Untuk FADHIL
Relaxing Night
Mobil Fadhil sudah sampai di depan rumah Keyla, dia keluar dan membukaan pintu mobil Keyla.
“Thanks ya udah nganterin gue pulang,” ucap Keyla sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga
“Jangan berterima kasih jusrtu gue yang yang seharusnya bilang gitu ke lo karena sudah hadir di acara gue,” sahut Fadhil sambil tersenyum hangat.
Pintu rumah Keyla pun terbuka dan keluarlah sosok wanita paruh baya yang langsung menghampirinya.
“Eh Non Keyla sudah pulang?” ujar Bi Ajeng sambil membukakan pintu gerbang rumahnya yang sudah dia kunci.
Keyla menoleh melihat Bi Ajeng, “Ihh Bibi, Keyla kira Bunda.”
Bi Ajeng terkekeh, “Nyonya sudah tidur Non, Bibi di suruh nunggu Non Keyla sampai pulang untung saja pulangnya cepet soalnya Bibi sudah nahan kantuk dari tadi hehe,” terang Bi Ajeng sambil terkekeh.
Keyla dan Fadhil pu tersenyum mendengar curhatan Bi Ajeng yang terkesan lucu.
“Malam Bi,” ujar Fadhil sambil menundukan tubuhnya dan tersenyum.
“Malam juga Den, ini pacaranya Non Keyla? Ganteng pisan euh,” tanya Bi Ajeng yang nampak terpesona melihat ketampanan Fadhil.
Keyla memukul Bi Ajeng pelan dia memang sudah sangat dekat dengan pembantunya ini, “Ihh apaan sih si Bibi nanya gitu,” ujar Keyla malu dengan pertanyaan pembantunya.
“Calon Bi, doain aja ya!” sahut Fadhil sambil mengerlingkan matanya genit.
“Calon apa Den?” tanya Bi Ajeng yang belum mengerti ucapan Fadhil.
“Calon suami atu Bi, masa calon tukang supir kan kegantengan.”
Fadhil tertawa geli menanggapi pembantu Keyla yang terlihat lucu, Bi Ajeng pun ikut tertawa mendengarnya.
“Fadhil!” teriak Keyla sambil mencubit lengan Fadhil.
“Aww, sakit Key.” teriak Fadhil lirih dan memberikan eksperi yang nelangsa
Keyla pun mengusap-usap lengan Fadhil merasa bersalah karena telah mencubitnya hingga membuat cowok itu kesakitan.
“Sorry lagian sih, kalau ngomong suka asal,” ujar Keyla lirih, Fadhil malah tersenyum karena sudah berhasil mengerjai Keyla.
“Den Fadhil mau langsung pulang atau mau minum dulu?” tanya Bi Ajeng yang merasa gak enak jika lama-lama mengobrol di luar.
“Sudah sana pulang! Nanti kena omel nyokap lo,” sahut Keyla yang baru sadar bahwa Fadhil sudah lama bersamanya.
“Ya sudah gue pulang dulu ya, Bi, kapan-kapan aja deh minumnya,” ungkap Fadhil sambil tersenyum kepada Bi Ajeng sambil menunjukan gigi ratanya yang putih.
Bi Ajeng pun mengangguk sedangkan Keyla tersenyum, “Hati-hati ya Fadh!” ucapnya.
Fadhil pun melangkah mendekati Keyla dan memberikan kecupan hangat di kening cewek itu, membuat aliran darah Keyla berdesir dan jantunganya berbedar sangat kencang, dia rasa debaran itu akan selalu ada saat Fadhil melakukannya dengan manis, Bi Ajeng menutup mulutnya saat melihat keromantisan manjikannya dengan seorang laki-laki.
“Jangan tidur malam-malam ya!” ujar Fadhil kepada Keyla, dia tahu beberapa info dari Bella bahwa cewek itu suka bergadang untuk menonton Drakor.
Keyla mengangguk meski jika boleh jujur dia mungkin tidak akan bisa tidur malam ini karena perlakuan manis Fadhil kepadanya, entah mengapa Keyla sangat menyukai sentuhan hangat Fadhil kepadanya
Fadhil masuk ke dalam mobil dan menjalankan mesinnya meninggalkan kediaman, Keyla dan Bi Ajeng pun masuk setelah bayangan Fadhil menghilang di pertiga jalan
Saat di jalan Fadhil kembali membayangkan dirinya yang telah berjanji kepada kedua orangtuanya untuk kuliyah di luar negeri setelah lulus dari sekolah, kini dia telah menjadi CEO muda yang akan membantu perusahaan kedua orangtuanya, ponselnya pun berdering menampilkan nama Papahnya dengan cepat dia pun menekan tombol hijau dan menempelkannya di telinga.
“Iya Pah.”
Fadhil menghela napas mendengar omelan Haris kepadanya, Papahnya sangat marah saat mengetahui dirinya pergi meninggalkan acara.
“Fadhil sudah di jalan pulang Pah.”
Sambungan pun terputus, dengan cepat Fadhil menjalankan mobilnya untuk segera sampai di rumahnya, syukurlah jalanan tidak semacet yang sebelumnya mungkin karena sudah larut malam juga jadi jalanan lebih renggang.
Ketika mobil Fadhil sudah masuk ke dalam gerbang rumahnya dia pun langsung turun untuk menemui kedua orangtuanya dan teman-temannya yang sudah dia tahan untuk tidak pulang terlebih dahulu.
“Yang lain mana Dit?” tanya Fadhil kepada Adit yang sedang mengobrol bersama seorang wanita.
“Jaya ke kamar mandi, Riko nganterin Bella pulang dan yang lain lagi main di dekat kolam renang lo,” jelas Adit dan meneguk air yang ada di tangannya.
Fadhil pun meninggalkan Adit dan pergi menemui orangtuanya di aula utama yang sedang bersama tamu pentingnya yang tidak lain adalah rekan-rekan kerja Mamahnya.
“Fadhil ke mari Nak!” teriak Papahnya sambil melambaikan tangannya ke arah anaknya.
Fadhil pun tersenyum ramah kepada para tamu yang sebagian sudah dia kenal seperti Bu Dian dan Pak Yoga yang sudah berkerja dengan Mamahnya di Singapura.
Haris mengenalkan Fadhil dengan beberapa rekannya yang memang sudah bergabung untuk mengurus pendidikan di sekolahnya dalam pembincangan ini Fadhil di tuntut untuk mengerti apa yang belum pernah di ketahui dan sesuatu yang sangat dia benci yaitu uang dan pekerjaan.
Mengingat bahwa Mamahnya yang sangat gila akan pekerjaan sedangkan Papahnya yang hanya mengurus satu sekolah yang sudah terkenal di mata semua orang karena fasilitas dan kualitasnya yang bagus, perdebatan sering terjadi antara kedua orangtuanya yang selalu mementingkan pekerjaan dan egonya masing-masing.
“Mah, Fadhil pergi dulu ya!” ujar Fadhil sambil berbisik di telinga Mamahnya.
Riska memberikan tatapan tajam kepada Fadhil yang ingin pergi saat perbincangan belum selesai namun, Haris dengan lembut memberikan sentuhan kepada Riska dan membolehkan Fadhil untuk pergi dengan tersenyum senang Fadhil pun akhirnya bisa pergi dan lolos dari sesuatu yang masih belum bisa dicerna oleh pikirannya saat ini.
“Fadhil pamit pergi ya Pak, Bu ada urusan biasa,” ujar Fadhil sambil menunduk hormat kepada para tamu.
“Urusan anak muda ya Nak Fadhil?” celetuk Bu Indi yang memang paham dengan alasan Fadhil.
Fadhil hanya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, para tamu pun yang memang kenal dengan sosok Fadhil tersenyum dan mempersilahkannya untuk pergi.
“Hey Fadh!” seru Jaya, malam ini Jaya terlihat berbeda dengan warna rambutnya yang berwarna coklat caramel.
“Gimana Fadh lancar semuanya?” tanyanya kepada Fadhil yang sedang garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal melainkan cowok itu sedang merasa pusing.
“Pusing gue,” jawab Fadhil sambil duduk bersama teman-temannya. “Gue merasa ada yang aneh saat lihat Ayahnya Kevin.”
Ilham yang mengerti kondisi Fadhil saat ini langsung menghampiri cowok itu dan duduk di sampingnya.
“Lo tenang dulu Fadh, mungkin lo pernah kenal sama Ayahnya Kevin.”
Fadhil kembali mengingat kejadian dulu saat dia tinggal bersama pembantunya, dia pernah punya teman kecil yang tinggal di samping rumahnya saat itu dia merasa sedih saat teman kecilnya pindah rumah dan sampai sekarang dia gak tahu kabarnya.
“Yang gue ingat sih cuma teman kecil gue yang pindah rumah,” ujar Fadhil sambil memangku dagunya dengan tangan.
“Nah, mungkin gak tuh beliau Ayahnya temen kecil lo,” sahut Jaya berantusias.
“Kalau begitu berarti Kevin teman kecil lo dong,” timpal Riko dengan kaget mendengar semua penjelasan Fadhil dan teman-temannya dari awal.
Fadhil menegagakan duduknya dia mulai merasa pusing karena dulu dia memang tidak punya banyak teman selain teman kecilnya dan Ilham teman dekatnya di SMP dan para cewek-cewek yang suka mengejarnya, yang akhirnya dia bertemu dengan empat serangkai di sekolahnya sekarang.
“Sudahlah, mending kita mikirin yang lagi viral sekarang,” sergah Ilham mengalihkan pembicaraan.
“Iya gak mungkin kalau si Kevin teman kecil lo, orang kayanya dia dendam banget lihat lo,” tandas Riko, dia pun mengambil air yang ada di atas meja.
“Mending lo semua denger gue nyanyi, urusan Kevin nanti kita bantu cari tahu okey,” saran Jaya sambil mengambil gitar Fadhil dan memetiknya pelan.
Semuanya pun menyetujui saran Jaya, meski Fadhil masih penasaran dengan dugaan teman-temannya dia pun tidak mau ambil pusing semuanya pasti akan terungkap tapi, jika itu benar apa yang harus dia lakukan? Dia berharap Kevin bukanlah teman kecilnya yang dia rindukan. Bukan hanya bernyayi mereka pun asik bermain game di kamar Fadhil hingga jam 11:35 mereka memutuskan untuk pulang.