The Quest for The Lost Inheritors
Rencana para Dëia
Melalui savana Norewestôth, meneruskan langkah melewati barisan bukti North Emun Gasal, tiba di padang tanah hitam Karakh, akhirnya Kolé, para Oroizé, dan sisa pasukan dëia tiba di tanah air mereka. Kekalahan mereka disambut oleh nyaringnya suara pegunungan api Kalvath, juga para petinggi-petinggi kaum yang mulai menatap sebelah mata pada sang raja.
Itu merupakan perjalanan menyakitkan tiada henti selama satu purnama, akan tetapi begitu kembali ke sana tidak ada yang menyambut sang raja. Kolé benar-benar kecewa, padahal dia sudah menghancurkan kota elf, nymph, centaur, dan juga dwarf, akan tetapi kekalahannya terhadap bangsa manusia, mencoreng namanya sebagai seorang raja yang gagal.
Dan Kolé tak mau menemui siapa pun. Dia mengurung dirinya, tanpa mengindahkan pemanggilan-pemanggilan dari para tetinggi yang ingin membicarakan apa yang telah terjadi sebelumnya dalam perjalanan panjang Kolé untuk menguasai dunia.
“Para petinggi ingin mengadakan pertemuan dengan kau,” ucap Nihlá hati-hati saat Kolé berada di pembaringan, enggan untuk keluar dari peraduannya. “Lagi ….”
Masih terbayang saat Kolé kembali, semua menunjukkan raut kecewa karena kekalahan telak di Kota Hail, sehingga hanya menyisakan kurang dari satu lusin prajurit, dan enam sosok Oroizé. Setelah kembali ke Kalvath, para Oroizé pun tiba-tiba saja lenyap. Bahkan mereka tidak membantu sang raja untuk membela diri. Tentu saja hal itu membuat Kolé semakin terpukul. Namun, dia tidak bisa mengandalkan para Oroizé yang memang bekerja sesuka hati. Mereka diberikan wewenang untuk tidak menjelaskan apa pun, jika mereka ingin.
“Kau harus membela dirimu, no Kolé.”
Ada seringai yang ditunjukkan oleh raja bangsa dëia itu. “Apa yang harus aku pertahankan? Jika mereka ingin menjatuhkan aku dari singgasanaku sendiri. Biarkan saja, aku takkan lagi meneruskan perjuangan yang seperti sampah di mata mereka.”
“Kau adalah seorang pemimpin, kau adalah sosok terkuat di muka bumi ini. Janganlah membuat hatimu risau, hanya karena masalah kecil yang mereka timbulkan.” Nihlá menyandarkan kepalanya pada dada Kolé. “Saat itu tiba, mereka akan jatuh di depan matamu, mengelu-elukan, dan menyembahmu, jadi angkat dagumu dan tunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”
“Hanya kau yang selalu percaya padaku.”
“Jika yang lain tak mempercayaimu, jadikan mereka tunduk di kakimu.” Mata Nihlá tampak berkilat-kilat. “Kau tahu? Bahwa kekuasaan dan mereka yang takut padamu, akan menjadikanmu seseorang yang paling hebat. Tak akan ada yang akan berani mengusikmu. Atau kita lagi. Jadi bangkitlah, tunjukkan pada mereka semua.”
Kolé beranjak dari tidurnya, lalu duduk di samping Nihlá. Menatap pada mata bak manik hitam mengkilap kemerahan milik kekasih seumur hidupnya, di mana mereka telah berjanji untuk bersama selama-lamanya.
“Aku melakukan ini semua untukmu,” ucap Kolé lirih.
“Kau diberikan kekuatan, api yang membara dalam jiwamu. Untuk apa kau takut?”
“Kau benar.” Kolé mengangguk.
“Maka buktikan, no Kolé. Karena aku tahu kau lah penguasa dunia. Bukan makhluk lain.”
Kemarahan kembali membakar di hati Kolé, dia takkan pernah tunduk oleh kuasa para petinggi-petinggi kaum. Mereka yang harus tunduk di bawah kekuasaannya, meski Kolé harus menjadi penguasa yang tiran. Sehingga tidak ada lagi yang akan mempertanyakan apa yang hendak dilakukan oleh Kolé selanjutnya.
Dia melangkah keluar dari peraduan, diikuti oleh Nihlá yang senantiasa selalu setia.
“Panggil semua petinggi kaum, aku akan bicara pada mereka semua,” ucap Kolé pada prajurit yang berdiri menunggu dan menjaga di depan pintu kamarnya.
“Baik, Adegaz.” Prajurit itu mengangguk patuh.
*
Para petinggi kaum bangsa dëia sudah duduk di altar masing-masing, saat Kolé memasuki ruang pertemuan. Sang raja berdiri dikelilingi oleh tatapan-tatapan tajam, dingin, dan tampak meremehkan, akan tetapi Kolé bersikap begitu tenang. Kaum Badzék, Oino, Judaiz, Airém, Urgúk, diwakili oleh para petinggi-petinggi di mana mereka ini memiliki kekuasaan untuk menurunkan seorang raja atau mengangkat seorang raja, apabila sang penguasa tidak berhasil di mata mereka. Kali ini, Kolé tahu bahwa mereka hendak menjatuhkan dirinya, dengan mencecar berbagai pertanyaan dan pernyataan. Namun, Kolé akan membuat perhitungan dengan para petinggi yang congkak dan tidak tahu seperti apa peperangan itu.
“Kau telah mencoreng nama kaum Judaiz, Kolé. Kau membawa pasukan dan kembali dengan kekalahan telak. Apa yang ingin kau katakan untuk membela dirimu?” tanya petinggi kaum Judaiz, yang merupakan paman dari Kolé.
“Aku masih raja kalian, maka sebut aku Adegaz.” Kolé menyeringai.
Para petinggi seperti tertohok oleh ucapan Kolé. Mereka saling menatap satu sama lain, lalu ayah Nihlá berdiri, Yehdá menatap pada Kolé.
“Kekhawatiran kami, selama beratus tahun kau merencanakan untuk membuka perang dengan bangsa lain. Akan tetapi, setelah apa yang terjadi, apa kau tidak berpikir bahwa bangsa lain akan datang dan menyerang kita? Menuju Karakh?” Suara Yehdá tidak menyudutkan.
“Aku sudah memperhitungkan tentang itu, maka aku akan mencari aliansi dengan para goblin dan troll, meski mereka makhluk dungu dan bodoh. Tetapi mereka sangat kuat,” balas Kolé. “Dan jumlah mereka sangat banyak, goblin bisa mencapai ribuan, di mana aku yakin bangsa lain akan bisa aku kalahkan.”
“Lalu mengalami kekalahan kedua?” Suara yang tampak meremehkan itu terdengar dari kursi petinggi kaum Urgúk. “Dengan membuka aliansi dengan mereka, tidak ada yang datang dengan cuma-cuma, Adegaz. Mereka pasti menginginkan kekuasaan pada wilayah kita.”
“Lalu apa salahnya? Ketika mereka tetap menjadi pengikut setia bangsa dëia?”
“Kita tidak bisa percaya pada troll atau goblin, karena mereka bangsa yang mudah berkhianat.”
“Seperti aku yang akan dikhianati oleh kalian semua?” gertak Kolé.
“Kami hanya khawatir dengan rencanamu yang gegabah untuk saat ini, Adegaz. Jika kau memiliki rencana lain, tentu saja kami akan mendengar dan mempertimbangkannya baik-baik,” kata Yehdá berusaha untuk menenangkan semua dëia yang ada di ruangan itu. “Tentu saja dengan senang hati, aku akan memberikan dukungan penuh, selama kau memiliki rencana yang sangat matang.”
“Dengan dukungan kalian atau tidak, aku akan tetap dengan tujuanku. Jika kalian ingin menyingkirkan aku, aku tidak akan takut.”
Tiba-tiba telapak tangan Kolé terbuka, dan seluruh tubuhnya terbakar oleh api. Semua petinggi di ruangan itu terkesiap, mereka benar-benar takut melihat Kolé yang begitu mengerikan.
“Jadi jangan pernah mengusikku lagi,” lanjut Kolé.
Lalu dia melangkah meninggalkan ruang pertemuan.
*
Entah berapa lama mereka selalu tidur di bawah langit yang gelap dan tertutup awan kelabu. Udara di daerah sana pun begitu menyesakkan, tidak seperti yang Ninye bayangkan selama ini. Kawasan utara yang ia datangi begitu tandus, dan tidak tampak ada kehidupan. Entah berapa lama lagi Ninye bisa tahan berputar-putar di hutan mati Ebirus, mengikuti langkah Yähgé dan Gôntra yang seolah sedang bertamasya.
“Hendak ke mana kita sebetulnya?” tanya Ninye pada Gôntra.
“Aku tak tahu,” balas Gôntra.
“Kenapa kita tidak mencari Aldérin dan mengikuti rencananya? Mungkin ada hal baik untuk kau dan aku,” kata Ninye.
“Lebih baik kau saja yang mencarinya, Ninye. Karena aku ikut ke mana pun Yähgé pergi.”
“Lalu ke mana Yähgé akan membawamu?”
Lagi-lagi Gôntra menggeleng.
“Kau tidak tahu, atau kau berusaha menyembunyikan maksud perempuan itu?”
“Keduanya.”
Gôntra beranjak dari duduk, dan meninggalkan Ninye seorang diri. Yähgé entah pergi ke mana, perempuan dëia itu sering menghilang beberapa lama, lalu kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Sering meninggalkan Ninye bersama Gôntra, seolah Gôntra ditugaskan untuk mengawasi Ninye.
“Jika aku memang penghalang di antara rencana kalian, baiknya aku pergi,” putus Ninye.
“Apa katamu?” Gôntra menoleh.
“Pada akhirnya, persahabatan di antara kita takkan mungkin bisa terjalin. Karena aku dan bangsamu, saling memusuhi. Mungkin suatu saat, kita bahkan harus saling melawan satu sama lain.”
“Aku tidak ingin seperti itu. Akan tetapi, aku memiliki janji yang tak bisa aku ingkari pada Yähgé.”
Terdengar suara derakan dan keduanya langsung terkesiap. Yähgé muncul, yang entah dari mana, setelah berjam-jam dia pergi. Perempuan itu mendengkus pelan, lalu menatap pada Ninye.
“Kau masih belum pergi juga mencari temanmu?” tanya Yähgé.
“Aku tak tahu di mana dan ke arah mana harus mencari Aldárin.” Ninye menatap Yähgé tajam.
“Ah, sudahlah. Aku lelah harus menempuh perjalanan yang sama, sedangkan kalian terus bersenang-senang dan duduk bersantai di sini,” gumam Yähgé.
Membuat Ninye mengerutkan dahinya, karena selama ini dia hanya duduk dan harus menunggu. Lalu sekarang Yähgé mengatakan dia sedang bersantai. Mereka adalah pelarian, dan entah harus lari ke mana lagi. Tidak ada kata santai, menurut Ninye. Sedangkan setiap harinya dia merasa terancam jika ada pasukan bangsa dëia datang. Terlebih, mereka kini sedang berada di wilayah bangsa tersebut.
“Ayo, lebih baik ikuti aku.” Yähgé membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah di mana ia datang tadi. “Aku hanya berharap, kau tidak akan berkhianat padaku atau Gôntra, Ninye.”
“Apa maksudmu dengan berkhianat?” Ninye berdiri. “Selama ini, kalian yang telah menghancurkan tempat tinggalku. Jika aku benar-benar membenci kalian, sejak awal bersama pun, aku pasti sudah membinasakan kau atau pun Gôntra.”
“Baiklah, tenangkan dirimu,” kata Yähgé melunak. “Aku akan membawamu ke suatu tempat, tapi kau harus berjanji padaku, hal ini hanya kita bertiga yang tahu.”
“Jadi kau mulai mempercayai, Ninye?” Gôntra menyeringai.
“Tidak. Akan tetapi, dia tidak serewel manusia yang pernah kubawa dulu.” Yähgé hanya mengendikan bahu. “Kurasa sudah cukup dia menjalani ujian dariku.”
“Ujian?” Ninye benar-benar tidak memahami apa yang dikatakan oleh Yähgé.
Perempuan dëia itu memang sering berkata-kata dalam teka-teki, bahkan tindak-tanduknya tidak terprediksi. Ninye pun tidak bisa menduga-duga seperti apa Yähgé itu. Dia dëia yang paling tenang dan licik, di mata Ninye. Namun, Yähgé juga sering bersikap agak baik, meski hanya kadang-kadang. Bertahan di hutan mati Ebirus, sudah jelas Ninye takkan mendapatkan asupan makanan. Namun, Yähgé sering datang membawa buah beri hitam, yang dikatakannya cukup aman untuk dimakan oleh Ninye.
“Akan kukatakan jika kita sudah sampai di sana.” Yähgé menyunggingkan senyum sinis. “Kecuali kau punya tujuan lain, aku takkan memaksamu ikut denganku, Elf.”
“Tunjukkan saja jalannya,” balas Ninye.