The Quest for The Lost Inheritors

Kota yang Menjadi Gelap Gulita

Padang rumput yang sebelumnya ditumbuhi oleh jenis pampass kini sudah hangus, tampak banyak rumput pampass yang luput terbakar, tapi nasib mereka pun sama buruk. Patah dan hancur terinjak-injak.

Para centaur terhenyak ketika mereka tiba di kota Pílghym, setelah berderap selama tiga malam tanpa istirahat, yang ditemukan tidak berbeda jauh seperti kota para nymph air. Mereka tiba di waktu malam, saat rintik-rintik hujan datang.

“Berhati-hatilah,” ucap Akoéta pelan.

Beberapa centaur melangkah menuju ke dalam gerbang awal, bebatuan hancur berantakan, seolah ada lubang besar di tengah gunung. Ketika dirasa sudah aman, yang lain pun ikut menyusul. Mereka melewati gerbang yang menganga hancur, meneruskan langkah memasuki terowongan gelap.

Tercium bau sangit yang masih pekat, dan begitu sunyi di sana.

“Kita membutuhkan penerangan, Akoéta,” ucap salah satu centaur.

“Tidak, aku masih ragu. Karena kita tidak tahu apa masih ada bangsa dëia di dalam sana.”

Mereka terus berjalan, kurang lebih satu mil hingga mencapai gerbang utama ke kota Pílghym. Di sana tampak ada penerangan, meski samar. Semua siaga, karena mereka takut bahwa masih ada pasukan bangsa dëia di dalam sana. Pedang-pedang terhunus, anak panah siap diluncurkan, lalu semua berjalan mengendap memasuki gerbang utama yang juga sama-sama hancur.

Rupanya di dalam kota itu benar-benar kosong. Adanya penerangan karena bagian kota yang masih terbakar api. Beberapa centaur bergegas mengumpulkan kayu, dari bagian-bagian ceruk, dan rumah-rumah yang hancur. Mereka mematikan api yang membahayakan. Dan membuat api unggun, untuk penerangan sementara.

Setelah itu, para centaur beristirahat. Meski tidak bisa dikatakan tenang, karena tak menemukan siapa pun di sana. Hanya abu dan debu.

“Sudah berapa lama bangsa dëia menghancurkan tempat ini?” gumam salah satu centaur.

“Kurasa belum lama, sepertinya mereka sudah menangkap semua teman-teman kita.”

“Seharusnya ada tanda-tanda, tapi ini tidak ada sama sekali.”

Akoéta berpikir, jika memang seluruh bangsa dwarf dan pelarian dari Lamvorels ditawan, pasti sedikitnya ada perlawanan. Namun, seolah-olah kota ditinggalkan. Lalu ke mana semua pergi?

“Apa ada hal lain yang janggal?” tanya Akoéta.

“Kami menemukan tumpukan abu hitam, tapi entah apa itu. Berbau sangit yang menyesakkan, kami tak mau mengusik atau memeriksanya lebih lanjut,” jawab salah satu centaur.

“Sepertinya kita tidak bisa beristirahat begitu saja,” gumam Akoéta.

Lalu dia beranjak dari duduk, dan melangkah hati-hati memeriksa tiap-tiap tumpukan abu yang begitu ganjil. Di sekitarnya ada batu tertumpuk berantakan, seolah terjadi ledakan sebelumnya. Ada sesuatu yang menarik perhatian Akoéta, sebuah celah memanjang di permukaan lantai kota yang menganga. Seperti permukaan itu ditebas oleh senjata atau sesuatu, yang berakhir pada tumpukan abu tersebut.

Tidak mungkin para dwarf membiarkan celah itu, pasti mereka akan memperbaikinya. Karena disebut sebagai seni pun tampaknya mustahil. Celah tersebut ada baru-baru ini, kemungkinan besar terjadi perlawanan atau pertempuran, tteapi entah siapa yang menang dan siapa yang mundur.

Lalu Akoéta mendekat lagi ke arah tumpukan abu, dia mengorek-ngorek dengan kayu yang dibawanya. Memang baunya sangat menyengat, ada campuran mesiu, tetapi bukan. Dia terdiam beberapa saat, lalu dia melihat ada perhiasan gelang bulat yang ukurannya cukup besar. Semakin penasaran, dia mengorek tiap tumpukan abu, dan menemukan perhiasan yang sama.

“Astaga! Aku tahu apa ini!” serunya antara ngeri dan tak percaya.

Beberapa centaur menghampiri Akoéta.

“Tumpukan abu apa itu?” tanya salah satunya penasaran.

“Ini, abu dari tubuh bangsa dëia. Aku kira begitu, karena ada gelang di tiap tumpukan abu, dan para kurcaci meski mereka menyukai perhiasan dan hasil tambang, mana mungkin ukurannya pergelangan tangan mereka sebesar itu,” jelas Akoéta.

Wajah-wajah centaur lain memucat, dan mereka tampak mual. Semuanya menjauh dari tumpukan abu, termasuk juga Akoéta. Lalu semuanya berdiskusi di area kota yang jauh dari tumpukan abu, di mana mereka sadar itu adalah pemakaman masal bangsa dëia.

“Apa yang membuat bangsa itu bisa hancur menjadi abu?” Satu centaur bergidik. “Kekuatan apa?”

“Mungkinkah bangsa dwarf memiliki senjata yang bisa memusnahkan dëia? Kita pun tahu, mereka memiliki senjata yang jauh lebih maju dibandingkan makhluk mana pun di muka bumi,” tambah yang lain.

“Jika memang benar, mereka pasti masih tetap bertahan di kota ini,” sanggah Akoéta. “Bukan, ini sesuatu yang lain.”

“Para elf?”

“Kita pun tahu, para elf tak berdaya melawan kekuasaan bangsa dëia,” seloroh Akoéta.

Akoéta berpikir, apakah ada kekuatan lain di bumi Khali yang tidak diketahui? Hal seperti ini harus ia tanyakan pada Wédéal. Sebetulnya sumber pengetahuan ada di Avesdâk, akan tetapi Avesdâk sudah tewas. Entah jika Néverlër dan Nevêrther pun mengetahui hal ini.

Dia sempat mendengar, ada pewaris kekuatan, elf muda bernama Findarel, yang didengarnya saat Néverlër bicara dengan Élsus. Jika itu adalah Findarel, sudah pasti bukan, karena elf muda itu pergi dengan Aldérin ke utara.

Mungkinkah ada pewaris kekuatan lain? Yang berpihak pada aliansi, dan ikut memusuhi bangsa dëia?

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Mencari bangsa dwarf dan elf yang lenyap begitu saja?” tanya salah satu centaur.

“Jika mereka selamat, aku tak tahu mereka lari dan bersembunyi di mana. Mereka pasti memiliki tempat persembunyian yang takkan diketahui oleh siapa pun,” jawab Akoéta. “Akan sulit bagi kita melakukan pencarian. Sedangkan bangsa dëia pun pasti akan lebih banyak di luar sana. Kita harus berhati-hati.”

“Kita hanya akan tinggal di sini? Dan tak melakukan apa pun, Akoéta?”

“Kurasa menunggu adalah hal paling tepat kita lakukan,” kata Akoéta. “Karena aku yakin, pasukan dryad pasti sedang dalam perjalanan ke mari. Kurasa berembuk dengan mereka, akan lebih baik.”

Ada dengkusan pelan terdengar. “Jika para dryad datang ke Cilticpën, dan melihat semua sudah hancur. Bagaimana jika mereka memutuskan lari, dan tidak mau bertempur?”

Akoéta menggeleng cepat. “Mereka adalah pasukan pemberani dan setia. Apalagi ratu nymph air dan ratu dryad bersahabat, tentu ratu Reŷanim akan membalaskan dendam ratu Titelénta.”

Ada pasukan centaur lain yang kembali setelah berkeliling sebagian area kota Pílghym.

“Ada tempat penempa besi dan bahan-bahan untuk membuat senjata, kurasa kita bisa memanfaatkan itu semua. Untuk mempersenjatai bangsa kita,” sahut salah satu dari mereka.

“Tentu saja. Kita memang sudah bersenjata, tapi tambahan senjata akan lebih bagus. Buatlah tombak-tombak ringan tapi bermata tajam,” usul Akoéta.

“Kami juga menemukan bijih-bijih besi yang bagus untuk mata anak panah. Juga jenis kayu yang kualitasnya baik.”

“Sembari menunggu, kita sebaiknya membuat itu semua. Tameng, zirah, apa pun itu,” kata Akoéta.

Para centaur bergerak, tidak beristirahat. Mereka sibuk membuat senjata, untuk bekal mereka saat melawan bangsa dëia nanti. Sembari menunggu kedatangan ratu Reŷanim dan pasukannya.

*

Kerikil dan pasir beberapa berjatuhan dari dinding Kota Pílghym, para centaur yang sedang berjaga di pintu gerbang utama langsung waspada. Mereka memberi isyarat pada yang lain, untuk segera menghentikan kegiatan apa pun, termasuk suara-suara dentangan nyaring dari pengrajin senjata. Begitu melihat tanda yang ditunjukkan oleh kibasan obor, para centaur siaga dan mengangkat senjata mereka.

Ada yang datang.

Dari dalam terowongan tampak bayangan sosok-sosok bertubuh jangkung, berbaris, berjalan tanpa suara ke dalam kota. Lambat laun, penjaga di gerbang tersadar, bahwa itu ratu Reŷanim dan bangsa dryad yang datang.

“Syukurlah!” seru centaur pengawas di gerbang.

Raut wajah lega ditunjukkan juga oleh para dryad yang datang. Meski mereka tampak bingung, karena di dalam kota hanya ada bangsa centaur. Bergegas Akoéta menghampiri ratu Reŷanim, membungkuk dan menganggukkan kepalanya memberi hormat.

“Di mana penghuni kota? Apa mereka musnah seperti di Cilticpën?” Ada nada khawatir dan ketakutan dari suara sang ratu. Dia merasa belum siap, harus menerima kehancuran dan terminasi tiap bangsa yang dilakukan oleh bangsa dëia.

“Kami rasa, semua sudah berhasil keluar dari sini tepat waktu, Yang Mulia,” jawab Akoéta.

Para dryad segera bergabung dengan centaur, mereka membantu memisahkan senjata-senjata sesuai klasifikasinya. Seolah tanpa perintah pun, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Para centaur menutup sekitar tumpukan abu dengan reruntuhan batu di sekelilingnya, sehingga menari perhatian ratu Reŷanim.

“Apa di sana itu?” tunjuknya penasaran.

“Makam masal bangsa dëia, yang sudah menjadi abu,” jawab Akoéta.

“Bangsa dëia?” Mata sang ratu membelalak. “Tetapi, bagaimana mungkin? Kekuatan mengerikan macam apa yang bisa memusnahkan bangsa darah dan api itu, menjadi abu? Tampak mustahil.”

“Itu yang masih merupakan misteri bagi kami.”

Sang ratu hanya berdecak, lalu dia duduk di atas puing-puing bebatuan. Dia melihat ke sekeliling kota yang sebagian hancur, meski gunung masih bertahan dengan kokohnya.

“Yang kutakutkan bangsa dëia kini akan mencari bangsa lain untuk mereka hancurkan,” gumam ratu Reŷanim. “Satu-satunya yang kukira masih bertahan, dan tidak tahu apa-apa, adalah bangsa manusia.”

Akoéta mengiyakan dengan anggukan. “Ada beberapa kota besar milik manusia, Vôld, Hail, dan Aldérin mengatakan sebuah kota lain di utara. Di mana tempat batu Ratera berada.”

“Kita harus pergi ke kota terdekat, kami para dryad tidak tahu di mana letak kota-kota itu, tetapi pepohonan selalu membisikkan arah yang tepat,” kata sang ratu.

“Kota yang paling terdekat dengan tanah air kami sebelumnya adalah Vôld,” sahut salah satu centaur. “Jalur terdekat melewati Kota Lamvorels, tapi bukankah Lamvorels dikuasai oleh bangsa dëia?”

“Betul, itu yang kutakutkan. Apa kita harus memutar? Atau pergi menuju Hail lebih dulu?” balas centaur lain. “Ini keputusan yang cukup sulit.”

“Pasti bangsa dëia sudah mengarah pada Kota Vôld, karena itu yang terdekat dengan mereka. Bisa saja, mereka sudah berangkat ke sana untuk melepaskan serangan,” seloroh ratu Reŷanim.

“Apa kita sebaiknya ke Hail?” tanya Akoéta.

Sang ratu menggeleng. “Jika bangsa dëia menyerang manusia, mereka pasti sudah mengosongkan kota para elf dan bergerak menuju Vôld. Saranku, kita sergap mereka dari belakang.”

“Tapi bagaimana jika kita justru yang terjebak di perangkap?” balas Akoéta.

“Bukankah para Takala seharusnya sudah tiba di Hail? Jika mereka berhasil meyakinkan para manusia, aku yakin bangsa manusia akan bertahan di satu kota. Antara Hail atau Vôld. Mereka akan tahu kita pun datang, aku percaya dengan sergapan di belakang, bangsa dëia takkan mungkin memperkirakan hal itu,” jelas ratu Reŷanim panjang lebar.

“Kita semua pergi ke Vôld,” putus Akoéta yang dibarengi anggukan setuju ratu bangsa dryad.

 Lalu Akoéta pun beranjak dari sisi ratu Reŷanim dan berkata lantang pada semua makhluk yang ada di sana. “Kita akan pergi di pagi esok, siapkan semua senjata, zirah, pastikan pakai yang ringan dan tidak berat. Karena perjalanan kita cukup panjang. Aku tak ingin para centaurlan terbebani karena pakaian dan senjata yang terlalu banyak.”

Beberapa dryad menghampiri sang ratu.

“Kami membutuhkan banyak anak panah, sayangnya, di sini hanya ada anak panah tanpa ujung bulu. Padahal, mata logam dari Kota Pílghym sangatlah bagus dan ringan.”

“Apakah ilalang pampass bisa digunakan sebagai pengganti bulu? Mereka cukup kokoh,” usul seorang centaur. “Mungkin memang tidak sebaik bulu burung, tapi bisa dicoba.”

“Pampass memang memiliki ujung seperti bulu, ringan akan tetapi kuat,” gumam ratu Reŷanim.

“Di luar kami masih menemukan banyak pampass yang bertahan, akan kami lihat,” angguk sang dryad.

“Kami akan membantu membuatnya. Semoga hingga esok pagi, kita bisa mendapatkan anak panah cukup banyak untuk persediaan,” sahut Akoéta.

Lalu semua bergerak dengan cepat, untuk persiapan keberangkatan ke kota manusia, esok pagi.

Ratu Reŷanim hanya tertegun di tempatnya sembari menatap pada makam abu bangsa dëia, hatinya terus bertanya-tanya. Kekuatan macam apa yang bisa menghancurkan makhluk itu? Siapa yang melakukannya. Lalu di mana sosok itu berada sekarang?

Seolah-olah, sosok misterius yang datang dan pergi, tidak pernah diketahui sebelumnya. Seolah memang dihapus dari sejarah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!