The Quest for The Lost Inheritors

Perang di Hail

Badai berlangsung cukup lama. Namun, tidak semua orang merasa aman, karena amukan badai pun membuat kulu kuduk semua orang merinding.  Serangan dari bangsa dëia pun otomatis berhenti, akan tetapi semua tahu mereka pasti akan kembali begitu badai selesai. Mana mungkin badai akan berlangsung selamanya, sedangkan Élsus pun sudah kelelahan. Dia mengeluarkan banyak energi untuk meminta bantuan dari alam, berkali-kali druid itu tidak sadarkan diri karena kelelahan. Namun, setelah sadar dia kembali memohon pada alam semesta, sehingga membuat yang lain khawatir melihat kondisi Élsus.

“Hentikan Élsus,” kata raja Thornell. “Aku tak ingin dia tewas karena kelelahan. Sampai kapan dia harus membuat badai di Hail? Selamanya? Itu takkan mungkin. Kita harus bersiap-siap dengan kondisi apa pun yang akan terjadi di sini, dan kita akan bertahan sampai titik darah penghabisan.”

“Meski ini efektif, akan tetapi bangsa dëia pasti terus menunggu hingga badai selesai,” tambah raja Lord Raignald. “Kalau begitu, kita siapkan semua pasukan untuk bertahan. Aku akan ikut bertempur di garis pertahanan paling pertama.”

“Tidak,” tolak putri Thaira. “Kalian adalah pemimpin dari dua kota, tetap berada di garis paling aman. Hingga rasa aman itu kelak, takkan ada lagi. Di sanalah kalian harus berperang mati-matian.”

“Aku akan bersiap-siap,” kata raja Thornell.

Putri Thaira keluar dari balairung, dan berlari ke lantai paling atas istana. Di atas sana, tampak Élsus sedang duduk bersila sembari memejamkan mata, ditemani oleh para Takala. Bergegas sang putri menghampiri mereka semua.

“Dengan segala hormat, Élsus, kumohon agar kau menghentikan badai ini, karena aku tidak mau sampai nyawamu terenggut. Kota kami memang harus dilindungi, tapi tidak dengan pengorbananmu, jadi hentikanlah badai ini,” ucap sang putri.

Élsus membuka matanya dan menoleh pada putri Thaira. “Aku tidak ingin semua orang binasa karena serangan kaum dëia,” sahutnya lirih. “Aku akan terus berusaha, hingga titik terakhir tenagaku habis. Aku masih sanggup melakukannya."

"Tidak.” Sang putri menolak tegas. “Kami akan maju ke medan perang, dan melawan bangsa api itu semampu kami. Kami akan memperjuangkan kota ini.”

Ada embusan napas berat terdengar dari bibir Élsus. “Baiklah.”

Lalu druid itu kembali memejamkan mata, entah apa yang ia ucapkan dalam bisikan-bisikan halus. Lambat laun, badai pun mulai berubah tenang, tampak langit yang gelap pun mulai memudar, bintang-bintang di angkasa mulai tampak berbinar-binar.

Para Takala berdiri dari tempatnya dan mereka bergegas keluar dari kediaman Élsus, waktunya untuk melawan bangsa dëia. Putri Thaira mengikuti dari belakang, mereka berempat berlari-lari keluar dari istana, sang putri langsung menaiki kuda yang sudah disiapkan. Sedangkan para Takala langsung berlari dan melompati benteng, setelah itu sosok mereka menghilang di antara pepohonan.

Sang putri benar-benar takjub melihat keajaiban para Takala, yang begitu kokoh dan hebat. Mereka seolah tidak mengenal lelah, bahkan bisa tetap terjaga selama berhari-hari, tapi tubuh mereka tidak tampak letih sama sekali.

Tanpa banyak membuang waktu, sang putri memacu kudanya menuju ke titik paling genting. Di mana raja Thornell dan raja Lord Raignald mengikuti dari belakang. Di dekat gerbang, para prajurit sudah bersiap-siap, para pemanah sibuk melepaskan anak-anak panah mereka ke arah luar gerbang, di mana bangsa dëia sudah datang untuk melancarkan serangan kedua mereka.

“Mereka sudah datang?” tanya putri Thaira pada salah satu prajurit infanteri.

“Begitu badai mengecil, pasukan bangsa itu langsung kembali, Tuan Putri.”

“Mengerikan, mereka memang benar-benar hendak menghancurkan bangsa manusia,” desis putri Thaira marah. “Tapi jangan gentar, kita akan berikan mereka perlawanan yang takkan dilupakan.”

Semua pasukan infanteri mengangguk mengiyakan. Lalu sang putri turun dari kudanya, dan dia melihat para Takala sudah tiba di benteng. Dengan luwes para dryad itu meluncurkan anak-anak panah.

Namun, pasukan bangsa dëia seperti serangga. Mereka terus maju, tidak peduli dengan apa yang menyerang di depan mereka. Para Takala menitahkan para pemanah untuk mundur, karena bangsa dëia sudah menaiki benteng. Cialla meluncur ke permukaan tanah, menggantungkan busurnya di punggung, lalu dia mengeluarkan dua buah cakra di kedua genggaman tangannya.

Suara teriakan bangsa dëia terdengar sangat mengerikan. Seperti auman makhluk buas.

Mereka bisa melewati benteng kota dengan memanjatnya. Makhluk-makhluk itu bergerak sembari melepaskan bola-bola api dari telapak tangan mereka. Gerbang terus digerus, hingga terdengar ledakan sangat keras, dan benda-benda yang menutupi gerbang terlempar keluar.

“Mundur!! Mundur!!” teriak Can’ Ara.

Dia berlari dan meluncur di atas permukaan benteng, tangannya mengacungkan pedang pendek, hingga menebas satu pergelangan tangan bangsa dëia. Dalam hitungan detik, tubuh prajurit bangsa dëia itu berpendar dan terpecah menjadi abu. Can’ Ara melompat ke bawah, bergabung dengan pasukan bangsa manusia yang sudah siap dengan tabrakan pertama dengan bangsa dëia.

“Semangatlah, kita takkan menyerah!! Serang!!” teriak raja Thornell.

“Anak panah! Lepaskan!!” Raja Lord Raignald menunjuk pada gerbang masuk kota.

Ratusan anak panah terlepas dan mengarah pada pasukan bangsa dëia yang merangsek melewati gerbang kota. Beberapa dari mereka berpendar dan menghilang menjadi abu. Auman-auman lain terdengar sangat marah.

Prajurit infanteri maju, mereka menghunuskan pedang dan tombak. Namun, hentakan gada berduri besar, langsung menyapu sebagian yang sudah berada di depan. Putri Thaira turun dari kuda, dia melesat membawa pedang panjang dan berduel dengan pasukan musuh. Cialla langsung melindungi punggung sang putri. Keduanya saling bahu membahu, menangkis dan melepaskan serangan pada bangsa dëia.

Can’ Eru menerjang, dengan luwes menghunuskan kedua pedang di tangannya. Dia menangkis tombak yang dihunuskan padanya, lalu kakinya naik ke atas tombak itu dan dia langsung menebas pergelangan tangan bangsa dëia yang dilawannya. Lalu dia melontarkan tubuhnya ke dëia lain, naik di atas bahunya, dan langsung menancapkan salah satu pedangnya pada telapak punggung tangan prajurit dëia.

Namun, pasukan dëia begitu kuat dan jumlah mereka masih banyak. Prajurit bangsa manusia seperti daun-daun kering di tangan mereka. Satu bangsa dëia tewas, sebanding dengan selusin prajurit yang gugur.

Teriakan-teriakan kengerian terdengar di mana-mana, banyak orang yang gugur karena tusukan pedang, juga yang terbakar hidup-hidup.

“Mundur ke istana!!” seru raja Thornell.

Putri Thaira berlari menghampiri adiknya. “Pertahankan istana, sebisa mungkin. Aku akan bertahan di sini, dan melawan mereka semampuku.”

“Tidak! Kita harus bersama-sama, Thaira!”

“Aku mengandalkanmu untuk menjaga bangsa kita, Thornell.”

Raja Lord Raignald menepuk bahu raja Thornell. “Pertahankan kota ini, bertahan untuk bangsa kita, kawan. Sampai kita berjumpa lagi di keabadian nanti.”

Sang raja Kota Vôld berlari menyusul putri Thaira untuk ikut bertempur. Raja Thornell yang muda dan berhati lembut, terluka hatinya. Dia memacu kudanya untuk mempertahankan istana, isakan tangisnya tidak terdengar di kancah peperangan yang penuh dengan ledakan dan teriakan.

Dia hanya berharap keajaiban akan terjadi. Di mana dunia langit masih memberi kesempatan bagi manusia menghirup udara kebebasan tanpa ditindas makhluk yang keji.

*

Cialla melompat-lompat di atas atap rumah berlari dari pengejaran beberapa dëia, di bawahnya di jalan kota, seperti sebuah pembantaian. Prajurit-prajurit berguguran, karena mereka tidak sepadan tenaga dan tubuh melawan bangsa darah-api itu. Sudah beberapa jam mereka bertempur, akan tetapi jumlah prajurit yang bertahan sangat sedikit. Satu-satunya tempat untuk bertahan, adalah di istana.

Perempuan dryad itu terpeleset jatuh karena ada lubang menganga saat dia berlari, dan tidak sengaja melihat ke belakang. Tubuh Cialla jatuh di atas reruntuhan atap rumah lain, dan dia segera berguling lalu mencari jalan keluar melalui pintu yang sudah roboh.

Ayunan pedang hampir mengenai wajah Cialla jika dia tidak gesit memundurkan tubuhnya ke belakang. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping, dan melemparkan cakra di tangan, sehingga pergelangan tangan dëia yang menyerangnya tertancap pada tiang kayu rumah. Lalu Cialla melompat ke depan sembari menghunuskan cakra yang satunya lagi, di mana telapak tangan dëia itu langsung terkena serangannya. Satu bangsa dëia berubah menjadi abu.

Cialla mengambil kedua cakra setelah itu berlari lagi, dan mencari-cari saudari-saudarinya. Terpaksa dia membiarkan para prajurit berjuang sendiri-sendiri, karena dia tidak bisa membantu semua orang. Di seberang dekat tempat yang dulunya sebuah taman, tampak Can’ Ara sedang bertempur bersama putri Thaira. Bergegas Cialla berlari menghampiri keduanya.

“Kita harus mundur ke istana. Jika terus bertahan di sini, semua akan mati!” seru Cialla.

“Perintahkan para prajurit untuk bertahan di istana, Putri!” kata Can’ Ara.

“Tapi, jika kita semua di sana, itu hanya akan menjadi tempat kita terjebak!” Putri Thaira mengayunkan kapak, menebas pada dada dëia yang menyerang. Setelah itu Can’ Ara langsung melesatkan anak panah yang langsung menembus telapak tangan. Satu dëia lagi binasa.

“Semua manusia akan mati sia-sia, karena kita tidak bisa melawan semua bangsa dëia!” kata Cialla.

Putri Thaira bergerak mundur, berbarengan dengan Cialla dan Can’ Ara.

“Mundur! Mundur ke istana! Semuanya!” teriak putri Thaira dengan suara serak. “Pertahankan istana, cepat mundur!”

Suara saling sahut-menyahut menitahkan untuk mundur terdengar di mana-mana.

“Di mana Can’ Eru?” tanya Cialla dan matanya mencari-cari sosok saudarinya yang satu lagi.

“Aku tidak tahu, dia bersama Lord Raignald!” balas Can’ Ara.

Cialla berlari melesat mendekat pada barisan pohon dan tubuhnya mencelat naik ke atas. Langkahnya begitu luwes saat berlari di atas dahan-dahan pohon. Serangan bola-bola api menukik dan menyerang ke arah pepohonan. Cialla merunduk berkali-kali, untuk menghindari serangan.

Di dekat kediaman Crusel, tampak Can’Eru dan Lord Raignald terkepung, sedangkan prajurit-prajurit di sekitar mereka telah gugur.

Can’ Eru menghunuskan kedua pedangnya untuk menahan serangan gada besar dari sesosok bangsa dëia. Lemparan cakra Cialla menembus pada tangan bangsa dëia yang sedang menggenggam itu. Lalu Can’ Eru mengayunkan pedangnya, hingga membuat pergelangan tangan dëia itu putus.

Can’ Eru melemparkan cakra ke tangan Cialla. “Dari mana saja kau?” sahutnya dengan napas terengah-engah.

“Kita harus mundur, kembali ke istana. Sekarang,” kata Cialla tak mengindahkan pertanyaan Can’ Eru.

Keduanya langsung bertempur dan berusaha memukul mundur pasukan bangsa dëia yang mengepung sebelumnya. Sembari terus melangkah mundur sebisa mereka. Tampak raja Lord Raignald sudah kelihatan sangat lelah, dia menatap nanar pada Cialla dan Can’ Eru yang masih gigih berjuang.

Mata sang raja melihat ada bola api datang sekonyong-konyong dari arah samping, yang tidak disadari oleh Cialla dan Can’ Eru.

“Awas!” teriak raja Lord Raignald.

Tiba-tiba sebuah bola api melesat ke arah kedua dryad, sang raja mendorong tubuh mereka dengan sekuat tenaga. Tubuh raja Lord Raignald melesak ke permukaan tanah, sebagian tubuhnya terbakar. Cialla hendak menolong sang raja, akan tetapi raja dari Kota Vôld itu sudah tewas.

“Tidak!” lolong Cialla marah.

Can’ Eru langsung menarik lengan Cialla. “Kita harus pergi. Sekarang, Cialla.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!