Untuk FADHIL

Berita Pertunangan

Keyla berjalan menuju ruang osis di sana terdapat Ratna, Arka, Amel dan Kevin. Ruangan yang menjadi tempatnya untuk berkerja dan bercanda gurau. Sudah sejak duduk di kelas 10 dia sudah di pilih menjadi anak osis dan bergabung bersama anak mading.

“Assalamualaikum,” ujar Keyla dengan ceria.

“Waalaikumsalam,” jawab Ratna dan Amel yang sedang duduk di dekat pintu.

Mereka pun menoleh dan menatap Keyla yang sedang tersenyum senang, Keyla bergabung dengan ke dua temannya itu untuk mendiskusikan mading.

“Dari mana Key?” tanya Ratna sambil menggulung-gulung lembaran kertas di tangannya.

“Dari kantin habis ngisi perut dulu,” jelasnya sambil menarik mulutnya dan tersenyum lebar.

“Jadi gimana nih Key ada anak murid kelas 11 yang tulisannya bagus tapi dia nolak buat di taro di mading?” tukas Amel dengan emosi.

Dia tidak habis pikir dengan satu anak ini, semua orang mau tulisannya bisa di pajang di mading sekolah tapi dia malah menolaknya.

“Iya bener banget Mel, gue aja denger dari aduan anak kelasnya dia emang orangnya susah di atur dan keras kepala,” timpal Arka dan duduk bersama yang lain.

“Siapa sih emang namanya?” tanya Keyla penasaran raut wajahnya berubah saat mendengar penjelasan dari yang lain.

“Si Kiki yang punya bakat terpendam,” sahut Amel.

“Okey nanti biar gue yang coba ngomong sama dia,” ujar Keyla dengan mudahnya.

“Semangat semuanya!” ujar Kevin si ketua osis sambil bertepuk tangan.

Ruangan osis dan mading memang dijadikan satu karena menurut Pak Eza agar lebih mudah untuk mengaktifkannya jadi mading pun jadi tanggungjawab anak osis.

“Hey Vin,” ujar Keyla tersenyum kepada cowok itu.

“Kenapa?” Kevin menatap cewek itu dengan sebelah alis yang terangkat.

“Jaket lo gue balikinnya nanti aja ya!” ujar Keyla yang ingat bahwa dia megang jaket Kevin tadi pagi.

Kevin terkekeh mendengarnya, “Iya santai aja kali Key, gue masih punya banyak.”

“Vin, gue mau ngusulin gimana di akhir semester adain lomba musikalis puisi dan drama gitu loh,” seru Amel dengan idenya yang cemerlang.

“Gue setuju, biar nanti gue yang ajarin dramanya,” sahut Keyla dengan santusias.

Kevin berpikir sebelum menyetujui ide Amel. “Nanti gue kabarin lagi deh takutnya gak ada waktu.”

“Okey, never mind gue cuma di akhir semester ada acara aja gitu sebelum ulangan,” ujar Amel.

Arka mencari Raya yang tidak hadir dalam diskusi kali ini, apalagi ini urusan mading dan laporan dari para anggota kepada ketua.

“Key, Ara mana?” tanya Arka dengan menyenggol tangan Keyla yang duduk tidak jauh darinya.

“Dia mau isi perut dulu katanya, nanti juga dia ke sini.”

Sesekali mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing tapi kali ini mereka sedang free jadi bisa santai meski sebagian ada yang belum menyelesaikan tugasnya. Kevin memberikan minuman kepada yang lain membuat mereka senang mempunyai ketua yang baik hati dan pengertian.

Fadhil masih memikirkan Papahnya yang akan pergi, rasanya semakin dia dewasa dia semakin merasa kalau pekerjaan itu memang nomor satu di mata ke dua orangtuanya.

“Hallo Pak Mino,” ujar Fadhil saat teleponnya sudah tersambung.

“Iya kenapa Tuan?”

“Pak Mino masih ada di kantor Papah?” tanya Fadhil.

“Iya Tuan.”

“Jangan lupa untuk melaporkan apa saja yang Papah rencanakan!” ujar Fadhil dan memutuskan sambungan secara sepihak setelah mendengar jawaban dari lawan bicaranya.

Fadhil pun kembali melangkah ke kantin untuk bertemu teman-temannya yang mungkin masih berada di sana istirahat memang waktu yang tepat untuk nongrong di kantin atau pergi untuk mencari angin bagi anak yang suka bolos.

“Udah selesai Fadh?” tanya Jaya yang melihat kedatangan Fadhil.

Fadhil diam dan langsung duduk sambil menyandarkan kepalanya, Jaya tidak mengerti apa yang terjadi dengan Fadhil.

“Lo baik-baik saja kan Fadh?” Riko kembali bertanya kepada temannya itu.

Fadhil bangun dan menegakkan duduknya, “Gue baik-baik aja kok santai aja, tadi Papah gue bilang kalau dia mau pergi lagi dan dia juga nyuruh Pak Bambang untuk ngawasi gue di sekolah.”

“Pak Bambang?” tanya Adit terperangah mendengarnya.

Fadhil menganggukkan kepalanya, “Iya kan beliau jadi mata-mata Papah gue kalau gue ketauan bolos pasti dia laporin.”

Tidak lama kemudian bel istirahat pun telah habis, semua murid berlarian untuk masuk ke kelasnya masing-masing, Fadhil tidak sengaja mendengar obrolan anak-anak cewek yang mengatakan bahwa perjodohan dirinya dan Laura akan terjadi, sepanjang perjalanan semua anak-anak mengatakan hal sama begitu pun anak kelasnya.

“Fadh, lo beneran bakal tunangan sama Laura?” tanya Raya yang memang heboh jika mendengar gosip.

“Terus hubungan lo sama Keyla selama ini apa Fadh?”

“Apaan sih lo semua!” sergah Fadhil yang merasa bingung akan pertanyaan teman-temannya.

Laura pun masuk ke kelas membuat kelas nambah heboh dan berisik dengan gosip yang baru saja beredar saat bel istirahat habis.

“Siapa yang sudah nyebarin berita hoax kaya gini?” tanya Fadhil sambil menarik Laura ke pojong ruangan.

Laura dengan tidak terima melepaskan tangan Fadhil yang begitu kasar kepadanya, dia pun tidak segan-segan menatap cowok di depannya itu.

“Gue, emang benar kan kita akan bertunangan,” ujar Laura sambil tersenyum senang.

Fadhil membuang pandangannya saat mendengar jawaban Laura, lagi dan lagi dia kembali membuat masalah terhadapnya.

“Lo gak usah khawatir mungkin Keyla sudah mendangar berita ini dari teman-temannya,” celetuk Laura yang merasa puas karena rencananya sudah berhasil.

Fadhil tidak pernah meladeni perkataan Laura yang selalu membuat dirinya marah dan emosi karena perbuatan cewek itu yang selalu membuat masalah dalam hidupnya.

“Kamu mau ke mana Fadhil?” tanya Bu Laila.

Fadhil tidak menghiraukan terikan Guru itu dan langsung pergi dengan langkah yang begitu cepat.

“Rik, bawa tas gue ya! Gue pulang duluan.”

Fadhil mengirim pesan pada Riko sebelum pergi dengan motornya dia harus menemui seseorang untuk meminta penjelasan.

“Eh Den, Fadhil sudah pulang,” seru Bi Tinah dengan nelangsa.

“Papah di mana Bi?” tanya Fadhil, dia memberikan tas dan almamaternya kepada Bi Tinah, sambil melangkah masuk.

“Ada Den, di ruangannya.”

Fadhil pun langsung menemui Papahnya, dia ingin menanyakan sesuatu yang penting dan pastinya menyangkut dirinya. Dengan cepat Fadhil menaiki tangga hingga sampai pada satu titik yaitu pintu ruangan sang Papah.

“Assalamualaikum, Pah ini Fadhil.” teriaknya sambil mengetuk pintu.

"Masuk." Setelah mendengar perizinan dari Papahnya, Fadhil mamasuki ruangan yang sudah 1 tahun yang lalu kosong karena sang penghuni selalu meninggalkannya, di ruangan itu terdapat ficture Papah dan Mamah, matanya terbelalak saat melihat foto dirinya dan seseorang laki-laki yang begitu tampan.

“Pah, ini foto siapa?” tanya Fadhil ambigu.

Dia menunjukan bingkai yang terletak di atas meja, perhatian Haris pun teralhikan oleh bingkai yang di pegang Fadhil, dengan cepat dia langsung mengambilnya.

“Ini foto kamu masih kecil dan orang lain, ada apa kamu kemari?”

“Itu memang fotoku Pah tapi, siapa yang satunya lagi? Kok sepertinya aku mengenalnya.” Fadhil masih memperhatikan bingkai tersebut sehingga Haris, Ayahnya Fadhil langsung memasukannya di dalam laci.

“Sudah, dia hanya temanmu waktu kecil saja.”

Fadhil yang tak ingin berdebat akhirnya memutuskan untuk mengalah, dan mengalihkan topik pembicaraan yang lebih serius.

“Pah, apa yang di katakan Laura itu tidak benar kan? Papah sama Mamah tidak akan menjodohkanku dengan Laura kan? Jelaskan Pah, aku tidak bisa mengerti ini semua!” ujar Fadhil lirih, perkataan Laura dalam telepon sulit untuk dia percayam, segan untuk duduk dia lebih memilih untuk berdiri, kali ini Fadhil butuh penjelasan yang benar atas pertanyaan yang menyangkut masa depannya.

“Jawab aku Pah, kenapa Papah tidak menanyakan hal ini kepadaku terlebih dahulu?” bentak Fadhil, karena Papahnya yang masih bungkam.

“Iya. ” Satu patah kata akhirnya keluar dari mulut Haris. “Itu semua memang benar.”

Jawaban Papahnya membuat Fadhil semakin emosi, “Tapi, kenapa Papah tidak menanyakannya hal ini kepadaku?”

“Ini atas pilihan Mamah kamu, Papah hanya menginginkan yang terbaik buat kamu, lagian gak ada masalah kan dengan Laura, dia itu gadis cantik dan Papahnya Laura teman Papah sama Mamah.”

Fadhil tidak peduli seberapa cantiknya Laura, dan bahkan dia anak siapa pun Fadhil tidak peduli. “Pah, Fadhil gak suka di kengkang, Fadhil mau ngebatalin perjodohan ini!”

Fadhil dengan emosi langsung keluar tanpa pamit kepada Papahnya terlebih dahulu, sudah dia duga bahwa Laura telah mengadu kepada Mamahnya atas kejadian kemarin, dan mencoba menjauhkannya dari Keyla. Sehingga perjodohan ini terjadi, dia harus memberitahu Keyla tentang hal ini agar dia tidak marah ketika mendengar dari mulut orang lain.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!