The Quest for The Lost Inheritors
Rencana yang Luar Biasa
Ninye tersentak kaget ketika dia mengistirahatkan pikirannya, dan benar-benar terlelap. Itu kali pertama dalam hidupnya, dia sampai tidak menyadari bahwa dia benar-benar tertidur layaknya manusia.
Dia bangkit dari tempat tidur, dan melihat sinar matahari memasuki jendela. Langkahnya menghampiri daun jendela dan membukanya lebar-lebar.
Seingat Ninye tidak pernah ada sinar matahari secerah itu ketika dia memasuki wilayah utara bersama Yähgé juga Gôntra. Selalu redup, tertutup oleh awan yang gelap dan bergelayut murung di langit. Dia benar-benar curiga.
Begitu keluar dari bangunan yang diperuntukkan olehnya, Ninye sedikit aneh melihat pemandangan dua orang manusia sedang sibuk bercocok tanam sembari bersenda gurau. Betapa bahagianya Hering dan Triala, seolah dunia memang hanya milik mereka berdua.
Apa Ninye harus merasa kasihan pada mereka, karena tidak menyadari sedang disekap oleh Yähgé? Atau merasa bersyukur, bahwa keduanya diberi kehidupan yang bahagia, meski itu bagian dari ilusi perempuan dëia yang berkemampuan sihir?
“Ah, kau sudah bangun, Nona Ninye?” sapa Triala sembari melambaikan tangannya.
Ada anggukan kaku ditunjukkan oleh Ninye. Lalu dia melangkah mendekat pada kedua manusia itu.
“Kami sudah menyiapkan sarapan, sedikit lagi,” kata Hering. “Kau bisa menunggu di ruang makan, yang kemarin. Kami hanya akan memetik buah tomat ini dan menghidangkannya.”
“Tidak perlu menyusahkan kalian,” balas Ninye.
“Tentu tidak.” Ada tawa renyah berderai setelah Triala mengatakan itu. “Seperti yang pernah kami sampaikan, bahwa sudah lama tidak pernah ada tamu yang dibawa oleh ratu Yähgé.”
“Berapa lama?” tanya Ninye.
Hering dan Triala saling berpandangan. “Dua atau tiga bulan?” Hering bertanya pada istrinya seolah memastikan bahwa perhitungannya tepat.
“Lalu sebelumnya apa pernah ada tamu yang dibawa oleh Yähgé ke tempat ini?” desak Ninye.
“Sebetulnya, kami pun baru tiba entah dua atau tiga bulan lalu. Kau mungkin tamu pertama bagi kami. Astaga, aku sendiri tidak ingat,” kata Hering.
Ninye hanya mengangguk-angguk. Jika mengikuti penuturan Hering, bahwa mereka datang saat dua atau tiga bulan lalu, rasanya tidak masuk di akal. Karena Gôntra dan Yähgé tentu sudah berada di Lamvorels saat itu. Keduanya memang sempat pergi ke Hail, tetapi kembali ke Lamvorels dan ditangkap oleh Kolé.
Lalu bagaimana cara Yähgé bisa membawa dua orang manusia ke Kalf Gunnar? Pasti sebelum Yähgé sudah membawa Hering juga Triala, meski entah kapan.
“Kami akan membangunkan ratu Yähgé dan tuan Gôntra,” kata Triala.
“Kurasa tidak perlu, biarkan saja mereka istirahat. Bagaimana jika kalian sarapan denganku? Aku ingin mendengarkan kisah kalian, apa keberatan?” pinta Ninye.
“Kami senang sekali bisa sarapan denganmu. Baiklah, ayo kita makan sekarang.” Mata Triala terlihat berbinar bahagia. Dia bergegas membawa keranjang berisi tomat yang baru dipetiknya bersama Hering. “Mari, Nona Ninye. Ini pagi yang sangat menggembirakan.”
Mereka melangkah menyusuri pedestal dan masuk ke ruang makan di mana sinar matahari memasuki pada celah-celah jendela yang masih tertutup. Bergegas Hering membuka tiap jendela dengan tergesa-gesa, membiarkan sinar matahari yang hangat, seolah mereka hidup di bagian dunia paling damai dan tenang.
Seperti di Lamvorels.
Ninye merasa terusik, mengapa dia tidak merasa senang? Seharusnya melihat suasana yang begitu menyenangkan bak Lamvorels, hatinya merasa tentram. Namun, sama sekali tidak. Bagi Ninye, tidak ada dunia yang benar-benar aman. Bahkan Lamvorels sekalipun.
Mengapa hati Ninye sekarang merasakan keraguan, putus asa, dan setitik kegelapan?
“Nona Ninye, kau baik-baik saja? Kau tampak murung?” tanya Triala cemas.
“Aku tidak apa-apa,” balas Ninye dingin.
“Kau tidak memakan daging, Nona? Padahal Triala membuatkan pai daging yang sangat lezat,” seloroh Hering enteng. “Tetapi ada banyak buah yang bisa kau nikmati.”
“Daging? Dari mana kalian bisa mendapatkan daging?” Ninye keheranan.
“Oh, kau belum melihat keseluruhan benteng. Di belakang menara ada peternakan, yang kami rawat dan jaga baik-baik tentu saja.” Triala terlihat bangga ketika melirik Hering. “Di sini kami sangat bahagia, semua sudah tersedia. Kami hanya perlu menjaga dan melestarikan apa yang diberikan ratu Yähgé.”
Apa sebetulnya yang diinginkan Yähgé? Begitu pikir Ninye. Seolah perempuan dëia itu sedang membuat dunia sendiri, dan melakukan hal tak lazim. Sebetulnya Ninye benar-benar ingin tahu.
“Untuk apa Yähgé membawamu ke tempat ini?” tanya Ninye.
“Waktu yang menyenangkan untuk menikmati makan pagi bersama-sama, bukan?”
Suara Yähgé membuat Ninye tersentak kaget. Ada seulas senyum ditunjukkan oleh Yähgé sebelum dia memasuki ruangan. Perempuan itu melangkah dengan santai, dan menerima sikap hormat yang ditunjukkan Hering juga Triala dengan anggukan singkat.
Bergegas Hering dan Triala menyingkir, membuat Ninye merasa sedikit terancam dengan kehadiran Yähgé di sana.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” Yähgé duduk di seberang Ninye dengan kedua tangan menyangga dagu. “Aku lebih tahu tentang tempat ini, dibandingkan mereka berdua.”
“Hanya ingin tahu, bagaimana mereka bisa tiba di sini, dan menjalani kehidupan begitu sempurna,” jawab Ninye setengah menyindir.
“Menurutmu hanya di Lamvorels hidup yang sempurna itu? Kau tahu, setiap kehidupan tidak pernah ada yang sempurna. Karena itu disebut hidup.”
“Kehidupan kami nyaris sempurna, hingga bangsamu menghancurkan semua itu.” Ninye mengambil satu buah tomat dan menggigitnya. “
“Itu bukan salahku.” Yähgé mengendikan bahunya. “Kau seharusnya mengucapkan hal tersebut pada kakakku. Aku tidak pernah punya rencana bodoh untuk memusnahkan semua bangsa, menurutku itu hal yang sangat membosankan.”
Ninye hanya mengangguk-angguk. “Oh, jadi kau semacam dëia yang lebih menyukai kedamaian, seperti Gôntra?”
“Aku lebih suka menjadi penguasa semua. Bukan menghancurkan.”
“Semacam tiran.”
“Pemimpin.”
Yähgé beranjak berdiri, lalu dia menatap tajam pada Ninye. Sekilas dia melirik pada Hering dan Triala yang masih berdiri tidak jauh dari keduanya.
“Ikutlah denganku, akan kuceritakan semua. Dan kau akan mengerti, mengapa kulakukan semua ini,” pinta Yähgé sembari berjalan mendahului Ninye untuk keluar dari ruangan tersebut.
Mau tak mau Ninye mengikuti Yähgé. Mereka keluar menuju ke halaman benteng yang luas, lalu Yähgé berjalan memutari menara. Tidak Ninye sangka bahwa di sana benar ada peternakan, tetapi perhatiannya lebih tertuju pada Yähgé.
Perempuan dëia itu melangkah bagian lain menara, lalu merapalkan mantra, hingga terbuka dinding menara, yang tidak akan seorang pun akan menyangka itu adalah sebuah pintu. Bergegas Yähgé menuruni tangga gelap menurun ke rubanah. Saat dia melewati tangga tersebut, obor-obor menyala dengan sendirinya sehingga suasana gelap gulita menjadi lebih terang.
Ninye benar-benar waspada, tetapi dia terus mengikuti langkah Yähgé. Tangga itu terus melingkar ke bawah, hingga mereka mencapai sebuah ruangan yang cukup luas, lembab, dan dingin. Di tengah-tengah ruang ada sumber air yang mengeluarkan sinar redup berwarna putih.
“Apa itu?” Ninye terperangah.
“Itu, batu Ratera. Atau bagian dari itu sebelumnya.”
“Batu Ratera?” Wajah Ninye tidak bisa berbohong, dia benar-benar terkejut bukan main.
Yähgé mengangguk. “Kau tentu tahu, bukan? Bahwa para nymph air memiliki sesuatu yang membuat mereka menjadi makhluk ajaib, padahal mereka sangat lemah. Begitu rapuhnya, seharusnya mereka tidak pernah ada di muka bumi ini. Tetapi, berkat batu ini … mereka bisa hidup sangat lama, bahkan abadi.”
“Bagaimana kau bisa memiliki batu itu?”
“Aku hidup sangat lama, Ninye. Aku tahu tentang batu Satera di selatan dan Ratera di utara. Dua batu berkekuatan besar, yang dikuasai dua ratu bersaudari. Karena itu, aku menyerang Trâg, dengan bantuan manusia dari utara. Para nymph air hancur, sayang … para manusia berkhianat padaku.”
“Aku tidak mengerti, Yähgé. Mengapa kau melakukan hal seperti ini? Menghancurkan para nymph?” Ninye bergerak mundur. “Kau lebih kejam dari kakakmu.”
Namun, Yähgé bergeming. Dia hanya menatap pada Ninye dengan tatapan begitu dingin.
“Dengar, dan kau akan mengerti mengapa aku berbuat sejauh ini.”
…
Yähgé tidak pernah dianggap di klannya, seperti anak terbuang karena fisiknya yang jauh lebih lemah, bertubuh lebih kecil dari kebanyakan dëia lain, dan memiliki manik mata berwarna ungu. Dia seperti sebuah kutukan dalam keluarga, dan membuat para dëia lain sering mencemoohnya. Kolé tidak pernah berbuat sejauh itu, dia memperlakukan Yähgé biasa saja.
Namun, sang kakak tidak pernah membela Yähgé yang sering merasa marah, dan sakit hati karena cemoohan banyak dëia lain. Kolé entah ratusan atau ribuan kali mengatakan bahwa Yähgé harus bisa menjadi sosok yang kuat, dengan caranya sendiri.
Lalu hari itu tiba, di mana Kolé mendapatkan kekuatan tiba-tiba dan Yähgé semakin tersingkirkan. Semua seperti mengutuk kehadiran Yähgé yang hanya menjadi sosok pembawa sial sang kakak, terlebih kedua orangtuanya. Karena itu Yähgé memutuskan untuk pergi, hingga dia bertemu dengan manusia-manusia di utara yang tinggal di benteng Kalf Gunnar.
Pemimpin manusia ini adalah seorang perempuan yang memiliki kekuatan sihir, mereka adalah keturunan dari manusia-manusia pertama yang melarikan diri saat terjadi perang besar antara aliansi dengan bangsa dëia. Yähgé justru menjadi tawanan sang penyihir ini.
Namun, kepandaian Yähgé mengambil hati sang penyihir, menjadikan Yähgé sebagai aliansinya. Mereka menyerang bangsa nymph air, dan saat hendak mengambil batu Ratera dari sana, tiba-tiba mereka diserang oleh bangsa manusia lainnya. Sehingga Yähgé dan sang penyihir melarikan diri, meninggalkan pasukan dari benteng Kalf Gunnar.
Lalu mereka kembali ke benteng, bahwa sang penyihir akan membalas dendam, dengan membawa kekuatan terbesarnya. Di mana kekuatan besarnya ini merupakan sebuah batu berwarna hitam, yang Yähgé ketahui bernama Ir’aton. Di saat sang penyihir lengah, Yähgé mengambil batu tersebut dan membinasakan sang penyihir.
Dia juga memusnahkan semua sisa manusia yang ada di benteng Kalf Gunnar. Di situ, Yähgé mencari tahu tentang batu Ir’aton. Ternyata dalam catatan si penyihir, bahwa batu tersebut justru ada di sekitar Karakh.
Yähgé pun menemukan sumber batu tersebut, dan mengumpulkan kekuatan dengan bantuan batu tersebut. Menyembunyikannya selama ratusan tahun, membuat rencana besar untuk menjatuhkan kaumnya sendiri.
Dia bepergian seorang diri, mengumpulkan apa pun yang menurutnya penting. Membawa Hering dan istrinya, yang dia temukan di perjalanan menuju ke Hail.
Lalu saat Yähgé kembali ke Trâg, rupanya itu sudah menjadi kota manusia bernama Ferden’lyf. Dia pun menggunakan sosok Triala, berpura-pura sebagai penyihir agar mendapatkan batu Ratera. Memang Yähgé mendapatkannya, tetapi hanya sebagian dari batu tersebut.
Karena putri sang penguasa di Ferden’lyf memergoki perbuatan Yähgé.
“Sudah berapa lama kau membawa Hering dan istrinya ke tempat ini?” tanya Ninye.
“Ratusan tahun lalu.”
“Bagaimana mereka bisa hidup selama itu?”
Yähgé tersenyum. “Mereka yang sebenarnya tengah tertidur, Ninye. Yang kau lihat hanya ilusi.”
“Apa?” Mata Ninye terbelalak.
“Aku memang sengaja, ingin membawamu ke tempat ini. Dan melihat ilusi keduanya, agar kau merasa jauh lebih baik, aman, dan tidak waspada.”
Ninye tersentak kaget dan dia langsung memasang kuda-kuda. “Kau takkan bisa membunuhku dengan mudah. Majulah.”
“Oh astaga, tidak seperti itu.” Yähgé mengeluh pelan. “Ini yang ingin kutunjukkan padamu.”
Di telapak tangannya Yähgé menunjukkan batu-batu hitam.
“Batu Ir’aton,” lanjut Yähgé.
“Untuk apa kau tunjukkan itu padaku?”
“Saat di Vôld, aku melihat kilatan mata kecewa itu padamu. Kau tidak berbeda dariku, Ninye.”