The Quest for The Lost Inheritors
Di Kota Penyihir
Di utara cuaca selalu dingin, angin bertiup kencang, bahkan langit yang cerah tetap terlihat redup. Tumpukan salju di mana-mana, mereka bisa melihat daun-daun pinus yang terselimuti salju sehingga semua di sekitar mereka serba putih. Aldérin dan kelompok kecilnya menyusuri tepi hutan Boarf, berjalan memutari hutan menuju kota si penyihir, jalan yang sama saat mereka datang dari Hail sebelumnya.
Namun, menuju ke kota penyihir mereka akan terus ke arah timur, sedangkan ke Hail menuju ke selatan, melewati celah pegunungan es Ördlejdja.
Aldérin dan Findarel tidak mengenakan mantel tebal, hanya jubah yang mereka pakai dan tudung untuk menutupi kepala. Hal yang sama dengan Raven, kecuali Lya. Sehingga gadis itu tampak kepayahan saat berjalan, karena pakaian yang terasa berat, ditambah medan perjalanan yang cukup melelahkan.
“Berapa lama lagi kita akan sampai ke sana?” tanya Lya.
“Kita baru berjalan hampir satu hari, ketika malam, kita akan beristirahat,” jawab Raven. “Sekitar empat hingga lima hari, kita akan sampai ke sana. Tergantung cuaca, jika cuaca menjadi sangat dingin, mungkin kita harus mencari gua-gua untuk berteduh.”
“Apa banyak gua menuju ke sana?”
Raven mengangguk. “Kukira begitu, Lya. Konon, di utara merupakan tempat para troll dan goblin hidup, sebelum akhirnya mereka pergi entah ke mana. Bangsa kami sempat berperang dengan mereka, dan memukul mundur. Sehingga ada kemungkinan mereka ke daerah paling timur, ke Karakh.”
“Sudah lama itu terjadi?” Lya kelihatan sedikit cemas.
“Tentu, entah berapa ratus tahun lalu. Kemungkinan kita bertemu dengan mereka, sangat mustahil menurutku,” angguk Raven.
“Setidaknya ada seorang elf yang bisa melindungiku.” Lya melirik sekilas pada Aldérin.
Sebuah senyum simpul terlihat dari bibir Aldérin. “Aku selalu mengawasimu.”
Mereka terus berjalan, hingga menjelang waktu malam. Raven selalu lebih dulu pergi, untuk melihat keadaan di depan. Lalu dia akan kembali dengan napas terengah-engah, dan menunjukkan arah jalan yang akan mereka lalui.
Entah memang karena hari sudah malam, hutan yang kini mereka harus lalui, tampak lebih gelap. Pepohonannya jauh lebih tinggi, daun-daunnya tampak lebih gelap. Perasaan Findarel mulai tidak enak, dia langsung merapatkan langkahnya di samping Lya.
“Hutan apa ini?” bisik elf muda itu.
“Skyringstall,” jawab Raven singkat.
Tidak ada embusan angin, tidak terdengar suara binatang, hanya salju, dan seolah-olah waktu di sana berhenti. Yang terdengar hanya suara langkah kaki mereka melewati permukaan tanah, dan embusan napas masing-masing yang sedang berjalan.
“Aku tak menemukan ceruk, gua atau apa pun, kurasa kita harus membuat tenda,” ucap Raven.
“Di sini semua salju,” kata Aldérin.
“Aku bisa membersihkan permukaan tanah di sebelah sana, ada semak-semak yang cukup tinggi, sehingga kita bisa berlindung di dekat sana,” balas Raven sembari menunjuk ke arah depan mereka, meski itu tampak sangat gelap bagi Lya.
Begitu mencapai tempat yang dimaksud, Raven membersihkan permukaan tanah dari salju yang tidak terlalu tebal di sana. Bersama-sama mereka memasang tenda yang pendek, sehingga harus masuk ke dalam tenda tersebut, harus setengah merangkak.
Aldérin dan Findarel mengumpulkan ranting-ranting yang tidak terlalu basah, lalu dia mengeruk tanah dan mengumpulkan ranting di tengah-tengah. Setelah itu menyalakan api dengan pemantik batu.
Tidak lama kemudian, api sudah menyinari di sekitar mereka, Lya duduk di tepi ambang masuk tenda, meringkuk memeluk lutut, merasakan hangatnya api yang menjilat-jilat ke arah angkasa.
“Setelah semuanya selesai, kita akan kembali ke Hail, Aldérin?” tanya Lya.
Tangan Aldérin menyodorkan makanan pada Lya, bekal yang dibuatkan oleh Helan. “Kita akan segera pulang ke sana, untuk mengantarmu,” jawab Aldérin.
“Bolehkah aku meminta bantuanmu, Aldérin?”
“Mengenai apa?”
“Bantu aku, mengatakan pada ibuku bahwa Thane sudah tiada. Bahwa dia sakit di sana, dan takkan bisa kembali lagi, karena dia harus dimakamkan di Ferden’ Lyf.”
Raven melirik sekilas, lalu membuang pandangan matanya ke arah lain. Dia tidak berani berkomentar apa-apa, karena tahu betul nasib yang terjadi pada Thane. Sedangkan Findarel hanya duduk tertunduk, dan hanya menikmati makanannya dalam diam.
“Akan kulakukan,” angguk Aldérin.
“Satu hal lagi, hancurkan penyihir itu, sehingga dia takkan menyakiti siapa pun lagi. Dan kembalikan batu itu seperti sedia kala. Orang-orang di Ferden’Lyf berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup mereka.”
Raven tiba-tiba menepuk bahu Lya. “Terima kasih. Kau sangat baik. Sampai kapan pun, aku berutang banyak padamu, Lya, dan kalian semua.”
*
Hari kelima mereka melalui hutan Skyringstall, medannya tidak begitu menyulitkan, tetapi suasana di sana bisa membuat siapa pun kehilangan akal sehat. Di mana-mana hanya pohon menjulang tinggi, yang persis satu sama lain.
Jika tidak memiliki kemampuan membaca ke mana arah matahari, tidak akan ada yang bisa selamat keluar dari sana hidup-hidup. Mereka akan terjebak dan mati di sana dalam kesengsaraan.
Mereka pun keluar dari hutan, dan melihat hamparan daerah bertanah coklat bercampur rumput pendek dengan salju yang tipis.
“Ke mana arah kita sekarang?” tanya Lya.
“Lebih ke utara,” tunjuk Raven. “Itu yang kulihat dari peta. Bukankah begitu, Aldérin?”
Ada anggukan tegas ditunjukkan oleh elf itu. “Ayo, lebih baik kita bergegas.”
Mereka terus melangkah selama berjam-jam kemudian. Hingga waktu malam datang, lalu di depan sana mereka melihat sebuah bangunan dengan puncak-puncak tinggi menjulang. Sebuah benteng berwarna hitam, dan langit di sekitarnya begitu gelap. Area permukaan tanah semakin mendekat pada benteng tersebut, semakin hitam. Findarel semakin terlihat gelisah.
“Hatiku merasakan kekhawatiran amat sangat, Ial,” cicit elterhel itu.
“Tetap bersamaku, Findarel. Semua akan baik-baik saja,” sahut Aldérin.
Raven menyiapkan busur dan anak panah. “Kita harus waspada.”
Semakin mereka mendekat, tampak benteng itu kelihatan besar dan kokoh, yang pasti sangat luas. Dinding-dindingnya sangat tinggi, meski semua terbuat dari tumpukan batu hitam. Ada jembatan sebelum mereka memasuki ke sana, dan gerbang besi yang terbuka. Namun, tidak terdengar ada apa pun di sana, hanya suara liukan angin yang kencang.
“Apa ini sebuah kota sebelumnya?” bisik Lya.
“Bukan kota manusia sepertinya,” kata Raven.
“Troll? Goblin?” tanya Lya lagi.
“Tidak, mereka tinggal di dalam gua-gua gelap. Tempat ini, entahlah.” Raven mengendikan bahu.
Aldérin berusaha mengingat-ingat sejarah manusia di zaman lampau, apa mungkin pernah ada nama kota di utara, tempat para manusia tinggal sebelumnya. Karena, bangunan tersebut seperti dibuat oleh tangan-tangan manusia, meski umurnya pasti sudah sangat tua. Entah berapa ribu tahun.
Akan tetapi, Aldérin tidak ada ingatan mengenai tempat yang mereka datangi sekarang. Dan penyihir yang dimaksud oleh Raven, apa mungkin keturunan dari manusia yang tinggal di sana sebelumnya. Jika memang benar, lalu di mana manusia lainnya?
Mana mungkin sang penyihir hidup sendiri. Itu tidak masuk di akal.
Mereka memasuki dalam benteng yang kosong itu. Di dalamnya, banyak bangunan berbatu seperti rumah-rumah, yang jelas-jelas kosong. Mereka terus berjalan, hingga mencapai ke tengah-tengah lapang permukaan batu hitam, di sana tidak ada apa-apa. Tampak ada puncak-puncak bangunan dengan tangga melingkar, yang hampir hancur.
“Apa dia sudah meninggalkan tempat ini?” tanya Aldérin.
Raven kelihatan bingung. “Entahlah.”
“Kita harus mencari di mana batu Ratera, mungkin saja dia tinggalkan di sekitar sini.” Aldérin mulai mengedarkan pandangan matanya. “Kemungkinan di puncak benteng,” tambahnya.
Terdengar suara keletakan batu kerikil jatuh ke permukaan tanah dari arah tangga melingkar menuju puncak benteng. Raven menghunuskan busur dan membidik anak panah, begitu juga dengan Aldérin. Lalu terdengar suara langkah berat menuruni tangga.
Mereka semua terkesiap, saat melihat seekor anjing besar berbulu hitam muncul. Ukurannya, dua hingga tiga kali lipat manusia biasa.
Mata anjing itu berwarna hitam keseluruhannya, dengan gigi-gigi tajam dan air liur yang menetes-netes. Begitu dia turun, terdengar suara langkah dan deru napas lain, anjing-anjing lain datang dari berbagai penjuru. Menjebak kelompok Aldérin di tengah-tengah.
“Aku tidak merasakan kehadiran apa-apa,” desis Raven. “Makhluk apa mereka ini?”
“Sepertinya ciptaan si penyihir,” balas Aldérin.