The Quest for The Lost Inheritors

Penyelewengan Sang Panglima

“Seseorang memberitahuku bahwa kau hanya memakan buah dan dedaunan, karena itu kubawakan sesuatu yang mungkin bisa kau makan salah satunya,” kata Gôntra, mengawali sapaannya pada Ninye, yang masih tetap duduk merenung dan kehilangan segala ekspetasi hidupnya. Gôntra merasa iba padanya.

Selama sebulan lebih hanya itu yang dilakukan oleh Ninye. Diam. Kembali seperti awal. Padahal mereka pernah bercakap-cakap sekali sebelumnya, akan tetapi Ninye seolah tak mau memperpanjang lagi komunikasi di antara mereka selain tawanan dan penawan.

“Apa nama Aldérin berarti sesuatu bagimu, Ninye?” tanya Gôntra, langsung. Tanpa sungkan lagi untuk mengungkapkannya. Seperti yang ia harapkan, Ninye langsung bereaksi, mendongakkan kepalanya dan menatap penuh dendam pada Gôntra. “Sudah kuduga, kau mengenalnya,” gumam panglima ke-4 dëia itu.

“Jangan pernah, menyentuhkan tanganmu yang kotor padanya! Biarkan saja dia mati daripada ditahan layaknya aku! Ia tak pantas mendapat perlakuan hina dari bangsamu!!”

“Berita bagusnya adalah, dia masih menjadi bangsa merdeka. Namun, takkan lama lagi, jika kau tak mau bekerjasama denganku.”

Ninye mendengus. “Jangan harap akan kutukarkan kebebasannya atas diriku. Lebih baik kau biarkan dia pergi, dan bunuh aku,” katanya, enteng. “Aku tak peduli.”

“Yah, tapi sayangnya … aku peduli padamu.”

Ninye hanya menyunggingkan senyum sinis dengan raut mencemooh. Namun, Gôntra sama sekali tak mempedulikannya. Ia duduk di seberang Ninye, hanya memperhatikan elf cantik itu yang begitu menarik perhatiannya sejak pertama.

“Aku menghormati seseorang, dan bersumpah atas nyawaku akan melakukan apa pun untuknya. Mungkin itu pun yang kau rasakan pada Aldérin ini, meski posisi kita berbeda,” kata Gôntra. “Namun, ada kalanya kita harus menimbang, apa yang sebaiknya kita lakukan sebelum mengorbankan segala-galanya demi orang itu. Kau mengerti maksudku?”

“Ya.” Ninye mengangguk malas.

“Orang ini, menginginkanku untuk menjadi temanmu, meski kaumku akan menentang hal tersebut mati-matian. Karena demi dia, aku mengambil resiko untuk dibenci seluruh kaumku, demi kemenangan yang akan dia raih.” Gôntra membuat jeda. “Dia memintaku mengambil segala keuntungan dari semua kisah yang kau ceritakan padaku, kelak.”

“Kenapa kau menceritakan hal ini padaku? Apa kau pikir dengan begitu mudah aku bisa jatuh dalam perangkap bangsa kalian?”

“Aku tahu, kau takkan mungkin bisa mempercayaiku sampai kapan pun,” jelas Gôntra. “Tapi aku bersungguh-sungguh ingin menjadi temanmu, tanpa harus mendapat perintah dari orang yang kuhormati itu. Dan tak peduli meski dibenci seluruh bangsa dëia sekalipun. Hanya untuk menjadi temanmu.”

Gôntra melemparkan sebilah belati yang jatuh tepat di pangkuan Ninye. Dia memang tak berniat mempermainkan elf itu, sungguh terlalu apabila keberadaan Ninye harus dipupuskan oleh perintah Yähgé. Tidak, untuk sekali ini, Gôntra tak mau melakukan apa-apa yang diminta oleh adik Kolé Alángdar itu.

“Apa kau pikir aku akan terkecoh dengan tipuan murahan seperti ini?” tanya Ninye, jijik dan benci. “Lalu hatiku kan luluh karena kau berbaik-baik padaku?”

“Ini adalah kelemahan utama bangsa dëia.” Gôntra tak menggubris pertanyaan Ninye. Ia membuka telapak tangannya. “Tangan kami. Dan dengan senang hati aku memberikan secara cuma-cuma padamu atas kesungguhanku.”

Dalam hitungan detik, Ninye terlepas dari jeratan talinya dan sudah menghunus belati yang mengancam leher Gôntra, akan tetapi panglima bangsa dëia itu tetap tenang. Ia hanya menatap mata Ninye yang berkaca-kaca karena kesedihan yang amat sangat.

“Telapak tangan, Ninye. Itu yang bisa membuat kami mati.”

“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Ninye, antara marah, sedih, bingung dan tak mengerti mengapa Gôntra mengacaukan perasaannya. Air mata sudah jatuh mengaliri pipinya. “Jika kalian begitu bersahabat, mengapa harus menghancurkan Lamvorels dan menghabisi penduduknya? Mengapa?!”

“Tanyakan kepada mereka yang tak bersahabat, karena aku hanya melakukan perintah. Ada yang jauh lebih berkuasa dariku,” jawab Gôntra. “Apa yang bisa kau lakukan ketika sosok yang dituakan dan dihormati memberikan perintahnya?”

“Aku harus menaatinya.”

“Dan itu yang kulakukan. Meski pada awalnya aku melakukan dengan senang hati, tetapi lambat laun … aku menyesalinya.”

“Karena apa? Karena akhirnya kau memiliki nurani?” tanya Ninye, sinis.

“Karena kau.”

….

Mereka duduk saling berhadapan dan membisu beberapa lama. Belati itu pun sudah dingin karena tak lagi berada dalam genggaman Ninye, tergeletak begitu saja di lantai kayu, seolah sebilah benda tak berharga, padahal itu adalah sebuah benda penentu kebebasan bagi elf itu. Gôntra tahu, Ninye bimbang; lelah; putus asa, maka dari itulah ia memutuskan untuk tetap duduk dan menunggu, membiarkan Ninye melarutkan amarahnya dan berpikir jernih, sebagaimana kebanyakan jalan berpikir bangsa elf.

“Aku ….” Ninye tak mau meneruskan kata-katanya, ia kembali diam dan bulir-bulir bening air mata kembali membasahi pipinya.

“Jika kau ingin pergi dan mencari perlindungan, maka pergilah. Kupastikan kau keluar dari sini dengan selamat, tetapi sebelumnya kau harus makan, karena elf pun takkan berdaya jika tubuhnya terlalu lemah,” tukas Gôntra.

“Tetapi kau akan dianggap pengkhianat selamanya ….”

“Dan kau pun akan di cap yang sama karena tak membunuhku,” balas Gôntra. “Apa kau masih ingin membahas perkara pengkhianatan ini, Ninye? Sedangkan di benak kita masing-masing, kita tahu ini adalah jalan yang terbaik?”

“Kenapa kau melakukan semua ini untukku?” tanya Ninye, melunak. “Gôntra, kau adalah bangsa dëia, aku adalah elf. Kita adalah musuh.”

“Entahlah.” Gôntra melemparkan pandangannya ke arah langit-langit. “Kurasa akan sangat menyenangkan bisa berteman denganmu. Aku tak pernah mempunyai teman dari bangsa lain, maksudku bangsa jalur putih. Dan jangan kau tanyakan padaku bagaimana rasanya mengenal troll atau goblin, ah … mereka sangat bodoh!”

Tiba-tiba Ninye terkekeh pelan dan membuat Gôntra terkejut dibuatnya. Itu adalah tawa paling tulus juga riang yang pernah dilihat oleh Gôntra seumur hidup. Tawa penuh kedamaian. Setelah 760 tahun hidup di dunia, baru ia temukan sesuatu yang amat suci.

“Aku harap kau takkan mendapat masalah di kemudian hari karena tertawa atas penuturanku,” sahut Gôntra. Ia pun terkekeh.

“Tidak, tentu tidak. Aku berpikir sebaliknya.”

“Kau tak perlu memikirkan hal itu, aku bisa mengatasinya.”

Ninye mendadak mengulurkan tangannya yang putih pucat dan tampak kurus, meski tergurat bahwa ada kekuatan yang jauh lebih hebat dari penampilannya.

“Aku pun tak pernah mempunyai teman dari bangsa jalur hitam,” kata Ninye. “Dan kupikir, akan sangat menyenangkan bisa menjadi temanmu.”

“Apa kau yakin aku takkan memanfaatkanmu di balik ini semua?”

“Jika memang itu maksudmu, aku tak akan menyalahkanmu, Gôntra. Bagiku, seorang teman adalah teman, sekelam apa pun hatinya.”

Dan bukannya menyambut uluran tangan Ninye, Gôntra langsung menghamburkan pelukannya. Awalnya ada sentakan kuat dari reaksi Ninye, tetapi mengendur, dan elf itu membiarkan Gôntra mendekapnya.

“Nah, lebih baik kau makan!” kata Gôntra, sembari melepaskan pelukannya. Ia beranjak berdiri dan mengambil nampan yang tadi dibawanya, lalu disodorkannya pada Ninye. “Apa ada yang bisa kau makan?”

“Tentu, dan terima kasih atas kebaikanmu,” jawab Ninye, tulus. “Apa kau mau menikmati ini berdua denganku?”

Gôntra menjengit, lalu menggeleng cepat. “Aku sudah makan,” tolaknya.

“Ini sangat baik untuk tubuhmu, Gôntra. Beberapa di antaranya bahkan bisa menyembuhkan luka dan penyakit dalam waktu singkat.”

“Tetapi tidak luka dalam hatimu, bukan?” tanya Gôntra, iba.

“Ya. Dan aku masih belum bisa memaafkan perbuatan bangsa kalian.”

“Maaf. Aku benar-benar minta maaf karena membuatmu dan seluruh bangsa elf menderita. Seandainya aku bisa mengubah semua.”

“Tidak apa-apa. Sudahlah.”

“Makanlah yang kenyang, karena ada banyak yang harus kita lakukan sebelum kau pergi dari sini,” kata Gôntra. “Sebaiknya kau pergi ke barat, temui para dryad dan meminta perlindungan mereka. Karena pergi ke selatan, adalah ajal bagimu. Kaumku bergerak ke sana semenjak Lamvorels hancur, Kolé ingin membinasakan Pílghym. Dan kurasa … memaksakan ke sana adalah tindakan kurang bijaksana.”

“Maaf, tetapi kutolak saranmu. Karena aku ingin tinggal di sini.” Ninye menatap pada Gôntra. “Bersamamu.”

*

Malam itu hari pertama bulan purnama, warnanya yang merah dan ukurannya yang kelihatan jauh lebih besar, menarik perhatian Yähgé, yang lekat-lekat memandanginya dan merasa lebih baik melakukan itu daripada berjalan kesana kemari tanpa mendapatkan kesan apa pun selain rasa bosan. Semenjak Lamvorels jatuh ke tangan bangsa dëia, Kolé seolah tak lelah mengirimkan pasukannya ke pegunungan Pílghym, dan entah berapa banyak pasukan yang muncul dari Karakh seolah mereka tak lelah untuk datang.

Yähgé cukup senang jika banyak pasukan musuh yang mati dan ia pun senang apabila Kolé kehilangan separuh dari prajuritnya, sehingga ia bisa memukulkan palu terakhir dan menjadi pemenangnya. Namun, waktu itu tak kunjung tiba, dan firasat buruk merayapi batinnya yang kelam juga kesepian. Lalu sekarang, sebuah nama mengusiknya!

Nama yang sama sekali Kolé tak tahu menahu, tetapi raja bangsa dëia itu sudah curiga sebelumnya. Mengenai keberadaan Aldérin, karena kejadian di bagian barat hutan Elethäs, sebulan lebih ke belakang.

Namun, Kolé tak memperinci ceritanya, Yähgé tahu, ada sesuatu yang Kolé sembunyikan sejak 450 tahun lalu. Tepat hari di mana Kolé dinobatkan sebagai raja baru pengganti ayahnya. Dan keajaiban yang timbul ketika seluruh bangsa dëia tiba-tiba mempunyai kekuatan, bisa mengeluarkan api dan kembali mempelajari sihir, seolah-olah Kolé adalah pembawa berkah.

Dan kekhawatiran tampak jelas di wajah Kolé saat mendengar kabar pembantaian pasukan dëia di hutan. Sepertinya, sosok ini adalah ancaman bagi kelangsungan hidup Kolé. Dan benak Yähgé mengatakan, orang itu tak lain dan tak bukan, adalah Aldérin.

Untuk segala jerih payah yang telah ia lakukan selama 400 tahun. Menebar benih batu Ir’atôn di seluruh tempat yang dianggapnya menghalangi rencana; Hutan Elethäs, Hutan Iringstall, bukit-bukit dan pegunungan lainnya. Menerjang bahaya sendirian, menjadi bayang-bayang tergelap di malam pekat.

Dan apa yang telah ia lakukan dapat berbuah suatu kegagalan besar, apabila sosok elf ini lolos dari genggaman tangannya. Jelas, ini pun merupakan ancaman besar bagi Yähgé!

“Yort mundwe, Yähgéna (Berpikir keras, Putri Yähgé)?” panggil seseorang di belakangnya.

“Ah, Gôntrasul (Pangeran Gôntra). Sejak kapan kau berani datang ke tempatku? Sudah lama sekali kita tak berbicara satu sama lain sejak kuperingatkan kau atas keinginan Kolé. Berapa lama itu? Dua hari lalu, kukira?” balas Yähgé. Gôntra menyeringai dalam anggukannya. “Lalu apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa sampai mendatangiku tanpa kuperintahkan? Apa kau mau menimbulkan masalah baru?” desis Yähgé.

“Mengenai Ninye.”

“Oh, jadi kau sudah mencapai tujuanku itu?” tanya Yähgé, antusias. Gôntra hanya mengangguk malas. “Mudah sekali menjadi temannya, kupikir dibutuhkan ribuan tahun untuk meyakinkan elf malang itu, maksudku, temanmu,” lanjut adik Kolé Alángdar itu.

“Dia tak keras kepala sepertimu, dan pikirannya jauh lebih terbuka.”

Yähgé terkekeh. Dan langsung menarik lengan Gôntra dan mengajaknya masuk ke ruangan tempat ia tinggal sementara. Jika dëia lain tahu ada sesuatu di antara mereka, itu bisa menjadi batu sandungan yang tak mungkin bisa dilewati dengan mudah. Bahkan mungkin takkan bisa terlewati dan mereka akan terjebak dalam kesusahan.

“Lalu? Apa yang dia katakan tentang Aldérin?” tanya Yähgé, langsung menuju pokok permasalahan. “Benarkah dia pemegang bandul Estion?”

“Ninye hanya mengatakan bahwa Aldérin adalah teman ayahnya. Dan mengenai masalah siapa pewaris bandul, ia tak tahu menahu. Menurutnya, hal itu sendiri merupakan rahasia di kalangan elf, dan hanya pemimpin di altar Kal’ Luin yang mengetahuinya. Jika Aldérin dianggap tersohor, karena ia dituakan di Lamvorels, tetapi ia bukanlah ancaman.”

“Hmmm … sepertinya dia tak berbohong.”

Tentu saja. Ninye sangat jujur. Akulah yang mengelabuimu, batin Gôntra.

“Namun, aku tak bisa tinggal diam begitu saja, Gôntra.” Yähgé meremas sisi gaunnya, cemas. “Berkemaslah, malam ini juga kita pergi ke kota manusia. Aku harus memastikan sendiri, sebesar apakah ancaman yang ditimbulkan oleh elf yang bernama Aldérin ini.”

“Kita pergi ke Ferden’lyf?”

“Bukan, tetapi Hail,” jawab Yähgé. “Dengan naik kuda kita bisa mencapai kota itu kurang dari setengah bulan, berharaplah elf itu pergi ke sana.”

“Kuda? Di mana kau bisa temukan kuda? Semua mungkin sudah habis menjadi makan malam dan sisa kotoran,” ujar Gôntra. “Kenapa kita tak memikirkan saja rencana untuk meratakan Pílghym dan membuat pasukan untukmu?”

“Seekor cacing bisa melubangi tanah tanpa kau sadari! Jangan berdebat lagi. Berkemas, dan kita pergi! Temui aku di puing-puing Halrunën, kau bisa dapatkan seekor di selatan kota sialan ini. Kusisakan dua, dan tak ada yang boleh menyentuhnya selain aku!”

Gôntra kehilangan seluruh akal untuk mencegah Yähgé keluar dari Lamvorels, tetapi ia tak mungkin membantah, karena indera putri bangsa dëia itu sangat tajam dan awas. Tetapi, di sisi lain, ia pun tidak ingin menyakiti perasaan Ninye dan membiarkan sahabat satu-satunya dibunuh oleh Yähgé demi sesuatu yang dikatakan ambisi seumur hidup. Gôntra bimbang.

*

Ninye memandangi bulan purnama dari balik jendela berbentuk bulat dengan perasaan nyaman dan tentram. Sepertinya, sang pemilik cahaya putih memberi kekuatan baru yang merasuk ke dalam batin. Ninye merasakan lagi kehidupan setelah pintu maut membayang di depan kedua matanya.

Namun, tak sedikit pun ia pungkiri, bahwa itu hanya ketenangan sesaat, sebelum pukulan terbesar mulai dihentakkan ke muka bumi. Di mana saat itulah, kematian akan benar-benar merenggut segala-segalanya.

Terdengar langkah tergesa yang menaiki anak tangga di luar, Ninye menoleh dan mengalihkan perhatiannya. Ia tahu, itu adalah sosok sahabat barunya. Maka tak ada rasa takut atau benci lagi, apabila sosok tersebut berada dihadapannya.

“Ninye!” panggil Gôntra, napasnya terengah. Ninye yang melakukan sandiwaranya, masih terikat tali meski tidak kuat sama sekali, hanya memberikan raut wajah keheranan karena melihat sikap Gôntra yang begitu panik. “Aku harus pergi ke Hail malam ini juga! Yähgé memaksaku!” ujar panglima dëia tersebut. “Ia ingin mencari Aldérin.”

“Irÿh (Demi) Avinlár!” pekik Ninye.

“Tolong Ninye, katakan apa yang harus kulakukan, karena aku tak tahu harus berbuat apa, apabila Yähgé berniat membunuhnya.”

“Entahlah, Gôntra. Aku harus memikirkannya.”

“Tidak ada waktu untuk berpikir,” desak Gôntra. “Apa sebaiknya kau pergi ke Hail terlebih dulu, dan mencarinya?”

“Tidak, aku tetap tinggal di sini.” Ninye berpikir sejenak, “Jika memang itu merupakan takdir akhir bagi Aldérin, maka siapa pun takkan bisa menghalanginya. Namun, apabila dunia langit mengatakan lain, aku yakin Aldérin dapat keluar dari cengkeraman Yähgé.”

“Dan yang harus kulakukan adalah?”

Ninye menyentuh dada Gôntra. “Kau akan mengerti, ketika saatnya tiba, Gôntra.”

“Meski aku sama sekali tak memahami jalan pikiranmu yang rumit, baiklah … akan kulakukan apa yang kau minta. Aku akan mengawasi Yähgé dan temanmu itu, sampai kuputuskan, jalan terbaik mana yang harus kuambil.”

“Ya, itu yang harus kau lakukan.”

“Aku harap kau menjaga dirimu baik-baik,” tukas Gôntra. “Satu dari dëia yang patuh padaku akan menggantikan posisiku selama aku tak ada, dan kujamin, ia takkan macam-macam terhadapmu.”

“Terima kasih.” Ninye tersenyum. “Berhati-hatilah.”

“Kau juga! Sampai jumpa, Ninye!”

“Sampai jumpa ….”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!