Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Cermin yang Retak

 

Dunia Alya runtuh dalam keheningan yang mencekam setelah pintu ruang kerjanya tertutup rapat. Ia menatap amplop cokelat kosong itu seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang baru saja meledak. Tangannya gemetar, bukan karena takut pada hukum, tapi karena fakta bahwa Alina—sosok yang ia anggap tak kasat mata—baru saja menodongkan pistol ke pelipisnya dengan presisi seorang penembak jitu.

“Sialan!” Alya menyapu seluruh barang di atas mejanya. Laptop, vas bunga kristal, dan tumpukan dokumen jatuh berdentum ke lantai.

Ia segera meraih ponselnya. “Siska! Batalkan semua laporan ke dinas perizinan untuk toko di Jalan Melati. Sekarang! Bilang ada kesalahan administrasi dari pihak kita. Dan hubungi pengacara keluarga, suruh mereka tarik semua tuntutan perdata atas nama Arya!”

Alya jatuh terduduk di kursi kebesarannya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Bagaimana bisa seorang buruh cuci, seorang kasir rendahan, memiliki salinan transaksi vendor "Shinta Mandiri"?

“Papa tidak boleh tahu,” bisiknya pada ruangan yang kosong. “Kalau Papa tahu aku mencuri dari dana investasi untuk cadangan pribadiku, dia akan mencoret namaku dari ahli waris.”

Kebenciannya pada Alina kini berevolusi. Bukan lagi sekadar rasa jijik pada "orang miskin", melainkan rasa terancam yang primitif. Alina bukan sekadar kembaran yang hilang; ia adalah cermin yang memperlihatkan segala borok yang selama ini Alya tutupi dengan bedak kemewahan.

Sore harinya, segel kuning di depan minimarket dicopot dengan terburu-buru oleh petugas yang sama yang memasangnya kemarin. Mereka tampak canggung, memberikan alasan berbelit tentang "kesalahpahaman sistem" sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi secepat mungkin.

Pak Hadi berdiri di depan pintu toko, mengelus dadanya berkali-kali. “Ajaib. Benar-benar ajaib, Alina. Bagaimana bisa mereka berubah pikiran secepat ini?”

Alina, yang sedang menyapu sisa-sisa debu di teras, hanya tersenyum tipis. “Terkadang orang-orang berkuasa hanya butuh diingatkan bahwa mereka juga bisa terpeleset, Pak.”

“Tapi, Nak… ini artinya toko kita bisa buka lagi?”

“Bisa, Pak. Tapi mungkin dengan suasana yang berbeda.”

Tak lama kemudian, mobil Arya berhenti di depan toko. Ia turun dengan langkah yang lebih ringan, meski wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan. Ia menatap Alina dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kagum, malu, dan keinginan untuk memiliki yang semakin membuncah.

“Alya mencabut semuanya,” ujar Arya setelah berdiri di depan Alina. “Bukan cuma itu, dia juga mengirimkan surel permohonan maaf resmi ke dewan direksi perusahaanku, mengatakan bahwa ada 'kekeliruan teknis' dari pihak vendornya.”

Alina terus menyapu, seolah kehadiran Arya tidak lebih penting dari kerikil di lantai. “Baguslah. Bapak bisa kembali jadi CEO yang hebat sekarang.”

“Aku tidak peduli soal jabatan itu lagi, Alina. Apa yang kamu katakan padanya tadi pagi? Bagaimana kamu bisa membuatnya bertekuk lutut seperti itu?”

Alina berhenti menyapu. Ia menatap Arya dengan tatapan tegas. “Saya hanya mengembalikan cermin padanya, Pak. Saya memperlihatkan siapa dia sebenarnya tanpa topeng ayahnya. Dan sekarang, setelah badai ini lewat, saya harap Bapak menepati janji Bapak.”

“Janji yang mana?”

“Jangan pernah bawa masalah pribadi Bapak ke toko ini lagi. Saya ingin bekerja dengan tenang.”

Arya mendekat, suaranya merendah. “Kamu tahu itu tidak mungkin, Alina. Aku sudah terlanjur melihat siapa kamu. Kamu bukan sekadar kasir. Kamu adalah orang paling berani yang pernah kutemui. Dan soal kontrak itu…”

“Kontrak itu tetap berlaku,” potong Alina. “Saya akan membayar hutang budi pada Pak Hadi dengan memajukan toko ini selama dua tahun. Tapi Bapak… Bapak harus belajar menjadi pemilik yang profesional. Jangan ganggu saya dengan kata-kata cinta yang tidak pada tempatnya.”

Arya terdiam. Ia merasa seperti seorang raja yang baru saja ditolak oleh seorang rakyat jelata yang memiliki jiwa jauh lebih agung darinya.

Malam itu, minimarket kembali beroperasi. Lampu neon kembali menyala, menerangi rak-rak yang kembali rapi. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah mobil sedan hitam yang tidak dikenal terparkir di sudut jalan yang gelap.

Di dalam mobil itu, seorang pria paruh baya dengan rambut beruban yang tertata rapi mengamati Alina dari kejauhan melalui teropong binokular. Ia adalah Pak Wijaya, ayah Alya.

“Jadi itu dia?” suaranya berat dan penuh wibawa.

“Benar, Tuan,” sahut pria di kursi pengemudi yang merupakan orang kepercayaannya. “Dia adalah anak yang dibawa oleh Ibu Shinta dua puluh lima tahun lalu. Namanya Alina.”

Pak Wijaya menarik napas panjang. Ada gurat penyesalan yang melintas sejenak di matanya sebelum kembali mengeras. “Dia memiliki mata ibunya. Tajam dan tak mudah menyerah. Berbeda dengan Alya yang hanya bisa mengandalkan namaku.”

“Apa rencana Anda, Tuan? Nona Alya tampak sangat terganggu dengan kehadirannya. Bahkan Nona Alya melakukan penggelapan dana vendor untuk menekan pria bernama Arya itu demi menjauhkan Alina.”

Pak Wijaya tersenyum dingin. “Alya bodoh. Dia menggunakan cara kasar yang justru memperlihatkan kelemahannya. Jika Alina bisa membuat Alya ketakutan hanya dengan selembar kertas, maka Alina memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk memimpin kerajaan bisnisku dibanding Alya yang manja.”

“Maksud Anda, Tuan?”

“Amati terus. Jangan biarkan Alya bertindak terlalu jauh yang bisa membahayakan nyawa Alina. Aku ingin tahu sejauh mana gadis ini bisa bertahan di bawah tekanan. Jika dia berhasil memulihkan toko itu dari kehancuran yang diciptakan Alya, maka aku sendiri yang akan menjemputnya.”

Di dalam toko, Alina sedang menata stok susu yang baru datang. Ia merasa bulu kuduknya berdiri, seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari kegelapan di luar sana. Ia menoleh ke arah jendela besar, namun hanya melihat pantulan dirinya sendiri di kaca.

Ia teringat kata-kata Alya tadi pagi: “Kenapa kamu membelanya? Dia hanya memanfaatkanmu!”

Alina tahu Arya mungkin saja memanfaatkannya. Ia tahu Alya membencinya. Ia bahkan mulai curiga bahwa Pak Hadi pun menyembunyikan sesuatu tentang kepemilikan toko ini. Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar tulus bagi orang seperti dirinya.

Tiba-tiba, lonceng pintu berbunyi.

Bukan Arya. Bukan Alya. Melainkan seorang wanita tua yang tampak sangat letih, membawa keranjang cucian yang berat. Ia adalah Ibu Shinta, ibu yang membesarkan Alina dalam kemiskinan dan selama ini disembunyikan Alina di rumah kontrakan kecil demi keselamatannya.

“Alina…” suara ibunya gemetar.

Alina segera berlari keluar dari balik kasir dan memeluk ibunya. “Ibu? Kenapa Ibu ke sini? Kan Alina bilang jangan keluar rumah dulu.”

“Ibu takut, Nak. Tadi ada mobil hitam yang mondar-mandir di depan kontrakan kita. Ibu merasa… Ibu merasa ayahmu sudah menemukan kita.”

Tubuh Alina membeku. Ia menatap ke arah jalanan di luar melalui pintu kaca. Mobil hitam yang tadi mengintai perlahan mulai melaju pergi saat menyadari kehadirannya.

Alina memeluk ibunya lebih erat. Ia menyadari bahwa memenangkan satu pertempuran melawan Alya hanyalah pembukaan dari perang yang jauh lebih besar. Perang memperebutkan identitas, masa lalu, dan masa depan yang telah dicuri darinya.

“Tenang, Bu,” bisik Alina, matanya kini berkilat penuh tekad. “Tidak akan ada yang bisa menyentuh Ibu. Alina bukan lagi gadis kecil yang bisa mereka pisahkan. Jika mereka ingin perang keluarga, akan saya berikan perang yang tidak akan pernah mereka lupakan.”

Di balik rak minuman, tanpa sepengetahuan mereka, Arya berdiri mendengarkan pembicaraan itu. Ia baru saja menyadari bahwa rahasia yang disimpan Alina jauh lebih gelap dan rumit dari sekadar persaingan asmara.

Alina kini berdiri di tengah persimpangan. Antara cinta obsesif Arya, kebencian mematikan Alya, dan ambisi dingin ayahnya yang baru saja muncul dari bayang-bayang.

Ia kembali ke balik meja kasir, merapikan struk yang berantakan dengan tangan yang tak lagi gemetar.

“Totalnya dua puluh delapan ribu, Bu,” ucapnya pada seorang pelanggan lain yang baru masuk, suaranya kembali ramah dan profesional.

Mesin kasir berbunyi "beep". Sebuah suara yang kini terdengar seperti dentang jam menuju tengah malam. Ketenangan sementara itu benar-benar sudah berakhir. Sekarang, Alina harus belajar cara menjadi ratu di papan catur yang selama ini menganggapnya hanya sebagai pion.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!