarik napas panjang, lalu memutar kunci.

Kamar itu remang-remang. Aroma melati yang lembut—parfum kesukaan Lela—memenuhi ruangan. Di dekat jendela yang menghadap ke arah pelabuhan, wanita itu duduk di kursi rotan. Ia tidak lagi memakai jubah hitam. Kini ia mengenakan kemeja putih sederhana. Cahaya matahari pagi menyinari wajahnya, memperlihatkan lebih jelas bekas luka operasi plastik yang belum pulih benar di sepanjang rahang dan telinganya.

"Kau datang," suara itu bukan lagi bisikan serak, melainkan suara Lela yang jernih, meski terdengar lebih berat oleh beban pengalaman.

"Siapa kau?" Kiara bertanya, tetap berdiri di dekat pintu. "Jangan katakan kau adalah hantu. Aku tidak percaya pada takhayul."

Wanita itu tersenyum sedih. Ia menyentuh bekas luka di rahangnya. "Operasi rekonstruksi wajah di Singapura tidak semudah yang dijanjikan para dokter. Butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa bicara tanpa rasa sakit."

"Mbak Lela?" Kiara melangkah maju, kakinya terasa lemas. "Tapi... bagaimana bisa? Mas Damar melihat jenazahmu. Dia sendiri yang mengurus semuanya."

"Yang dia kubur adalah seorang wanita tanpa identitas, seorang tunawisma yang meninggal di bangsal rumah sakit yang sama denganku," Lela menarik napas dalam. "Hardian meracuniku pelan-pelan melalui suplemen vitamin yang dia berikan setiap hari. Aku tahu itu. Aku merasakannya. Saat aku mulai menyelidiki Proyek 1994 dan menemukan keterlibatan ayahku—dan ayah Damar—aku tahu hidupku tinggal menghitung hari."

Lela berdiri, berjalan tertatih ke arah meja kecil dan menuangkan air putih. "Aku bekerja sama dengan Sarah."

Kiara tertegun. "Sarah? Wanita yang mencoba mencelakaiku?"

"Sarah bukan musuhmu, Kiara. Dia adalah orang suruhanku," Lela berbalik, menatap mata Kiara dengan tajam. "Aku butuh seseorang di dalam lingkaran Hardian yang bisa bertindak gila agar perhatian Hardian teralih. Sarah berpura-pura ingin menyingkirkanmu karena dia tahu Hardian menyukaimu sebagai 'investasi' baru untuk Damar. Dengan membuat kekacauan, Sarah membantuku memalsukan kematianku sendiri."

Lela menjelaskan bahwa pada malam ambulans itu meledak dalam perjalanan menuju rumah duka, Sarah telah menyuap petugas medis untuk menukar tubuh Lela dengan jenazah lain. Ledakan itu disengaja untuk menghilangkan semua bukti DNA. Hardian sangat senang dengan kematian Lela sehingga dia tidak pernah meminta autopsi ulang pada sisa-sisa jenazah yang terbakar.

"Kenapa harus sesulit ini?" tanya Kiara, air matanya mulai mengalir. "Kenapa tidak lari saja bersamaku dan Damar?"

"Karena jika aku masih 'hidup' secara hukum, Hardian tidak akan pernah berhenti mengejarku. Dia akan menggunakan Damar untuk menekanku," Lela memegang tangan Kiara. Tangannya terasa nyata, hangat, dan hidup. "Aku harus menjadi hantu agar bisa bergerak di bawah radar. Aku menghabiskan waktu setahun terakhir untuk mengumpulkan semua berkas di gudang Sektor 7 itu. Aku tahu Hardian akan datang jika aku memancingnya dengan kunci kuno itu melalui kau."

"Kau menggunakanku sebagai umpan?" Kiara menarik tangannya, merasa dikhianati.

"Aku memberimu kekuatan, Kiara," Lela mengoreksi dengan lembut. "Jika aku yang muncul pertama kali, Hardian akan langsung membunuhku. Tapi dia meremehkanmu. Dia menganggapmu hanya 'gadis yatim piatu yang beruntung'. Itu adalah celah yang kubutuhkan agar kau bisa merekam pengakuannya."

Lela berjalan ke jendela, menatap ke arah laut di mana Hardian tewas. "Identitas asliku sebagai Lela Hardian sudah mati. Di paspor ini, namaku adalah Elena." Ia menunjukkan sebuah paspor luar negeri. "Aku akan pergi pagi ini. Ke tempat di mana tidak ada limbah kimia di bawah tanahnya."

"Lalu bagaimana dengan Damar? Dia berhak tahu istri pertamanya masih hidup," protes Kiara.

"Damar perlu belajar memimpin tanpa bayang-bayangku atau ayahnya. Jika dia tahu aku hidup, dia akan selalu merasa harus melindungiku. Biarlah dia mengingat Lela sebagai martir, agar dia punya alasan untuk menjadikan Global Group perusahaan yang lebih bersih."

Lela mendekati Kiara, lalu memeluknya erat. Sebuah pelukan yang terasa seperti perpisahan sekaligus serah terima beban. "Map itu sekarang milikmu. Nama ayahmu sudah bersih. Gunakan saham yang kuwariskan padamu untuk memperbaiki apa yang telah dirusak ayah mertuamu. Kau adalah ratu yang sebenarnya sekarang, Kiara. Bukan karena pernikahan, tapi karena keberanianmu."

Saat Kiara keluar dari hotel, matahari sudah tinggi. Damar langsung menghampirinya, wajahnya penuh kecemasan.

"Bagaimana? Siapa dia?" tanya Damar tidak sabar.

Kiara menatap suaminya lama. Ia teringat pesan terakhir Lela di dalam kamar tadi: 'Biarkan hantu tetap menjadi hantu, agar yang hidup bisa benar-benar melangkah.'

Kiara memegang pipi Damar, menghapus sisa darah yang mengering di sana. "Dia adalah seseorang dari masa lalu yang ingin memastikan kita baik-baik saja, Mas. Dia sudah pergi."

"Dia... Lela?" suara Damar bergetar.

Kiara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan rahasia besar demi kebaikan pria yang dicintainya. "Mbak Lela sudah tenang sekarang. Dia ingin kita fokus pada masa depan. Dia meninggalkan ini untukmu."

Kiara menyerahkan sebuah USB kecil yang diberikan Lela di detik-detik terakhir pertemuan mereka. "Isinya adalah rencana restrukturisasi Global Group. Mbak Lela sudah menyiapkannya sejak lama. Dia ingin kau membangun kembali perusahaan itu dari nol, tanpa darah dan tanpa rahasia."

Damar menggenggam USB itu erat-erat. Ia melihat ke arah Hotel Batavia, lalu ke arah jalan raya yang mulai padat. Ia sepertinya mengerti, atau setidaknya memilih untuk mengerti, bahwa beberapa kebenaran lebih baik disimpan sebagai legenda.

"Ayo pulang, Kiara," ajak Damar.

"Ke mana?"

"Ke tempat di mana kita tidak perlu takut lagi pada kotak merah marun atau kunci kuno."

Mereka berjalan menuju jip tua mereka, meninggalkan pelabuhan yang kini bukan lagi tempat pembuangan rahasia, melainkan saksi bisu runtuhnya sebuah dinasti yang dibangun di atas kebohongan. Di dalam tas Kiara, map hitam itu terasa ringan. Beban tiga puluh tahun telah terangkat.

Di kejauhan, sebuah kapal feri besar membunyikan klaksonnya, bersiap meninggalkan dermaga menuju samudra luas. Di atas deknya, seorang wanita bertopi lebar menatap daratan untuk terakhir kalinya sebelum berbalik dan melangkah menuju kebebasan yang baru saja ia beli dengan kematian palsunya.

Dunia mungkin mengenal Hardian sebagai pengusaha sukses yang tewas secara tragis, namun Kiara dan Damar tahu bahwa mulai hari ini, sejarah akan ditulis ulang dengan tinta yang lebih jujur.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!