The Quest for The Lost Inheritors

Berembuk

Satu pekan penuh, orang-orang di Hail sibuk membenahi kota, memanjatkan nyanyian duka untuk para pahlawan, menyembuhkan yang luka-luka, dan mereka mulai menjalani lagi kegiatan di kota sehari-hari meski masih dalam perasaan was-was. Di mana raja Thornell akhirnya memutuskan untuk membuka pertemuan dengan perwakilan dari bangsa dryad, dan centaur. Karena tidak mungkin mereka berdiam diri, dan menunggu penyerangan dari bangsa dëia, yang bisa datang kapan saja.

Para Takala sudah pergi selama tiga malam, untuk menanam bibit pohon Akishâ, dan melakukan perjalanan menuju barat laut, menuju ke arah sungai Clirwatar. Entah sampai kapan mereka akan berada di sana, akan tetapi ketiganya berjanji apabila di sana merupakan tanah yang tepat dan bibit pohon menunjukkan tanda-tanda kehidupan, mereka akan segera kembali menuju Hail.

Di sore itu, raja Thornell sudah menunggu di balairungnya, ratu Reŷanim, Akoéta, putri Thaira, Élsus, sedang berembuk dan merencanakan rencana mereka selanjutnya. Di mana hari itu mereka bisa berbincang banyak, setelah menjalani hari-hari panjang, menyibukkan juga melelahkan.

“Jadi sebetulnya, bangsa dëia ini adalah bangsa yang cukup kuno dan mereka berumur panjang?” tanya raja Thornell. “Aku ingin mengetahui seluk beluk bangsa ini, dan mengapa mereka melakukan penyerangan terhadap bangsa-bangsa lain. Sedangkan setahuku, bangsa ini tidak pernah ada dalam sejarah manusia.”

Élsus berdiri dan membungkukkan tubuhnya sedikit. “Ada sedikit pengetahuan yang kuketahui dari Aldérin, bahwa bangsa dëia merupakan salah satu bangsa yang cukup agung ribuan tahun lalu. Mereka termasuk kaum-kaum yang secara langsung diturunkan ke bumi, bersama dengan bangsa elf.”

“Jadi mereka tidak terlahir di bumi ini?” tanya raja Thornell.

“Mereka semacam utusan dari langit, seperti bangsa elf. Bukan penghuni yang memang dilahirkan di Khâli. Akan tetapi, setelah mereka datang, mereka menebarkan peperangan, maka terjadilah perang pertama yang mengerikan dan sangat besar di masa lampau,” jawab Élsus.

Ratu Reŷanim mendengkus pelan. “Oh, mereka sudah memiliki bibit jahat, lalu untuk apa diturunkan dan datang ke sini, jika hanya untuk membuat onar?”

“Kita tidak pernah tahu rencana dunia langit, Yang Mulia,” balas Akoéta. “Bahkan ada kebaikan tentu saja ada kejahatan. Ada hitam maupun putih, begitu yang kutahu.”

“Aku mengerti. Tapi jika ingin dunia ini tetap damai, mereka tetap seharusnya di tempat mereka berada. Tidak perlu mengusik dunia yang tidak butuh kekejaman mereka.” Ratu Reŷanim mengendikan bahu. “Bukankah aku tidak salah mengatakan itu?”

Raja Thornell menyunggingkan senyum. Dia merasa sang ratu seperti membuat lelucon satir, akan tetapi yang diungkapkannya benar. Sang ratu adalah seorang perempuan dryad yang berpikir lugas, praktis, bahkan tidak suka berbasa-basi.

“Tapi mereka sudah ada di sini, dan memiliki tempat tersendiri di dunia Khâli,” kata Élsus.

“Dan biarkan mereka berakar di tanah airnya. Kita tidak perlu lagi bersinggungan dengan makhluk-makhluk yang mengeluarkan bola api dari telapak tangan, dan sangat congkak karena hal itu!” seru ratu Reŷanim setengah gusar. “Aku kehilangan banyak saudari di pertempuran, dan aku rasa beririsan dengan bangsa dëia lagi, adalah tindakan sangat bodoh.”

“Aku tidak bisa menggadaikan keselamatan orang-orang di Hail, yang tidak memiliki kelebihan untuk bertempur. Kau dan saudari-saudarimu, memiliki kecakapan untuk bertahan hidup. Sedangkan kami? Kami hanya manusia, tidak semua adalah petarung,” kata raja Thornell.

“Lalu apa rencanamu, Raja Thornell? Menyerang ke sarang mereka? Dan menambah lagi daftar kematian di kotamu ini?” tanya ratu Reŷanim.

“Sebetulnya, itu yang hendak aku lakukan. Kita serang mereka, di saat mereka lengah dan masih merasakan kekalahan.” Raja Thornell mengangguk.

Tentu saja semua yang ada di ruangan itu terkesiap dan terkejut mendengarnya. Putri Thaira langsung menggeleng tegas, raut wajahnya tampak memucat.

“Kita tidak tahu ada berapa banyak prajurit di sana sebetulnya. Bahkan mungkin, mereka tidak memiliki orang-orang biasa seperti manusia. Apa yang hendak kau lakukan, jika seluruh bangsa dëia terlahir sebagai prajurit dan mereka memiliki kemampuan untuk membinasakan bangsa lain?” Putri Thaira bicara panjang lebar. “Kita tidak bisa gegabah, Thornell. Hanya karena kita memenangkan peperangan, belum tentu kita dapat memenangkan pertempuran lainnya. Kita sudah kehilangan banyak.”

“Aku setuju,” angguk Akoéta. “Kami kehilangan banyak centaur pemberani, dan untuk menyerang ke tanah air bangsa dëia, entah apa itu rencana yang bagus atau kurang bijaksana.”

“Tapi, bukankah kita pun tidak tahu, mungkin jumlah mereka hanya sedikit? Hanya saja mereka memiliki kelebihan, diberi kekuatan api yang ada dalam tubuh mereka,” sanggah raja Thornell.

“Kita tidak bisa mengajukan asumsi, Yang Mulia. Karena tidak ada yang tahu seperti apa tanah air mereka. Karena tak satu pun dari kita, yang mengetahui tentang hal itu,” seloroh Élsus.

“Lalu apa saran kalian? Sebaiknya apa yang kita lakukan?” tanya raja Thornell.

Belum ada yang menjawab, karena tak satu pun dari mereka yang memiliki rencana matang untuk ke depan. Ratu Reŷanim berpikir keras, lalu dia melirik sekilas pada Akoéta setelah itu dia berdeham.

“Mencari para pelarian dari kota dwarf dan elf, karena aku yakin mereka masih hidup, meski entah di mana mereka bersembunyi sekarang,” ujar ratu Reŷanim.

“Kota nymph air sudah hancur, hanya tersisa satu dari keturunan mereka dan itu masih berada dalam gelembung, entah nymph yang malang itu bisa bertahan atau tidak,” sahut Akoéta. “Akan tetapi, bangsa dwarf dan elf masih bertahan. Kita harus mencari mereka, aku setuju dengan ratu Reŷanim.”

“Di mana? Dan ke mana? Berapa lama kita harus melakukan pencarian? Apalagi mereka sedang bersembunyi?” Raja Thornell mengeluh pelan. “Sedangkan di luar sana, bangsa dëia bisa saja sedang mengintai dan mencoba menghancurkan semua bangsa di kala lengah.”

“Sebaiknya kita ungsikan orang-orang menuju Ferden’ Lyf. Meminta bantuan pemimpin di sana untuk memberikan pasukan mereka,” usul putri Thaira.

“Di sana bukan tempat yang bersahabat untuk orang-orang yang terbiasa dengan cuaca hangat, Tuan Putri. Bahkan aku mendengar ada desas-desus, bahwa banyak kejadian misterius di utara,” ucap Élsus. “Aku mendengar dari orang-orang di kota. Banyak yang tidak mau pergi ke sana.”

“Seseorang mungkin harus menyusul Aldérin ke sana. Jika dia memang dalam misi penting, apa dia belum menyelesaikannya? Mungkin dia bisa membantu kita untuk mencari jalan keluar,” kata ratu Reŷanim. “Aku memang belum bertemu dengan Aldérin, tapi jika dia elf yang cukup dituakan, bukankah dia bisa memberi petunjuk yang bijak?”

“Kita akan menghabiskan waktu sia-sia.” Raja Thornell menggeleng memberi penolakan. “Jika memang para dryad dan centaur merasa ragu untuk menemaniku dan pasukan manusia untuk pergi ke tanah air bangsa dëia, maka misi ini akan menjadi misi tunggal kami.”

“Kau tidak bisa memutuskan seperti ini, Thornell. Ini terdengar tidak adil,” bisik putri Thaira.

“Aku tidak mau bangsa itu datang, dan membawa pasukan lain menuju Hail. Orang-orang di Vôld kini berada di Hail, aku mengemban tanggung jawab yang diberikan oleh mendiang raja Lord Raignald,” balas raja Thornell menggebu. “Aku akan mengejar mereka, hingga ujung dunia, dan menumpaskan bangsa api itu hingga tuntas!”

Ratu Reŷanim hanya mendesah pelan. “Kami perlu waktu untuk memikirkannya, akan kami pertimbangkan. Karena aku pun perlu bicara dengan bangsaku. Jika kau tak keberatan.”

“Begitu pula denganku,” tambah Akoéta.

“Tentu saja, dalam tiga hari ke depan, kuharap kalian sudah memberikan jawaban kepadaku.” Raja Thornell mengangguk. “Terima kasih, atas bantuan kalian terhadap bangsa kami. Ini adalah satu permintaan dariku, akan tetapi aku tidak ingin memaksakan kehendak.”

*

Keld sedang membersihkan tumpukan dedaunan, bunga gentian kering, hancur setengah hangus di tepi ladang. Dia melihat Élsus datang menghampirinya dari kejauhan. Dengan senang Keld melambaikan tangan pada druid itu.

“Tuan Élsus, aku tidak mendengar kabarmu beberapa hari terakhir ini, kau baik-baik saja?” tanya Keld.

Élsus mengangguk. “Aku merasa lebih tua setiap harinya, Keld,” ia berkelakar. “Bagaimana luka-lukamu, sudah membaik?”

“Hanya tergores, Tuan Élsus. Aku sangat beruntung.”

“Apa kau sedang sibuk?” tanya Élsus hati-hati.

Keld menggeleng. “Oh, tidak. Aku hanya sedang membersihkan tepi ladang, karena di sini pun hancur akibat pertempuran. Sebelumnya, ada barisan bunga gentian biru yang sangat cantik di sini, akan tetapi sudah musnah,” tunjuknya sembari sedikit mengeluh.

“Mereka akan tumbuh lagi, dan menancapkan akarnya dengan kuat.”

“Aku harap begitu,” angguk Keld. “Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku, Tuan Élsus?”

“Aku mendengar kabar dari Cialla, ketika kita sedang bertempur dengan bangsa dëia.”

“Oh, tentang itu.” Keld terpaku beberapa saat. “Apa dia menceritakan semuanya padamu?”

“Ya, bahwa kau bisa menggerakkan tanah dengan kedua tanganmu.”

Raut wajah Keld memucat. “Aku bersumpah, aku bukan penyihir. Atau kaki tangan penyihir, seperti yang dituduhkan oleh Crusel padaku, Tuan Élsus. Itu terjadi, begitu saja, tanpa penjelasan apa-apa.”

“Aku tidak menuduhmu sebagai penyihir, Keld. Karena tidak ada penyihir yang memiliki kemampuan seperti yang kau lakukan, tanpa pengetahuan dan pelatihan.”

Keld tampak menelan ludah. “Aku takut, Tuan Élsus. Karena itu, aku berusaha menyembunyikan tentang ini. Bahkan aku tidak pernah mencoba untuk melakukannya lagi. Oh, sebetulnya pernah, akan tetapi tidak terjadi apa-apa. Itu seperti suatu kebetulan dan menguap begitu saja.”

“Aku ingin membawamu menemui raja Thornell.”

Tumpukan sampah tanaman jatuh seketika dari kedua tangan Keld. “Kau hendak mengadukanku pada raja? Apa aku akan dihukum, karena sesuatu yang aku pun tak tahu datangnya dari mana?”

“Oh astaga, tentu tidak, Keld.” Ada tawa kecil terdengar dari bibir Élsus. “Aku ingin kau menemui raja, karena kurasa kami harus membawamu menemui Aldérin.”

“Tuan Aldérin? Lagi? Tapi mengapa?”

“Ini hanya dugaanku dan Cialla, akan tetapi kami berpikir bahwa kau adalah salah satu sosok yang sedang dicari oleh dia. Seseorang, yang mungkin seperti Findarel dan Estion.”

Untuk beberapa saat Keld bergeming, matanya berkedip-kedip, karena tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Terdengar aneh, ajaib, sekaligus konyol bagi Keld.

“Itu tidak mungkin,” ucap Keld lirih.

“Kami harus memastikan, tapi aku yakinkan padamu, bahwa kau bukan penyihir.”

“Aku hanya ingin hidup damai, Tuan Élsus. Setelah pertempuran, rasanya aku masih belum sanggup untuk pergi jauh lagi, dan mendapati hal-hal mengerikan seperti sebelumnya.”

Élsus hanya mengangguk. “Aku mengerti, itu pun jika kau bersedia.”

“Maafkan aku. Akan tetapi, aku akan coba pikirkan, dan bicarakan dengan keluargaku.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan kembali ke istana. Terima kasih atas waktumu, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, Tuan Élsus.”

Keld melihat ratu Reŷanim datang dan hanya mengangguk sopan pada dirinya, dengan dalam Keld membungkuk pada sang ratu. Setelah mengalami petualangan yang panjang, dan kini para dryad juga centaur berada di Kota Hail, tidak membuat Keld ketakutan melihat bangsa lain.

Élsus dan ratu Reŷanim melangkah menjauh dari Keld, lalu keduanya bicara dalam suara pelan.

“Dia menyetujuinya?” tanya ratu Reŷanim.

“Tidak,” jawab Élsus. “Dia sangat ketakutan.”

“Aku pun akan merasakan hal yang sama apabila berada di posisinya. Dryad tidak memiliki kekuatan yang terlalu ajaib. Kecuali para Takala,” ucap sang ratu.

“Aku sudah memberikannya waktu untuk berpikir.”

“Itu bagus. Firasatku mengatakan bahwa Keld akan menyetujuinya,” angguk Ratu Reŷanim. “Karena, kita membutuhkan semua bantuan yang ada di waktu mendesak seperti sekarang. Terlebih, kita menghadapi seorang raja muda, bangsa manusia yang cukup emosional.”

“Jujur saja, aku kurang menyetujui jika Raja Thornell, menyerang ke sarang bangsa dëia.”

Ratu Reŷanim memiringkan sedikit kepalanya. “Begitu pula aku.”

“Tapi dia keras kepala.”

“Dan aku khawatir padanya.”

Élsus dan ratu Reŷanim saling memandang sebentar, keduanya pun mengeluh pelan.

“Kau datang menemuiku, karena sudah mendapat keputusan sepihak dari Raja Thornell, bukan?” terka Élsus. “Entah mengapa aku memiliki firasat, dia tetap ingin pergi ke Kalvath.”

“Tidak secara resmi, karena aku mendengar dia bertengkar dengan putri Thaira. Bukan aku sengaja mencuri dengar.” Ratu Reŷanim memutar bola matanya. “Tapi malam nanti, ketika bangsaku membuat keputusan dan begitu juga para centaur, aku sudah mendapatkan jawaban dari raja Thornell.”

“Bangsa manusia akan maju menyerang dëia.”

“Tepat sekali.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!