Untuk FADHIL
Fadhil Marah Pada Laura
“Bella, pacar lo mendadak jadi bijak gitu sih,” ujar Joko sambil tertawa geli.
Bella hanya menutup mukanya dengan ke dua tangan dia bukan merasa senang mendengar perkataan Riko yang terdengar bijak tapi dia merasa malu dengan ledekan teman-temannya.
“Bella kok kamu nutupin muka gitu?” tanya Bu Luna menatap Bella dengan curiga.
“Malu dia Bu, di ledekin sama Riko,” celetuk Adit sambil menyenggol lengan Riko yang berada di sampingnya.
“Memangnya ada apa kamu dengan Riko kok malu?” Pertanyaan Bu Luna membuat Bella marah karena teman-temannya yang terus meledeknya.
“Bukan siapa-siapa Bu, please deh kalian tuh ya.” Bella melemparkan tatapan kepada Adit, Jaya dan Joko yang sudah terus-terusan meledeknya.
Ratna mengelus-elus punggung Bella, “Sabar Bell,” ujarnya.
Riko hanya tersenyum melihat tingkah Bella yang memang selalu merasa malu untuk mengakui hubungan di anatara mereka.
“Ya sudah kerjakan tugasnya Ibu tunggu sampai pelajaran ke empat,” sergah Bu Luna menghentikan perdebatan muridnya yang memang selalu ramai.
Terdengar bunyi bel pelajaran berikutnya anak-anak pun terlihat terburu-buru dalam mengerjakan tugasnya karena terlalu banyak bercanda, karena di akhir jam ada pelajaran Bu Luna tugas pun akan di kumpulkan di jam pelajaran terakhir.
“Selamat siang anak-anak!” seru Pak Eza, Guru favorite Keyla dengan pelajaran fisika.
“Siang Pak,” sahut anak murid dengan serempak.
Pak Eza adalah Guru yang tampan dan cuek hal itu membuat Keyla menyukai sikapnya tersebut, hari ini semua Guru rata-rata memberikan tugas membuat semua murid merasa lelah apalagi harus di kumpulkan sebelum bel ganti pelajaran.
Fadhil menatap Laura sesekali saat Guru sedang menjelaskan materi, hari ini Fadhil berniat akan berbicara dengan Laura selama ini Fadhil hanya diam mendengar bahwa Laura sudah menyakiti Keyla bahkan selama ini dia selalu menjaga perasaan cewek itu.
“Fadh, ke kantin yuk!”
“Duluan aja,” sahut Fadhil dan melangkah pergi menyusul Laura yang keluar kelas.
Kevin memperhatikan gerakan Fadhil yang akan menyusul Laura dia sampai curiga apa yang akan terjadi dengan mereka berdua?
“Laura berhenti!” seru Fadhil, sorot matanya tajam selalu sikapnya begitu terlihat dingin.
Laura dan kawan-kawannya pun berhenti mendengar teriakan Fadhil, Tiara menyerngit heran menatap Fadhil begitu pun dengan Cintya.
“Gue mau ngomong sama lo ikut gue!” Fadhil menarik tangan Laura dengan kasar.
“Hey!” saru Tiara merasa ada yang aneh dengan sikap Fadhil dia takut terjadi sesuatu dengan Laura melihat raut wajah Fadhil yang penuh amarah seperti ini.
Fadhil membawa Laura ke halaman belakang sekolah dan melepaskan tangannya begitu saja semenjak dia tahu bahwa Fadhil tidak mencintainya itu membuatnya sangat sakit dan malas memandang wajah Fadhil meski dia begitu menginginkan Fadhil untuknya.
“Ada apa sih?” tanya Laura sambil menatap Fadhil intens.
“Kenapa lo kabur dari rumah?” Itulah kalimat yang keluar dari mulut Fadhil, dia mengenal sikap Laura yang begitu emosional dan manja.
Laura menyilangkan tangannya di depan dada sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Bukan urusan lo, gue mau pergi ke kantin,” ujar Laura sambil melangkah pergi lebih tepatnya menghindari.
Fadhil maju ke depan Laura, “Kalau bukan urusan gue kenapa lo bilang ke Nyokap lo seakan-akan gue sudah nyakiti lo!”
“Karena orangtua gue kecewa sama lo, gara-gara kedekatan lo sama Keyla Nyokap gue hampir saja batalin pertunangan gue sama lo!” sahut Laura dengan nada tinggi.
“Ya bagus dong kalau begitu, lagian lo kenapa sih masih ngejar-ngejar gue? denger ya Laura! lo itu cantik, baik dan perhatian jangan tutupi itu semua dengan sikap lo yang kaya gini, gue yakin lo bisa dapat cowok yang lebih baik dari gue dan gue peringatkan lagi sama lo jangan pernah sentuh Keyla!”
Laura terdiam membisu mendengar perkataan Fadhil, “Gue gak akan nyerah,” ujarnya penuh keyakinan.
Fadhil mendengus kesal, “Terserah lo!” tandas Fadhil lalu pergi begitu saja meninggalkan Laura.
***
Keyla pergi ke kantin bersama teman-temannya yang lain karena banyaknya tugas, membuat perut mereka merasa lapar dan perlu di isi.
“Kok, lo semua udah mesen bakso duluan?” tukas Raya yang baru datang bersama Amel.
“Kita juga baru kok, lagian kita udah laper dari tadi,” sahut Bella sambil mengaduk-aduk baksonya.
Amel dan Raya pun duduk bersama yang lainnya dan memesan baksonya, Keyla nampak sibuk dengan ponselnya begitu pun dengan Amel yang sedang memutar lagu IKON yang baru dengan judul flower.
“Key, makan dulu ih!” tegur Anna merasa kesal jika melihat orang yang sibuk dengan ponsel saat hendak makan.
“Iya,” sahut Keyla lalu menutup ponselnya.
Kevin sengaja mendengar pembicaraan Fadhil dan Laura lalu pergi ke kantor osis untuk mengurus tugas para anggota osis yang lainnya. Di dalam ruangan osis ada Arka yang sibuk dengan leptopnya yang sedang mendata laporan-laporan pelaksanaan.
“Hay Fadh, dari mana aja lo kita sudah nungguin lo dari tadi,” ujar Adit sambil menatap kedatangan Fadhil.
“Nanti malam jadi kan ya?” sahut Fadhil rasanya dia sudah rindu dengan suasana yang bebas bersama teman-temannya.
“Jadilah, gue udah siapin semuanya kok,” timpal Riko sambil melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
“Heh Fadh lo dipanggil disuruh ke kantor kepala sekolah,” ujar seseorang yang memakai seragam sama dengannya.
Fadhil pun menyerngit bingung, baru saja dia duduk sudah di suruh bangun lagi sebelum pergi dia pun meraih minuman milik Jaya dan meneguknya membuat Jaya melemparkan tatapan mematikan ke arahnya.
“Sorry, gua haus, lo bisa beli lagi nanti gue yang bayar,” ujar Fadhil dengan mudahnya dan berlalu pergi meninggalkan teman-temannya dia pun mengeluarkan kaca matanya dan memakainya.
Fadhil berjalan dengan mengunakan kaca mata hitamnya rasanya dia selalu tebar pesona di depan para cewek, Keyla menundukan pandangannya dan berbalik badan saat melihat Fadhil sedang berjalan di depannya.
“Kenapa?” sergah Fadhil yang sudah tahu jika Keyla akan berjalan lurus namun malah berbalik arah.
Keyla sangat mengenal suara khas yang selalu dia rindukan dia pun langsung membalikan badannya dan menatap Fadhil yang sedang berdiri tegap.
“Gak apa-apa,” jawab Keyla sedikit gugup.
“Mau ke mana?” tanya Fadhil yang terkesan dingin hari ini.
Keyla terdiam dan menatap sekelilingnya entahlah kini dia merasa takut jika berdekatan dengan Fadhil di sekolah apalagi jika ada mata-mata Laura.
“Ke kantor osis, lo sendiri mau ke mana?” tanya Keyla lembut.
Fadhil diam mendengar jawaban Keyla yang akan pergi ke kantor osis yang berarti dia akan bertemu dengan Kevin di sana, mengingat nama Kevin dia jadi ingin tahu apakah benar cowok itu sahabat kecilnya atau mungkin saja ada hal lain.
“Ke kantor kepala sekolah,” jawab Fadhil sambil tersenyum hangat.
Keyla pun menganggukan kepalanya, “Ya sudah gue duluan ya, dah!” dia pun berlalu melewati Fadhil dengan langkah lebar-lebar.
Fadhil menoleh menatap Keyla yang langsung pergi begitu saja, dia pun menghiraukan cewek itu dan kembali berjalan ke kantor kepala sekolah yang mungkin sudah menunggunya.
“Assalamualaikum,” ujar Fadhil begitu sampai di depan kantor kepala sekolah dimana papahnya kerja.
“Masuk!” sahut seseorang dari dalam sana.
Fadhil langsung masuk mendengar perintah dari dalam ruangan dan melihat Papahnya bersama dua orang laki-laki, mereka adalah Pak Bambang dan asisten Papahnya.
“Papah mau ke luar kota untuk satu minggu ke depan dan Papah akan nyuruh Pak Bambang untuk mengawasi kamu di sekolah, tidak lama lagi kamu akan kuliah dan mengurus perusahaan di Singapura bersama Mamah kamu, jadi Papah harap kamu bisa belajar dengan baik di sini."
Fadhil hanya diam mendengarkan nasehat Papahnya dan sesekali menjawabnya dengan singkat dan padat. Gila hidup Fadhil selalu diawasi oleh bodyguard Papahnya dan Mamahnya, dia dipaksa untuk belajar dan terus belajar bahkan ada banyak les yang harus dia ikuti atas kemauan kedua orangtuanya.
Haris terus berbicara mengenai masa depan Fadhil, dia menjadi harapan kedua orangtuanya untuk meneruskan perusahaan yang mereka kelola.
“Hati-hati Pah!” ujar Fadhil dan pergi meninggalkan ruangan Papahnya diikuti oleh Pak Bambang di belakangnya.