The Quest for The Lost Inheritors
Penyelidikan Crusel
Lya menatap pria jangkung, gagah, tampan, berambut panjang itu. Dia terpukau, tetapi merasa sedikit janggal terhadap diri laki-laki tersebut. Sebilah pedang panjang bersandar di punggungnya, dan pandangan matanya itu, begitu dingin, seperti dia tercipta dari bongkahan es.
“Bantu dia.” Pria itu berkata. Wajahnya mendadak sendu. “Aku tak dapat melakukan apa pun agar ia membaik, meski aku berusaha melindunginya. Hatinya terluka … dalam.”
“Siapa?” tanya Lya, bingung.
“Pewaris Andilosh.” Matanya lurus menatap pada Lya. “Berikan ia rasa aman, kembalikan apa yang menjadi semangat hidupnya. Aku yakin, kau bisa melakukan itu semua. Kau adalah makhluk penuh kasih sayang ….”
Sosok pria itu mulai memudar, bahkan warna-warni di sekitarnya pun perlahan menghilang. Lya panik, bahkan ia tak bisa mengatakan sepatah kata pun.
“Hati yang hilang akan kembali, apabila ada yang mau berkorban tanpa rasa pamrih ketika melaksanakannya. Tolonglah Findarel, Lya….”
…
“Findarel!” seru Lya. Ia terbangun dengan tubuh menggigil karena rasa beku yang amat sangat. Ia heran, karena saat itu bukan musim dingin, melainkan akhir dari musim semi, yang berarti cuaca mulai berubah menjadi lebih menyengat. Saat Lya menatap kedua telapak tangannya, lagi-lagi ia dikejutkan karena warnanya putih pucat, seolah bermain seharian di padang salju.
“Sampai kapan kau akan tidur?” Wajah Newtor menyembul dari balik pintu. Ia menghampiri Lya dan duduk di tepi ranjang, menatap agak aneh pada Lya yang kelihatan belum pulih benar dari tidurnya. “Ada apa?”
“Lihat ini,” tunjuk Lya pada telapak tangannya. Newtor menatapnya, akan tetapi ia melihatnya tanpa antusias. Lya menyentuh lengan adiknya, “Aneh, bukan?”
“Astaga!!” Newtor menarik tangannya. “Dingin sekali! Kau sakit?”
Lya menggeleng. “Bahkan aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Ini ganjil.”
“Omong-omong mengenai masalah ganjil, menurutku ada yang aneh pada si Findarel,” bisik Newtor. “Tubuhnya panas sekali, dan bandul di dadanya itu terus menerus bersinar. Terlebih, ia tak mau menanggalkan syalnya!”
“Findarel?” Lya tersentak.
Ia buru-buru bangkit dari tempat tidur, bahkan lupa memakai sandalnya. Lya memburu masuk ke kamar kedua adiknya, dan mendapati Findarel terbaring di tempat tidur ditemani Larker yang duduk di sampingnya, menatap dengan prihatin.
“Dia sakit,” kata Larker. “Semalam ia demam, tetapi ia tak mau memakan obat, meski Ibu memaksanya. Katanya ia ingin pulang.”
“Oh … kasihan,” gumam Lya, iba. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah, bisakah kalian melakukan sesuatu untukku? Tetapi ini membutuhkan tanggung jawab yang besar, dan kalian harus berhati-hati,” tanyanya pada Newtor dan Larker.
“Ya!” jawab Larker penuh semangat. Sebagai anak berusia lima tahun, Larker sangat tertarik pada suatu hal yang membutuhkan tanggung jawab besar. Berarti ia dianggap selangkah lebih dewasa, dan itu merupakan suatu kehormatan.
“Pergilah ke Warren’s Hut, katakan pada Paman Blud bahwa aku memerlukan barang-barang milik Tuan Aldérin,” perintah Lya. “Katakan, ini semua untuk Findarel.”
“Ha! Aku yakin dia takkan mengijinkannya,” cibir Newtor. “Lya, Paman Blud takkan percaya! Terlebih terhadap kami.”
“Kalau begitu, katakan padanya agar ia menemani kalian sampai ke rumah! Dan berikan alasan bahwa Findarel benar-benar memerlukan pengobatan khusus, yang mungkin ada di dalam tas Aldérin. Nah, bergegaslah! Paman Blud akan mengerti!”
“Ayo, Lark!” ajak Newtor.
“Tetapi ibu meminta kita untuk menjaganya selama ia pergi ke Ärbyn,” ujar Lark.
“Lya yang akan menjaga. Ayolah!!” Newtor tak sabar.
“Ambil beberapa tin di mantelku, belikan tiga kantung gula-gula. Satu untukmu, Newt. Satu untukmu….” Lya mencubit gemas pada Larker. “Dan satu lagi, untuk Findarel, jika ia sudah sembuh.”
“Kami berangkat!” pamit keduanya, riang.
Suara gaduh langsung terdengar di kamar Lya ketika dua bocah itu mengambil beberapa koin. Lya hanya menggeleng-gelengkan kepala, mendapati sikap adik-adiknya yang begitu aktif, tetapi cukup ceroboh. Ia bisa mendengar celotehan mereka dari dalam kamar, dan menghilang setelah pintu depan tertutup keras.
Lya mendesah pelan, lalu menatap pada Findarel.
“Apa yang harus kulakukan untuk membantumu,” gumamnya, sedih.
*
Blud menaruh kantung besar itu di pintu depan, ketika Crusel dan beberapa orang prajurit menghampirinya. Newtor dan Larker langsung bersembunyi di balik punggung pamannya, bahkan mereka pun segan pada prajurit maupun orang-orang pemerintahan.
“Selamat pagi, Tuan Pramber!” sapa Crusel, ceria. Ia melemparkan senyuman pada Newtor dan Larker, yang dibalas dengan senyum kaku kedua bocah itu.
“Tuan Fardrown!” Blud membalas, seramah mungkin. “Pagi yang cerah sekali, kurasa kau sedang berjalan-jalan di hari seindah ini, heh?”
Crusel tertawa. “Tidak juga, kedatanganku kemari, karena peristiwa kemarin. Aku harus melihat barang-barang yang dibawa oleh Tuan Varwendil. Ini untuk penyelidikan.”
“Oh, tentu saja,” kata Blud. Ia melirik pada Newtor juga Larker. “Pergilah, dan bawa barang-barang ini pada ibumu. Dia mungkin membutuhkannya sekarang.”
Newtor mengerti, mengenai masalah ini ia jauh lebih paham dari Larker yang hanya menatap heran pada pamannya. Namun ia tak mengatakan sepatah kata pun, dan hanya mengikuti Newtor yang terburu-buru mengangkut tas milik si elf dari Lamvorels itu.
“Mari, Tuan Fardrown,” ajak Blud. Tubuhnya gemetar, karena membohongi si tua licik itu.
Namun Blud tak perlu khawatir bahwa Crusel akan mengetahuinya, itu dikarenakan Blud Pramber jauh lebih cerdik. Sebelumnya ia telah menyimpan satu dan dua jubah milik Aldérin di dalam lemari, dan kantung berisi buah kering, di atas meja. Sedangkan barang-barang lain yang kelihatan mencurigakan juga ganjil, ia berikan pada Newtor untuk disembunyikan.
Mereka naik ke lantai atas, suasana kaku dan canggung begitu terasa. Namun, Blud berusaha sewajar mungkin di depan Crusel, seperti mencari kunci kamar yang tepat tanpa tergesa dan membukakan pintu dengan santai.
“Aku ada di bawah jika kau memerlukan sesuatu,” kata Blud. Dan mengatakan itu akan terlihat ‘tak terlibat apa pun’ daripada menunggui Crusel di dalam kamar, dan bercakap-cakap pada suatu hal yang mungkin dapat menjebak di setiap saat.
“Kudengar Tuan Varwendil bersama seorang anak, dan di mana ia sekarang?” tanya Crusel tiba-tiba. Ia menatap Blud penuh curiga.
“Maaf Tuan Fardrown, kurasa kau takkan keberatan jika kutitipkan dia pada Malda, ibu dari Lya,” jawab Blud. “Ia sakit, dan tak mungkin ia tinggal di sini bersamaku, karena ia membutuhkan perawatan. Tetapi, jika kau ingin dia—”
Namun, Crusel langsung memotongnya. “Tidak apa-apa. Jika aku ingin mendapatkan informasi, aku tahu di mana dia berada,” kata si tua Crusel, tenang. “Merupakan tindakan bagus, menurutku, dengan menitipkan bocah malang pada orang yang bertanggung jawab. Karena pamannya bukanlah seseorang dengan sikap seperti itu.”
Blud hanya mengangguk-angguk, seolah setuju. Namun, berupa-rupa serapah ia tujukan pada hakim agung dari Hail itu di dalam hatinya. Ia bergegas pamit dan turun ke lantai bawah. Sedangkan Crusel, langsung saja memberi isyarat agar para prajurit menggeledah seisi kamar.
Sekitar setengah jam, Crusel dan para prajurit turun dari lantai atas, Blud bisa melihat kekecewaan di wajah sang hakim agung, meski ia menenteng jubah abu-abu milik Aldérin di tangannya, yang bisa dijadikan bukti khusus apabila dia benar-benar menghendakinya. Itu pun jika Liédik dan anggota dewan kota lain menganggap pendapat Crusel masuk akal.
“Minum, Tuan Fardrown?” tawar Blud. Daripada menanyakan ‘Apakah ada sesuatu yang kau dapatkan?’ Pertanyaan seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan.
Crusel menggeleng tegas. “Aku masih ada urusan,” katanya. “Dua ratus tujuh puluh antrian hari ini, dan tidak mungkin kuselesaikan sampai akhir minggu apabila aku terus menutup ruang persidangan. Bahkan banyak kasus yang tertunda beberapa minggu.”
“Kau sangat sibuk,” komentar Blud. “Aku takkan mungkin bisa berbuat banyak untuk orang lain, tidak sepertimu, Tuan Fardrown.”
Crusel terkekeh, merasa terpuji. Ia menganggukkan kepala pada Blud. “Nah, terima kasih atas bantuanmu, Tuan Pramber. Lain kali saja aku berkunjung.”
Blud mengembuskan napas lega ketika sosok Crusel dan para prajurit menghilang saat pintu masuk tertutup. Ia buru-buru mengintip dari balik jendela dan melihat Crusel masih menenteng-nenteng jubah sembari bercakap-cakap dengan salah satu prajurit. Blud tahu, Crusel takkan berhenti sampai di sana, oleh karena itu ia harus memperingatkan Lya.
Namun belum sempat ia mengunci dan menutup penginapannya, tiba-tiba saja pintu di dorong oleh seseorang, wajah pria itu menyembul dari balik pintu.
“Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa kubantu?” tanya Blud, sembari menatap heran.
“Aku tahu bahwa papan itu menunjukkan tanda tutup,” ia menunjukkan tanda yang terpasang di depan pintu. “Tapi aku memerlukan kamar. Apa kau keberatan?”
“Sebetulnya tidak, hanya untuk kamar. Namun aku tak membuat sarapan dan untuk makan siang nanti, bahkan mungkin makan malam,” kata Blud. “Keluargaku sedang sakit, dan aku harus mengurusnya. Kau bisa mencari penginapan lain, itu saranku. Masih banyak penginapan lain yang jauh lebih bagus dari milikku, Tuan.”
“Sayang sekali,” katanya, penuh kecewa.
“Cobalah ke Deliret House, itu penginapan yang cukup nyaman, mereka pun memiliki istal, jika kau mengendarai kuda kemari,” tawar Blud. “Pergilah terus ke arah timur, kau bisa melihat bangunan tinggi bercat biru muda, berhalaman cukup luas dan berpagar biru tua. Di samping toko roti Bersley’s. Memang agak jauh, tetapi mudah menemukannya.”
“Terima kasih.”
Pria itu segera pergi. Blud mengintip lagi dari jendela. Pria itu segera menarik kudanya menjauh dari Warren’s Hut, diikuti seorang wanita yang duduk di atas pelana kuda lain. Mereka berbincang, sebetulnya lebih kelihatan seperti berargumen.
Blud hanya berpikir, itulah masalah dalam rumah tangga. Sesuatu yang pernah ia rasakan, dulu. Dulu sekali. Ia menyunggingkan senyum, lalu beranjak dari tempat ia berada dan mengunci pintu penginapan. Blud berandai-andai, apa yang sedang Aldérin lakukan saat ini.