The Quest for The Lost Inheritors

Lari dari Hutan Skyringstall

“Berapa lama lagi kita harus terus melihat bentuk dan pohon yang sama?” keluh Lya. “Kau yakin kita tidak tersesat Aldérin?” lanjutnya sembari menatap pada elf dari Lamvorels itu dengan ragu.

“Tidak, kita berada di jalan yang tepat. Kenapa kau takut kita tersesat?”

“Entahlah, mungkin karena umurmu sudah 3300 tahun, ada yang terlewatkan olehmu. Kukira seperti yang dinamakan, pikun.”

Findarel tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. Sedangkan Aldérin hanya menyunggingkan senyum geli sembari menggelengkan kepala.

“Apa kita sebaiknya mencari jalan yang lebih jauh, agar dia merasa lebih lelah?” Aldérin bertanya pada Findarel dan menunjuk pada Lya. “Aku ingin tahu.”

“Oh, jangan kau coba-coba, Tuan Varwendil. Aku lebih memercayai Raven. Dan astaga di mana dia sekarang? Kenapa dia selalu menghilang tiba-tiba, apa dia sedang mencari jalan lebih cepat menuju Hail?” Mata Lya mencari-cari sosok Raven di sekitarnya.

Aldérin tahu bahwa Raven sedang berburu, untuk menutupi rasa lapar dan hausnya. Dan sepertinya, di hutan itu sangat sulit untuk mencari binatang-binatang liar. Sedangkan Raven pun dikejar waktu, agar dia tidak kehilangan akal sehat. Sehingga dia sering menjauh dari kelompok Aldérin, agar perasaan dahaganya tidak menjadi-jadi.

“Sepertinya begitu,” balas Aldérin dan ada anggukan singkat ia tunjukkan.

Mereka terus berjalan, hingga terdengar suara gemerisik mendekat dari arah pepohonan. Aldérin pun mendongakkan kepala, dan melihat ada sosok yang berlari di atas dahan pohon, bergegas mendekat. Senyum Aldérin tersungging, saat melihat sosok Raven. Namun, wajah Raven terlihat begitu pucat dan napasnya tersengal-sengal.

"Lari! Cepat lari!" teriak Raven. Perempuan itu segera turun dari atas pohon, dan langsung menarik lengan Lya. “Jangan buang waktu, ayo cepat!”

Tentu saja yang lain tampak bingung, sehingga terdengar suara auman dari kejauhan. Tidak hanya satu, tetapi ada suara saling bersahut-sahutan. Lya tidak berlari, malah membeku di tempatnya berdiri.

“Suara apa itu?” tanya Lya.

“Troll. Sekumpulan troll, karena itu kita harus lari!” seru Raven.

Mata Lya membelalak. “Troll? Bukankah kau bilang tidak ada makhluk semacam itu di hutan ini?”

“Kurasa dugaanku salah. Cepat lari!”

Aldérin siaga menyiapkan busur dan anak panah. Namun, Raven langsung mendorong punggungnya.

“Tidak Aldérin, jumlah mereka sekitar selusin. Dalam kondisiku yang selemah ini, kita takkan mungkin bisa melawan mereka. Sebaiknya kita menghindar,” kata Raven.

Akhirnya, mereka terus berlari secepat mungkin. Sesekali melihat ke belakang saat mendengar suara pepohonan roboh, karena dihancurkan para troll.

Namun, secepat apa pun mereka berlari, para troll itu seolah tidak menyerah.

Sejauh mana berlari, terus saja dikejar. Hingga Lya tak sanggup lagi, dan dia menghentikan langkahnya. Tampak napasnya tersengal-sengal.

“Aku tidak bisa,” tolak Lya. “Aku tidak sanggup berlari.”

“Naik ke punggungku,” titah Aldérin.

Aldérin mengulurkan tangan, begitu Lya memegangnya, langsung Aldérin menarik tubuh Lya hingga gadis itu seperti melayang dan sudah berada di atas punggung. Ada pekikan pelan, karena Lya benar-benar terkejut.

Lalu Aldérin melompat, memijakkan kakinya secara menyilang pada beberapa pohon, hingga mereka berada di dahan pohon yang cukup tinggi.

“Tidak, Aldérin!” cicit Lya. “Aku takut!”

“Pejamkan matamu, dan percayalah padaku.”

Lya melihat Findarel di dahan pohon lainnya. Gadis itu terbelalak kaget. “Ada apa dengan kalian para elf? Kalian senang berlari-lari di atas pohon?”

“Pegangan, Lya,” titah Aldérin.

“Tidaaaak!!!”

Lya berpegangan erat pada Aldérin dan merasakan embusan angin begitu kencang, tubuhnya terguncang-guncang saat Aldérin melompati tiap dahan ke dahan lain. Pendengaran gadis itu masih mendengar dengan jelas auman para troll yang mengejar di belakang. Ketika dia menoleh ke samping, tampak Findarel juga melompat dengan gemulai melewati dahan-dahan, bahkan seolah menikmatinya.

Rasanya Lya ingin mengutuk bocah kecil yang kelihatan sombong di matanya. Sedangkan Raven sudah berlari di depan, tubuhnya yang ramping dan jangkung seperti memiliki sayap tak kasat mata. Sayap hitam burung gagak, begitu dalam bayangan Lya.

Makhluk-makhluk kelaparan, yang mungkin tidak pernah menemukan mangsa entah berapa lama. Lalu kenapa para troll itu bisa bertahan hidup, jika mereka sama sekali tidak mendapat makanan. Bahkan tidak menyerah untuk mengejar kelompok Aldérin.

Entah berapa lama mereka terus dalam pengejaran, bagi Lya seperti selamanya, hingga suara para troll itu mulai memudar. Lya bisa melihat ada sinar matahari masuk melalui celah-celah dedaunan, dan pohon-pohon tidak lagi setinggi sebelumnya. Mereka sudah pasti sudah berada di batas tepi hutan Skyringstall.

Di mana para troll, takkan mau dekat-dekat batas tepi hutan, karena konon para troll tidak menyukai sinar matahari. Mereka bisa berubah menjadi batu, apabila terkena sinar matahari langsung.

Aldérin turun dari dahan pohon ke permukaan tanah, begitu juga Raven dan Findarel. Bergegas Lya turun dari punggung elf itu, menatap Aldérin dengan tatapan cemas dan merasa bersalah.

“Punggungmu tidak remuk, Aldérin?” tanya Lya hati-hati. “Maafkan aku. Aku sudah menjadi beban.”

“Sama sekali tidak. Aku agak lelah, tetapi aku baik-baik saja.” Aldérin hanya mengusap kepala Lya dengan lembut. “Jangan khawatir.”

“Sepertinya kita sudah jauh dari mereka, semua sudah aman,” sahut Raven.

“Apa yang terjadi sampai kau tiba-tiba menarik perhatian troll?” Lya mengeluh pelan.

“Maafkan aku, aku bukan ingin membahayakan keselamatan kalian. Aku melihat ada sebuah gua yang dalam, dan memeriksanya ke sana. Rupanya, ada koloni troll di sana, dan mereka menyadari kehadiranku. Aku sudah berusaha untuk menghindar, tapi mereka terus mengejar,” jelas Raven penuh sesal.

“Kau menemukan sesuatu selain itu?” tanya Aldérin.

Sepertinya Raven paham, apa dirinya mendapatkan makanan, tetapi Raven hanya menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa, Aldérin. Sepertinya setelah keluar dari hutan, mungkin aku akan mendapatkannya.”

“Mendapatkan apa?” Lya tampak keheranan.

“Petunjuk atau apa pun,” jawab Aldérin.

“Oh, mengenai batu Ratera?” tanya gadis itu.

Raven dan Aldérin sama-sama mengangguk.

“Mungkin kami bisa menemukan petunjuk di sekitar Skyringstall, dari si penyihir. Tetapi sepertinya tidak ada apa-apa,” kilah Raven.

“Jika potongan batu itu tidak pernah ditemukan, lalu bagaimana nasib penduduk di Ferden’Lyf,” kata Lya. “Apa selamanya mereka akan tetap seperti itu.”

“Kau tidak perlu mencemaskan apa pun, Lya. Kita akan membawamu kembali ke Hail, aku dan Raven bisa terus melakukan pencarian. Terlebih, ada masalah yang lebih besar daripada batu Ratera.”

 Aldérin tercekat, dia ingat bahwa Lya kehilangan sebagian memorinya tentang bangsa dëia. Tetapi, untuk hal ini tidak mungkin Aldérin menutupinya. “Semua bangsa tengah berada di bawah ancaman bangsa dëia.”

“Bangsa dëia?” Mata Lya membulat dan lagi-lagi dia terkejut untuk ke sekian kalinya di pagi itu.

“Kita akan bicara tentang hal ini, sembari pulang ke Hail,” tukas Raven.

“Baiklah,” angguk Lya.

“Sepertinya kita tidak terlalu jauh dari tepi kaki gunung es Ördledja, mungkin dibutuhkan waktu sekitar sehari semalam sampai kita temukan celah dan menemukan sungai Palkia,” kata Raven segera mengalihkan pembicaraan. “Kita susuri sungai, dan tiba di Hail secepat mungkin.”

*

Élsus terdiam di tempatnya berdiri sembari memejamkan mata, sedang Keld hanya duduk di atas permukaan tanah menjaga jarak dari sang druid yang bersikap seperti itu sudah cukup lama. Entah apa yang terjadi pada Élsus, tetapi Keld tak ingin menyergah atau menginterupsi. Karena pasti sesuatu tengah terjadi, dan Élsus sedang mencari tahu dengan caranya sendiri. Cara yang Keld tidak pahami.

Semenjak mereka bertolak dari Hail dua hari lalu, Keld sedikit aneh karena Élsus mengambil jalan yang sedikit melenceng menuju ke Ferden’Lyf. Akan tetapi, dia tidak berani bertanya apa pun pada druid itu, sebetulnya Keld ingin mengatakan bahwa mereka tidak pada jalan yang sesuai.

Lagipula bukankah selama ini Élsus tidak pernah keluar dari kediamannya, mungkin saja dia tersesat. Lagi-lagi Keld mengurungkan niat, dan mempercayai saja ke mana Élsus membawanya melangkah.

Lalu Élsus membuka mata, dan membalikkan tubuhnya.

“Kita harus menyusuri sungai Palkia,” ujar druid itu tiba-tiba.

Keld berdiri terburu-buru, padahal dia hendak menikmati camilan sembari menunggu Élsus. “Bukankah kita hendak ke Ferden’Lyf? Arah kita berlawanan jika menuju Palkia, kita hendak ke mana sebetulnya, Tuan Élsus?”

“Bertemu Aldérin.”

Keld hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Oh, kukira kita akan mencarinya di Ferden’Lyf. Setahuku, tuan Aldérin berada di kota itu.”

Itu yang terakhir Aldérin katakan pada Keld sebelum mereka berpisah di Pine Tower. Dan Aldérin sepertinya tidak berencana untuk menjelajahi tiap sudut daerah di utara.

Karena tidak ada apa pun di sana kecuali salju—begitu pikir Keld. Ia hanya tahu ada kota di utara yang mungkin harus bertahan hidup lebih sulit, karena di sana kehidupan jauh lebih keras.

“Memang, tapi mereka mengatakan bahwa Aldérin sedang menuju ke arah sungai Palkia.” Élsus hanya menyunggingkan senyum penuh misteri.

“Siapa mereka?”

“Alam, tentu saja.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!