Wanita Kedua

Semakin Dalam

Tiara berjalan menuju ke meja rias. Lalu duduk di depan cermin dengan tatapan lurus. 'Apa aku sudah tak cantik lagi? Apa aku sudah tak menarik lagi di matanya? Apa yang dia punya yang tidak kupunya?' batin Tiara sembari memandangi pantulan dirinya di cermin. 

Tangannya terulur untuk menyentuh wajahnya yang terlihat agak pucat tapi tidak mengurangi kecantikannya. Hidung kecil tapi mancung, sangat proporsional dengan bentuk wajahnya yang oval. Alis rapi, tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal. Mata bulat dengan dibingkai oleh bulu mata panjang nan lentik. Sekilas jika tidak teliti orang akan mengira kalau dirinya memakai bulu mata palsu, padahal semua yang ada pada dirinya asli pemberian Sang Pencipta. 

Tiara tersenyum kecut. Nyatanya wajah cantik saja tidak cukup untuk membuat suamiya berlabuh pada hatinya saja. Dia juga berusaha untuk menjadi istri yang taat dan selalu memberi pelayanan terbaik untuk sang imam. 

Tiara menangkap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tanpa sengaja ekor matanya menangkap sebuah benda berkedip-kedip. Sontak Tiara meraih benda tersebut. 

"Tumben sekali ponselnya ketinggalan," gumam Tiara lalu meraih ponsel tersebut tanpa ragu. 

Dengan tangan gemetar wanita itu mencoba membuka HP suaminya tapi terkunci. Ia memasukkan tanggal lahir suamiya tapi gagal. Lalu memasukkan tanggal pernikahan mereka tapi gagal lagi. Tiara berpikir dengan hati bergemuruh. Membayangkan sandi yang digunakan adalah tanggal lahir Lela atau tanggal pernikahan mereka. Bukankah itu berarti dirinya gak memiliki arti dalam hidup suaminya?

Tiara meletakkan kembali ponsel itu. Memijit kepalanya yang mendadak penuh dengan prasangka. Maksud hati ingin melupakan masalah suami dan istri rahasianya, apa saya semua energi justru tersedot untuk memikirkannya. Tiara kembali melirik ponsel itu lalu mencoba peruntungannya sekali lagi. Kini ia memasukkan kombinasi tanggal lahir putri kecilnya dan ... binggo! Terbuka. 

Dengan tangan gemetar Tiara membuka aplikasi perpesanan dengan logo telepon warna hijau. Jantungnya berdetak cepat kala membuka satu pesan yang berada pada urutan teratas. Bahkan ada 5 pesan yang tampaknya belum dibuka. 

[Bagaimana Tiara, Mas? Apa dia sudah pulang?]

Pesan teratas itu sepertinya dikirim saat dirinya baru saja tahu kalau ternyata sang suami memiliki istri lain selain dirinya. Lalu Tiara membaca pesan berikutnya.

"Belum, Dek. Sepertinya Tiara masih marah." 

Itu adalah jawab Damar. 

[Cari dia sampai ketemu, Mas. Jangan biarkan dia pergi. Lebih baik aku saja yang mundur kalau dia tak mau menerimaku]

"Kamu ngomong apa, sih? Jangan berpikir yang aneh-aneh. Tugasmu hanya berusaha untuk cepat sembuh, ok? Biarkan Tiara menjadi urusanku."

[Tapi dia pergi gara-gara aku, Mas. Pokoknya apapun yang terjadi, jangan pernah biarkan dia pergi. Dia adalah masa depanmu. Sedang aku hanya akan menjadi beban dalam hidupmu selamanya]

Tiara tak sanggup lagi membaca pesan-pesan tersebut. Air matanya sudah berdesakan keluar. Namun rasa penasarannya masih menggunung. Dia tak akan pernah bisa tenang sebelum membaca semuanya. Dia tahu ini tidak benar. Membaca percakapan itu hanya akan menambah luka di hatinya semakin menganga. 

"Tidak, Sayang. Kalian berdua sama-sama berarti bagiku. Jangan pernah mengatakan apapun tentang perpisahan."

Dada Tiara semakin bergemuruh membaca balasan dari suaminya. 

[Cepat atau lambat kita pasti berpisah, Mas. Bahkan hidupku sudah tak lama lagi. Aku mohon, jangan biarkan Tiara pergi. Dia sudah banyak berkorban demi kita, Mas. Karena dia juga impianmu dan keluargamu terwujud. Dia masa depanmu, sedang aku sebentar lagi akan jadi masa lalu]

Entah mengapa Tiara merasa hatinya sakitembaca pesan itu. Mendadak dirinya merasa seperti wanita jahat ingin memonopoli suaminya sendiri padahal istri lainnya lebih membutuhkan suaminya.

[Mas, aku menyerah saja, ya? Aku sudah bosan menjalani kemo. Toh hasilnya tetap sama aja. Aku akan mati]

Ini adalah pesan yang baru masuk beberapa menit lalu yang belum terbuka. Mata Tiara semakin memanas membaca pesan ini. 

[Jangan memaksaku lagi untuk menjalani pengobatan menyakitkan ini ya, Mas. Aku sudah ikhlas sekarang. Aku bisa pergi dengan tenang karena melihatmu bahagia dengan keluarga kecilmu. Aku yakin Tiara akan menjadi pendamping terbaikmu.]

Pesan terkirim sekitar 30 menit lalu. Masih ada satu pesan lagi yang belum terbaca. Tiara meraup udara dengan rakus untuk mengurai sesak yang tiba-tiba mendera. 

[Sebagai permintaan terakhirku, izinkan aku bertemu dengan Tiara, Mas. Please]

Tiara tak lagi memikirkan apapun. Wanita itu langsung mematikan ponsel tersebut lalu bangkit dari tempat duduknya. 

Dengan air mata terus berlinang Tiara tugas menuju ke mobilnya setelah menitipkan Ara pada baby sitternya. Tujuan wanita itu adalah Rumah sakit tempat di mana Lela dirawat saat ini.

Meskipun ia merasa kecewa dengan fakta yang baru saja ia ketahui tapi hati nurani Tiara tetap tak bisa mengabaikan pesan Lela yang baru saja ia baca. Pikirannya terus berkecamuk memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. 

Wanita berhijab itu menghilang nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Ia lakukan hal itu berulang-ulang sampai rasa sesak di dalam dada perlahan mulai longgar. 

"Aku nggak mau menyesal kalau sampai terjadi apa-apa sama wanita itu. Mungkin ini kesempatan terakhirku untuk bertemu dengan. Mungkin juga dia punya pesan penting sehingga ingin bertemu denganku," gumam Tiara.

Sambil sesekali menyusut air matanya yang terus mengalir Tiara terus mengendalikan setir agar mobil tetap berjalan di jalurnya. Semua prasangka mulai saling tumpang tindih di dalam benaknya. Terlebih jika mengingat bahwa lelah mengidap penyakit kanker stadium akhir dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

"Kalau aku harus mundur dari pernikahan ini itu lebih baik daripada aku tetap bertahan dalam pernikahan seperti ini. Ya Allah semoga keputusan ini benar. Aku melakukan ini demi kemanusiaan karena sepertinya Mbak Lila lebih butuh Mas Damar dibandingkan aku," ucap Tiara. 

Perputaran roda mobil Tiara berhenti tepat di depan rumah sakit berlantai 5 tersebut. Setelah memarkirkan mobil dengan benar di tempat yang semestinya Tiara gegas turun dan mencari ruang inap Lela. 

Langkah kaki Tiara terasa berat ketika kamar rawat yang ia cari sudah berjarak beberapa meter lagi. Di depan kamar tersebut tampak sangat sepi karena memang lelah dirawat di ruang VVIP. Jantung Tiara berdegup kencang ketika langkahnya sudah semakin dekat. 

Tugas wanita itu membuka pintu perlahan karena khawatir menimbulkan suara dan akan mengganggu pasien yang ada di dalamnya. Saking hati-hatinya Tiara membuka pintu tersebut dia sampai menahan nafas karena khawatir suara nafasnya terdengar dari dalam. Namun beberapa detik kemudian tubuh wanita beranak satu itu membeku tatkala melihat pemandangan yang ada di depan matanya.

Di sana di samping ranjang, suaminya membungkuk dengan bahu bergetar. Tangannya tampak menggenggam erat tangan pasien yang terbaring lemah di atas ranjang tersebut. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!