The Quest for The Lost Inheritors
Peringatan
Aldérin dan Lya yang baru masuk ke dalam penginapan, agak heran disambut berlebihan oleh Blud yang langsung menghampiri mereka, setengah berlari, ke pintu masuk. Mencium gelagat tak beres, Aldérin segera menanyakan perihalnya.
“Ada sesuatu terjadi pada Findarel?” tanyanya, cemas.
“Dia baik-baik saja,” jawab Blud, panik. “Tetapi hatinya amat terguncang, tadi ia menangis, aku memintanya istirahat di kamarku, temanku Keld menemaninya.”
“Tenang, Tuan Pramber. Ceritakanlah pelan-pelan,” sahut Aldérin.
“Biar kulihat keadaan Findarel,” sahut Lya. Ia melesat ke ruang belakang. Di mana dapur, yang bersebelahan dengan sebuah ruangan kecil tempat Blud istirahat.
“Ini bukan kebiasaanku turut campur dalam urusan pribadi pengunjung di sini, Tuan Varwendil,” kata Blud, tiba-tiba. “Aku sangat khawatir dengan Findarel, terlebih setelah ia menyanyikan sebuah lagu (dan sangat merdu, kuakui benar), ada sesuatu mengganggu perasaannya. Dan jelas, ini bukan semata-mata kematian keluarga yang disayanginya, akan tetapi hal yang lebih besar lagi.”
Menyadari Blud sangat serius dengan instingnya, Aldérin tidak mungkin hanya mengatakan, ‘Tidak apa-apa’, ‘Bukan masalah’, atau kata-kata penenang lainnya. Belum Aldérin mengatakan sesuatu, Blud langsung menangkas dengan pernyataan (lebih tepatnya, pertanyaan) lanjutan. Singkat, tetapi meregas batin Aldérin berkeping-keping.
“Apa itu dëia, Tuan Varwendil? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?”
“Bisa kita bicara berdua saja, Tuan Pramber?” tanya Aldérin.
“Yah, tentu. Aku ingin segalanya menjadi jelas,” jawab Blud. Ia membuat jeda sejenak. “Dan tolong, panggil saja aku Blud, Tuan Varwendil.”
Alderin tersenyum. “Kau pun bisa memanggilku Aldérin, kalau begitu.”
Di lain kamar, Lya mendapati Findarel yang masih terisak-isak, ditemani si tua Keld yang duduk termenung memperhatikan bocah itu tanpa daya apa pun tuk menghiburnya. Lya mengeluh pelan, ia mengambil gelas berisi air di atas meja lampu, duduk disamping Findarel dan menyorongkan gelasnya.
“Kau bisa kehabisan air mata jika terus menerus menangis,” kata Lya. Dengan sedikit paksaan, ia sodorkan lagi gelas itu. “Lekas, minum.”
Findarel yang membisu di tengah tangisannya, menerima gelas itu, lupa untuk mengucapkan terima kasih karena masih sedih. Namun Lya paham, dan tidak apa-apa jika bocah itu kehilangan kesopanannya untuk sekali dua kali. Lagipula dia lebih tua daripada Lya.
“Paman Keld, aku saja yang di sini,” kata Lya, mengusir secara halus.
“Baiklah,” ujar Keld.
Dan sosok Keld pun menghilang di balik pintu tak lama kemudian. Mungkin ia akan bergabung dengan pengunjung lain, atau memenuhi perutnya dengan satu mug besar bir, yang biasa diambilnya sendiri dan kadang lupa membayarnya. Tetapi Blud tak pernah marah, persahabatannya dengan Keld, tidak sebatas segelas bir.
“Mungkin aku tak merasakan apa yang menjadi bebanmu, Findarel,” kata Lya, membuka pembicaraan mereka. “Tidak ada salahnya untuk menangis, tetapi kau tak bisa memendamnya seperti ini. Bicaralah ….”
“Shyrh,” desis Findarel. “Nu kerr luéy (Aku benci mereka). Dëia.”
Ia beranjak berdiri, Lya melihat dari balik kemeja Findarel memendar sinar kebiruan redup. Gadis itu tersentak, ia bergerak mundur menjauhi Findarel, dan bocah itu hanya melihat keluar jendela, seolah sedang memperhatikan sesuatu.
Mendadak Findarel menoleh ke belakang, menatap amat tajam pada Lya, lalu suaranya yang mendesis berkata, “Aku bisa merasakannya. Bangsa itu. Aku tahu mereka akan datang kemari. Tak lama lagi.”
Tiba-tiba tubuh Findarel merosot. Ia terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
Lya bereaksi cepat, ia menahan tubuh Findarel yang lunglai. “Aldérin!!! Tolong!!!!”
*
Blud, Lya dan Aldérin duduk murung di depan meja bundar di sudut ruangan bar. Penginapan dan bar kosong. Blud sengaja menutupnya, dengan berbagai alasan yang sekiranya dapat diterima para pengunjung. Ia harus melakukan itu, karena tak mungkin membagi pikirannya antara bisnis dan masalah pelik yang kini ada di hadapannya.
Kini si Blud tahu, siapa itu Aldérin, siapa itu Findarel. Dari mana asal mereka, dan mengapa mereka datang ke Hail. Reaksi Blud tidak sekaget Lya, dan ia pun tidak melakukan penelitian-penelitian aneh kepada keduanya. Bahkan, jauh dari apa yang diharapkan oleh Aldérin, Blud menanggapi semuanya sangat serius.
“Tuan Aldérin, sejak awal seharusnya kau katakan padaku, aku tahu tidak mungkin dapat membantu banyak, tetapi sebisa mungkin aku kan berusaha membantumu,” kata Blud. “Menurutku, salah besar jika kau meminta bantuan Crusel. Dia itu licik! Sekarang aku khawatir dia melakukan sesuatu yang jahat, terlebih … kau hanya pendatang di sini.”
“Dia memang serakah, Paman. Namun, ia tak mungkin sejahat itu,” bela Lya. “Ia menyandang gelar hakim agung! Ia tak mungkin semena-mena.”
“Kau tak pernah tahu,” kata Blud. “Kini kita semua dalam bahaya! Terlebih Findarel.”
“Bicara mengenai Findarel, Aldérin. Apa ia takkan apa-apa? Dia terus terlihat ganjil, ditambah sinar aneh dari bandulnya itu! Benarkah dëia akan datang?” tanya Lya.
“Estion bisa merasakan kehadiran mereka, kukira perasaan Findarel tidaklah salah,” kata Aldérin. “Namun, kapan dan berapa banyak jumlah mereka, kita tak pernah tahu. Satu-satunya cara adalah terpaksa menemui Raja Thornell hari ini juga, apa pun resiko yang harus ditempuh. Dan aku terpaksa meminta bantuan kepada kalian.
“Tolong, sembunyikanlah Findarel. Karena nyawanya dalam bahaya. Keadaannya bisa memburuk, bahkan ia terancam kematian. Berikan ia tempat yang lebih nyaman juga aman.”
“Tentu saja!” kata Blud. “Untuk sementara kita sembunyikan di rumah Lya. Aku yang akan membicarakan ini pada Malda. Memang tak mudah, akan tetapi bisa kukarang satu atau dua cerita, sebelum semuanya benar-benar jelas, bagaimana keputusan dari Raja Thornell. Kau bisa mengandalkan kami berdua, Tuan Aldérin.”
Aldérin pun berterima kasih kepada keduanya.
Keadaan begitu menghimpitnya, tetapi bantuan dari Blud dan Lya, sedikitnya mengurangi beban yang ia hadapi. Yang utama saat ini adalah menyelamatkan Findarel. Elf yang belum memasuki usia elfir, nyawanya rentan.
Oleh karena itu, tidak ada elf muda yang diperbolehkan keluar dari Lamvorels sebelum usianya benar-benar dewasa, karena jiwanya akan mudah terguncang dan mengalami penyakit kejiwaan yang akan mempengaruhi fisiknya juga. Sebenarnya, mencapai usia elvin barulah elf diperbolehkan keluar dari wilayah kota Lamvorels.
Seandainya saja Findarel sudah masuk usia elfir, mungkin keadaannya takkan seburuk itu. Ia masih bisa bertahan. Namun, ia masih masa kanak-kanak, bahkan belum memasuki usia esval. Ia bisa mati jika terus tertekan oleh perasaan sakit dan kenangan yang menyedihkan.
Dan Aldérin sendiri tak tahu bagaimana supaya Findarel bisa keluar dari kepedihan yang menderanya. Ia cemas.
“Findarel akan lebih baik, Aldérin,” kata Lya, yang sepertinya menyadari apa yang dipikirkan oleh elf dari Lamvorels itu. “Tenanglah, kau tak perlu cemas.”
Ketukan keras tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka bertiga. Di luar sana terdengar gumaman-gumaman orang. Blud buru-buru membuka pintu, mendadak ia begitu terkejut melihat Liédik Gargôl dan Crusel Fardrown bersama beberapa orang prajurit istana datang ke penginapan.
Belum juga Blud mengatakan apa pun semuanya langsung memburu masuk ke dalam, hingga tubuh Blud terhempas ke dinding karena tak menyangka dengan kedatangan mendadak tersebut.
“Surat penahanan,” tunjuk Liédik pada Blud. “Untuk Aldérin Varwendil. Surat tuduhan atas pencurian, penipuan, dan mungkin saja pembunuhan.”
“Mana mungkin,” kata Blud, masih dalam batas kesopanannya. “Selama ini dia tak bertindak mencurigakan, Tuan Gargôl. Aku yakin akan hal itu.”
“Jangan menghalangi hukum, Tuan Pramber,” ancam Liédik. Ia menunjukkan secarik kertas di tangannya. “Bukti yang kumiliki cukup kuat, dan kurasa kau pun akan bertindak jauh lebih bijak. Kau takkan menghalangi tugas kami, bukan?”
Crusel tersenyum puas.
“Kau!” jerit Lya. Ia menunjuk Crusel. “Kau yang melakukan ini, bukan?! Pria busuk!!”
Aldérin menahan tubuh Lya dan menggelengkan kepala. “Jangan terlibat, aku memerlukanmu untuk menjaga Findarel,” bisiknya. “Aku akan baik-baik saja ….”
“Tetapi, Aldérin.”
“Tidak,” tolak Aldérin. Ia pun bergegas menghampiri Liédik. “Lebih baik kita selesaikan ini, Tuan. Kuyakin ini semua hanya kesalahpahaman. Tolong, aku tak mau membuat Tuan Blud dan Nona Muda Lya dalam masalah, kau bisa lepaskan mereka dalam hal ini?”
“Itu tergantung dari pengembangan kasus yang kuselidiki ini,” jawab Liedik. “Namun untuk sekarang, mereka terbebas.” Liedik menyuruh para prajurit untuk membuka jalan. “Aku takkan mengikatmu, jika kau berlaku baik.”
“Tentu saja,” jawab Aldérin. “Terima kasih.”
Ia menoleh ke belakang menatap pada Lya yang kini sudah berlinang air mata. Dalam gerak bibirnya Aldérin pun berkata, ‘Jagalah, Findarel. Kumohon…’.
*
Rumah mungil yang terletak di kawasan utara Hail itu tampak begitu nyaman dan asri. Pekarangannya tidak luas, tetapi sangat indah karena dipenuhi oleh berbagai tanaman dan berbagai jenis bunga-bunga. Atap rendah yang menjorok hampir mencapai permukaan tanah memberikan kesan yang amat hangat.
Blud segera mengetuk pintu sang pemilik rumah.
Pintu pun tak lama kemudian terbuka.
Dan muncullah sosok Malda dari balik pintu, yang begitu terkejut mendapati Blud dan Lya membawa seorang bocah yang pernah dilihatnya beberapa hari lalu di Ärbyn, bocah yang berada di samping pria asing yang menginap di penginapan Blud. Dan ia tahu apa yang telah terjadi, kabarnya telah tersiar ke seluruh kota, bahwa Liédik menahan seorang pendatang tanpa ada yang tahu masalahnya apa. Kecuali, masalah penipuan.
Malda menghampiri mereka bertiga, menatap iba pada Findarel yang berwajah pucat dan lemah, lalu mengajak bocah itu masuk, meski matanya langsung meminta penjelasan ketika pandangannya dialihkan pada Blud.
“Newtor, Larker, kemarilah!” panggil Malda.
Dua bocah tergopoh-gopoh ke ruang depan, mereka menatap heran pada ibunya yang merangkul seorang anak memakai jubah abu-abu dan kepalanya diikat syal berwarna hijau lumut. Dan lebih heran lagi mendapati anak seelok dia.
“Bawalah ia ke kamar kalian, biarkan dia istirahat. Jangan ribut atau berlaku tak sopan padanya, ya?” titah Malda.
Newtor dan Larker menggandeng lengan Findarel yang menurut saja diajak keduanya ke dalam. Blud memperhatikan seksama, akan tetapi deheman Malda begitu saja membuyarkan perhatiannya.
“Duduk,” perintah Malda kepada mereka berdua. Ia melipat kedua tangannya, menunjukkan raut kesal. “Aku tahu dia tak bersalah, tetapi apa kalian tahu masalah apa yang ditimbulkan oleh ayahnya? Dia kriminal!”
“Paman,” ralat Lya. “Aldérin adalah pamannya.”
“Yah, apa pun. Sebaiknya kau berikan alasan yang bagus, Blud,” kata Malda.
“Dia sendirian, Malda. Dan keadaannya kurang baik, Findarel berada di dalam bahaya jika tanpa pengawasan. Aku membutuhkan bantuanmu, apa kau sendiri rela membiarkan anak kecil tanpa ada yang memperhatikannya?”
“Tentu tidak. Aku pun tak mau Newtor dan Larker terlantar,” jawab Malda, melunak. Ia pun menoleh pada Lya. “Begitu pun denganmu.”
“Aku hanya ingin menitipkan Findarel sampai masalah ini selesai, aku yakin tuduhan Liédik dimotori oleh Crusel. Ini kesalahpahaman,” kata Blud.
“Crusel?” Malda terbelalak. “Dia iblis! Jangan harap ia akan melepaskan paman bocah itu dengan mudah, terlebih Liédik kini terlibat. Crusel adalah orang yang mampu melanggar batas keadilan, sedangkan Liédik ingin menegakkannya! Bayangkan jika Liédik terhasut Crusel, ia takkan pernah melepas orang itu sampai dia yakin benar!!”
“Ini salahku, Bu,” kata Lya. “Aku yang memaksa Aldérin untuk menemui Crusel.”
“Kau? Kau menjebloskan orang tak bersalah ke perangkap Crusel?” Malda tiba-tiba geram. “Apa yang kau pikirkan, Lya?”
“Lya masih terlalu polos untuk menilai orang. Dia berpikir mungkin Crusel orang yang tepat, jangan kau marahi,” kata Blud. “Karena itu, kumohon kau mau menjaga Findarel.”
“Tentu aku akan mengurus dia!” tegas Malda. “Bahkan itu takkan cukup untuk menebus dosa anakku terhadap pamannya!” Lya tertunduk. “Sudahlah, lebih baik kita pikirkan langkah selanjutnya nanti.”
Blud mengangguk setuju.