Wanita Kedua

Kejahatan yang Terungkap

Lautan di belakang Kiara menderu, seolah memanggilnya untuk menyerah pada kegelapan. Di depannya, Tuan Hardian berdiri dengan angkuh, sisa-sisa wibawa palsunya kini menguap, menyisakan sosok predator yang terpojok. Damar bersimpuh di dekat kaki pengawal, kepalanya tertunduk dengan darah yang mengalir dari pelipis, namun matanya masih berusaha mencari fokus ke arah istrinya.

“Jangan... Kiara... lari...” suara Damar parau, tercekik oleh rasa sakit.

Kiara mengeratkan pelukannya pada map hitam itu. Dinginnya kertas di balik sampul plastik itu terasa seperti tulang belulang ayahnya yang menuntut keadilan. Ia melirik sekilas ke arah wanita di sekoci—sosok yang menyerupai Lela—namun wanita itu kini hanya diam, memperhatikan dengan tatapan sedingin es, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan yang sudah ia prediksi akhirnya.

“Kau lihat, Kiara?” Hardian melangkah maju satu tindak. Ketukan tongkat peraknya di dermaga kayu terdengar seperti dentang lonceng kematian. “Cinta adalah kelemahan yang paling mudah dimanipulasi. Ayahmu mati karena mencintai kebenaran lebih dari nyawanya sendiri. Jangan ulangi kesalahan yang sama.”

Kiara menghapus air matanya dengan kasar. Rasa takut yang tadinya melumpuhkan kini mulai mengkristal menjadi kemarahan yang murni. Ia tidak lagi gemetar.

“Kebenaran bukan kesalahan, Tuan Hardian,” suara Kiara terdengar tenang, sesuatu yang mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. “Yang salah adalah membangun istana di atas tumpukan mayat dan limbah beracun, lalu menyebutnya sebagai kesuksesan.”

Hardian tertawa, tawa yang kering dan hampa. “Dunia ini tidak dibangun oleh orang suci, Nak. Global Group menghidupi ribuan orang. Apa artinya satu atau dua nyawa dibandingkan dengan kesejahteraan ribuan keluarga? Ayahmu hanyalah kerikil dalam sepatu proyek raksasa. Aku hanya membuangnya agar jalannya mulus.”

“Membuangnya?” Kiara melangkah maju, menantang moncong senjata pengawal Hardian. “Anda menghancurkan hidupnya! Anda membuatku tumbuh sebagai yatim piatu, membuat ibuku gila karena kesedihan, dan Anda melakukannya dengan senyuman di wajah Anda saat menghadiri pemakaman sebagai 'donatur dermawan'. Anda bukan pengusaha, Anda adalah parasit!”

“Jaga mulutmu!” Hardian membentak, wajahnya memerah. “Aku memberikan segalanya untuk keluarga ini! Termasuk untuk Damar!”

“Untuk Damar? Atau untuk egomu?” Damar tiba-tiba mengangkat kepalanya, suaranya lebih kuat dari sebelumnya. Ia menatap ayahnya dengan rasa muak yang tak terlukiskan. “Kau tidak pernah mencintaiku, Yah. Kau hanya mencintai warisan yang bisa kuteruskan agar dosamu tetap terkubur. Lela... dia tahu itu, kan? Itu sebabnya kau membiarkannya mati?”

Hardian terdiam sejenak. Ia melirik ke arah wanita di atas sekoci, lalu kembali ke Damar. “Lela terlalu lemah. Dia punya akses ke arsip lama dan mulai bermimpi menjadi pahlawan. Dia ingin menyerahkan bukti-bukti ini ke kejaksaan. Dia ingin menghancurkan apa yang kubangun selama tiga puluh tahun hanya karena rasa bersalah yang tidak masuk akal.”

“Jadi benar,” bisik Kiara, suaranya bergetar karena emosi. “Kau meracuninya. Arsenik? Atau limbah kimia yang sama yang kau timbun di bawah tanah ini?”

Hardian tersenyum tipis, sebuah pengakuan yang mengerikan. “Paparan jangka panjang adalah cara yang paling rapi. Dia sering mengunjungi situs proyek tanpa alat pelindung yang layak—setidaknya itu yang tertulis di catatan medisnya. Siapa yang akan menyalahkan seorang ayah yang malang jika menantunya jatuh sakit karena 'kelalaian sendiri'?”

“Binatang,” desis Kiara.

“Panggil aku sesukamu,” Hardian mengangkat senjatanya, mengarahkannya tepat ke jantung Kiara. “Sekarang, berikan map itu. Jika kau menyerahkannya sekarang, aku akan memastikan Damar tetap hidup. Kalian bisa pergi ke luar negeri, hidup mewah dengan uang tutup mulut, dan tidak perlu lagi memikirkan masa lalu. Bukankah itu yang kau inginkan? Keamanan untuk suamimu?”

Kiara menatap map di tangannya, lalu menatap Damar. Suaminya menggelengkan kepala dengan tegas, meski matanya menyiratkan ketakutan akan kehilangan Kiara.

Tiba-tiba, wanita di sekoci itu berbicara. Suaranya serak, seolah pita suaranya pernah rusak parah. “Dia berbohong, Kiara.”

Hardian tersentak, matanya membelalak ke arah sekoci. “Diam kau, penipu! Siapa kau sebenarnya?”

Wanita itu berdiri, melepaskan jubah hitamnya sepenuhnya. Di bawah lampu dermaga yang remang-remang, terlihatlah sosok yang tampak seperti versi retak dari Lela yang mereka kenal. Bekas luka di rahangnya tampak jelas, hasil dari rekonstruksi wajah yang terburu-buru.

“Aku adalah saksi yang gagal kau lenyapkan di rumah sakit malam itu, Ayah mertua,” ujar wanita itu. “Kau pikir ledakan di ambulans itu sudah menghabisiku? Tidak. Seseorang yang lebih cerdas darimu membantuku keluar.”

“Lela?” Damar bernapas tertahan. “Kau... benar-benar Lela?”

“Lela yang asli sudah mati di dalam jiwanya saat dia tahu siapa ayah mertuanya,” wanita itu menatap Hardian dengan kebencian yang mendalam. “Aku bertahan hidup hanya untuk melihat hari ini. Hari di mana semua topengmu hancur.”

Hardian tampak goyah. Tangannya yang memegang senjata mulai gemetar. “Kau... kau seharusnya sudah dikubur!”

“Sama seperti limbah-limbah itu, bukan?” Kiara menyela, mengambil momentum. “Tapi Tuan Hardian, ada satu hal yang kau lupakan. Di zaman sekarang, dokumen fisik bukan satu-satunya bukti.”

Kiara mengangkat ponselnya yang sejak tadi berada di saku jaketnya. Layarnya menyala, menunjukkan durasi rekaman yang masih berjalan.

“Aku tidak hanya menghubungi tim pengamanan, Mas,” Kiara menatap Damar dengan senyum sedih namun bangga. “Sejak kita masuk ke gudang ini, aku sudah melakukan live streaming ke akun privat yang terhubung langsung dengan server beberapa media besar dan pihak kepolisian. Semua pengakuanmu, Tuan Hardian... tentang ayahku, tentang penimbunan limbah, tentang Lela... semuanya sudah didengar oleh ribuan orang secara real-time.”

Wajah Hardian berubah pucat pasi. Ia menatap ponsel di tangan Kiara seolah itu adalah bom yang siap meledak.

“Kau... jalang kecil!” Hardian berteriak, kehilangan seluruh ketenangannya. Ia menarik pelatuk.

DOR!

Suara tembakan memecah kesunyian malam di pelabuhan. Kiara memejamkan mata, bersiap merasakan sakit, namun yang terdengar justru suara rintihan tertahan dan bunyi benda berat jatuh ke air.

Kiara membuka mata. Damar telah menerjang kaki pengawal yang memegangnya, menyebabkan gangguan sesaat. Namun, tembakan Hardian meleset karena wanita di sekoci itu melemparkan tas berat ke arah lengan Hardian tepat saat peluru dilepaskan.

Di kejauhan, suara sirene polisi mulai terdengar mendekat, membelah kabut Tanjung Priok. Lampu biru dan merah berkedip-kedip di kejauhan, mendekat dengan cepat ke arah Sektor 7.

“Sudah selesai, Tuan Hardian,” bisik Kiara.

Hardian melihat ke sekeliling. Anak buahnya mulai panik. Salah satu pengawalnya memilih untuk lari ke arah kegelapan gudang, meninggalkan tuannya sendirian. Hardian mencoba melangkah mundur, kakinya tersangkut di bibir dermaga yang licin karena lumut dan air laut.

“Jangan mendekat!” teriak Hardian, mengarahkan senjata yang tersisa ke kepalanya sendiri. “Aku tidak akan membiarkan kalian membusukkanku di penjara!”

“Ayah, jangan!” seru Damar, mencoba berdiri meski tertatih-tatih.

Namun, Hardian tidak menatap anaknya. Ia menatap Kiara, lalu menatap wanita di sekoci yang mirip Lela. Di matanya tidak ada penyesalan, hanya kemarahan yang membara karena kekalahannya.

“Global Group... adalah aku,” gumamnya gila. “Tanpaku, kalian tidak ada apa-apanya.”

Sebelum ada yang bisa bertindak, Hardian kehilangan keseimbangan. Bukan karena ditembak, tapi karena usia dan beban kejahatannya yang terlalu berat untuk dipikul di atas papan kayu yang rapuh. Ia jatuh ke belakang, ke dalam laut yang gelap dan berminyak.

Suara ceburan air terdengar keras, diikuti oleh kesunyian yang mencekam.

Damar berlari ke tepi dermaga, namun permukaan laut tetap tenang, hanya menyisakan riak-riak kecil yang segera menghilang ditelan arus bawah yang kuat. Tim SAR dan kepolisian merangsek masuk ke area dermaga beberapa detik kemudian, mengepung tempat itu.

Kiara segera berlari ke arah Damar, memeluknya erat. Mereka berdua jatuh terduduk di lantai dermaga yang dingin, terengah-engah, mencoba mencerna kenyataan bahwa badai ini akhirnya mencapai puncaknya.

Saat Kiara menoleh ke arah sekoci, tempat itu sudah kosong. Wanita misterius yang menyerupai Lela itu telah menghilang ke dalam kabut, seolah ia memang benar-benar hantu yang hanya datang untuk menyelesaikan satu urusan terakhir.

Di tangannya, Kiara masih memegang map hitam itu. Ia membukanya sekali lagi, menatap nama ayahnya.

“Ayah,” bisik Kiara di sela isak tangisnya. “Kita pulang sekarang. Rahasianya tidak akan terkubur lagi.”

Matahari pagi mulai mengintip dari ufuk timur Tanjung Priok, menyinari permukaan air yang kini tidak lagi tampak mengancam. Meski masih banyak pertanyaan yang belum terjawab—tentang siapa wanita di sekoci itu sebenarnya dan bagaimana masa depan Global Group—Kiara tahu satu hal: untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ayahnya bisa beristirahat dengan tenang.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!