The Quest for The Lost Inheritors
Mengungkap Rahasia
“Siapakah dia?” tanya Aldérin. Setelah rombongan itu menghilang dari jalan utama kota dan terus berjalan ke arah utara kota.
“Thornell Harnburgar. Raja di kota kami, untuk kau ketahui, Tuan Varwendil.”
Telunjuk Lya pun mengarah pada jalan utama yang menuju ke utara di mana agak jauh di depan sana terlihat barisan dinding kokoh berwarna hitam menyerupai pagar.
“Ia tinggal di sana, istana Greathall. Tempat yang tidak akan pernah dapat dikunjungi oleh orang biasa seperti aku, dan penduduk lainnya.”
“Lalu bagaimana caranya kalian bisa mengutarakan apa keinginan kalian, jika sama sekali tidak bisa berbicara dengan Raja?”
“Kami memang tak pernah melakukannya. Para penasihat Raja Thornell yang menjadi wakil pembawa suara kami, apa pun yang ingin diutarakan pada penguasa kota, merekalah yang akan mendengarnya dan menyampaikannya kembali pada raja,” jawabnya. “Dan selama ini kami hidup dengan damai, itu menunjukkan betapa baiknya kerja yang dilakukan oleh para penasihat.”
Pencerahan tiba-tiba mendatangi elf dari Lamvorels itu. Mungkinkah ia bisa mengutarakan pesannya akan perang yang pecah di selatan pada para penasihat dan mendapat perhatian mereka yang tak hanya sekedar anggukan kepala?
Aldérin memutuskan untuk mencobanya.
“Di mana aku bisa menemui para penasihat Raja Thornell apabila aku hendak menyampaikan pendapatku?” tanya Aldérin. “Semisal aku memiliki masalah yang sangat mendesak untuk diselesaikan.”
“Tidak semudah itu pula kau bisa menemui mereka, Tuan.” Lya pun tertawa. “Sebelum kau bisa bertatap muka dengan penasihat raja Thornell, kau harus menemui hakim agung, Crusel Fardrown, terlebih dahulu, dia adalah orang yang paling awal untuk membantu memecahkan masalah yang kau hadapi.
“Apabila hakim agung tidak bisa membantumu maka ia akan mengajukannya pada dewan kota, tiga belas orang yang memiliki pengaruh kuat dan rata-rata adalah bangsawan, di mana mereka ini akan berusaha juga untuk membantumu. Jika mereka menganggap masalahmu ternyata cukup pelik, barulah mereka akan menyerahkan pada penasihat raja, dan itulah saatmu bertemu dengan mereka.
“Namun, jarang sekali hal tersebut terjadi, kebanyakan lebih sering diselesaikan oleh dewan kota daripada oleh penasihat raja. Meski pernah ada pun, bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan. Kasus yang paling melegenda di kota kami hingga melibatkan raja sendiri adalah kasus Hering Bluelock, kejadiannya sendiri terjadi ratusan tahun yang lalu, tetapi semua orang di sini masih bisa mengingat kisahnya.”
“Hering Bluelock?” ulang Aldérin, antara heran dan tak percaya bahwa orang itu merupakan legenda di Kota Hail
Padahal menurut catatan dari manusia yang hidup sekitar 450 tahun lalu itu, dia—Hering Bluelock—adalah seorang tahanan. Bukan sesuatu yang cukup patut dijadikan sejarah besar, tetapi kenapa namanya masih dikenal setelah beratus tahun kemudian? Apa hanya karena dirinya pernah melihat bangsa dëia dan dianggap pembual?
“Ya, Hering Bluelock. Kau tahu dia?” tanya Lya. Aldérin menggeleng, hal yang mungkin sudah seharusnya ia berpura-pura untuk tidak mengetahuinya. “Menurut legenda, ia dikenal cerdas, berwawasan dan hidupnya penuh petualangan. Ia juga pendongeng yang hebat bagi anak-anak, sayangnya, ia mulai termakan kisah yang diceritakannya sendiri. Hering menjadi gila,” tutur Lya.
“Hilang akal,” gumam Aldérin. “Tuduhan yang cukup kejam, menurutku.”
“Kau tidak mengerti, Tuan, dengan hidup yang ia jalani. Hhh … jika kuceritakan pun, kau takkan peduli dengan kisahnya. Namun ada satu yang paling menarik dari Hering.” Lya menurunkan intonasi suaranya, hampir setengah berbisik ia pun berkata, “Sebenarnya, ia bernama Lordgrawn Hallem II, akan tetapi ia lebih memilih memakai nama julukannya dalam perkumpulan wéa, yaitu Hering Bluelock.”
“Kenapa ia melakukannya? Padahal namanya cukup bagus.”
“Karena itu akan membuat rentangan jelas di antara wéa lain dengan dirinya. Demi mensejajarkan derajat, ia memakai nama Hering. Kau tahu kenapa dia harus bersusah payah berbuat begitu? Karena dia putra kedua raja pada masa itu.”
“Raja?” Aldérin terbeliak.
Lya mengangguk-angguk. “Tentunya sangat berat bagi seorang ayah untuk menghukum anaknya, tetapi itu semua dilakukan demi keadilan,” keluhnya.
“Apa sekarang dia masih berada di dalam tahanan?” tanya Findarel, tiba-tiba.
“Tahanan?” tanya Lya, heran. Ia menggeleng, “Tidak lagi, ia sudah meninggal. Tak ada manusia yang bisa hidup selama ratusan tahun, Findarel.” Lya mendadak mengerutkan dahinya. “Hei, bagaimana kau bisa tahu dia adalah tahanan?”
“Tadi kau mengatakan ‘hukuman’, bukan?” Findarel membalikkan pertanyaan.
Lya menatap keduanya tajam. “Memang! Namun aku tak pernah mengatakan bahwa Hering menjadi tahanan, bagaimana jika aku berkata ia diusir dari kota? Aku yakin sekali sesaat tadi, kalian tidak mengetahui siapa itu Hering,” sahutnya. “Kalian tiba-tiba mencari mata air yang belum tentu kebenarannya setelah kutunjukkan peta Ferden’lyf, lalu kalian pun tertarik dengan kisah Hering, sangat aneh untuk pelancong biasa. Apa tujuan kalian sebenarnya datang ke Hail?”
Findarel menutup mulutnya seketika itu. Aldérin sudah cukup gusar mendapati ketidakhati-hatian dari elterhel tersebut berulang kali dan saat ini bukan waktunya lagi untuk berpura-pura. Semakin Aldérin mengarang cerita, entah mengapa Lya makin mudah mengetahui bahwa mereka menutupi sesuatu.
Gadis itu memang bukan anak perempuan biasa, begitu pikir Aldérin. Mungkinkah dia manusia yang ditakdirkan oleh ramalan Iroaél? batin Aldérin.
“Baiklah, tetapi sebelumnya ada sesuatu yang harus kutunjukkan padamu,” ujar Aldérin, dengan intonasi yang sangat tenang. “Namun aku harus memastikan, apa kau bisa berjanji padaku untuk tidak mengatakannya pada siapa pun?”
“Jika hal itu merupakan ancaman bagi rakyat di sini, terpaksa aku takkan bisa menjanjikan apa-apa, Tuan Varwendil,” jawab Lya, tegas.
“Benar? Apa aku bisa mempercayaimu?”
Lya menatap Aldérin dengan pandangan tajam. “Apa hatimu mengatakan kau bisa mempercayaiku? Itu yang harus kau tanyakan,” ujarnya, enteng.
Aldérin mengembuskan napas lega. “Lebih baik kita ke Warren’s Hut. Karena bukti dari kebenaran, tersimpan di sana.”
Kamar penginapan yang ditinggali Aldérin berdua Findarel sebenarnya pengap dan kecil, tetapi karena udara di Hail cukup baik dan jendelanya dibuka lebar-lebar, rasa sesak takkan begitu terasa. Aldérin membuat keadaan kamar jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ia merubah posisi tempat tidur dan lemari kayu, sehingga kamar tampak lebih luas, meskipun hal tersebut membuat Lya sedikit heran.
Tidak pernah ada tamu yang seenaknya mengubah-ubah posisi perabot kamar, dan tak satu pun dari mereka yang begitu rajin membereskannya. Aneh!
Aldérin mengambil kantung dari dalam lemari, kantung yang kelihatan berat dan besar, tetapi melihat elf itu seolah sama sekali tidak merasakan beban yang dibawanya, Lya hanya berpikir kantung itu tak berisi banyak barang.
Dan dia salah besar.
Beberapa helai jubah dikeluarkan Aldérin, dua bilah pedang pendek, lalu satu kantung kulit sepanjang lengan manusia dewasa dan Aldérin sama sekali tak mau menunjukkan isinya, senjata, senjata, dan senjata, itu lebih jumlahnya ketimbang barang yang lain (ini membuat Lya sedikit merinding).
Barang yang lain itu, tidak lain adalah kantung yang terbuat dari sisik ikan; berkilau; dan terdengar suara batu beradu dari dalamnya; tiga kantung air yang kosong, beberapa buah apel dan juga pir.
Banyak lembaran perkamen yang sudah menguning, kotak kecil terbuat dari kayu yang tampak seperti kotak perhiasan dan terakhir, bendel besar lusuh; bau apek; dan kelihatan sangat tua. Bahkan tiap lembar kertasnya terlihat amat rapuh.
“Apa kau ini sebenarnya pedagang barang antik, Tuan Varwendil?” tanya Lya, yang antusias mendapati barang-barang aneh, lebih tepatnya barang tidak berguna menurutnya, bawaan elf dari Lamvorels itu. “Jadi itu yang kau sembunyikan selama ini?”
“Menurutmu? Apa lebih baik aku menjadi pedagang?”
“Entahlah, aku tak tahu.” Lya menaikkan bahunya. “Mungkin jika kau menjadi salah satu dari mereka aku yakin sekali kau banyak pelanggan, pernahkah kau menyadari bahwa parasmu itu terlalu elok untuk seorang manusia?”
“Benarkah?”
“Itu hanya pujian, aku tidak bermaksud apa-apa,” ujar Lya buru-buru dan wajahnya memerah, ketika mendapati reaksi yang datar dari Aldérin, karena elf dari Lamvorels itu seolah sama sekali tidak peduli atau mungkin buta dengan ketampanannya sendiri. “Atau katakanlah sanjungan, seperti yang pernah kau katakan padaku kemarin malam.”
“Terima kasih, aku menghargai sanjunganmu.” Aldérin tersenyum tulus.
“Dan apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Tuan?” tanya Lya.
“Kami menemukan ini,” jawab Aldérin. Ia menyodorkan bendel berisi catatan Hering Bluelock, tanpa perlu lama mendapat reaksi dari Lya, gadis itu segera menatap Aldérin diliputi rasa ketakutakan yang amat sangat. “Di reruntuhan Éba,” lanjut elf itu.
“DEMI STËVNŶA!!” seru Lya. “Kekuatan iblis bersarang di tempat itu, banyak manusia yang ke sana mendadak hilang. Sejak jaman Hering, reruntuhan Éba ditinggalkan karena serangan misterius. Suatu keajaiban kau bisa datang ke Hail tanpa kekurangan apa pun.”
“Tidak ada apa pun di sana, hanya reruntuhan yang tak terurus.” Aldérin pun menunjuk catatan Hering tanpa perasaan ngeri. “Dan catatan-catatan tersisa yang tak pernah dibaca lagi oleh siapa pun, kecuali kami, mungkin.”
“Tentu saja kau berpikir begitu, karena kau sama sekali tidak tahu kisah yang terpendam di sana,” ujar Lya, bersikukuh dan agak gusar. “Kau hanya beruntung! Itu jawaban yang paling tepat, kenapa kau masih hidup sampai sekarang!”
“Serangan misterius seperti apa yang menghancurkan Éba?” tanya Findarel. Ia hanya tersenyum geli. “Makhluk buas? Atau mungkin makhluk ajaib?”
“Hmm … aku kurang begitu tahu kisahnya.” Lya tersenyum malu. “Aku bukan orang yang suka membaca, tetapi kau bisa melihat simpanan perkamen dan buku-buku di perpustakaan kota. Aku akan mengantar kalian berdua, jika kalian mau.”
“Ide yang cukup bagus,” sambut Aldérin, berbasa-basi. Lalu ia menatap tajam pada Findarel. “Likä ish-anorá-in atâ. Likä yar-ádah éntréde’lih (Jangan melakukan itu. Jangan berbuat macam-macam).”
[1] Jangan melakukan itu. Jangan berbuat macam-macam.
“Liôrion, Ial (Maaf, Paman).”
“Bahasa kalian begitu bagus, meski terdengar ganjil di telingaku,” kata Lya. “Lalu, sebenarnya apa yang kalian lakukan di Éba?” Lya pun mengalihkan lagi pembicaraan ke awal. “Hanya untuk mencari kisah Hering Bluelock, kah?”
“Tidak. Sebenarnya kedatangan kami ke sana pun bukan sekedar kebetulan,” jawab Aldérin. “Aku memang berniat datang ke Éba, untuk mencari sosok yang tepat di dalam misiku. Dan secara tak sengaja, Findarel menemukan catatan milik Hering Bluelock. Dan banyak ketidaksengajaan lain yang saling berkaitan.”
Lya terpekur. “Apa kau tak tahu bahwa Éba sudah hancur beratus-ratus tahun lalu? Bagaimana mungkin kau bisa mendapatkan ide semustahil itu, sedangkan kau sama sekali tak pernah berhubungan dengan orang dari daerah barat?”
“Kenapa kau berpikir aku tak pernah berhubungan dengan orang dari barat? Aku pernah mengenal beberapa wéa di Éba, dan kami cukup berteman baik meski mereka tak tahu siapa aku sebenarnya.”
Findarel tahu, bahwa Aldérin hendak membuka jati diri mereka, dan ia merasa itu adalah tindakan yang kurang tepat. Namun Aldérin memberikan isyarat agar Findarel tetap diam dan ikut dalam rencananya.
“Ah, tentu saja! Dan itu berarti membuat usiamu saat ini berapa? Empat ratus? Lima ratus? Jangan membuat lelucon, Tuan!” cemooh Lya.
“Lebih tepatnya 3300,” kata Aldérin, dingin. “Usiaku. Aku berumur 3300.”
Lya tertawa lagi. “Dan Findarel berusia 1000 tahun? Begitu?”
“Aku baru berusia 54 tahun! Belum setua itu!!” ralat Findarel, gusar.
“Kalian tahu ….” Lya kehilangan kata-kata. Ia bergegas duduk di tepi tempat tidur dan memegangi kepalanya, seolah terkena serangan sakit mendadak. “Entah apa yang harus kuucapkan atas penghinaan kalian terhadapku, ini tindakan yang bodoh! Kalian seperti ibu yang meracuni anak-anaknya dengan cerita khayalan! Lalu aku harus percaya, seperti meyakini adanya makhluk-makhluk ajaib seperti elf? Kurcaci? Atau para centaur? Karena bangsa merekalah yang memiliki usia panjang dan mungkin tak bisa mati.”
“Elf adalah makhluk abadi, dan takkan pernah mati kecuali luka parah melukai fisiknya. Apa kau tak mempercayai keberadaan mereka?” tanya Findarel.
“Tidak. Itu hanya dongeng!”
“Lalu, penjelasan apa yang ada dalam pikiranmu mengenai keberadaanku di Éba dan mengapa aku mengetahui tempat itu?” tanya Aldérin, tenang.
“Entahlah, mungkin ada ingatanmu yang tertinggal, padahal sebelum ini kau pernah bertemu dengan orang-orang barat yang tahu tentang Éba. Lalu kau pergi ke sana, hanya sekedar memenuhi rasa ingin tahu.”
“Semisal aku memang bertemu dengan orang-orang dari barat, mendengar kisah yang mereka ceritakan, apa kau benar-benar yakin aku mau datang ke Éba dan membahayakan nyawaku sendiri demi rasa ingin tahu?”
“Aku ….” Lya membuat jeda. Lalu ia menjawab pelan, “Kurasa tidak.”
“Ya, itu sudah tentu kulakukan jika aku tahu sebelumnya.”
“Lalu, penjelasan apa yang membuat kau bisa berumur panjang, eh? Apa kau ini semacam druid? Perapal mantra? Warlock?” Lya bersikeras. “Terima kasih, Tuan Varwendil. Kau menghiburku dengan leluconmu.”
“Elf,” ujar Findarel.
Lya melongo, hanya memberikan pandangan kosong tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dan makin terkejut saat Findarel sekonyong-konyong membuka syal yang membebati kepalanya.
“Kami adalah bangsa elf yang datang dari Lamvorels.”
Lengan Lya terjulur, mulutnya menganga karena terkejut luar biasa, lalu …
Lya terjatuh tak sadarkan diri.
“Aku membayangkan seluruh penduduk Hail pingsan di saat yang bersamaan ketika mereka tahu siapa kita sebenarnya, Ial,” kata Findarel, sedikit mengeluh. “Yang menjadi pertanyaanku adalah, siapa yang pertama kali harus kita tolong?”
“Lya tentunya,” jawab Aldérin, sembari tersenyum geli. Ia menggendong Lya dan membaringkannya di atas tempat tidur.
“Kuharap ia takkan menjerit histeris dan membuat masalah.”
“Tidak, dia gadis yang kuat juga cerdas. Perasaanku mengatakan … bahwa kita bisa mempercayainya,” balas Aldérin. “Ambilkan air, Findarel. Ia mulai siuman.”