Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Kehidupan Baru Pemagang
“Kamu yakin ini bukan kotoran kerbau, Kai? Baunya... luar biasa.”
Alya menatap gundukan cokelat kehitaman di depannya dengan wajah berkerut seribu. Ia menutup hidungnya dengan ujung kaus yang sudah berlumuran debu, sementara kakinya yang telanjang ragu-ragu untuk melangkah lebih dekat.
Kai yang sedang berjongkok sambil mencangkul tanah di samping gundukan itu hanya tertawa kecil. "Itu emas hitam, Alya. Campuran sisa jerami, kotoran ternak, dan waktu. Tanpa ini, kangkung yang kamu makan kemarin tidak akan semanis itu."
“Tapi kenapa harus aku yang mengaduknya? Pakai mesin tidak bisa?”
“Mesin tidak punya perasaan,” jawab Kai singkat. Ia menyodorkan sekop kecil ke arah Alya. “Ayo. Jangan cuma dipandangi. Anggap saja kamu sedang mencampur adonan kue... hanya saja bahannya sedikit lebih organik.”
Alya menerima sekop itu dengan dua jari, seolah benda itu beracun. “Adonan kue yang bisa membuatku pingsan karena aromanya. Kamu benar-benar tidak punya belas kasihan pada tamu, ya?”
“Kamu bukan tamu lagi sejak kamu memutuskan untuk makan nasi di pondokku. Kamu itu... pemagang yang belum lulus sensor.”
“Pemagang? Aku ini manajer di Jakarta, Kai!”
“Di sini, jabatanmu adalah 'Asisten Pencampur Pupuk'. Jadi, silakan bekerja, Nona Manajer.”
Alya menggerutu, tapi ia mulai menghujamkan sekopnya ke gundukan itu. Setiap kali uap dari tumpukan kompos itu naik, ia memalingkan wajah, namun tangannya terus bergerak.
“Kai, aku mau tanya,” ucap Alya setelah beberapa menit bekerja dalam diam.
“Tanya apa? Cara menghilangkan bau di tanganmu? Pakai jeruk nipis nanti.”
“Bukan itu,” Alya berhenti sejenak, mengusap keringat di dahinya dengan lengan atas. “Kenapa kamu memilih hidup begini? Kamu pintar, kamu bisa bahasa Inggris, kamu punya koneksi. Kamu bisa kerja di kota besar.”
Kai berhenti mencangkul, menatap cakrawala yang mulai benderang oleh cahaya pagi. “Di kota, aku merasa seperti semut di dalam toples kaca. Semua orang berlari, tapi tidak tahu mau ke mana. Di sini, aku tahu kapan matahari terbit, aku tahu kapan hujan akan turun dari bau tanahnya, dan aku tahu setiap helai padi yang aku tanam akan menghidupi orang lain. Itu cukup buatku.”
“Tapi kamu tidak punya apa-apa. Tidak ada mobil, tidak ada baju bermerek, tidak ada status.”
“Aku punya waktu, Alya. Itu kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh ayahmu, bahkan dengan seluruh saham Wijaya Corp.”
Alya terdiam. Kata-kata Kai memukulnya tepat di ulu hati. Ia teringat Wijaya yang selalu sibuk dengan telepon genggamnya, bahkan saat di meja makan. Ia teringat Alina yang selalu tampak waspada, seolah dunia akan runtuh jika ia berkedip satu detik saja.
“Alina pasti benci tempat ini,” gumam Alya tiba-tiba.
“Kenapa kamu pikir begitu?”
“Karena dia orang yang praktis. Dia suka hasil yang cepat dan nyata. Menunggu kompos matang berbulan-bulan pasti membuatnya gila.”
Kai kembali mencangkul. “Kamu salah. Alina itu seperti tanah ini. Dia tahu bahwa untuk menumbuhkan sesuatu yang kuat, akarnya harus sabar melewati kegelapan. Dia tidak benci proses, dia hanya tidak suka orang yang malas menjalani prosesnya.”
Alya menatap tangannya yang kini kotor penuh tanah. “Dulu aku pikir dia jahat karena merebut segalanya dariku. Tapi sekarang... aku merasa dia sebenarnya sedang membuang sampah dari pundakku agar aku bisa lari lebih ringan.”
“Nah, sekarang kamu mulai pintar. Ayo, selesaikan gundukan itu. Kita masih harus ke kebun jeruk.”
Dua jam kemudian, mereka sampai di kebun jeruk yang terletak di lereng bukit. Pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi, tapi buahnya lebat dan menguning.
“Tugasmu sederhana,” kata Kai sambil memberikan sebuah keranjang bambu. “Pilih yang kulitnya agak kasar tapi berat. Jangan ditarik, diputar sedikit saja biar tangkainya tidak rusak.”
“Oke, ini mudah,” sahut Alya percaya diri. Ia mulai memetik satu per satu. “Kai, lihat! Aku dapat yang besar!”
“Jangan cuma cari yang besar. Cari yang berisi. Hidup juga begitu, kan? Banyak yang terlihat besar tapi dalamnya hambar.”
“Bisa tidak kamu bicara tanpa kata-kata bijak selama lima menit saja?” Alya tertawa, melempar sebuah jeruk kecil ke arah Kai yang ditangkap dengan cekatan.
“Sulit. Alam ini bicara lewat simbol, aku cuma menerjemahkannya untukmu yang baru bangun dari tidur panjang.”
Alya tersenyum, kali ini tulus. Ia merasakan tekstur kulit jeruk yang dingin karena embun, mencium aroma segar yang keluar saat ia tanpa sengaja menggores kulitnya dengan kuku. Sesuatu yang sangat sederhana, tapi terasa begitu nyata di indranya.
“Kai... boleh aku jujur?”
“Kapan kamu tidak jujur padaku? Sejak datang kamu sudah mengomel tentang semua hal.”
“Aku merasa... lebih bernapas di sini,” bisik Alya. “Di Jakarta, aku merasa seperti memakai topeng yang terlalu berat. Aku harus terlihat cantik, harus terlihat kaya, harus terlihat bahagia. Di sini, meski aku bau kotoran kerbau dan bajuku kotor, aku tidak perlu berbohong pada siapa pun.”
Kai meletakkan keranjangnya, menatap Alya dengan sorot mata yang hangat. “Itu namanya kebebasan, Al. Saat kamu tidak lagi peduli pada penilaian orang yang bahkan tidak mengenal warna aslimu.”
“Tapi aku tetap harus pulang, kan?”
“Tentu. Kamu tidak mungkin jadi petani selamanya di sini. Kulitmu terlalu sensitif untuk matahari Chiang Mai jangka panjang.”
“Sialan kamu, Kai!”
“Tapi saat kamu pulang nanti, bawa perasaan ini. Jangan biarkan gedung pencakar langit itu mencuri lagi kedamaian yang sudah kamu temukan di bawah pohon jeruk ini.”
Alya mengangguk pelan. Ia duduk di bawah salah satu pohon, menyandarkan punggungnya pada batang yang kokoh. “Aku ingin menunjukkan ini pada Alina. Bukan kebunnya, tapi... aku yang baru.”
“Dia pasti akan menyadarinya. Kakak beradik punya radar sendiri untuk hal-hal seperti itu.”
“Kai, apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang di kota?” tanya Alya tiba-tiba, membuat Kai terhenti dari aktivitasnya.
Kai terdiam cukup lama, memutar-mutar sebuah jeruk di tangannya. “Pernah. Tapi dia memilih untuk tetap di dalam toples kaca. Dia pikir kebahagiaan adalah deretan angka di rekening bank. Aku tidak bisa menyalahkannya, tapi aku juga tidak bisa mengikutinya.”
“Maaf... aku tidak bermaksud...”
“Tidak apa-apa. Itu bagian dari proses kompos pribadiku,” Kai terkekeh. “Sudah, ayo kembali. Bibi Sumi akan datang jam makan siang untuk mengambil jeruk ini. Kita bisa minta upah nasi kuning dan ayam goreng.”
Perjalanan pulang terasa lebih ringan bagi Alya. Meski kakinya pegal dan punggungnya mulai terasa kaku, ada rasa puas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Saat melewati sungai kecil, ia berhenti sebentar untuk mencuci kakinya.
“Kai, lihat!” Alya menunjuk ke arah sekumpulan kupu-kupu yang hinggap di pinggir air. “Indah sekali.”
“Mereka cuma mampir untuk cari mineral. Sama seperti kamu, mampir sebentar untuk cari mineral kehidupan sebelum terbang lagi.”
Alya berdiri, menatap Kai yang berdiri di atas jembatan bambu kecil. “Kamu tahu, Kai? Kamu itu menyebalkan, sok tahu, dan bau asap bambu. Tapi terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena tidak melihatku sebagai Alya Wijaya. Terima kasih karena sudah membiarkanku mengaduk kotoran kerbau.”
Kai tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. “Sama-sama. Besok jadwal kita adalah membersihkan kandang babi milik Paman Somchai. Itu level selanjutnya setelah kotoran kerbau.”
Alya melotot, mulutnya menganga. “Babi?! Kai, bercandamu tidak lucu!”
“Siapa yang bercanda? Baunya tiga kali lebih tajam. Ayo, jalan lagi!”
Alya mengejar Kai sambil berteriak protes, tawanya pecah di antara pepohonan hijau Chiang Mai. Di saat itu, Alya sadar bahwa kebahagiaan ternyata tidak butuh validasi dari ribuan pengikut media sosialnya. Kebahagiaan hanya butuh satu orang yang berani menyuruhmu mengaduk tanah dan alam yang siap menerimamu apa adanya.
Jauh di Jakarta, di meja kerja mewahnya, Alina mendadak berhenti mengetik. Ia menatap sebuah foto kecil di sudut mejanya—foto masa kecil mereka berdua saya belum terpisah. Dia menemukan foto itu di laci sang ayah. Ia tersenyum tipis, seolah bisa mendengar tawa saudaranya dari ribuan kilometer jauhnya. Walau pernah bermusuhan, ikatan darah tidak akan pernah putus.
“Semoga kamu menemukan jalanmu, Al,” bisik Alina pelan sebelum kembali berkutat dengan tumpukan dokumen.
Di Chiang Mai, matahari mulai condong ke barat, memandikan Alya dan Kai dengan cahaya keemasan. Sebuah perjalanan yang dimulai dari pelarian, kini berubah menjadi pencarian jiwa yang paling jujur.