The Quest for The Lost Inheritors
Rencana Kyfa dan Enam Dwarf
"Ini benar-benar luar biasa, jika bukan karena bantuanmu Kar Kyfa, kami takkan mendapatkan restu dari para tetua," kata Amdû yang menemani Kyfa hingga ke peraduannya.
Keduanya berjalan melalui koridor lengang, dengan penerangan temaram. Di beberapa sudut yang agak menjorok, tampak para dwarf sudah menggelar alas tidur dari kain tebal, untuk tidur. Kyfa sangat sedih melihat pemandangan seperti itu, terlebih para dwarf yang harus tinggal di luar benteng. Mereka harus segera pergi dari Amenyeil, dan diputuskan dalam tiga hari ke depan semua pergi menuju pantai Chiméya, bersamaan dengan perginya keenam dwarf kembali ke Pílghym.
"Jika kalian tidak menemukan Lâmbi, ingat, segera kembali ke Chiméya, apa pun yang terjadi," pinta Kyfa. "Kalian tetap merupakan tumpuan dan harapan para tetua klan. Tetap selamat dan bertahan, jangan mencari masalah."
"Baik, Kar Kyfa. Kami akan mengingatnya."
"Kalian hanya punya waktu satu pekan, tidak lebih dari itu."
Amdû mengangguk-angguk. "Kami akan usahakan."
“Dalam tiga hari ke depan, kami semua pergi menuju Chiméya, lalu kalian menuju Pílghym. Ingat, aku akan memberikan petunjuk jalan yang hanya akan bisa dilihat oleh kalian. Dan ini berkaitan erat dengan satu pekan, waktu kalian menuju Pílghym.”
Alis Amdû tampak bertaut. “Maaf, tapi aku masih belum paham, Kar Kyfa.”
“Para elvin akan menggunakan sihir pada kalian, agar bisa melihat petunjuk menuju tempat kami di pantai Chiméya. Akan tetapi, sihir itu hanya bisa bertahan selama satu pekan. Dalam tiga hari kalian pergi ke Pílghym, dan sisanya untuk kembali.”
“Pantai Chiméya itu cukup jauh, waktu kami takkan cukup. Lagipula, kami membutuhkan waktu untuk mencari Lâmbi di sana.”
“Kalian masih bisa mendapat setengah dari petunjuk, jika kalian menghemat waktu atau mempercepat langkah kalian menuju Pílghym.” Kyfa mendesah pelan. “Aku minta maaf, tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk kalian. Karena para tetua, tak ingin meninggalkan jejak petunjuk apa pun.”
“Ya, aku paham akan hal itu. Kami pun tak mau mengambil risiko gegabah,” kata Amdû.
"Dengan begitu, aku akan mengirim elf menuju kota manusia, nymph, dan dryad. Kalian tetaplah fokus dalam pencarian Lâmbi."
“Untuk apa mengirim elf ke sana?" tanya Amdû sedikit kebingungan.
"Kita membutuhkan bantuan. Dan tidak ada yang tahu di mana kita berada, lalu bagaimana kita akan mencari aliansi dengan bangsa lain, jika kita tidak memulainya lebih dulu?" kata Kyfa.
"Ah, aku mengerti." Amdû mengiyakan. "Meski menurutku itu cukup berbahaya, terlebih masih ada bangsa dëia di luar sana."
"Itu adalah sesuatu yang harus ditempuh, apa pun risikonya. Karena ini adalah untuk kepentingan bersama."
"Bagaimana jika kami saja yang pergi ke kota bangsa lain?" usul Amdû.
Kyfa menolak tegas dengan gelengan cepat. "Tidak. Aku sudah bersumpah pada tetua klan, bahwa kalian akan mematuhi apa yang mereka titahkan, dan aku sudah meyakinkan mereka untuk mempercayai kalian semua. Jangan mengecewakan pihak mana pun."
"Menurutku akan lebih efisien jika kami berenam saja yang bepergian. Kami bisa menjaga diri kami sendiri, dan kami pandai bersembunyi." Amdû bergumam. "Sehingga elf yang hendak kau kirimkan, bisa tetap berada dengan para pengungsi."
"Aku hanya akan mengirimkan tiga dari kaumku. Menurutmu, mana yang jauh lebih efisien?" Kyfa terkekeh pelan.
Amdû hanya menggaruk-garukkan jemarinya pada belakang leher dan ikut tersenyum malu. "Kurasa kau sudah memperhitungkannya, Kar. Dan bangsamu, kuakui mereka berlari sangat cepat, seperti angin."
"Aku takkan mengirim banyak elf, karena itu akan menarik perhatian bangsa dëia. Mengirim dalam kelompok kecil, akan memudahkan perjalanan mereka. Lalu, mengirimkan tiga, agar salah satunya bisa mengambil keputusan di tengah-tengah, apabila mereka berhadapan dengan suatu pilihan."
"Kuakui, para elf memang dikenal sangat bijaksana," balas Amdû.
Kyfa berterima kasih dengan anggukan singkat. Lalu keduanya berhenti di depan kamar Kyfa. Amdû memberi hormat dalam-dalam pada elf itu.
"Sekali lagi, terima kasih. Selamat beristirahat, Kar Kyfa."
"Begitu pun dengan kau, Amdû. Gunakan waktu istirahatmu dengan baik, dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Kau harus mengumpulkan tenaga untuk kembali ke Pílghym."
"Akan kulakukan. Selamat malam."
"Selamat malam."
Kyfa masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Dia kembali sibuk dengan pekerjaan barunya membuat rencana-rencana, dan berbagai hal yang nanti dia butuhkan untuk dibicarakan pada tetua klan. Yang pasti dan paling utama adalah, membuat kapal. Para elf memiliki kemampuan cukup mumpuni di bidang ini. Karena para pendahulu elf, berlayar cukup jauh sebelum mereka menemukan Lamvorels.
Sebelum mencapai Lamvorels, para elf berlayar dari Gunung Wiesgäy untuk menjalani hidup mereka yang baru. Avinlár mengirim para elf ke bumi, melewati Gerbang Air di puncak Gunung Wiesgäy. Itu jauh dari Lamvorels, bahkan tidak ada yang tahu kini di mana tepatnya gunung tersebut. Konon, hanya mereka yang terpanggil untuk kembali ke Gerbang Air, yang akan diberi petunjuk persis letaknya.
Namun, apa yang dipikirkan Kyfa belum sejauh itu. Kapal yang akan dibuat, hanya sebagai tempat sementara, bagi anak-anak dan para perempuan yang tidak ikut berperang nanti. Di mana ketika waktu sudah kembali damai, mereka bisa kembali ke daratan, dan bisa menjalani hari-hari seperti sediakala.
Hari makin larut, dan Kyfa bisa mendengar sayup-sayup suara nyanyian pelan dari benteng. Para elf yang menyanyikan lagu tidur untuk putra-putri mereka, dan anak-anak lain yang kehilangan orangtuanya. Anak-anak merupakan titik yang paling rapuh, karena itu sebisa mungkin mereka harus tetap merasa aman juga tenang. Elf yang belum memasuki usia esval, rentan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hati. Jika hati mereka terluka, dan kehilangan kebahagiaan, mereka akan sakit lalu meninggalkan bumi untuk selama-lamanya. Bahkan tidak bisa melewati Gerbang Air, ketika waktu mereka tiba.
Kyfa tak mau hal itu sampai terjadi.
Elf sudah kehilangan banyak anak-anak ketika terjadi serangan di Lamvorels.
*
“Satu pekan?” mata Datan membelalak. Yang lain serempak menempelkan telunjuk pada bibir agar Datan tidak berkata cukup nyaring, karena akan ada banyak yang mendengar. “Apa para elf itu tidak bisa menambahkan waktu beberapa hari lagi, untuk memperpanjang pengaruh sihir pada mata kita?” Dia meneruskan dengan berkata lirih.
Amdû hanya menggeleng. Kelima dwarf yang lain mendesah pelan, dan menggerutu dalam bisikan. Mereka tidur bersama-sama di luar benteng, di bawah tenda, dan sekitar mereka ditutupi oleh tumpukan kayu-kayu. Alas tidur yang sempit, membuat mereka hanya bisa duduk dengan kedua kaki ke depan yang saling menempel satu sama lain.
“Itu lebih baik, daripada kita tak punya petunjuk sama sekali. Setidaknya jika kita mencapai setengah hari, kita punya petunjuk selama itu,” timpal Ôrdam.
“Jika kita sama sekali terlambat?” Brufug tampak murung.
“Kita masih bisa mencari mereka semua, sudah tak perlu khawatir.” Fortan menepuk-nepuk bahu Brufug. “Tujuan utama kita, adalah mencari Lâmbi. Atau apa pun yang mungkin masih tersisa dari dia.”
“Jangan berkata begitu, meski dia gugur, berharaplah tubuhnya masih utuh,” sergah Amdû.
Perhatian mereka teralihkan pada elf-elf yang berkemampuan sihir sedang melangkah menjauh dari benteng, para elf itu hendak membuat pelindung baru setiap malam, seperti itu yang mereka lakukan selama tinggal di Amenyeil. Tiba-tiba Amdû beranjak berdiri, lalu berlari menghampiri salah satu dari mereka. Di mana yang dia hampiri adalah Lidórin.
“Selamat malam,” sapa Amdû tergesa-gesa di belakang Lidórin yang sedang melangkah.
Sehingga elf itu menghentikan langkahnya, dan segera menoleh. Ada anggukan sopan dari Lidórin. “Selamat malam, apa ada yang bisa aku bantu?”
“Kar elf, apakah kau memiliki kemampuan sihir yang cukup tinggi?”
“Aku?” Lidórin tampak terkejut. “Aku tidak bisa menakar, apa aku cukup tinggi atau tidak. Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan mengenai hal itu?”
“Bukan aku bermaksud buruk, tetapi aku bicara dengan kar Kyfa, dia mengatakan bahwa akan memberi kami arah petunjuk untuk ke pantai Chiméya. Itu menggunakan sihir, dan dia mengatakan sihir itu hanya akan bertahan selama satu pekan.”
“Oh, Kyfa belum mengatakan apa pun padaku, tetapi akan kutanyakan nanti,” sahut Lidórin. “Dan apa yang ia katakan, memang benar. Kami hanya dapat mempertahankan sihir itu selama satu pekan, karena tidak ada sihir yang abadi.”
“Apa sihirmu bisa memberi petunjuk pada seseorang yang sedang kami cari?”
“Mencari seseorang? Oh, tidak. Sihir kami tidak bekerja seperti itu.” Lidórin tampak bingung dan kesulitan untuk menjelaskannya. “Apa kau sedang mencari seseorang?”
“Kami akan kembali ke Pílghym, untuk mencari saudara kami yang hilang.”
“Kalian para dwarf terakhir yang dititahkan untuk meledakkan kota?”
Ada anggukan cepat ditunjukkan oleh Amdû. “Begitulah, dan kami kehilangan satu saudara di sana.”
“Sebetulnya, jika kau memiliki sesuatu, barang atau benda yang dimilikinya, dalam bangsa kami biasa digunakan batu kelahiran, ketika kami merapalkan mantra, benda itu akan menunjukkan pada area terdekat terakhir di mana dia berada,” jelas Lidórin. “Akan tetapi, kau harus berada di tempat terakhir di mana melihatnya, dan sihir ini hanya akan bekerja tidak lebih dari satu pekan dia menghilang.”
“Kau bisa melakukannya?”
“Akan kucoba, tetapi sihir seperti ini tidak bisa diandalkan sepenuhnya.”
Tangan Amdû merogoh ke dalam pakaiannya, lalu dia mengeluarkan kalung dengan dua buah liontin, yang satu dari logam dan yang satunya dari kayu.
“Ukiran kayu ini dibuatkan oleh Lâmbi, saat hari perayaan lahirku tahun lalu. Kau bisa menggunakan sihir dengan liontin ini?” pinta Amdû.
Lidórin mengulurkan tangannya, lalu Amdû menyerahkan liontion itu pada telapak tangan si elf. Mata Lidórin menatap lekat-lekat pada liontin, tetapi dia tampak tersentak kaget. Mendadak, bola mata Lidórin berubah menjadi putih cemerlang, mengkilat, dan bersinar terang. Bahkan Amdû sampai mundur beberapa langkah, karena merasa takut. Tidak lama kemudian, yang hanya berselang selama beberapa menit, Lidórin pun kembali seperti biasa. Dia tampak cemas sembari menatap pada Amdû.
“Siapa sosok bertubuh tinggi besar, dengan rambut kemerahan yang dilihat terakhir oleh dia?” gumam Lidórin antara mengatakan hal itu pada diri sendiri dan juga pada Amdû. “Karena aku tidak bisa memberikan mantra, tetapi penglihatan itu yang muncul di benakku.”
“Bangsa dëia?” tanya Amdû sama-sama khawatir.
Lidórin menggeleng. “Bukan, ini berbeda. Akan tetapi, aura yang ditunjukkannya, jauh lebih menakutkan dibandingkan bangsa dëia.”