The Quest for The Lost Inheritors
Jati Diri Raven
“Aku tidak paham, mengapa Nyonya Helan mengatakan Luth Hirdif? Bukankah ia disebut sebagai perwujudan roh putri Ilirá?” tanya Aldérin.
Diguf dan Raven saling melirik sekilas, lalu Raven mengangguk.
“Kau sedang melihatnya, aku adalah Ilirá, putri kedua dari ratu Ilörin,” jawab Raven enteng.
“Lalu, Akil Stagish? Akil Kurgan Duhagal?”
Raven menatap lekat pada Aldérin. “Kau masih melihat sosok yang sama.”
“Ini terdengar tidak masuk di akal,” gumam Aldérin lirih.
“Karena itu, kau harus mendengarkan, Tuan. Maka kau akan mengerti semuanya,” kata Raven.
Aldérin mengangguk mengiyakan.
Lalu Raven pun mulai berkisah,
“Delapan tahun yang lalu, adalah kisah awal mengerikan ini ….
Sudah sangat lama sekali, bangsa kami mengalami masa-masa sulit, sejak aku dilahirkan, masa getir itu telah berlangsung. Ladang, kebun, pohon buah bahkan segala sesuatu yang kami tanam tidak pernah menghasilkan apa-apa kecuali kekecewaan. Aku tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi, ada yang mengatakan bahwa jiwa dari tanah telah direnggut kekuatan jahat. Tetapi, aku sendiri tak yakin akan hal itu.
“Satu-satunya yang bisa membuat kami bertahan hidup adalah mata air yang berada di dalam istana Ferden’Lyf. Karena air yang seharusnya melimpah di sumur kami, mengering. Seolah pemilik dunia sedang menyiksa kami perlahan dan ingin membinasakan manusia dari utara.
“Bangsa kami hidup di dalam kemiskinan, akan tetapi berkat air yang ada di dalam istana, kami bisa melalui semua dengan tabah. Anak-anak tetap sehat, dan kami bisa menikmati makanan yang dibagi oleh pihak istana meski harus saling berbagi dalam jumlah yang sangat minim.
“Aku mungkin tidak merasakan penderitaan yang amat sangat seperti orang-orang yang tinggal di luar istana, jujur aku sangat mengerti akan kesulitan yang mereka hadapi. Setiap harinya, aku harus melihat orang-orang berbaris di depan istana, menunggu dalam satu barisan untuk mendapat jatah makanan dan air. Itu lebih menyakitkan bagiku, karena merupakan beban yang amat berat.
“Kadang aku berpikir, lebih baik menjadi rakyat biasa dan memikul penderitaan yang sama, daripada harus menjadi anggota kerajaan dan tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali melihat orang lain hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.
“Namun, ketika aku menginjak umur ke tujuh belas, yaitu delapan tahun lalu, akhirnya aku pun bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Aku diangkat menjadi penanggung jawab mengenai pangan rakyat, setidaknya aku bisa mengusahakan makanan lebih bagi penduduk, meski sedikit, aku mulai melakukan diplomasi dengan istana dari barat dan dari tengah, menukar makanan dengan air ajaib yang hanya ada di istana Ferden’Lyf. Dan hal tersebut, berhasil dengan baik.
“Sedikit demi sedikit, kami bisa membangun lagi dan hidup lebih layak. Tidak lama setelah pertukaran air ajaib mulai tersebar ke mana-mana, datang seorang perempuan. Dia mengakui sebagai seorang cenayang, penyihir, dan hal-hal seperti itu. Aku tidak percaya padanya sama sekali. Karena, dia terlihat sangat mencurigakan. Aku dan Diguf merasakan gelagat yang buruk padanya, akan tetapi hal ini, tidak pernah kuceritakan lagi.”
Raven membuat jeda dalam ceritanya. Dia tampak tersiksa dan murung saat mengulang kembali kisahnya, matanya sekilas menatap ke arah luar jendela, pada pemandangan gelap di luar sana.
“Lalu siapa perempuan ini?” tanya Aldérin.
“Aku tak tahu, dia hanya mengatakan tinggal di sebuah kota ke arah timur dari kota kami. Yang kutahu di sana adalah tanah terlarang, karena dekat dengan Kalvath, di mana makhluk-makhluk seperti troll tinggal di sana, bukan? Menurut sejarah yang kubaca seperti itu,” jawab Raven.
“Kau tidak salah,” kata Aldérin.
“Perempuan ini menjanjikan akan memberikan tanah kami kembali subur. Dengan syarat, bahwa dia diperbolehkan keluar masuk ke mata air, dengan bebas.”
Aldérin mengerutkan dahinya. “Lalu ratu Ilörin menyetujuinya?”
“Awalnya tidak, tapi dia berhasil meyakinkan ibuku, dia bisa membuat tanah-tanah pertanian dalam waktu singkat bisa menghasilkan bahan pangan yang melimpah. Karena itu, dia bisa memasuki mata air yang dilarang bagi siapa pun, kecuali orang istana. Aku menentang hal ini,” kata Raven.
“Lalu kau diasingkan? Bersama Tuan Diguf yang memercayaimu?” tanya Aldérin.
Raven menggeleng. “Aku hanya diabaikan. Hingga pada suatu malam, aku mendapatkan mimpi yang sangat ganjil. Seorang perempuan lain datang ke dalam mimpiku, mengatakan bahwa aku harus melindungi sesuatu yang ada di dalam mata air. Karena seseorang tengah merusaknya.
“Begitu aku terbangun, aku pergi ke mata air dan melihat perempuan penyihir itu tengah memegang sebuah batu yang bersinar, dan di tangan satunya batu berwarna hitam mengkilat. Kami bertengkar di sana, hingga batu bersinar itu pecah menjadi empat keping. Dia berusaha mengambil semua pecahan kepingan batu, tetapi tidak dia sadari aku berhasil menyembunyikan satu dari pecahannya dan berlari keluar untuk meminta bantuan. Namun, begitu aku menemui ibuku … semuanya menjadi gelap,” ungkap Raven.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Aldérin.
“Aku terbangun di gua tempatku tinggal sekarang, dengan tubuh hancur, seluruh tubuhku dimangsa oleh belatung. Aku bangkit dari kematian, tanpa tahu apa yang terjadi sebelumnya padaku.” Raven mendesah pelan. “Aku sudah mati selama beberapa tahun, dan tersadar beberapa bulan yang lalu.”
Diguf berdeham pelan. “Akulah yang telah membunuh putri Ilirá atas titah ratu Ilörin.”
Tentu saja Aldérin terkejut mendengarnya.
Pria tua itu kembali bertutur, “Sang ratu sudah berada di bawah pengaruh sihir, dan penyihir itu pun mengutuk semua penduduk di Ferden’Lyf. Dia meletakkan batu hitam di dalam mata air, bersama satu potongan batu itu. Sehingga air teracuni, dan seluruh penduduk pun tewas seketika. Kecuali aku, Helan, dan putri-putriku.
“Sang penyihir memberi satu batu untukku, tetapi aku diberi mantra, agar tidak bisa memasuki istana. Aku ditugaskan sebagai penggembala, itu yang dia katakan. Meski aku tak mengerti maksudnya apa. Selama bertahun-tahun, kami menyucikan air dengan potongan batu itu, dan tidak ada penduduk yang datang untuk menyerang kami,” kata Diguf.
“Aku tidak mengerti, semua penduduk di sini baik-baik saja?” tanya Aldérin. “Bagaimana bisa ada kematian bagi mereka?”
“Batu Ratera itu membuat penduduk seolah hidup seperti biasa, di siang hari. Akan tetapi, begitu tengah malam, mereka akan menjadi makhluk mengerikan, Tuan Aldérin. Karena batu hitam yang sudah tertanam di mata air,” kata Raven. “Makhluk haus darah, daging, dan tidak berakal. Mereka akan menyerang makhluk hidup, untuk mereka mangsa. Dan tidak akan menyadari hal itu, melupakan hal-hal mengerikan, begitu pagi menjelang.”
“Begitu ada dari mereka yang keluar dari kota, aku yang terpaksa membunuh mereka, dan menyeret kembali ke kota,” kata Diguf. “Tetapi mereka tidak benar-benar mati. Mereka akan hidup kembali, tanpa cacat, tanpa luka, begitu pagi datang. Dan mereka tidak ingat apa-apa.”
“Tetapi, mereka tidak menyerangmu, Tuan Diguf?” tanya Aldérin.
Diguf menggeleng. “Entah apa yang dilakukan penyihir itu padaku, karena itu dia menyebutku Sang Penggembala.”
“Dia sepertinya memiliki rencana besar entah apa, yang melibatkan seluruh penduduk di Ferden’Lyf. Namun, yang tidak dia perhitungkan, bahwa aku kembali hidup. Dengan potongan batu Ratera lainnya di tanganku,” tambah Raven. “Aku berencana untuk mengejar si penyihir, dan menghabisinya. Akan tetapi, banyak pendatang yang sulit kucegah untuk memasuki kota. Dan mereka, berakhir naas di kota ini.”
“Tidak ada tubuh dari pendatang? Apa mereka semua dimangsa?” tanya Aldérin.
Raven mengangguk lemah. “Dan Diguf terpaksa menanamkan rumor, bahwa ada makhluk mengerikan yang mengintai di Ferden’Lyf, yaitu aku. Begitu pula dengan kisah Luth Hirdif, hanya untuk mencegah para penduduk keluar dari kota.”
“Lalu rumor wabah?” tanya Aldérin.
“Itu rumor yang terpaksa aku sebarkan pada para pendatang. Mencegah mereka datang, meski beberapa tetap keras kepala, seperti kakak lelaki Lya.”
“Jadi kau sempat bertemu dengan Thane?”
Lagi-lagi Raven mengangguk. “Aku tidak sanggup mengatakan kakaknya sudah tewas dimangsa.”
“Astaga, ini benar-benar berita mengejutkan dan memilukan,” ucap Aldérin.
“Karena itu, jika kau memang ingin mengambil batu tersebut, kita harus mengejar sang penyihir, Tuan Aldérin. Akan menjadi perbuatan sia-sia, jika kau hanya membawa tiga dari pecahannya,” kata Raven.
“Bisa kau tunjukkan di mana tempat tinggal sang penyihir?”
“Aku tidak terlalu yakin, tapi ada satu tempat yang kami berdua duga dia tinggal di sana,” jawab Raven. Dia menoleh pada Diguf. “Peta, Diguf. Tolong kau siapkan.”
“Baik, Tuan Putri,” angguk Diguf.
Selang beberapa lama, waktu bergulir selama Raven, Aldérin, dan Diguf berembuk untuk mencari di mana pecahan batu Ratera berada. Tanpa terasa, waktu pun hampir menjelang tengah malam, begitu mereka berencana untuk datang ke kota penyihir.
“Kita akan pergi pada pagi hari, lalu ke kota penyihir,” ucap Raven. “Setelah mendapatkan batu itu, kita kembali ke kota ini, dan menyucikan air, agar semua penduduk sembuh. Akan tetapi, jika mereka semua harus tewas, aku takkan menyesalinya. Karena mereka akan tetap damai, dan tidak akan memangsa lagi.”
“Tentu saja,” balas Aldérin
“Jangan pernah meminum atau memakan apa pun, yang menggunakan air dari sekitar Ferden’Lyf. Kecuali, yang ada di kediaman Diguf,” kata Raven. “Karena kau akan menjadi salah satu dari mereka.”
“Begitu tengah malam tiba,” lanjut Diguf.
“Tapi, Lya minum dan makan di kedai Harulf.” Mata Aldérin membelalak. “Aku dan Findarel, memakan buah-buahan, dan minum air.”
“Apa?” Raven tersentak kaget. “Kau harus segera meminum air dari kediaman Diguf. Lya dan Findarel ikut denganmu, bukan? Kita berikan mereka air sebelum terlambat.”
“Lya kutinggalkan di penginapan,” kata Aldérin.
Raven terlihat pucat pasi. “Kita harus menyelamatkan Lya! Sekarang!”