The Quest for The Lost Inheritors
Peringatan Raven
Uap udara hangat keluar dari cuping hidung Lya, dan gadis itu dengan mata sedih menatap ke arah luar ambang pintu ceruk tempatnya harus terjebak selama beberapa hari. Dia bosan, bukan hanya bosan dengan makanan tersisa yang itu-itu saja, akan tetapi dengan perjalanan mereka yang tersendat, dan harus terjebak di gua milik Raven. Sedangkan Raven jarang sekali mau bergabung atau bicara, terkesan menghindar dari kelompok Aldérin. Gua itu memang sangat besar, dan Raven seringkali pergi ke bagian gua yang lain, entah kapan datang atau perginya.
Selepas pembicaraan kali pertama mereka datang, Raven tiba-tiba menyudahi percakapan dengan Aldérin tanpa penjelasan apa-apa. Benar-benar misterius. Aldérin sendiri selalu tampak siaga, meski sikap waspadanya sedikit sia-sia, karena tidak ada perilaku Raven yang ganjil.
“Aku bosan,” keluh Lya. “Sampai kapan di sini? Kau lihatlah, Aldérin, di luar sana tidak terdengar lagi amukan angin. Tidak kah kau ingin memeriksanya? Mungkin kita bisa segera pergi ke Ferden’ Lyf.”
“Apa kita tidak menunggu kedatangan Raven, Ial?” tanya Findarel.
“Dia bisa pergi sehari penuh hingga malam, astaga, ini benar-benar menjengkelkan,” keluh Lya.
“Kita tunggu, dan bicara padanya. Dia sudah menjadi tuan rumah yang baik, dan sangat tidak sopan kita pergi tanpa berpamitan pada Raven,” balas Aldérin.
“Kau mulai terdengar seperti ibuku,” keluh Lya, yang dibarengi tawa kecil Findarel.
“Bersabarlah. Kita sedikit lagi tiba di Ferden’Lyf.” Aldérin menyunggingkan senyumnya.
“Yah, tentu saja. Aku tidak punya pilihan lain, bukan?” Lya mengendikan bahu. “Melihat Raven ada sedikit hiburan untukku, dia cukup tampan. Bukankah begitu?”
Findarel menoleh pada Aldérin. “Din akh han?”
Aldérin hanya menggeleng sedikit. “Aku belum yakin.”
Lya berkacak pinggang. “Jangan bicara bahasa daerah kalian, di mana aku ada di sini, dan aku tidak mengerti. Itu sangat tidak sopan. Apa yang kalian bicarakan?”
“Bukan apa-apa,” balas Aldérin.
Lya mencebik. “Kalian membicarakanku, oh … sudah tentu. Itu pasti.”
“Tidak, astaga. Kami tidak sedang membincangkan tentangmu,” balas Aldérin.
Findarel memiringkan sedikit kepalanya, lalu menoleh pada Aldérin, tampak matanya membelalak. “Oh, sepertinya Raven datang. Aku bisa mendengar langkah suaranya,” ucap elterhel itu.
“Aku hanya mendengar ratapanku,” celetuk Lya sarkastik.
Dan benar saja, tampak sosok Raven keluar dari celah gua yang lain, lalu dia melompati bebatuan dan turun ke dataran yang lebih rendah. Setelah itu dia melangkah cepat, menghampiri Aldérin, Findarel juga Lya. Matanya hanya menatap dingin dan seolah kosong.
“Kita pergi dari sini, cuaca di luar sudah aman,” ucap Raven datar.
“Baguslah! Ini yang aku tunggu-tunggu,” seru Lya senang.
Mereka semua mengikuti Raven menuju jalan keluar dari gua itu, dan menikmati cuaca yang tetap dingin, tapi lebih bersahabat dari sebelum-sebelumnya. Ada sinar matahari meski redup, di mana mereka berjalan di atas hamparan salju yang cukup tebal.
“Aku akan mengantar kalian hingga keluar dari area hutan, dan menuju celah pegunungan es Ördlejdja setelah itu kalian bisa meneruskan perjalanan,” ucap Raven.
Aldérin tersentak kaget. “Tapi, itu merupakan jalan kami sebelumnya, untuk kembali ke Hail.”
“Dan itu tujuanku,” balas Raven.
“Sudah kukatakan, Raven, kami harus ke Ferden’lyf,” sahut Aldérin.
“Ada hal yang tidak mungkin kukatakan, aku tidak mau kalian menyia-nyiakan hidup dan memasuki kota itu. Lebih baik kalian kembali ke Hail, demi keselamatan kalian sendiri.”
“Tidak.” Aldérin menggeleng tegas. “Aku tidak bisa menggadaikan keselamatan teman-temanku, karena membutuhkan benda ini.”
“Itu hanya batu, Tuan Aldérin.” Raven menatap Aldérin tajam.
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa itu adalah batu,” balas Aldérin. “Katakan padaku, Raven, jika memang kau memiliki niat baik terhadap kami, kau takkan menutupi sesuatu. Namun, sebaliknya, jika memang ada niat lain dari dirimu. Aku takkan segan menghadapimu.”
Aldérin bergerak mundur sembari melindungi Findarel, dan Lya di belakang punggungnya. Tampak Lya mulai ketakutan, karena perselisihan sepertinya akan terjadi antara Raven dan Aldérin.
“Aku hanya ingin kalian selamat,” balas Raven dan nada suara juga tingkahnya masih begitu tenang. “Tetapi baiklah, jika kau tetap bersikeras ingin ke Ferden’Lyf, aku akan mengantar kalian ke sana. Ada hal tetap harus aku katakan sebagai peringatan."
"Apa itu?" selidik Aldérin.
“Kita bicara sembari berjalan,” kata Raven.
Mereka berjalan menuju ke arah utara, menyusuri tepi hutan Skyringstall. Bukan perjalanan yang mudah, karena salju cukup tebal, dan bisa-bisa tubuh mereka melesak masuk ke dalam kungkungan salju. Jadi Raven membukakan jalan, menggunakan sebilah potongan dahan pohon yang panjang untuk menyingkirkan salju di depan mereka.
“Tidak mudah untukmu meyakinkan ratu yang tinggal di Ferden’Lyf, Tuan Aldérin.” Raven membuka pembicaraan lagi, setelah beberapa lama mereka saling membisu dan sama-sama waspada. “Pemimpin Kota Ferden’Lyf adalah seorang perempuan yang keras kepala, dan naif.”
“Bagaimana kau tahu tentang itu?” tanya Aldérin.
“Semua orang tahu.” Raven berdeham pelan. “Terlebih, setelah wabah, ada satu hal lagi yang cukup ditakuti oleh semua orang di sana. Bisa kukatakan, ada rumor tentang makhluk mengerikan, yang selalu mengawasi orang-orang di Ferden’Lyf.
“Sang ratu, selalu menutup pintu istananya bagi siapa pun, karena dia takut pada makhluk ini. Dan kau, takkan bisa mendapatkan kesempatan, untuk mencari apa yang kau cari sekarang.”
“Ratera,” bisik Aldérin pelan.
“Jika itu namanya menurutmu.”
“Ma-makhluk seperti apa?” cicit Lya dan wajahnya sudah memucat.
“Tidak ada yang tahu.” Raven mengendikan bahu. “Tapi itu mencegah siapa pun untuk datang dan pergi ke Ferden’Lyf, sehingga kota tersebut sebaiknya tidak dikunjungi siapa pun.”
“Apa dia memangsa orang-orang di Ferden’Lyf?” tanya Lya.
“Setahuku tidak, entah belum. Akan tetapi, dia tidak pernah menyerang siapa pun di dalam kota. Hanya mengawasi, di luar wilayah kota,” jawab Raven.
Findarel mengerutkan dahinya. “Lalu bagaimana kau bisa selamat dari makhluk ini? Kau tinggal di wilayah luar kota. Kau bisa luput dari pengawasannya?”
Raven tidak segera menjawab, dia kembali menyingkirkan salju untuk memudahkan langkah mereka. “Mungkin aku masih beruntung,” balasnya enteng.
“Din akh han, ihtenu*, Ial,” sahut Findarel sembari melirik sekilas pada Raven.
(ihtenu: mencurigakan)
Aldérin mengangguk. “Ya, cuacanya cukup bersahabat, Findarel,” ia berkilah.
“Lalu tentang wabah itu?” tanya Aldérin.
Raven menjawab, “Aku pun tidak tahu secara jelas, tapi kau bisa menemui seseorang di sana, dia sangat tahu mengenai hal tersebut. Mungkin dia yang akan jelaskan, apabila dia bersedia.”
“Siapa nama orang ini?”
Raven melirik pada Aldérin sekilas. “Diguf Axverdigh.”
“Benar dia bisa kami percayai?” Aldérin tampak ragu.
“Mungkin kata lebih tepatnya, apa kau bisa dia percaya,” balas Raven.
“Jika dia tidak bersedia membantu, lalu siapa lagi yang dapat membantu kami?” Aldérin mendesah pelan. “Aku benar-benar harus bertemu dengan ratu di Ferden’Lyf.”
Namun, Raven tidak memberikan tanggapan apa. Dia kembali senyap, hanya terus berjalan tanpa melanjutkan pembicaraan mereka.
*
Seharusnya semakin ke utara, salju semakin tebal, akan tetapi begitu mereka sudah mendekati Kota Ferden’Lyf salju semakin tipis, di mana Raven tidak membutuhkan lagi tongkat kayu untuk menyingkirkan bongkahan salju. Salju hanya setinggi kurang dari satu jengkal, dan melihat gerbang Kota Ferden’Lyf di depan mata, sudah tampak permukaan tanah yang cokelat, basah, bercampur lumpur.
Kota itu tidak jauh lebih megah daripada Hail maupun Vôld. Gerbang kotanya terbuat dari kayu-kayu yang disusun, bentengnya tidak terlalu tinggi. Bahkan tidak ada yang berjaga-jaga di atas benteng. Belum tampak seperti apa di dalam kota tersebut, tapi cukup membuat Lya syok karena tidak menyangka bahwa kota tersebut tidak senyaman Hail.
Raven menghentikan langkahnya. “Aku akan mengantar kalian sampai di sini.”
“Kau tidak ikut?” tanya Lya keheranan.
“Tidak,” geleng Raven. “Ada banyak hal yang harus kukerjakan, dan sebaiknya aku harus bergegas. Karena berada di luar, hingga malam tiba, itu sama saja membuat masalah untukku.”
“Baiklah,” angguk Aldérin. “Terima kasih atas bantuanmu, aku minta maaf, karena sempat meragukan kebaikanmu, Raven.”
“Tidak masalah.” Raven hanya menggeleng cepat.
Lya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “Aku butuh minuman hangat, semoga ada minuman enak di sana.”
Lalu Raven membuka tali hitam yang melingkar di pergelangan tangannya, gelang dengan bandul batu safir. Setelah itu dia sodorkan pada Findarel.
“Untukmu, anggap saja ini hadiah pertemuan kita,” katanya pada Findarel.
“Oh, terima kasih.” Findarel menerima tali itu dan mengangguk sopan.
“Kau tidak punya hadiah untukku?” Lya menatap Raven penuh harap.
“Sayangnya tidak, tapi aku akan membawakanmu hadiah lain. Jika kita kelak bertemu lagi.” Raven pun memegang bahu kanan dengan tangan kirinya, sembari membungkuk sedikit. “Sampai jumpa.”
“Berhati-hatilah,” ucap Findarel.
Lya hanya melambaikan tangan dengan raut wajah sedikit kecewa. Lalu sosok Raven membalikkan tubuhnya, dan melangkah menjauh dari kelompok Aldérin, mengikuti lagi jalur di mana dia membawa ketiga pendatang dari Hail. Langkah Raven begitu cepat, hingga tidak butuh waktu lama, sosoknya sudah hilang dari jarak pandang mata.
“Tunggu apa lagi? Ayo, kita segera masuk ke kota,” ajak Lya.
Aldérin bergeming. Satu hal yang pasti, dia memiliki firasat bahwa batu Ratera memang masih berada di dalam Kota Ferden’Lyf. Karena, kota itu tidak sepenuhnya tertutup salju, ada sesuatu yang menahan laju salju di kota tersebut. Kemungkinan karena pengaruh magis dari Ratera.
Seharusnya, jika Ferden’Lyf masih dipengaruhi kekuatan dari Ratera, hal-hal yang diutarakan oleh Raven seperti wabah, adalah hal yang mustahil. Apa mungkin, Raven hanya ingin menutupi sesuatu, tentang dirinya? Atau rahasia apa yang sosok itu emban. Terlebih, mengenai makhluk mengerikan yang sempat diceritakan. Dugaan Aldérin memang ada sesuatu yang ditutupi oleh Raven, dan itu berkaitan dengan pihak istana, juga orang-orang di Kota Ferden’Lyf.
Yang jelas, Aldérin harus berhati-hati. Dia membawa Findarel dan Lya, sosok-sosok yang harus Aldérin lindungi benar-benar.
“Apa kita akan berdiri seharian di sini, dan membuatku membeku?” celetuk Lya.
“Ayo, kita masuk,” kata Aldérin.
“Aku ingin sup ayam,” bisik Lya pada Findarel. “Kuharap di sini ada dan rasanya sangat enak.”
Findarel menjengit. “Itu terdengar mengerikan.”
Lya menggeleng sembari berdecak. “Ah, ya … aku lupa kalian orang-orang selatan seperti biri-biri.”