Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Neraka Lini Depan
“Kalau kamu ke sini cuma buat memamerkan kuku manikurmu itu, Nona Muda, pintu keluar ada di sebelah kananmu. Di sini kami tidak butuh pajangan!”
Suara cempreng berfrekuensi tinggi itu langsung menyengat telinga Alya begitu ia melangkah melewati pembatas kubikel. Bu Ratna, wanita paruh baya dengan sanggul mini yang kaku dan kacamata bertali rantai, menunjuk sebuah meja kayu tripleks yang letaknya persis di bawah embusan AC bocor. Di atas meja itu, tumpukan map jingga setinggi dagu sudah menunggu seperti menara runtuh.
Alya, yang sengaja mengikat rambutnya ke belakang tanpa perhiasan satu pun, langsung menjabat tangan Bu Ratna dengan mantap. “Saya Alya, Bu. Hari ini saya staf baru di divisi klaim vendor macet. Di mana saya bisa menaruh tas?”
Bu Ratna tidak membalas jabat tangan itu. Ia malah melirik tanda pengenal magang di leher Alya dengan sanksi. “Taruh di lantai. Di sini tidak ada loker VIP untuk anak emas direksi. Telepon di mejamu itu sudah berdering tiga kali sejak jam delapan. Angkat!”
Alya menarik napas dalam-dalam. Aroma minyak angin dan kertas lembap di ruangan itu mendadak mengingatkannya pada bau gudang logistik minggu lalu—sama-sama beraroma kerja keras. Ia duduk di kursi posisinya, lalu menyambar gagang telepon.
“Layanan Pelanggan Wijaya Corp dengan Alya, ada yang bisa saya bantu?”
“Heh, Alya atau siapa pun kamu!” Suara teriakan seorang pria dari seberang telepon membuat Alya terpaksa menjauhkan gagang itu lima senti dari telinganya. “Mana janji pencairan dana proyek semen untuk Vendor Berdikari? Sudah lewat dua minggu! Kalian mau peras keringat kami, ya?!”
Alya melirik lembaran di map jingga teratas, jemarinya dengan cepat mengetik nama vendor di komputer tabung kuno di depannya. “Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Bapak. Boleh saya tahu nomor manifes pengiriman terakhir yang tertunda?”
“Jangan banyak alasan! Manifes, manifes! Bilang saja keuangan kalian yang seret! Sambungkan saya ke manajer keuangan atau saya bawa mandor bangunan saya buat demo di lobi depan sekarang juga!”
Di kubikel sebelah, Sinta—staf senior yang wajahnya tampak seperti orang kurang tidur selama tiga tahun—mencondongkan badannya ke arah Alya.
“Tutup saja teleponnya, Al,” bisik Sinta sambil menutup corong teleponnya sendiri. “Itu Pak Baskoro dari Berdikari. Dia memang langganan ngamuk tiap Selasa pagi. Biarkan saja dia capek sendiri.”
Alya menggeleng pelan, matanya masih terpaku pada layar monitor yang berkedip. “Tidak bisa, Sin. Kalau ditutup, dia malah akan benar-benar datang ke lobi. Itu makin bikin repot Pak Hadi di bawah.”
“Heh! Kok malah diam?!” bentak Pak Baskoro lagi di telepon.
“Pak Baskoro, saya sudah melihat datanya,” ucap Alya dengan nada suara yang sengaja diturunkan dua oktav, meniru cara Kai menenangkan sapi yang stres di kebun. Tenang, dingin, dan tidak terpancing. “Dana Bapak tertahan di verifikasi ganda karena ada ketidakcocokan tanda tangan dari pihak logistik lama—Mas Haryo Ruslan.”
Seberang telepon mendadak hening selama tiga detik. “Haryo? Pria sombong yang suka minta jatah preman itu?”
“Betul, Pak. Tapi per hari ini, sistemnya sudah kami ambil alih penuh. Saya yang memegang berkas fisik Bapak sekarang. Jika Bapak bersedia mengirimkan ulang nota digitalnya lewat pesan resmi sekarang, saya jamin dalam tiga puluh menit dana Bapak masuk ke proses kliring.”
“Kamu... tidak bohong, kan? Dari kemarin staf di sana cuma bilang 'nanti, nanti' saja!” Suara Pak Baskoro mulai turun volumenya.
“Saya tidak berbohong, Pak. Nama saya Alya. Bapak bisa simpan nama saya. Kalau dalam tiga puluh menit dana belum diproses, Bapak boleh cari saya di lantai dasar divisi komplain.”
“Baik! Saya kirim sekarang. Awas kalau kamu main-main, ya!” Klik. Telepon ditutup sepihak.
Bu Ratna berjalan mendekati meja Alya sambil membawa segelas teh pahit. Ia berdiri dengan mata menyipit di balik kacamatanya. “Tiga puluh menit? Kamu tahu aturan birokrasi di lantai atas tidak semudah membalik telapak tangan, Nona Muda? Kalau dalam tiga puluh menit uang itu tidak cair, Pak Baskoro akan menguliti meja depan kita.”
Alya berdiri, langsung mengambil map jingga milik Vendor Berdikari. “Makanya saya butuh tanda tangan persetujuan darurat dari Ibu sekarang juga untuk memotong jalur birokrasi.”
Bu Ratna mendengus kencang. “Saya tidak mau tanda tangan kalau berkasnya belum diverifikasi oleh tim audit keuangan lantai empat puluh dua.”
“Tim audit di atas sudah dibersihkan oleh Alina, Bu,” sahut Alya, menatap langsung ke mata Bu Ratna tanpa ada keraguan sedikit pun. “Sistem baru tidak butuh paraf berlapis lagi kalau bukti fisiknya sudah klop. Ini buktinya, barang Pak Baskoro sudah masuk gudang minggu lalu dan sudah dipakai untuk proyek pelabuhan. Kita yang berutang pada mereka, bukan mereka yang mengemis pada kita.”
Bu Ratna tertegun sejenak. Ia melihat berkas yang disodorkan Alya—rapi, ada catatan kecil bersilang tinta merah di setiap bagian yang sempat dimanipulasi oleh Haryo kemarin.
“Kamu... benar-benar memeriksa ini semalaman?” tanya Bu Ratna, suaranya melunak satu persen.
“Saya memeriksa seluruh manifes macet minggu lalu bersama Pak Hadi, Bu. Saya tahu persis di mana sumbatannya.” Alya menyodorkan pulpen hitam ke tangan Bu Ratna. “Tolong, Bu. Nama baik Wijaya Corp di mata vendor kecil ada di ujung pulpen Ibu sekarang.”
Bu Ratna menyambar pulpen itu dengan cepat, membubuhkan tanda tangannya yang meliuk-liuk kasar di atas berkas. “Sana! Bawa sendiri ke bagian kliring digital di pojok ruangan. Dan jangan sampai salah ketik satu nomor rekening pun!”
“Siap, Bu!” Alya setengah berlari menuju meja operator sistem digital.
Pukul dua siang, ruangan divisi komplain masih bising oleh dering telepon yang bersahut-sahut. Namun, suasana di sekitar meja Alya agak berbeda. Sebuah stoples kaca berisi keripik pisang diletakkan Sinta di sudut meja Alya.
“Dari Pak Baskoro,” kata Sinta sambil mengunyah satu keripik. “Dia menelepon lagi tadi jam satu. Tapi kali ini bukan buat ngamuk, dia cuma bilang terima kasih karena uangnya sudah masuk buat bayar gaji mandor. Dia sampai mengirim ojek daring buat mengantar ini ke ruangan kita.”
Alya tersenyum, mengambil satu keripik pisang dan mengunyahnya dengan lahap. “Rasanya lebih enak daripada camilan rapat di ruang direksi, Sin.”
“Jelaslah. Ini namanya keripik hasil keringat orang jujur,” timpal Sinta sambil tertawa kecil.
Bu Ratna kembali lewat di depan kubikel Alya, kali ini ia meletakkan sebuah map baru—berwarna biru muda, tidak terlalu tebal.
“Itu berkas klaim dari PT Angkasa Raya,” ucap Bu Ratna tanpa melihat ke arah Alya, nadanya datar tapi tidak ada lagi bentakan. “Kasusnya lebih rumit karena melibatkan vendor internasional. Saya taruh di mejamu karena staf yang lain tidak ada yang becus bahasa Inggris korporat.”
Alya menerima map itu dengan mata berbinar. “Terima kasih atas kepercayaannya, Bu Ratna.”
“Jangan senang dulu. Kalau vendor itu sampai membatalkan kontrak kerja sama, saya sendiri yang akan melempar mejamu ke luar jendela,” ancam Bu Ratna sebelum kembali ke kubikelnya sendiri.
Sinta menyenggol lengan Alya dengan sikunya. “Wah, Al. Kamu memecahkan rekor. Biasanya staf magang butuh waktu tiga bulan buat dapat map biru dari Macan Kebayoran. Kamu cuma butuh waktu setengah hari.”
“Ini baru awal, Sin. Masih banyak menara runtuh yang harus dibereskan di ruangan ini.”
Malam harinya, jam dinding kantor sudah menunjukkan pukul delapan. Ruangan lantai dasar itu mulai sepi, hanya menyisakan beberapa lampu kubikel yang masih menyala. Alya duduk bersandar di kursinya yang keras, meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah bolak-balik ke ruang operator.
Ponselnya di atas meja bergetar panjang. Sebuah panggilan video dari nomor internasional masuk. Alya segera menggeser layar dan mendapati wajah Kai yang dipenuhi bayangan dedaunan pohon mangga di bawah sinar bulan Chiang Mai.
“Halo, Nona Customer Service. Bagaimana? Sudah berapa kali kena semprot hari ini?” tanya Kai di seberang sana, latar belakang suaranya dipenuhi deru jangkrik malam.
Alya tertawa, mendekatkan ponselnya ke wajah. “Satu kali semprotan dari bos macan, dan satu kali amukan dari vendor semen, Kai. Tapi tebak apa?”
“Apa? Kamu menangis dan minta pulang ke rumah mewah Papa?”
“Tidak! Aku justru berhasil mencairkan dana vendor kecil yang tertahan berminggu-minggu dalam waktu tiga puluh menit. Mereka bahkan mengirimiku keripik pisang sebagai hadiah!” Alya menunjukkan stoples keripik yang tinggal setengah ke arah kamera.
Kai tersenyum tipis di layar, ada binar bangga yang tidak bisa ia sembunyikan di matanya. “Bagus. Berarti kamu sudah mulai paham rasanya menjadi jembatan, bukan cuma menjadi orang yang berdiri di atas jembatan.”
“Iya, Kai. Di sini aku mendengar suara-suara orang yang ketakutan karena uang mereka tidak dibayar, orang-orang yang marah karena merasa tidak dihargai. Rasanya sangat... nyata.”
“*Dunia ini memang nyata, Al. Gengsi kita saja yang sering membuatnya jadi fatamorgana.” Kai mengubah posisi duduknya, terlihat bayangan pondok bambu di belakangnya. “Oh ya, Alina sempat mengirim pesan padaku sore tadi.”
Alya menaikkan alisnya. “Alina? Dia bilang apa?”
“Dia cuma nanya, apakah anggrek hutan yang dia kirim ke tempat magangmu sudah kamu siram atau belum. Dia cemas tanaman itu mati di tanganmu.”
Alya spontan menoleh ke arah sudut ruangan, di mana pot anggrek dari Alina diletakkan di dekat jendela yang menghadap ke area lobi belakang. Kuncup-kuncup ungu pucat itu kini tampak sedikit lebih merekah dibandingkan kemarin malam.
“Bilang pada Alina, anggreknya tumbuh sangat baik di sini, Kai,” bisik Alya dengan senyum tulus yang menghias wajah lelahnya. “Dia mekar di tempat yang paling bising, tapi warnanya tetap tidak berubah.”
“Sampaikan sendiri padanya nanti saat makan malam,” kata Kai sambil melambaikan tangan ke kamera. “Ayam-ayamku sudah mengantuk. Selamat berjuang dengan map-map barumu, Alya.”
“Sampai jumpa di titik nol, Kai.”
Sambungan terputus. Alya memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu berdiri dan berjalan mendekati pot anggrek di sudut ruangan. Ia menyapukan jemarinya yang agak kasar ke kelopak bunga yang mulai terbuka itu. Di bawah temaram lampu kantor lantai dasar, Alya tahu bahwa jalannya masih panjang, tetapi ia tidak lagi merasa asing dengan dirinya sendiri. Di tempat yang penuh makian dan tumpukan kertas ini, ia justru menemukan kedamaian yang sejati.