The Quest for The Lost Inheritors
Serangan di Kota Penyihir
“Waspadalah!” peringat Raven.
Raven dan Aldérin bergerak melindungi Lya dengan Findarel, sehingga mereka saling memunggungi satu sama lain. Anjing-anjing besar itu melangkah mengitari keempatnya, ada sekitar selusin dari mereka dengan tubuh yang sama-sama besar.
Pemimpinnya sudah pasti yang datang dari arah puncak benteng, karena dia kelihatan lebih besar dan intimidatif. Matanya begitu tajam menatap kelompok Aldérin seolah-olah sebagai mangsa. Herannya, para anjing ini tidak langsung menyerang, mereka seperti sedang mencari-cari di mana kelemahan lawan yang ada di hadapan.
Sebuah anak panah melesat dari tangan Raven pada salah satu ekor anjing yang berada tepat di depan mata, tetapi anjing itu langsung melompat menghindar. Padahal itu seharusnya menjadi tembakan yang sulit untuk dihindari.
“Makhluk apa itu?!” Mata Raven membelalak saking terkejutnya.
Seekor dari mereka langsung melompat tinggi, membuka rahang dan cakar-cakar yang menerkam. Aldérin mendorong tubuh Lya dan Findarel, lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke bawah anjing itu. Sebuah anak panah dilepaskan sang elf, menyerang bawah moncong sang anjing, tetapi anak panah itu langsung terpental.
Beruntung Aldérin langsung berguling ke samping, dan menghindar dari rahang yang siap mencabiknya.
Raven melemparkan tas yang dipakai olehnya untuk pengalihan, begitu para anjing itu menoleh ke arah tas yang melayang, Raven segera menarik tubuh Findarel dan Lya.
“Aldérin! Alihkan mereka!!” teriak Raven.
Dengan sekali lompat, Aldérin menjejakkan kakinya di atas salah satu punggung makhluk besar besar itu. Gerakan Aldérin yang luwes membuatnya tetap seimbang, meski anjing itu melompat-lompat untuk menjatuhkan sang elf dari punggungnya. Lalu elf dari Lamvorels itu melompat dari satu punggung ke punggung lain, dan membuat para anjing melupakan kehadiran Raven, Findarel, dan Lya, karena mereka terfokus untuk menyerang Aldérin.
Raven membawa lari Findarel dan Lya segera menuju ke gerbang keluar benteng. Sang pemimpin kawanan anjing melihat dan mengendus. Makhluk itu langsung berlari menyusul, mengeluarkan suara geraman yang menakutkan. Langkahnya jauh lebih cepat, begitu sudah mendekat, anjing itu melompat dengan kedua kaki depan mengeluarkan kuku-kuku tajam. Menerkam tubuh Raven, dan mengoyak punggung perempuan itu tanpa ampun.
“Raven!!” lolong Lya.
“Lari! Cepat!” Raven yang berusaha menahan serangan dan rasa sakit, memperingatkan Lya dan Findarel untuk segera pergi dari sana.
Lya tidak tahan melihat Raven yang kesakitan dengan luka menganga di punggungnya. Dalam kondisi genting, dia mencari-cari apa yang bisa dilakukan untuk menolong Raven, dia bahkan tidak mengindahkan Raven untuk lari. Lya melihat anak panah yang berserakan di permukaan lantai berbatu.
Jeritan Raven terdengar memilukan, sedangkan Aldérin pun sibuk melawan sebelas anjing lainnya di tengah-tengah area benteng.
Tubuh para anjing begitu keras, bulu-bulunya pun tajam, mereka seperti terbuat dari logam, tidak tembus oleh senjata tajam apa pun. Namun, pikiran praktis Lya terlintas, bahwa makhluk-makhluk tersebut pasti ada kelemahannya.
Mata Lya tidak sengaja bersirobok dengan mata anjing pemimpin yang hitam mengilat. Gadis itu langsung melemparkan anak panah pada Findarel.
“Matanya! Bidik matanya!” teriak Lya.
Findarel mengambil busur dan melesatkan anak panah tepat pada mata makhluk tersebut. Terdengar suara mendengking nyaring, dan anjing besar itu bergerak mundur, menjauh dari tubuh Raven. Kaki depannya mengais-ngais pada anak panah yang menancap di mata, lalu tubuhnya mulai oleng.
Anjing itu ambruk di tanah, seketika tubuhnya pun menghilang menjadi ratusan serangga dan menghilang ke angkasa. Raven, Lya, dan Findarel hanya terpaku melihat kejadian yang tidak mereka sangka.
“Ial!” seru Findarel yang tersadar Aldérin sendirian.
Bocah itu berlari secepatnya ke tempat di mana Aldérin berada, begitu dia mencapai ke sana yang ditemuinya hanya Aldérin sedang berdiri seorang diri. Seluruh kawanan anjing tersebut lenyap.
“Kau memanggil Estion?” tanya Aldérin.
Findarel menggeleng. “Lya yang memintaku untuk membidik mata pemimpin mereka.”
“Dia benar-benar jeli sekali. Syukurlah.”
Aldérin bergegas mendatangi Lya yang sedang memapah Raven. Tampak luka Raven sangat parah, tubuhnya sudah bersimbah darah.
Namun, perempuan itu masih bertahan dan bisa berjalan. Sedangkan manusia biasa, pasti sudah tewas saat itu juga.
“Kau baik-baik saja?” Aldérin tampak begitu khawatir melihat Raven.
“Aku akan sembuh. Ini bukan apa-apa,” balas Raven dingin.
Terdengar suara gemuruh di langit sana, tampaknya badai akan datang. Ada desahan khawatir terdengar dari bibir Lya.
"Kita harus berteduh, dan menyembuhkan luka Raven," kata gadis itu.
"Tubuhku akan kembali seperti semula, Lya. Kau tidak perlu khawatir padaku,” balas Raven. “Lebih baik kita menjauh dari benteng ini, aku takut ada makhluk-makhluk lain yang datang. Ciptaan penyihir itu. Firasatku tidak enak mengenai tempat ini.”
“Tetapi kau terluka parah.” Lya menggelengkan kepalanya. “Aku takut kau kehilangan banyak darah.”
Raven menoleh pada Aldérin. “Kau belum memberitahukan pada dia?”
“Memberitahu tentang apa?” Lya melirik pada keduanya bergantian.
Sedangkan Aldérin hanya menjawab dengan gelengan lemah. Ada embusan pelan terdengar dari bibir Raven, perempuan itu menoleh pada Lya.
Belum waktunya Lya untuk mengetahui bahwa Raven bangkit dari kematian, setelah bertahun-tahun lamanya, dan itu membuat Raven menjadi makhluk yang berbeda. Dia bukan manusia, tetapi bukan pula mayat hidup.
“Aku bisa sembuh lebih cepat dibandingkan manusia lain, Lya. Karena aku memegang pecahan batu Ratera di tanganku,” ucap Raven.
Apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, batu Ratera memang membuat Raven bisa kembali sembuh seperti sediakala. Akan tetapi, kutukan dari batu yang dibawa oleh penyihir, membuat Raven hanya tertarik pada darah untuk menutupi rasa dahaga dan laparnya.
Lya mencari jawaban dengan menatap pada Aldérin. “Lalu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Pergi dari sini,” jawab Raven lugas.
Mereka bergegas keluar dari benteng tersebut, tetapi Aldérin merasakan hal yang lain. Ada sesuatu yang datang, bukan ancaman, hanya saja membuat dia tertarik untuk mendekat ke arah hatinya tertuju ke sana. Menuju puncak benteng.
“Kalian pergi lebih dulu,” titah Aldérin.
“Kau hendak ke mana lagi?” tanya Raven setengah gusar. “Penyihir itu tidak ada di sini, dan sudah pasti dia membawa pecahan batu Ratera bersamanya. Kita akan mencarinya lagi nanti.”
“Aku harus ke puncak benteng. Perasaanku mengatakan harus ke sana,” balas Aldérin.
“Tapi, Aldérin—”
Elf itu sudah berlari masuk kembali ke dalam benteng tanpa mengindahkan seruan Lya. Sedangkan Raven hanya menggelengkan kepala pada gadis itu, dan mengajak bersama Findarel untuk lekas-lekas pergi dari sana. Sosok Aldérin sudah berlari dengan cepat, di mana sudah tak terlihat lagi dari jarak pandangan mata mereka bertiga.
“Dia bisa menjaga dirinya sendiri,” ucap Raven.
Lya hanya mengangguk, lalu dia memapah Raven mencari tempat meneduh di luar benteng.
Puncak benteng sangat tinggi, tangga-tangganya rapat dengan jarak pendek, sehingga bila tidak hati-hati, siapa pun bisa jatuh tergelincir. Sudah dipastikan itu merupakan benteng yang dibuat oleh manusia, pada zaman dahulu.
Meski Aldérin masih berpikir keras, manusia yang hidup ratusan atau ribuan tahun lalu di sana, rasanya tidak pernah ia dengar sama sekali. Setahu Aldérin, tidak ada manusia yang hidup di utara sebelumnya.
Ketika Raven bercerita tentang nenek moyangnya pun, tidak ada ingatan tentang manusia utara yang diketahui Aldérin. Akan tetapi, jika benteng tersebut justru adalah awal dari nenek moyang Raven atau si penyihir, lalu mengapa mereka tinggal di dalam gua? Mengapa meninggalkan benteng yang begitu kokoh dan memberikan keamanan lebih?
Misteri itu belum terpecahkan di pikiran Aldérin.
Begitu ia sampai di puncak, embusan angin terasa lebih keras. Aldérin mengitari sekitar puncak yang ternyata kosong. Lalu tiba-tiba saja ada sesuatu yang datang tepat di belakang tubuh elf itu. Aldérin tersentak kaget, saat dia melihat ada Ioraél sudah berdiri di belakangnya.
“Énuil,” sapa Ioraél yang bertelekan pada tongkat di tangannya.
“Arunim?” Bergegas Aldérin memberi hormat dalam pada sang Fel’Meth itu.
“Sudah terlalu banyak jiwa yang menghilang dan terluka, Aldérin.”
Kepala Aldérin tertunduk sedih. “Maafkan aku, Arunim.”
“Kedamaian di dunia ini akan segera hancur, jika kau tidak segera menyelesaikan tugasmu.”
“Aku sedang memperjuangkannya. Aku tak ingin dunia ini hancur oleh bangsa dëia.”
“Apa kau yakin bahwa penyebab semua ini adalah mereka?”
“Mereka yang menghancurkan apa pun yang ada di muka bumi ini.”
“Carilah jalan keluarnya, Aldérin.”
Perkataan Ioraél penuh teka-teki, bahkan Aldérin tidak memahami apa yang dimaksud oleh sang Maula Angin itu. Di mana Aldérin harus mencari keberadaan Mannen, Rafael, dan Silmo?
Sedangkan saat ini Ioraél justru seolah mengatakan bahwa peperangan yang terjadi bukan sepenuhnya salah bangsa dëia.
“Apa aku harus menghancurkan bangsa dëia?”
Mata Ioraél hanya menatap pada Aldérin dengan dingin. “Menurutmu mereka pantas untuk dimusnahkan? Begitu?”
“Tetapi mereka membinasakan kota kami.”
“Kau yakin karena hal itu, mereka tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan hidup?”
Aldérin terlihat bimbang.
“Apa yang seharusnya aku lakukan? Ke mana aku harus mencari jawaban untuk semua hal ini?” tanya Aldérin setengah putus asa. “Aku tak mau pecahnya pertempuran berlangsung terlalu lama, bukan hanya aliansi bangsa yang hancur, tetapi begitu pun bangsa dëia, kelak.”
“Pergilah menuju tanah kelahiran bangsa elf, Aldérin. Kau akan menemukan jawabannya.”
“Tetapi, Lamvorels sudah hancur, Arunim.”
Tidak ada jawaban apa pun yang didapatkan oleh Aldérin, karena Ioraél sudah menghilang. Aldérin mendesah pelan, ada kekhawatiran menggelayut di hatinya.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” bisiknya.