Wanita Kedua

Dilema Dua Istri

"Apa salah jika aku lebih condong pada Tiara sekarang? Tapi jika aku tidak menikah dengan Lela lebih dulu, tidak mungkin juga aku bisa menikah dengan Tiara." Damar terus berperang dengan batinnya. 

***

"Sampai kapan kamu mau membuat rumah tangga suamimu berada di ujung tanduk, Lela? Apa kamu tega memisahkan anak dengan bapaknya?" Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis mendatangi rumah sakit untuk bertemu dengan Lela.

Wanita itu tak lain adalah ibunya Damar, mertua Lela sendiri. Namun sejak awal wanita yang sudah menghadirkan Damar ke dunia ini tidak terlalu suka pada Lela. Wanita yang asal usulnya tidak jelas itu dikenalkan oleh putranya pertama kali dengan keadaan yang memprihatinkan. Rupanya Lela sudah sakit tapi Damar tak mau tahu. Rasa cintanya begitu besar hingga ia meminta ibunya untuk merestui hubungan mereka meski resikonya tidak bisa memiliki anak.

"Maafkan Lela, Ma. Lela hanya minta waktu beberapa bulan saja. Dokter sudah memvonis Lela kalau usia Lela tidak lebih dari 3 bulan lagi. Tolong izinkan Lela menghabiskan sisa usia Lela dengan Mas Damar, Ma. Nanti kalau Lela sudah pergi untuk selamanya, Mas Damar akan menjadi milik Tiara sepenuhnya," lirih Lela dengan hati tersayat-sayat.

Wanita mana yang rela membiarkan dirinya dicerai ketika tahu usianya tak lagi lama. Dia hanya ingin mengisi hari-hari terakhirnya dengan kenangan indah bersama sang suami. Apa permintaannya terlalu berat untuk dipenuhi padahal dia sudah rela membagi suaminya dengan wanita lain?

"Ck, kalau sampai Tiara pergi gara-gara kamu maka selamanya saya tidak akan pernah memaafkan kamu!" tegas wanita paruh baya itu lalu berdiri. Ia menatap Lela sekilas lalu melengos dan pergi dari ruangan tersebut. 

"Ya Allah, kuatkan hamba!" lirih Lela. 

Wanita yang terlihat sangat kurus itu menangis sejadi-jadinya karena kebetulan tidak ada siapapun di ruangan ini selain dirinya. Ia ingin menumpahkan semua rasa yang ia pendam selama ini. 

Sebagai wanita, Lela tentu merasakan sakit yang teramat dalam. Siapa yang bisa setegar dirinya? Dalam kondisi sakit parah, dia harus rela membiarkan suamiya menikah lagi dan memberikan waktu kebersamaannya diambil oleh wanita lain. Normal kan jika dia ingin ditunggui saat melakukan serangkaian pengobatan yang menyakitkan bagi tubuhnya? 

Andai Lela wanita yang egois, dia pasti tak akan membiarkan Damar beranjak sedikit pun dari sisinya. Namun itu bukan karakter Lela. Wanita itu justru tak ingin membebani siapapun termasuk Damar, suamiya sendiri. 

Terlalu lama menangis membuat dada Lela sesak. Nafasnya tersengal-sengal hingga membuatnya sedikit kejang. Dengan sisa-sisa tenaganya, Lela meraih tombol darurat untuk memanggil perawat. 

Dalam hitungan detik, dua orang perawat datang menghampiri. 

"Ya Allah, Ibu ... kenapa selang oksigennya dilepas?" Sang perawat kempali memasang oksigen di hidung Lela. 

Melihat ada gurat kesedihan yang nyata di wajah Lela, membuat dua perawat itu saling pandang dan menghela nafas panjang. 

"Tolong jangan berpikir terlalu berat, Ibu. Kondisi Ibu akan semakin memburuk jika terlalu banyak berpikir," ujar seorang perawat yang memiliki nama Ayunda.

Lela mengulas senyum lalu kedua matanya tertutup rapat. 

"Dek, Mas berangkat kerja dulu, ya?" pamit Damar. 

Tiara hanya mengangguk sebagai jawaban. Wanita itu berubah menjadi irit bicara sejak beberapa hari terakhir. 

Damar menghela nafas pasrah. Inginnya sang istri melepas kepergiannya seperti biasa dengan senyum ceria dan untaian do'a. Namun lelaki itu harus sadar diri karena telah menorehkan luka pada wanitanya. Terlalu menuntut banyak hanya akan membuatnya kehilangan, sehingga ia memilih untuk pasrah dengan sikap Tiara yang berubah.

Tiara menyodorkan tangan untuk menyalami suaminya lalu mencium tangan itu seperti biasa. Damar mengulas senyum teduhnya pada sang istri tercinta meski ekspresi wanita itu masih tetap datar. Ia pikir wanita yang telah melahir putri kecil untuknya itu tak bersedia lagi untuk menyentuhnya walau sekadar bersalaman seperti ini. 

Damar mengulurkan tangan hendak mengelus puncak kepala Tiara seperti biasa tapi wanita itu segera mundur sehingga tangan lelaki tersebut hanya mengambang di udara. 

'Baiklah, rasanya terlalu tidak tahu diri kalau aku banyak menuntut,' batin Damar tersenyum kecut. 

Selanjutnya Damar mendekati putri kecilnya yang duduk di troler sembari memainkan boneka kelinci pemberiannya. Menatap bocah kecil itu dengan mata berkaca-kaca lalu menciumnya. 

"Papa berangkat kerja dulu ya, Sayang. Baik-baik di rumah. Jangan bikin Mama repot," ucap Damar pada putri kecilnya. 

Bocah mungil itu tertawa sembari mengangguk-anggukkan kepala seolah paham dengan pesan yang disampaikan oleh papanya. 

Tiara hanya berdiri kaku sembari menahan gejolak dalam hatinya menyaksikan interaksi ayah dan anak itu. Ada rasa berdosa dalam hatinya karena sempat terpikir untuk pergi dari kehidupan suamiya. Ia tak tahu bagaimana nasib putrinya jika dirinya memilih menyerah pada rumah tangganya dan akan berakibat pada terpisahnya Ara dengan papanya. 

Setitik kristal bening kembali menetes di pipi. Tiara buru-buru mengusapnya agar Damar tidak melihat kelemahannya. Namun terlambat, pria itu sudah melihat air matanya sehingga urung melangkah pergi. 

Damar kembali mendekati sang istri lalu mengulurkan tangan untuk menyeka sisa air mata yang belum kering di pipinya. Lalu merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukan hangatnya tanpa kata. 

Tiara menumpahkan semua tangisnya di sana. Ada kerinduan yang mendalam tapi ia juga tak bisa begitu saja menerima fakta kalau dirinya bukan satu-satunya istri Damar. Dua tahun ia diperlakukan bak ratu. Seluruh kasih sayang Damar tercurah padanya. Tentu saja saat mengetahui fakta ada wanita lain di hati suaminya, hati Tiara tak hanya sakit. Tapi dia sangat kecewa karena sudah percaya sepenuhnya pada lelaki itu. 

Damar mengelus punggung Tiara lembut. Tak ada sepatah katapun yang terucap karena dia tahu Tiara tak butuh itu sekarang. Dia hanya perlu menunjukkan kalau kasih sayangnya tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang bahkan di masa mendatang. 

Cukup lama mereka berpelukan sampai keduanya merasa sudah cukup. Tiara mundur lalu kembali ke sisi troler tempat di kecil didudukkan di sana. Lalu mendorong troler ke ruang tengah, membiarkan suamiya berangkat tanpa ia antarkan. 

Damar mengusap wajahnya kasar. Perasaannya tak menentu. Melihat betapa rapuhnya Tiara membuat dirinya merasa sakit. Namun keadaan yang membuatnya begini. Setelah mengambil nafas dalam-dalam, pria itu menyalakan mesin mobilnya lalu melaju perlahan menuju kantor. 

Tiara memberikan baby Ara ke pengasuhnya lalu masuk kamar. Akhir-akhir ini semangat hidupnya meredup. Hanya Ara yang menjadi penyemangat hidupnya sekarang. Kalau bukan karena buah hatinya, Tiara memilih pergi dari hidup Damar. Menghilang sejauh mungkin agar lelaki itu tak lagi menyakitinya semakin dalam seperti ini. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!