The Quest for The Lost Inheritors

Plot yang Dicari dan Mencari

Keld membawa nampan berisi makanan lalu menyodorkannya ke dalam sebuah lubang kecil seukuran nampan di bawah jeruji. Ia menatap pada Aldérin yang duduk termenung, sembari melihat ke celah pada atas dinding penjara yang menyorotkan sedikit sinar matahari. Keld mendesah pelan saat mendapati nampan semalam sama sekali tak disentuh oleh elf itu, yang kini sudah berada di luar jeruji.

“Setidaknya makan saja sedikit, Tuan,” kata Keld. “Agar kau tak jatuh sakit.”

Aldérin menoleh, lalu tersenyum simpul. “Terima kasih, aku tidak lapar,” jawabnya.

Bukannya meninggalkan Aldérin, Keld malah duduk dan memperhatikan elf itu. Sedikitnya ia merasa kasihan, bahkan dia tidak menyangka bahwa Aldérin bakal menjadi salah satu tahanan penjara kota.

“Apa ada yang bisa kubantu, Tuan Varwendil?” tanya Keld. “Ini memang aneh, bahkan aku tak pernah melakukannya selama 30 tahun menjadi penjaga penjara kota, akan tetapi, sekali dalam seumur hidup, tak apalah. Lagipula, hanya kau satu-satunya penghuni di penjara ini, selama lima tahun terakhir.”

Aldérin terkekeh. “Tentu sangat merepotkanmu, Tuan,” katanya.

“Oh tidak … sama sekali tidak. Namun, menimbulkan dua sisi dalam pikiranku,” kata Keld, yang ditanggapi Aldérin dengan tatapan ingin tahu. “Satu, aku merasa pekerjaanku tidak sia-sia karena ada tahanan, maaf. Dan di sisi lain, perasaanku sedikit sedih karena kau adalah tahanannya,” lanjutnya.

“Kau hanya melakukan pekerjaanmu, Tuan Keld,” kata Aldérin. “Bahkan aku takkan pernah menyimpan dendam padamu. Lakukanlah tugasmu dengan baik.”

“Tetapi … apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu? Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahku,” tawar Keld, lagi.

“Sebenarnya,” Aldérin membuka gelang di tangannya. Lalu menyodorkan ke bawah lubang dan menaruhnya di lantai. “Bisakah kau berikan pada Findarel? Aku hanya ingin dia tak merasa kehilangan atas diriku. Itu jika kau ada waktu luang.”

“Akan kusampaikan sesegera mungkin. Oh, apa kau tahu sakitnya semakin parah? Tadi Malda datang kemari, ia yang mengatakannya,” ujar Keld. Wajah Aldérin mendadak pucat. “Lya dan adik-adiknya mengurus dia, jangan khawatir, Tuan Varwendil. Mereka bisa diandalkan. Percayalah,” lanjut Keld.

Aldérin menatap sedih pada Keld. “Kepercayaan adalah yang kubutuhkan saat ini, Tuan Keld. Tapi lihatlah apa yang terjadi padaku.”

“Tidak semua orang buruk, Tuan,” kata Keld. Suaranya mendadak merendah. “Namun, pengecualian untuk si tua Crusel. Dan apa yang akan kukatakan ini merupakan peringatan sekaligus juga pemberitahuan: bahwa ia akan meyakinkan dewan kota, agar kau diadili oleh penasihat raja! Ini gila! Bahkan dalam ratusan tahun, hal ini belum pernah terjadi di Hail. Tidak sejak jaman Hering Bluelock.”

“Itu berarti, Raja pun akan menghadiri sidang itu?”

“Ya! Tentu saja,” kata Keld. “Namun, merupakan kabar buruk. Karena bisa saja apa yang terjadi pada Hering di masa lampau, dapat terjadi padamu.”

“Kita lihat saja, Tuan Keld.”

“Yah, kau tidak sepenuhnya salah, Tuan Varwendil.” Keld beranjak berdiri, lalu mengambil nampan sisa semalam. “Dua hari ke depan, keputusan itu akan diambil oleh dewan kota. Namun, melihat sikap Tuan Gargôl, kurasa kau akan menghadapi persidangan yang disaksikan oleh Raja sendiri.”

“Dan sebaiknya kutunggu saat itu, untuk mendapat peradilan yang layak.”

Keld mengangguk setuju. “Malda membawakan buah dan roti untukku, tapi … aku sudah sarapan. Apa kau mau kugantikan makanan itu dengan yang dibawa oleh Malda?”

“Aku hanya membutuhkan air, Tuan Keld.”

“Dan sedikit buah!”

Aldérin hanya terkekeh mendapati sikap keras Keld. Lalu ia pun mengangguk setuju tanpa berargumen lagi. Keld bergegas keluar dari ruang tahanan, suara pintu di ujung lorong berdebam ketika tertutup. Suasana mendadak hening lagi, seperti saat Aldérin merenung sendirian. Mendadak, tubuh Aldérin merasakan sengatan. Ia tersentak, menyandarkan tubuhnya pada dinding dan meredakan rasa sakit yang amat sangat itu. Rasa sakit yang datang bukan dari fisik semata, melainkan pahitnya kenangan. Dia bisa mencium gelagat tak beres. Bangsa dëia telah menapakkan jejaknya di kota itu.

Mereka datang ke Hail.

*

“Selamat pagi, Cahreb!!” sapa Keld ketika ia keluar dari penjara kota sembari membawa nampan berisi makanan basi, ia pun membuang begitu saja isi  dari nampan di halaman penjara kota dan berpikir anjing-anjing liar pasti memakannya sampai habis.

Seorang pemuda tampan berusia 20-an yang sibuk mencabuti rumput, mendongakkan kepala dan melambai pada Keld. “Pagi, Tuan Fielgreen!” balasnya. “Kudengar ada seorang tahanan di dalam sana, eh?” tanya Cahreb.

“Ya,” jawab Keld. Buru-buru ia menghampiri Cahreb, sembari berbisik pelan ia mengatakan, “Karena itulah, aku membutuhkan bantuanmu.”

“Bantuan apa?”

“Bisakah kau berikan ini pada Lya di rumahnya? Untuk si bocah malang, tentu ia akan mengerti,” kata Keld, sembari merogoh saku celananya. “Sebenarnya aku bisa mengantar ini, siang nanti. Tetapi kurasa lebih cepat diserahkan, itu lebih baik.”

“Wah, perhiasan yang bagus sekali.” Cahreb mengangkat gelang itu tinggi-tinggi, dan amat antusias memperhatikannya. “Jika dijual, ini akan sangat mahal sekali.”

“Turunkan benda itu! Astaga!” pinta Keld, jengkel.

Namun, dua pasang mata telah mendapati pemandangan itu. Si penarik kuda bergegas menghampiri Keld dan Cahreb. Ia menganggukkan kepala dengan sikap sopan, sedangkan yang satunya hanya duduk di atas pelananya, mengawasi dengan tatapan mata tajam.

“Selamat pagi!” sapanya.

“Pagi,” balas Cahreb dan Keld, berbarengan.

“Maaf, kami sedikit tersesat. Bisakah kalian memberitahukan di mana letak Deliret House?” pintanya. Ia menatap pada gelang yang baru saja dimasukkan oleh Cahreb ke dalam saku celananya. “Omong-omong, itu gelang yang bagus.”

“Lurus terus ke arah timur,” kata Keld, ketus. “Dan tolong tinggalkan kami.”

“Tuan Fielgreen,” bisik Cahreb, memperingatkan. “Mereka tamu asing. Sedikitnya kau harus memberikan keramahan sebagai penduduk kota Hail.”

“Bah!” Keld membuang muka, jengkel.

“Maaf, Tuan ini memang sedikit kasar pada pendatang,” kata Cahreb, pada pria itu. “Kau tahu, pekerjaan menjadi sipir kadang mempengaruhi sikap seseorang.”

“Aku mengerti,” jawabnya, tanpa tersinggung. “Sebagai sipir penjara, tentu harus menunjukkan ketegasan. Sebaiknya aku pergi. Sampai jumpa lagi, Tuan ….”

“Keld Fielgreen,” potong Keld.

Ia tersenyum penuh arti. “Selamat tinggal, Tuan Fielgreen.”

“Untunglah dia tak marah,” sahut Cahreb. “Apa kau bermasalah lagi dengan istrimu, Tuan Fielgreen? Sikapmu sedikit aneh.”

“Orang-orang itu memberikan entahlah, perasaan tak enak,” kata Keld. “Dan aku sama sekali tak bertengkar dengan Paltis! Cepat pergilah!”

“Baik, Tuan!!”

Firasat Keld tidak salah. Tidak untuk saat ini. Perasaan yang ia tunjukkan pada orang asing itu, merupakan perasaan yang dirasakan oleh Alderin di saat yang bertepatan ketika rasa sakit menjalari tubuhnya.

Namun yang Keld tak ketahui adalah, ada gerangan apa yang dilakukan oleh kedua orang asing tersebut? Yang tak lain merupakan sosok Gôntra juga Yähgé di balik kulit penyamaran mereka.

*

Newtor dan Larker menunjukkan raut ngeri dengan benda-benda tajam yang ada di dalam kantung bawaan milik Aldérin, meski mereka pun terpukau dengan keindahan benda-benda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Lya tidak menemukan benda yang tepat, (dalam pandangannya) yang berkaitan erat dengan Lamvorels maupun mendekati kota elf tersebut.

Sebilah senjata takkan bisa mengobati kerinduan Findarel pada rumah, bahkan itu dapat memperburuk keadaannya! Meski Findarel sudah berusia 54 tahun, Lya berpikir mungkin bocah itu memerlukan kenangan akan mainan atau selimut usang yang sering di bawa ke sana ke mari, layaknya Larker.

“Oh, ini sama sekali tak berguna,” keluh Lya, sembari memasukkan lagi semua benda-benda itu, sebelum salah satunya dimainkan oleh Newtor baik Larker.

“Bagaimana jika kupinjamkan boneka beruangku?” usul Larker. “Dia pun boleh memakai selimutku. Tapi tidak untuk selamanya ….”

“Dia membutuhkan sesuatu dari rumah, Lark.”

“Boneka dan selimutku ada di dalam rumah,” Larker bersitegas.

“Rumahnya, bukan rumahmu,” kata Lya, jengkel.

“Kenapa tidak?” kata Newtor. “Lark sayang sekali pada benda-benda anehnya itu, mungkin ada keajaiban tersimpan di sana!”

Untuk anak seusia Newtor, hal-hal berbau magis masih terikat kuat pada benaknya. Meski beberapa menganggap bahwa itu hanya kelakuan konyol. Namun, Newtor adalah bocah berusia delapan tahun dengan daya khayal tingkat tinggi.

“Lark tidak pernah terpisah dari benda kesayangannya! Pernahkah kau berpikir bahwa di sana (mungkin) makhluk halus bersarang? Hantuuuu ….”

Larker mengerang keras lalu menangis meraung, takut dengan perihal hantu atau sejenis makhluk halus yang Newtor katakan.

“NEWT!! Cukup!!” bentak Lya. Ia menarik kedua bocah itu keluar dari kamar. Sembari berkacak pinggang ia berkata, “Lark, tidak ada yang namanya hantu! Dan kau boleh meminjamkan benda kesayanganmu itu pada Findarel.

Larker tersenyum, karena dibela. Ia bergegas kembali masuk ke dalam kamar, meninggalkan Lya dan Newtor.

“Tolonglah, Newt. Jangan membuat masalah. Kita berada dalam keadaan yang tidak menentu saat ini. Dewasalah!” lanjut Lya. “Kalau ayahmu tahu kelakuan konyolmu ini, dia akan memukul tanganmu dan membiarkanmu mati kelaparan!”

“Oh tentu saja,” Newtor mengejek. “Tetapi dia takkan kembali, dia pergi jauh, dan memilih bersenang-senang dengan wanita lain!!”

Lya kehabisan kata-kata. Kehilangan dua sosok ayah sudah membuatnya amat lelah. Setelah kehilangan ayah kandung, kesehatan Malda mulai menurun. Sering ia jatuh sakit, karena memikirkan mendiang suaminya.

Beberapa tahun kemudian, Malda bertemu dengan Gast Kartow, pria yang pernah dianggap Lya mungkin bisa menjadi sosok ayah baru untuknya dan Thane. Kesehatan Malda mulai membaik setelah ia menikah dengan Gast (meski Lya dan Thane tetap memakai nama ayah kandung mereka), bahkan ia melahirkan Newtor juga Larker Kartow. Kebahagiaan pun berangsur dirasakan oleh Malda.

Sayang, itu tak berlangsung lama.

Saat Larker berada dalam kandungan, ayah tirinya pergi entah ke mana. Dan tak pernah kembali lagi. Hal ini semakin memukul batin Malda, sehingga sakitnya sering menjadi, meski tak ada satu tabib pun yang tahu apa sebab penyakit Malda. Hal ini pula yang membuat Thane semakin yakin untuk pergi ke utara dan mengobati penyakit ibunya.

“Jika aku tak ada, kaulah kepala keluarga di sini, Newt,” kata Lya. “Aku yakin, kau jauh lebih hebat dari ayah kita maupun Thane. Tetapi kau harus bersikap baik, dan menjaga Ibu juga Larker. Apa kau mau melakukannya? Untuk kita semua?”

“Kurasa …,” jawab Newtor, sedikit enggan. “Aku masih terlalu kecil untuk itu.”

Lya menggeleng. “Tidak, Sayang. Kau sudah besar, kau adalah kebanggaan keluarga. Aku percaya padamu,” katanya.

“Benarkah?” Newtor meyakinkan.

Lya mengangguk.

“Jika ayah kembali, apa aku boleh tak membiarkannya masuk ke dalam rumah?”

Lya terkekeh pelan, butiran air mata mendadak saja membasahi pipinya. “Itu keputusanmu. Mana yang baik, mana yang buruk, kau yang memilihnya.”

“Aku takkan mau menerimanya!” kata Newtor, tegas. Kedua tangannya tiba-tiba saja terulur, menyentuh kedua pipi Lya. “Jangan menangis, Lya. Aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi kepala keluarga. Kau bisa mempercayaiku.”

“LYAAA!!!” teriak Larker dari dalam kamar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!