The Quest for The Lost Inheritors
Kisah Lâmbi
Sakit, itu yang kali pertama Lâmbi rasakan saat dia tersadar.
Dia mengaduh pelan, karena seluruh tubuhnya seperti dipukuli bertubi-tubi. Dia berusaha menggerakkan jari-jari tangan kakinya, yang terasa kebas.
Merasakan sakit, pertanda dia masih hidup.
Seluruh tubuh Lâmbi ditutupi oleh pasir, kerikil, dan bebatuan, tetapi setelah mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit, dia bisa bergeser dan menyingkirkan semua yang menutupi tubuhnya. Suasana di sekitar Lâmbi sangat gelap, sempit, dan di depannya batu-batu besar menutupi jalan keluar satu-satunya. Entah dia bisa menyingkirkan batu-batu itu, atau dia akan terjebak selamanya di Pílghym.
Akhirnya, Lâmbi memutuskan mencari jalan lain, jalan menuju ke kota, bebatuan di sana tidak terlalu besar dan sepertinya bisa dia singkirkan. Dengan lelah, Lâmbi berusaha untuk menarik satu persatu batu yang saling bergeser saat dia coba tepikan.
Dia cukup waspada, karena takut terjadi runtuhan susulan, yang ia takutkan bahwa kota benar-benar sudah hancur, dan menunggu gunung amblas ke dalam bumi. Karena, yang terakhir ia ingat hanya ledakan, dan sosok yang membuatnya benar-benar takjub.
Lâmbi teringat pada bandul, dia mencari-cari bandul itu di tubuhnya, tetapi tak ia temukan, lalu dia mencari-cari di tumpukan tanah di sekitar ia tak sadarkan diri, dan ada di sana, tertutupi oleh pasir. Lâmbi meniup bandul itu, dan menggosok-gosokkan batunya yang berwarna merah pada pakaian agar kembali cemerlang warnanya.
“Apa ini bandul sihir?” ia bergumam. “Di Pílghym? Rasanya aneh. Ah, aku harus segera keluar dari sini, aku tak bisa terus terjebak dan mati sia-sia.”
Seberkas sinar muncul lagi dari bandul. Lâmbi benar-benar ketakutan, tetapi dia tetap berusaha untuk berdiri dan bertahan. Lalu sinar itu mengarah ke arah dalam kota, dan batu-batu yang menghalangi Lâmbi tiba-tiba melayang dan beterbangan keluar. Lâmbi hanya menelan ludah, lalu dia berlari secepat mungkin keluar dari jalan pelarian tersebut, dan kembali memasuki kota. Batu-batu yang tadinya melayang, kembali ke asalnya, menutup kembali jalan pelarian.
Lâmbi melihat kota Pílghym yang masih setengah utuh, meski banyak abu bertumpuk di sana-sini, dan api-api yang masih menyala redup di beberapa tempat. Tiba-tiba dari bandul keluar sosok yang menolong Lâmbi sebelumnya. Sebetulnya Lâmbi sangat takut, tetapi dia membutuhkan jawaban, dan sepertinya sosok yang ada di hadapannya ini takkan mungkin menyakitinya.
“Hada (Halo)?” Lâmbi melambai-lambaikan tangan. “Aku Lâmbi.”
Sosok itu mengangguk sopan. “Énuilen, Fir Rockbanner.”
“Kau tahu namaku?” tanya Lâmbi tak percaya. Sosok itu lagi-lagi memberi anggukan singkat. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau datang dari bandul ini? Apa kau makhluk sihir? Atau aku sedang bermimpi?”
“Aku, Mannen.”
“Apa kau datang untuk membunuhku? Atau ada sesuatu yang membuatmu harus menolongku?”
“Kau adalah sosok pilihanku, Fir Rockbanner.”
“Pilihan untuk apa?”
“Membawa semangatku.”
Lâmbi tampak kebingungan. “Aku tidak mengerti.”
“Carilah saudaraku yang lain, di mana mereka berada di pewaris masing-masing. Estion, Rafael, dan Silmo, maka kau akan mengerti, bahwa kau telah menjadi salah satu dari pilihan kami.”
“Di mana aku harus mencari mereka?”
Mannen membuka telapak tangan, dan mengeluarkan segaris sinar ke arah gerbang kota yang hancur dan meninggalkan ambang besar yang menganga. “Kedua saudaraku ada di utara. Estion dan Rafael.”
Ada anggukan yang ditunjukkan oleh Lâmbi. “B-baiklah.”
“Bergegaslah, Fir Rockbanner, karena kita dalam ketergesaan.”
“Lalu, jika sudah kutemukan Estion dan Rafael, di mana Silmo berada?”
Ada senyum dingin dari sudut bibir Mannen. “Dia adalah angin. Dia datang kapan pun dia siap.”
Lalu sosok Mannen menghilang, dan meninggalkan Lâmbi seorang diri. Dwarf itu memutar tubuhnya, menatap ke sekeliling, untuk mencari-cari ke mana Mannen benar-benar hilang. Matanya menatap pada bandul, dan pikirannya mulai bertanya-tanya, apa sosok Mannen ini kembali ke dalam bandul?
“Baiklah, jika dia memintaku ke utara, maka aku akan pergi ke sana,” ucap Lâmbi.
Namun, dia terdiam beberapa saat. Lâmbi belum pernah keluar dari Pílghym sebelumnya, dan tidak ada petunjuk apa pun yang bisa ia pakai untuk pergi ke sana. Lagipula, bagaimana jika ada bangsa dëia masih mengintai di sekitar Pílghym? Ia pun mengembuskan napas berat.
Lalu Lâmbi mencari-cari senjata apa saja yang bisa ia temukan, dan kapak miliknya justru terlihat tergeletak di depan tumpukan batu menuju ke jalan pelarian. Senyumnya mengembang.
“Ini sempurna,” ucapnya.
Dia pun melangkah dengan mantap, keluar dari kota Pílghym. Berjalan dengan insting menuju ke utara, untuk mencari keberadaan Estion dan Rafael, hingga nanti akan ada saatnya Silmo pun datang.
*
Pemandangan di sekitar Lâmbi sangat buruk, dia keluar dari dalam gunung dan melihat semua hancur berantakan, tanah menjadi hitam bercampur dengan arang tanaman liar. Banyak pohon-pohon hancur, tumbang, membuat hatinya sedih seketika. Langit di siang itu tampak muram, dan sepertinya akan turun hujan.
Tanpa banyak pikir lagi, dia melangkah menyusuri hutan, hendak menuju sungai Neverendíng. Sepengetahuannya, setelah sungai tersebut, dia akan sampai menuju Lamvorels dan hutan Elethäs. Melewati pegunungan Habér, dan entah setelahnya, dia sama sekali tidak tahu.
Genap dua hari akhirnya Lâmbi tiba di sungai Neverendíng. Masih tampak sisa jejak tapak kaki bangsa dëia yang melewati sungai tersebut. Napasnya mulai memburu, dan hatinya mulai tak tenang. Lâmbi pun menarik napas dan mengembuskannya perlahan, dia mencari-cari sesuatu yang bisa membuatnya tetap mengapung di atas sungai.
Ada sebuah batang pohon terbaring di dekat sungai, dengan cepat Lâmbi mendorongnya ke arah sungai dan naik, dia kesulitan menyeimbangkan tubuh, akhirnya terjatuh ke dalam air. Tangannya menggapai-gapai hingga dia bisa berpegangan dan hanya kepalanya yang ada di permukaan air. Sekuat tenaga ia mengayuh kaki, agar batang pohon maju ke seberang. Meski batang tersebut terbawa oleh arus sungai yang tenang.
“Oh, astaga!” keluhnya.
Dia terus mengayuh, hingga sedikit demi sedikit batang pohon pun lebih dekat ke seberang, meski tubuhnya ikut berputar-putar dengan batang yang terbawa arus sungai.
“Aku yang malang!” Lagi-lagi dia mengeluh.
Beruntung, pohon terdorong ke seberang, hingga Lâmbi langsung melompat ke permukaan tanah dan membiarkan batang pohon ikut lagi bersama arus air sungai. Dia berjalan merangkak, dan mendekat ke arah semak-semak. Menyembunyikan tubuhnya di sana, merasakan dingin yang amat sangat. Entah berapa hari dia belum makan, dan tubuhnya sudah lemas juga lelah amat sangat.
Rasa kantuk menyerang Lâmbi hingga dia yang menggigil kedinginan, mulai tertidur.
…
Lâmbi terbangun setelah hari berganti malam, dan dingin semakin menusuk hingga ke tulang. Dia menderakkan tubuhnya, dan merangkak lagi ke arah sungai. Mengambil air dengan tangannya yang gemetaran. Dia harus memakan sesuatu, tetapi entah apa.
Tidak ada makanan yang bisa ia temukan, bahkan untuk berjalan pun rasanya Lâmbi sudah tidak sanggup. Di sekitarnya begitu gelap, dia melangkah lagi menuju tujuannya dengan langkah sempoyongan.
“Aku tidak sanggup, perutku lapar.” Ia setengah terisak.
Bandul Mannen berpendar, Lâmbi tersentak kaget. Lalu keluar seberkas sinar ke beberapa penjuru, dan menghilang begitu saja. Lâmbi langsung waspada, meski dalam lelahnya.
Lambat laun, dia mendengar suara gemerisik mendekat, dia menelan ludah. Kapaknya sudah berada di tangan, jika itu hari terakhirnya hidup, dia harus bisa memberikan perlawanan sekuat mungkin.
Suara-suara itu mulai mendekat, Lâmbi bergerak mundur ke arah sungai, hingga dia melihat semak-semak mulai bergerak, lalu muncul sekawanan tupai yang membawa kacang-kacangan, dan buah beri. Mereka menumpuk semua seperti sebuah bukit kecil, dan bergegas berlarian kembali melewati semak-semak lalu menghilang.
“Tupai? Membawakan makanan? Apa aku sedang bermimpi?”
Mata Lâmbi berkedip-kedip tak percaya.
“Apa kau yang melakukan itu, Mannen?” bisik Lâmbi.
Meski tidak ada reaksi apa pun dari bandul, tetapi Lâmbi percaya itu merupakan tindakan Mannen. Dia pun bergegas menghampiri gundukan kacang-kacangan dan buah beri, lalu berjongkok dan memakannya dengan rakus.
“Ini makanan terbaik setelah beberapa hari ini, terima kasih, kawan tupai.”
Masih merasakan tubuhnya menggigil karena baju yang basah, Lâmbi menghabiskan makanannya, lalu meraup air dari tepi sungai. Matanya mengitari sekitar, dan menerka-nerka ke mana dia harus melangkah.
Dia melihat pada barisan pepohonan yang hancur dan hangus, seperti membuka jalan. Sudah ia duga, itu adalah jalan yang digunakan oleh bangsa dëia. Sebetulnya sangat berisiko jika Lâmbi melalui jalan tersebut, tetapi itu satu-satunya jalan agar dia tidak tersesat.
“Semua akan baik-baik saja, mereka takkan mungkin bisa menangkapku,” gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Akhirnya, setelah dirasa tubuhnya sudah lebih berenergi, Lâmbi melangkah mengikuti jalan yang dipakai oleh bangsa dëia menuju Lamvorels. Meski jantungnya berdebar kencang, dan merasa sangat ketakutan, tetapi dia berusaha untuk tetap tegar juga kuat.
Lâmbi terus melangkah, hingga melewati tengah malam, dan akhirnya dia tiba di tepi area Kota Lamvorels yang sudah luluhlantak. Dari kejauhan, di balik dinding kota, tampak ada cahaya redup, di mana itu pasti merupakan api yang cukup besar. Ada suara-suara keras terdengar sesekali, sehingga Lâmbi pun bersembunyi di balik pohon yang masih berdiri dan bisa menutupi tubuhnya agar tak tampak sedikit pun.
Terdengar gemuruh dari langit, Lâmbi mendongakkan kepala dan melihat awan hitam berarak datang, tidak lama kemudian hujan deras pun turun. Yang anehnya, kabut tebal menghampiri, hal cukup ganjil, hingga Lâmbi tidak berani keluar dari persembunyiannya, bahkan dia tidak bisa melihat dalam kabut setebal itu.
“Apa yang terjadi kini, bagaimana bisa terjadi hujan dan kabut sekaligus?” bisiknya heran juga takut.