Untuk FADHIL
Berbicara Empat Mata
Jam telah menunjukkan hampir pukul satu dini hari, sudah sangat larut, tetapi Fadhil masih tidak bisa menutup matanya dan tidur. Pikirannya dipenuhi oleh pembicaraannya dengan kedua orang tuanya beberapa jam yang lalu mengenai perjodohannya dengan Laura, anak dari salah satu teman orang tuanya yang dikatakan telah membantu perusahaan mereka yang hampir bangkrut. Meski Fadhil telah menolak dengan sangat tegas mengingat dirinya telah memiliki Kayla yang berstatus sebagai pacarnya saat ini dan juga dengan alasan bahwa Fadhil tidak ingin menikah muda, tetapi tetap saja orang tua Fadhil bersikeras agar dirinya menerima perjodohan itu sebagai balas budi. Bahkan ayah Fadhil tidak segan-segan mengancam akan mencabut semua fasilitas yang dia miliki jika dia tidak menerima perjodohan itu.
Fadil yang sedang berbaring menatap lampu yang berada di langit-langit kamarnya kini mulai mengacak rambutnya kasar. Matanya telah berat dan perih, tetapi pikirannya masih tidak bisa tertidur. Ini adalah pertama kali dia mengalami frustasi seberat ini, memikirkan bagaimana nasibnya nanti.
Fadhil mengambil ponsel pintar miliknya yang tergeletak di atas nakas, dia membuka aplikasi berkirim pesan dan segera menekan nama Kayla yang berada di daftar paling atas hingga percakapan terakhir dirinya dan sang pacar terlihat, yaitu Kayla yang mengucapkan selamat tidur padanya beberapa jam yang lalu dan hanya dibalas dengan sebuah emoji berbentuk hati.
Niatnya ingin menelepon gadis itu, tetapi dia mengurungkan niatnya mengingat sekarang sudah sangat larut, dia tidak ingin mengganggu sang pacar dan membuatnya khawatir karena menelepon di jam seperti ini.
Fadhil menarik napas panjang dia meletakkan kembali ponsel itu pada tempatnya, kemudian menarik selimut bersiap untuk tidur karena matanya yang sudah sangat lelah.
"Tidur Fadhil, tidur!" gumamnya pada diri sendiri berharap kalimat itu bisa menjadi mantra agar dirinya bisa tidur.
***
Sebuah mobil hitam dengan model terbaru memasuki pekarangan sekolah yang nampak telah sepi, bukan karena para muridnya telah pulang melainkan karena mereka sedang berada di dalam kelas masing-masing dan mengikuti pelajaran karena jam pelajaran pertama telah lama berlalu dan jam pelajaran ke dua sedang berlangsung.
Setelah memarkirkan mobilnya di area parkiran, Fadhil membuka pintu mobil itu hingga menampakkan dirinya yang berbalut seragam putih abu-abu yang kemejanya dibiarkan diluar terlihat. Sang anak kepala sekolah itu berjalan dengan santai melewati koridor sekolah yang sepi, beberapa kali dirinya berpas-pasan dengan guru-guru yang lewat di koridor, tetapi tidak satupun dari mereka yang menegurnya karena datang terlamabat. Bukan karena takut, tetapi mereka sudah lelah menegur Fadhil yang tidak pernah menurut itu jadi mereka memilih untuk membiarkan Fadhil melakukan sesukanya.
Saat sampai di kelasnya, Fadhil melengos begitu saja mengabaikan sang guru yang sedang menerangkan pelajaran sejarah dan langsung menuju kursinya yang berada di paling belakang.
"Woi, jam berapa ini? Kenapa baru datang?" tanya Riko pada Fadhil setelah cowok itu duduk di kursinya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Tumben lo gak ke kantin," ucap Fadhil mengalihkan topik.
"Lagi males aja, lo mau ke kantin? Si Adit sama Jaya udah duluan ke kantin," balas Riko.
Fadhil tidak menanggapi, pikirannya masih saja tidak tenang. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Haruskah dia tetap membantah keinginan kedua orang tuanya dan membiarkan semua fasilitas yang selama ini telah melekat pada dirinya diambil begitu saja? Lantas bagaimana jadinya Fadhil tanpa semua kemewahan itu?
Melihat Fadhil yang sedang melamun membuat Riko yang duduk pada meja di sampingnya menatap heran sang sahabat itu. Tumben sekali dia melamun seperti itu seolah sedang ada masalah, tetapi Riko enggan bertanya karena tidak ingin ikut campur dalam urusan sahabatnya itu. Jika memang Fadhil membutuhkan bantuan Riko maka Fadhil bisa mengatakannya secara langsung.
Lamunan Fadhil terhenti ketika bel istirahat berbunyi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Fadhil langsung keluar dari kelasnya dan segera menuju kelas Kayla. Dia ingin menemui pacarnya itu dan membicarakan masalah perjodohan itu dengan sang pacar.
Saat sampai di depan kelas Kayla, mata Fadhil tampak menelusuri seisi kelas berusaha mencari keberadaan Kayla. Dan senyumnya langsung mengembang ketika matanya menangkap sosok yang dia cari, dengan segera Fadhil masuk ke dalam kelas dan menuju tempat duduk gadis itu.
Kayla sedang sibuk memasukkan buku pelajaran matematika yang baru saja selesai, niatnya setelah ini adalah menuju kelas Fadhil untuk mengajak cowok itu makan bersama.
"Kayla."
Suara itu menghentikan kegiatan Kayla, suara yang dia kenal mengalun lembut di telinganya membuat dia dengan segera membalikkan badan dan mendapati Fadhil sedang berdiri di depannya sambil tersenyum.
"Fadhil, kamu dari kapan di situ?" tanya Kayla yang juga ikut tersenyum.
"Baru aja," jawab Fadhil.
"Mau ke kantin?"
"Emm ... sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Apa?"
"Kita ngomongnya di halaman belakang aja?"
Kayla masih tersenyum, manik miliknya menatap Fadhil yang masih setia berdiri di tempatnya dan mantap Kayla dengan serius. Kenapa dengan cowok ini? Dia sedikit berubah, apakah ada sesuatu?
Tanpa bertanya lebih jauh, Kayla mengiyakan ajakan Fadhil meski masih diselimuti dengan rasa penasaran dan kebingungan.
Setelah persetujuan Kayla, Fadhil langsung mengajak Kayla menuju halaman belakang, tempat yang jarang didatangi oleh para siswa siswi. Sengaja Fadhil mengajak Kayla ke halaman belakang agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka apalagi ini termasuk sebuah rahasia.
Saat sampai di halaman belakang yang pertama kali Kayla tangkap dengan matanya adalah halaman yang cukup luas dengan rumput yang baru saja dipotong, banyak pohon rindang dan ada beberapa kursi yang bisa diduduki tertata rapih disana. Ternyata halaman belakang tidak seburuk yang Kayla pikirkan, padahal selama ini Kayla selalu mengira bahwa halaman belakang adalah halaman yang kotor dan jelek sehingga jarang ada yang kemari, tetapi nyatanya tidak. Tempat ini begitu bersih dan terawat.
"Ayo, duduk sini," ucap Fadhil sambil menepuk tempat duduk kosong yang berada di bawah pohon dan dengan patuh Kayla mengikuti yang dikatakan oleh Fadhil.
Keduanya tampak diam dengan pikiran masing-masing. Kayla yang penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Fadhil dan Fadhil yang bingung ingin memulai dari mana.
"Key," panggil Fadhil akhirnya setelah lama terdiam.
"Iya, ada apa?"
"Orang tuaku mau jodohin aku dengan anak dari teman mereka."
Bagai petir yang menyambar dirinya Kayla tampak terdiam dengan ekspresi terkejut yang begitu kentara.
Fadhil menarik napas berusaha melanjutkan kembali ucapannya.
"Kata orang tuaku, perusahaan yang ayah kelola hampir bangkrut karena suatu alasan dan salah satu teman ibuku membantu perusahaan itu, tetapi dia minta agar aku bisa menikahi anaknya di masa depan, dia bernama Laura." Fadhil menjeda, dia sejenak menatap Kayla yang masih terkejut, tetapi tetap berusaha mendengarkan penjelasan Fadhil.
"Dan akhirnya ayah memutuskan untuk menjodohkan aku dengan Laura. Aku sudah menolaknya dan bilang sama mereka bahwa aku sudah punya kamu sebagai pacar aku, tapi mereka malah ngancam untuk mengambil semua fasilitas aku jika aku tidak mau dijodohkan, jadi aku pengen minta pendapat kamu tentang apa yang harus aku lakukan," papar Fadhil. "Key, jujur aku sama Laura dari dulu sudah temenan karna dia sering main ke rumahku, aku sama dia tidak punya hubungan apa-apa selain teman, dia juga sudah aku anggap adik perempuanku, aku kira dengan pernyataan ini kamu bisa ngerti bagaimana ada di posisi aku."
Kayla masih masih diam mendengarkan, tidak lebih tepatnya dia bingung harus bilang apa. Pacarnya akan dijodohkan dengan gadis lain, memangnya perempuan mana yang rela dengan hal itu?