Wanita Kedua

Terjebak dalam Dua Hati

Damar membulatkan kedua matanya. Meski wanita yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu sudah beberapa kali meminta untuk berpisah karena penyakitnya, tetap saja ketika permintaan talak itu kembali diucapkan rasa kesal bercampur kaget tetap ada.

"Jangan memaksaku untuk melakukan apa yang tidak ingin kulakukan, Sayang. Please, tak bisakah kamu fokus saja pada kesembuhanmu?" Damar menatap nanar pada wajah pucat di hadapannya. 

Lela melengos. Tak sanggup menatap wajah sendu suaminya. Lelaki yang sampai detik ini masih teramat ia cintai meskipun sudah memiliki istri lain. Lela tak pernah mempermasalahkan pernikahan kedua suamiya karena memang dirinyalah yang menginginkan sang suami menikah lagi. 

Sebagai penyitas kanker stadium akhir, Lela tak ingin lelaki yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya itu sibuk mengurusnya sedangkan dirinya sendiri tidak ada yang mengurus. Dia juga sadar bahwa selamanya tidak akan mampu memberikan keturunan bahkan sekadar memberikan haknya pun tidak mampu. 

Laki-laki mana yang akan sanggup menahan hasratnya seumur hidup setelah menikah? Menyadari hal itu, Lela meminta anak buahnya untuk menyelidiki Tiara dan merekayasa pertemuan antar madunya itu dengan sang suami seolah-olah semua berjalan secara alami. 

Dia juga akan merasa tenang ketika pergi, sang suami sudah ada yang mengurusnya. 

Wanita yang sudah tidak memiliki keluarga itu berharap bisa pergi dengan tenang. Entah mengapa ia memiliki firasat bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Menarik nafas panjang, lalu Lela menatap suaminya penuh cinta. Senyum tulus terukir di bibirnya yang pucat. 

"Mas, aku tahu kamu sangat mencintai Tiara. Dia lebih membutuhkan kamu, Mas. please ... jangan biarkan dia pergi."

"Tidak ada yang akan pergi, Sayang. Baik kamu atau Tiara akan tetap di sisiku. Kalian berdua sama-sama berarti. Jangan bicara seperti itu lagi. Sekarang ayo, lakukan kemo lagi, ya?" Damar masih membujuk Lela. 

Namun wanita itu masih tetap pada pendiriannya. Kali ini Lela benar-benar keras kepala. Dia nggak mau menuruti kata-kata suaminya. 

"Nggak, Mas. Aku cuma mau tidur. Tolong, jangan paksa aku." Setelah mengatakan hal itu, Lela memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, dengkuran halus mulai terdengar. 

Efek tubuh lemas dan obat, Lela selalu merasa ngantuk. Damar menghela nafas panjang. Tak bisa lagi membujuk wanitanya itu. 

Jika biasanya Damar akan pulang setelah Lela tertidur, tapi entah kenapa saat ini dia merasa khawatir meninggalkan Lela sendirian. Memang sudah ada perawat khusus yang akan menjaganya. Namun karena permintaannya barusan membuat Damar enggan untuk meninggalkannya. 

Damar berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela. Lalu merebahkan tubuhnya yang letih di sana. Satu tangan ia letakkan di atas kening dengan kedua mata menerawang menatap langit-langit ruang rawat berwarna putih. Pikiran lelaki itu saling berjejalan. Masalah yang timbul akhir-akhir ini seolah tidak menemukan jalan keluar. 

Seharusnya sebagai pemimpin rumah tangga dirinya mampu memberikan ketenangan pada dua istrinya. Ketika memutuskan untuk menikah lagi, tentu Damar sudah mengetahui konsekuensi yang akan dia peroleh. Dia juga bukan lelaki yang minim pengetahuan agama. Namun saat dihadapkan pada praktik yang sesungguhnya, Damar seolah gagap. 

Sebelum ketahuan oleh Tiara, semua berjalan lancar. Damar bisa membagi waktu secara adil. Dia juga bisa memberikan hak kedua istrinya secara adil pula. Namun satu kesalahan lelaki itu adalah tidak jujur dari awal sehingga Tiara merasa dibohongi selama ini. 

Hal itu yang membuat kini wanita yang selalu lembut dan penurut itu jadi memberontak. Sikapnya berubah drastis. Dan itu membuat Damar kelimpungan sendiri. 

Sementara itu Tiara sudah sampai di kota tujuan. Wanita itu benar-benar tidak memberitahu siapapun keberadaanya saat ini. Bahkan Dina, sahabat karibnya pun tidak ia kabari. Tiara memilih kota yang tidak ada satu orang pun yang dikenalnya berharap akan lebih mudah melupakan segala permasalahan yang menyangkut rumah tangganya. 

"Mama, kita mana Papa?" Ara yang masih kecil menatap mamanya yang berjalan sembari menggendongnya. 

Sedangkan koper dan tasnya dibawakan oleh seorang pria, karyawan dari penginapan itu. Ya untuk sementara Tiara mencari penginapan dulu sambil mencari rumah kontrakan. Beruntung Tiara sempat mampir ke Bank untuk menarik uang dalam jumlah besar. Karena ia khawatir jika menarik lewat ATM, keberadaannya akan mudah di lacak. Ya, sudah sesiap itulah Tiara.

"Papa kerja, Sayang. Sekarang Ara liburan sama mama, ya?" Tiara mengulas senyum pada putri kecilnya sembari mengelus rambut ikal gadis itu.

"Silahkan, Mbak. Ini kamarnya. Kalau butuh apa-apa bisa menghubungi lewat telepon itu!" Pria berseragam batik itu menunjuk sebuah telepon di atas meja. Lalu meletakkan koper dan tas di samping pintu. 

"Terima kasih." Tiara mengangguk sekilas lalu berjalan menuju ke ranjang dan menurunkan Ara di sana. 

Ara langsung melompat-lompat di kasur empuk tersebut. Seketika hati Tiara merasa seperti disayat-sayat sembilu menyaksikan keceriaan gadis kecil tak berdosa itu. Demi keegoisan orang tuanya, Ara harus terpisah dari sosok yang seharusnya menjadi pelindungnya. 

Gadis kecil itu seperti tidak punya beban sama sekali karena memang seperti itulah adanya. Ara belum memahami situasi yang terjadi pada kedua orang tuanya. 

"Mama, kaculnya empuk kayak punya Ala!" teriak Ara sambil terus melompat-lompat. 

Tiara tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca. "Kasihan sekali kamu, Nak?" gumam Tiara. 

Sudah dua hari Tiara berada di penginapan ini. Dua hari ini pula ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan semenjak rumah tangganya retak. Hari ini dia akan pindah ke kontrakan yang tidak terlalu jauh dari penginapan ini. PR selanjutnya dirinya harus berjuang untuk bertahan hidup. 

Langkah pertama yang dilakukan Tiara setelah pindah kontrakan adalah mencari ponsel baru dan tentu saja dengan nomor baru pula. Lalu dia akan menggunakan ponsel itu untuk mencari uang tanpa harus meninggalkan Ara.

Bagaimanapun Ara masih sangat kecil dan butuh pengawasan. Tiara tak mau membuat Ara yang sudah kehilangan kasih sayang papanya kehilangan juga kasih sayang mamanya. Saat ini pekerjaan online yang bisa ditekuni olehnya adalah menjadi asisten remot. Ya, dia akan melamar ke perusahaan yang membutuhkan asisten yang bisa dikerjakan dari rumah dan hal itu tersedia banyak di loker online. 

Tiara tersenyum membaca email yang masuk beberapa menit lalu. Kedua matanya berbinar-binar membaca setiap deret huruf yang tertulis di sana. 

"Alhamdulillah, Kau mudahkan segala jalanku ya Allah. Terima kasih atas limpahan karunia ini."

Di saat Tiara sedang menekuri ponselnya, mendadak terdengar pintu diketuk berkali-kali. 

Meskipun enggan, Tiara tetap berdiri dan berjalan menuju ke pintu. Dalam hati wanita itu bertanya-tanya, siapa gerangan yang bertamu? Pasalnya dia adalah orang baru dan belum mengenal siapapun di sini.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!