Wanita Kedua

Penyesalan Kiara

Lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan di balik jendela mobil tampak seperti garis-garis cahaya yang buram di mata Kiara. Meskipun genggaman tangan Damar di atas jemarinya terasa hangat dan nyata, ada rongga besar yang mendadak tercipta di ulu hatinya. Rasa bersalah itu datang terlambat, namun menghantamnya dengan kekuatan yang melumpuhkan.

Ia teringat betapa kasarnya ia memperlakukan Damar beberapa jam lalu. Betapa ia telah membiarkan amarah membutakan logikanya, hingga ia nyaris kehilangan satu-satunya pria yang benar-benar berkorban untuknya.

"Mas..." bisik Kiara, suaranya parau karena sisa tangis.

Damar menoleh, sorot matanya yang tajam melunak seketika. "Ya, Sayang? Ada yang sakit?"

Kiara menggeleng pelan. "Aku... aku minta maaf. Aku sudah menjadi pengecut dengan melarikan diri ke desa tanpa menunggumu bicara. Aku membiarkan Riana dan Reno menang karena emosiku sendiri. Harusnya aku percaya padamu sejak awal."

Damar menarik napas panjang, lalu mengecup punggung tangan Kiara tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan yang mulai padat.

"Jangan salahkan dirimu. Siapa pun akan bereaksi sama jika berada di posisimu. Aku yang salah karena terlalu lama membiarkanmu dalam kegelapan."

Kiara terdiam, namun pikirannya tidak berhenti berputar. Sosok Lela—wanita yang hanya ia kenal saat terbaring lemah di rumah sakit yang ia anggap sebagai perusak rumah tangganya—kini menjadi sosok yang begitu nyata dan membebani nuraninya.

Keesokan paginya, saat langit Jakarta diselimuti mendung tipis yang membawa udara sejuk, seolah alam turut berduka. Atas permintaan Kiara yang mendesak, Damar membawanya ke sebuah pemakaman eksklusif di pinggiran kota. Tempat di mana Lela beristirahat dengan tenang.

Langkah kaki Kiara terasa berat saat menyusuri jalan setapak di antara nisan-nisan marmer. Damar berhenti di depan sebuah pusara yang masih tampak terawat dengan bunga-bunga segar yang mulai mengering. Di batu nisannya terukir nama: Lela Anggraini.

Kiara berlutut di atas rumput hijau yang basah oleh embun. Bau tanah dan wangi kamboja menusuk indranya. Detik itu juga, pertahanannya runtuh.

"Mbak Lela..." Kiara memulai dengan suara bergetar. Ia menyentuh nisan dingin itu dengan ujung jarinya. "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu."

Damar berdiri satu langkah di belakangnya, memberikan ruang bagi istrinya untuk menumpahkan segalanya, meski wajahnya sendiri menyiratkan kesedihan yang mendalam.

"Aku merasa seperti pencuri," isak Kiara. "Aku datang ke kehidupan Mas Damar saat Mbak sedang berjuang melawan rasa sakit. Aku menikmati perhatiannya, cintanya, dan kehadirannya, tanpa pernah tahu bahwa ada hati lain yang sedang hancur karena merelakannya demi aku."

Kiara menunduk hingga keningnya menyentuh nisan. "Kenapa Mbak begitu baik? Kenapa Mbak justru memikirkan masa depanku dan Ara di saat Mbak sendiri harus menghadapi kematian? aku merasa sangat kerdil di depan kebesaran hatimu, Mbak."

Suasana pemakaman yang sunyi hanya diisi oleh isak tangis Kiara yang kian menyayat. Ia membayangkan Lela yang duduk di kursi roda, menulis surat wasiat itu dengan tangan gemetar, sementara ia di desa sedang merutuki nasibnya sendiri tanpa tahu ada seorang wanita yang sedang mempersiapkan jembatan untuk masa depannya.

"Terima kasih..." bisik Kiara di sela tangisnya.

"Terima kasih sudah menjaga Mas Damar untukku sampai akhir. Dan terima kasih... terima kasih telah menganggap Ara sebagai anakmu sendiri. Warisan yang Mbak berikan untuk Ara, aku berjanji akan menjaganya. Aku akan mendidik Ara untuk tahu bahwa dia memiliki dua ibu yang luar biasa mencintainya."

Damar akhirnya berlutut di samping Kiara, merangkul bahu istrinya yang berguncang hebat. "Sudah, Kiara. Lela tidak akan suka melihatmu seperti ini. Dia melakukan ini semua karena dia ingin melihat kita bahagia, bukan untuk membuatmu merasa berutang budi."

Kiara menatap Damar dengan mata sembab. "Tapi ini tidak adil untuknya, Mas. Dia meninggal dalam kesendirian yang disengaja agar kita bisa bersama. Aku merasa sangat berdosa karena pernah meragukan niat baiknya."

 

***

Kepulangan mereka dari makam tidak lantas membuat hati Kiara tenang. Selama berhari-hari berikutnya, Kiara seolah terobsesi dengan sosok Lela. Ia meminta Damar membawanya ke rumah lama tempat Lela menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Di sebuah kamar yang kini tertutup rapat, Kiara menemukan dunia Lela yang tersisa. Ia duduk di lantai, dikelilingi oleh album foto dan barang-barang pribadi Lela yang belum sempat dipindahkan.

Tangan Kiara gemetar saat membuka sebuah album foto berwarna krem. Di sana, ia melihat foto-foto Lela saat masih sehat. Seorang wanita dengan senyum manis dan mata yang memancarkan kecerdasan. Ada foto Lela bersama Damar saat mereka masih muda—keduanya tampak serasi, meski ada jarak yang sopan di antara mereka.

"Dia sangat cantik, ya?" gumam Kiara pada dirinya sendiri.

Ia memandangi sebuah syal rajutan berwarna biru laut yang tersampir di kursi. Damar pernah bercerita bahwa itu adalah rajutan terakhir Lela sebelum tangannya terlalu lemah untuk memegang jarum. Kiara memeluk syal itu, menghirup aroma parfum yang samar-samar masih tertinggal—aroma bunga melati yang menenangkan.

Selama hampir seminggu, Kiara menghabiskan waktu berjam-jam di kamar itu. Ia membaca buku-buku favorit Lela, menyentuh perhiasannya, dan memandangi fotonya seolah-olah ia sedang mencoba menyerap keberanian dari wanita itu.

"Non Kiara, makanlah sedikit," ajak Bi Sumi yang masuk membawakan nampan. Wajah wanita tua itu penuh keprihatinan. "Den Damar sangat khawatir melihatmu terus mengurung diri di sini."

Kiara mendongak, matanya merah. "Bi, apakah Mbak Lela pernah menyebut namaku sebelum dia pergi?"

Bi Sumi menghela napas, duduk di samping Kiara. "Sering, Non. Dia selalu bertanya, 'Apakah Non Kiara makan dengan baik? Apakah Ara sehat?'. Dia bilang pada Bibi, dia ingin Non Kiara menjadi ratu di rumah ini karena dia merasa tugasnya sudah selesai. Dia tidak pernah membenci Non. Sama sekali tidak."

Kata-kata itu justru membuat Kiara semakin terisak. "Aku benci diriku yang sempat ingin menyerah pada Mas Damar, Bi. Padahal Mbak Lela menyerahkan seluruh hidupnya agar aku tidak perlu menyerah."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!