The Quest for The Lost Inheritors

Luth Hirdif

Tepat pukul sepuluh malam, Aldérin menyelinap keluar dari penginapan Klöndike disusul oleh Findarel dari belakang. Lya sudah tertidur pulas dan Aldérin sama sekali tidak berniat untuk mengajak gadis itu karena kemungkinan bahaya yang jauh lebih besar bisa saja terjadi malam itu juga. Setidaknya, mengetahui Lya tertidur dengan perut kenyang, membuat Aldérin lebih lega dan dia bisa menyelesaikan urusannya tanpa banyak kekhawatiran.

“Oh, kau di sana. Keluarlah, Tuan Axferdigh,” bisik Aldérin, pelan. Yang dengan mudahnya bisa mengetahui persembunyian Diguf di balik balok-balok kayu bakar yang menumpuk sejauh satu meter dari penginapan.

“Kau punya pandangan setajam elang,” puji Diguf, berbisik. Ketika ia menghampiri Aldérin dengan tubuh terbungkuk karena udara yang membekukan.

“Perasaan yang tajam, itu lebih tepat,” gurau Aldérin. Si tua itu terkekeh.

“Lebih baik kita segera pergi. Ikuti aku,” ajak Diguf.

“Nao tar ish-feller-in ar mystaél ish-shalôr-in ûnar, Findareltan (Apa kau merasakan ada seseorang memperhatikan kita, Findarel)?”

 “Uhn, Ial.”

Diguf menoleh ke belakang sebentar. “Bahasa yang sangat asing, akan tetapi amat indah terdengar. Dari mana asalmu, Tuan Aldérin?” tanyanya.

“Dari selatan.”

“Kurasa tempat tinggalmu begitu menyenangkan, eyh? Karena menurutku, kalian memiliki bahasa yang amat halus, seperti yang kudengar tadi. Biasanya, orang-orang yang berkata lembut, dia hidup di lingkungan yang damai.”

“Ya, kau tidak sepenuhnya salah,” jawab Aldérin. “Tetapi aku tak tahu, apakah kedamaian itu masih ada di kota kami. Ada masa sulit yang sekarang kami hadapi, Tuan Axferdigh. Sangat sulit hingga aku harus berkelana begitu jauh.”

Diguf tidak menanggapi dengan cepat perkataan Aldérin. Ia pun seolah tepekur dengan pemikirannya sendiri. Mereka pun berjalan tanpa berbicara di atas permukaan tanah yang lembab dan dingin, karena menjelang malam, turun hujan selama beberapa jam.

“Kau tahu, Tuan Aldérin.” Diguf tiba-tiba berkata, meski sangat pelan. Suaranya sedikit serak, sepertinya ia berusaha kuat untuk menahan ledakan di dalam hatinya. “Kita semua mengalami masa sulit. Dan akan sangat sulit di masa depan, aku tidak bisa meramalkannya, tetapi kegelapan sudah hampir memangsa setiap kehidupan di muka bumi. Aku tak tahu, apa manusia masih bisa bertahan.”

“Jika kita berusaha untuk memperjuangkannya, aku yakin masih ada harapan untuk semua orang. Aku yakin itu, Tuan Axferdigh.”

Diguf mengangguk-angguk. “Ya, ya … aku setuju denganmu.”

Pria tua itu berbelok ke arah kanan dan menerobos ke dalam semak-semak tinggi. Selama beberapa lama, Aldérin juga Findarel terus berjalan di antaranya, sesuatu yang amat tidak nyaman dan menyakitkan apabila Lya diajak ikut serta.

Lalu mereka pun keluar dari balik semak dan melihat hamparan kebun yang tidak begitu luas, tidak jauh dari sana, tampak rumah Diguf yang memancarkan sinar kekuningan dari arah jendela-jendelanya meski redup.

“Kita sudah sampai,” ujar Diguf, terdengar lebih lega.

“Aku harap, kedatangan kami tidak akan mengganggumu keluargamu, Tuan Axferdigh,” sahut Aldérin. “Ini sudah hampir larut malam.”

“Oh, tidak sama sekali, jangan khawatir akan hal itu.” Diguf pun menoleh ke arah Aldérin. “Dan tolong, mulai saat ini panggil aku Diguf, Tuan Aldérin.”

Ketika pintu belakang terbuka, seorang wanita tua dengan tergopoh-gopoh memasuki ruang dapur dan menyambut Diguf dengan raut pucat.

“Dia di sini,” bisiknya, khawatir. Ia meremas sisi-sisi gaunnya, akan tetapi saat dia melihat kedatangan Aldérin dan Findarel, ronanya sedikit berubah, berusaha untuk kelihatan ramah namun rasa cemas masih tercetak jelas di wajahnya. “Kau tidak mengatakan padaku akan membawa tamu, Dig. Apa ini tidak apa-apa?” dia pun berbisik lirih.

“Tenanglah,” kata Diguf.

“Kita bisa mendapat masalah, kau tahu apa yang—.”

“Mereka sudah berani menghadapi segala kemungkinan dengan mendekati keluarga kita, Helan,” potong Diguf. “Lalu siapa yang datang?”

“Luth Hirdif,” jawab Helan, sangat pelan. “Dia di atas, di ruang bacamu.”

Diguf diam sejenak. “Kami akan menemuinya.”

“Aku akan membawa penganan untuk mereka,” bisik Helan.

“Oh, aku hampir melupakannya,” sahut Diguf. “Tuan Aldérin dan Tuan Muda Findarel, ini adalah istriku Helan. Dan kurasa kalian akan menemui kedua putriku, Maliya dan Enggrid, tidak lama lagi.”

“Senang bertemu denganmu, Nyonya Axferdigh,” salam Aldérin.

“Helan saja.” Helan pun tersenyum, tulus dan kelihatan lebih tenang. Ia pun melihat ke arah Findarel dan antusias mendadak menghinggapinya. “Apa kau suka gula-gula, Nak? Aku tidak memiliki banyak, tetapi cukup untukmu jika kau mau.”

“Aku suka gula-gula, Nyonya,” jawab Findarel. “Namun, aku kurang suka jika terlalu banyak. Cukup untukku, itu lebih baik.”

Helan tertawa senang. “Oh, kau anak yang sangat tampan dan begitu santun. Sepertinya Tuan Aldérin telah mendidikmu dengan baik, eyh? Bahkan kau sudah menghibur wanita tua ini dengan kata-kata manismu,” ujarnya.

“Tidak sama sekali, Nyonya Helan,” timpal Aldérin. Ia mengeluh pelan dan menatap tajam ke arah Findarel. “Nyonya Helan sudah begitu baik padamu, jangan berkata sesuatu yang menyakiti hatinya, sangat kasar berkata demikian.”

“Oh, dia hanya anak kecil,” rajuk Helan. “Bahkan tidak menyakitiku apa yang telah dikatakannya, itu sangat jujur. Seseorang harus menjunjung kejujuran, Tuan Aldérin, karena kebaikanlah yang akan datang dari hal tersebut, kelak.”

Diguf memberi isyarat pada Aldérin agar tidak berlama-lama. Dan untunglah, Maliya juga Enggrid datang ke ruang dapur, memotong pembicaraan yang tidak akan berujung jika terus dilanjutkan.

Dengan cepat dan singkat, Diguf memperkenalkan Maliya juga Enggrid. Maliya gadis berusia dua puluh delapan tahun, berambut hitam lurus dengan panjang sepinggang yang menurut penuturan Helan itu menurun darinya, hidung bulat dengan batangnya terlihat tegas, dengan mata kecil berwarna hitam, kulitnya sedikit bebercak dan ia agak gemuk, bertubuh mungil.

Sedangkan Enggrid yang berusia dua puluh empat tahun, lebih kurus dari kakaknya, ia berambut coklat seperti Diguf dulu, agak ikal dan pendek seleher, hidungnya kecil, kulitnya pucat dan matanya terlihat sendu dengan bola mata berwarna hitam. Maliya kelihatan lebih tenang dan dingin, sedangkan adiknya lebih cerewet akan tetapi lebih ramah.

Namun, persamaan dari keduanya pada saat itu adalah, sama-sama jatuh hati pada Findarel yang begitu lucu dan sangat menggemaskan bagi mereka.

“Kami akan menemui Luth Hirdif, dan sebaiknya kau tinggal di sini sebentar, apa itu tidak apa-apa, Tuan Muda Findarel?” saran Diguf.

Findarel mengangguk. “Tapi, apa aku boleh menemuinya nanti?”

“Ya, tentu saja. Jika pembicaraan kami sudah selesai.”

“Jangan merepotkan keluarga Tuan Diguf,” sahut Aldérin.

Dan belum sempat mengiyakan Aldérin, perhatian Findarel sudah teralihkan pada kedua putri Diguf yang memberikan banyak pertanyaan, begitu juga yang dilakukan oleh Helan pada bocah dari Lamvorels itu.

Diguf tersenyum simpul lalu berbisik pada Aldérin ketika mereka meninggalkan dapur dan melangkah ke arah tangga, “Sudah begitu lama kami tidak pernah berbincang dengan orang lain. Aku tidak tahu apa ini akan berakibat buruk padamu dengan berita mengenai kutukan dari keluarga kami, akan tetapi tolong percayalah bahwa kami sama sekali tidak seperti apa yang orang lain tuduhkan.

Diguf menatap ke arah Aldérin sungguh-sungguh.

“Aku senang kau datang, Tuan Aldérin. Begitu pun dengan adanya tuan muda Findarel, kami bahagia karena ada orang yang masih mau berbicara dengan kami tanpa rasa takut akan kutukan,” ujar Diguf. “Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu atau tuan muda, bahkan jika harus, aku akan mengorbankan nyawaku untuk kutukar denganmu.”

Aldérin meraih bahu Diguf. Ia bisa merasakan kegetiran yang selama ini terus menyayat perasaan pria renta tersebut, dan hal itu membuat Aldérin mendadak geram. Tidak ada makhluk mana pun yang harus menderita sedemikian dalam, begitu dalam pikiran Aldérin. Dan sungguh kejam manusia-manusia lainnya yang dengan entengnya menghancurkan hidup sebuah keluarga.

“Tidak ada yang harus kau risaukan, Tuan Diguf. Aku dan juga Findarel bisa menjaga diri kami dengan baik, dan apabila apa yang akan kukatakan ini bisa mengurangi rasa cemasmu, bahwa aku akan segera mengakhiri kutukan di Kota Ferden’Lyf, maka aku akan melakukannya.”

“Oh, terima kasih, Tuan Aldérin.”

Diguf menyeka air mata yang membasahi pipinya. Kegelapan yang selama ini menyelimutinya seluruh hidupnya, berangsur-angsur menghilang. Setitik cahaya terang, seolah merobek awan hitam yang menggelayut. Diguf merasakan harapan baru.

*

Aldérin bisa mencium bau darah segar dari arah ruang baca Diguf, perasaannya mendadak curiga. Ia menghunuskan pedang pendeknya, akan tetapi si tua Diguf meminta Aldérin untuk menyarungkan pedang itu kembali.

“Aku mencium bau darah, Tuan Diguf,” ujar Aldérin. Yang masih enggan untuk menyimpan pedangnya karena khawatir akan bahaya.

Diguf mengangguk. “Aku tahu, Tuan,” jawabnya. “Misteri itu akan terjawab setelah kau menemui Luth Hirdif.”

Lalu Diguf membuka pintu lebar-lebar dan angin dingin menerjang keduanya, jendela yang selalu tertutup rapat pada setiap waktu, kini terbuka, menerbangkan tirai berwarna marun seolah sekarang sedang menari-nari. Dan di tepi jendela, sesosok Luth Hirdif sedang menikmati hidangan makan malamnya, seekor anak rusa yang sama sekali tidak diolah. Ia sedang menghisap darahnya.

Aldérin mengenalinya, dan dari berbagai orang akhirnya dia tahu siapa Luth Hirdif itu. Yang Aldérin tidak sangka, bahwa sosok Luth Hirdif, ternyata masih seseorang yang sama. Yang juga disebut sebagai Akil Stagish atau Si Terkutuk, Akil Kurgan Duhagal nama lain dari Si Penebar Kematian, dan nama yang dikenali oleh Aldérin adalah,

Raven Blackfeather.

Namun, keterkejutan Aldérin bukan karena nama-nama julukan bagi Raven, tapi cara yang ia lakukan untuk makan, adalah hal yang sangat tidak lazim untuk manusia mana pun. Sangat kejam dalam pandangan Aldérin.

“Apa kau bukan manusia?” tanya Aldérin. “Tindakanmu mengerikan! Tidak ada belas kasihkah dengan mengambil jiwanya dan menyerap apa yang ada di dalam tubuh dari makhluk tak berdaya itu?”

“Tuan, tenanglah,” bisik Diguf, menenangkan.

“Lalu apa saranmu, Aldérin?” tanya Raven, dingin. Dan ia masih bersembunyi di balik kegelapan malam. Lalu ia melemparkan anak rusa tak bernyawa itu keluar dari jendela, dia pun melangkah ke arah lampu minyak yang sengaja ia redupkan lalu kini ia terangkan kembali. “Jika itu satu-satunya cara agar aku hidup, apa kau masih akan menganggapku makhluk mengerikan?”

Sosok Raven kini terlihat jelas, baik bagi Aldérin maupun Diguf.

“Kau ….” Aldérin terhenyak.

Dan kali ini keterkejutan Aldérin untuk yang kedua kalinya adalah, menyadari bahwa Luth Hirdif ternyata seorang wanita. Tanpa penutup wajah, tanpa pakaian yang dipakainya secara bertumpuk-tumpuk dan tutup kepala yang selalu membebat rambutnya, sudah teryakinkan bahwa Raven adalah wanita.

Untuk seseorang yang dikatakan sebagai Si Terkutuk dan berbagai julukan menakutkan lainnya, sosok Raven yang sebenarnya jauh dari anggapan tersebut. Ia sangat cantik dengan rambut emasnya, seperti yang Lya pernah ungkapkan bahwa Raven kelewat elok untuk menjadi seorang laki-laki. Lya tidak sepenuhnya salah, akan tetapi yang salah darinya adalah terlanjur menganggap Raven sebagai seorang pria dan jatuh hati padanya, sedangkan yang sesungguhnya adalah Raven ternyata perempuan. Terlintas akan kenangan itu, membuat Aldérin sedikit geli.

“Apa yang membuatmu tertawa, Aldérin?” tanya Raven.

“Tidak, aku hanya ingat pada Lya dan pandangannya terhadapmu.”

“Aku merasa bersalah padanya,” keluh Raven. “Menjadi seorang wanita, buruk untukku. Apalagi menjadi pria, jauh lebih buruk. Tidak ada kebaikan yang berasal dariku, karena aku adalah Akil Stagish. Kau berhak untuk menertawakanku.”

“Tidak, Raven. Setiap orang memiliki alasan,” sanggah Aldérin. “Lalu apa yang telah menimpamu, hingga kau harus hidup dengan cara seperti itu?”

“Duduklah, Aldérin,” pinta Raven. “Ini semua berhubungan dengan segala hal yang terjadi di Ferden’Lyf, baik dengan kutukan, wabah, hilangnya orang-orang, juga istana dan terakhir, benda berharga yang kau cari. Batu Ratera.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!