The Quest for The Lost Inheritors
Bisikan Kegelapan
Terdengar suara guruh berulang-ulang, bak geraman mengancam, tak lama kemudian mereda, seolah tertidur lagi. Dan begitu berulang-ulang yang terjadi, hampir setiap hari dan malamnya; mengikuti gemuruh tersebut, pancaran api meletup-letup dari puncak Kalvath.
Kóle bisa mendengarnya sangat jelas, ribuan tahun lamanya dia didendangkan nyanyian dari pegunungan api Kalvath, yang terletak di wilayah tanah gersang bernama Karakh. Namun, ia tidak pernah khawatir jika gunung api tersebut memuntahkan isinya, bahkan ia berharap hal itu akan terjadi agar dirinya tak perlu mendengar kembali gemuruh yang membuatnya bosan.
Mungkin semua hal yang ada di dunia ini memuakkan baginya, tidak ada yang indah, yang membahagiakan bahkan yang menyenangkan. Semua gelap dan dingin bagi Kóle, semua adalah api yang membara dan membakar tiap-tiap sudut tubuhnya hingga ia menggigil. Karena kesalahan leluhur, Kóle harus menanggung malu dan kesengsaraan. Dia membenci hal itu.
Pernah ia berpikir, jika dirinya hidup pada masa leluhurnya, mungkin kemenangan besar ada di tangannya dan keturunannya kelak akan menguasai dunia. Namun, berbeda dengan kenyataan, dia adalah keturunan dari kaumnya yang terbuang dan harus terasing dari dunia.
“Kau tahu, Kóle? Jika bangsa pecinta dunia tak pernah ada, kita mungkin yang menjadi penguasa dunia. Jika saja mereka tidak ada.”
Begitulah yang dipaparkan oleh Nihlá, satu-satunya warna bagi Kóle. Dia yang cantik, bergaun indah dan menyapu tanah, dengan sepasang bola mata tajam kemerahan, rambut hitam tergerai dan berdesir ketika angin panas menyapanya. Karena begitu luar biasa cantiknya Nihlá, Kóle tidak bisa menjentikkan jari bahkan mengedipkan mata, terlalu sayang untuk dilewatkan bahkan sedetik pun.
Namun, amarah dan dendam Nihlá terhadap masa lalu, yang semakin membuat Kóle bertekuk lutut di hadapannya. Dan Kóle ingin memberikan Nihlá kebahagiaan.
Kóle berdiri di depan cermin, menatap dirinya baik-baik. Dia bukan bangsa dari keturunan buruk, dia adalah bangsa dëia, bangsa yang diberikan keabadian. Apa yang buruk dari itu? Bahkan itu anugerah. Bangsa mana pun tak bisa menandingi, tapi ada satu bangsa yang mencoreng keberadaan bangsanya.
Hanya satu. Yaitu bangsa elf.
Kóle menatap lagi dirinya. Ia gagah, tubuhnya tinggi tegap, rambutnya hitam legam sepunggung, dengan dua buah kepangan memilin hingga ke dadanya yang bidang. Kulitnya kemerahan, bola matanya pun merah, dengan sederet gigi putih kuat dan empat taring runcing. Dia tidak jauh berbeda dengan bangsa elf atau bangsa manusia, tetapi dia terasing, dia dan bangsanya dianggap sebagai bangsa terkutuk hingga ke akar.
Apakah itu yang membuat kami berbeda? pikirnya, geram.
“Mungkin,” jawab seseorang.
Kóle tersentak. Ia memandangi cermin dan di belakangnya ada dua bayangan, hitam dan juga putih. Ketika ia melihat ke belakang punggungnya, tak ada siapa pun, tetapi saat ia kembali memandang ke arah cermin, dua sosok itu benar-benar ada di sana.
“Apa yang akan kau lakukan jika begitu? Mengikuti kata hatimu?” tanya sosok hitam dengan suara yang begitu datar dan dingin.
“Atau memperbaiki keadaan dan berdamai di samping mereka?” timpal si sosok putih dengan intonasi suara yang sama.
“Siapa kalian?” tanya Kóle.
“Jawablah, hanya itu yang perlu kau tahu,” sahut si sosok hitam.
“Hanya karena aku bangsa dëia, kalian bisa mencemoohku dan mengabaikan pertanyaanku,” kata Kóle, marah. “Begitukah yang kalian pikirkan?”
“Begitukah yang harus kami pikirkan tentangmu, Kóle Alángdar?” kata si sosok putih. Ia menatap ke arah si sosok hitam. “Apa kami pernah berpikir begitu?” tanyanya lagi.
“Kami tak pernah berpikir, kami hanya berbuat,” balas si sosok hitam.
“Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?!” teriak Kóle
“Menjawab, hanya itu,” kata keduanya, berbarengan.
“Apa yang kudapat jika kupilih salah satu dari apa yang kalian pertanyakan?” tanya Kóle. “Menang? Kalah? Senang? Sedih? Kekuasaan? Atau keterasingan? Apa yang kalian tawarkan?”
“Masa depan,” kata si sosok putih, “masa depan yang ada di depan matamu, entah itu kemenangan, kekalahan, senang, sedih, kekuasaan atau keterasingan.”
“Itu sama saja kalian memintaku untuk bertaruh,” balas Kóle.
Si sosok putih menggeleng. “Memilih jalan, bukannya bertaruh.”
“Dan raihlah salah satu tangan kami, jika kau telah memutuskan,” ujar si sosok hitam.
Kedua sosok itu berdiri di samping Kóle. Si sosok putih di kanannya dan sosok hitam di kirinya, salah satu tangan mereka terbuka seolah hendak meraih Kóle.
“Mengikuti kata hati,” sahut si sosok hitam.
“Membuka mata hati,” kata si sosok putih.
Kóle terdiam, berpikir. Ribuan pertanyaan berada di benaknya dan berpikir, siapa dua sosok yang kini berada di sampingnya tapi raga mereka sama sekali tak tampak. Apakah sosok-sosok itu adalah penyihir sakti? Atau mungkin perwujudan dari perasaannya? Dia sama sekali tak memiliki petunjuk. Mereka seperti pemberi warna.
Pemberi warna? batin Kóle. Ia tersentak. Apakah mereka yang pernah ada di dalam kisah masa lampau? Para Len Arna yang datang ke Khâli ketika dunia sedang sekarat?
“Apa kalian para Len Arna? Para pemberi warna utusan Élfarä?” tanya Kóle, tiba-tiba.
“Jika memang kami adalah mereka, itu bukanlah sesuatu yang harus menjadi beban pikiranmu, urusan kami adalah milik kami,” jawab si sosok hitam.
“Kalian memang mereka, sang pemberi warna ketika dunia ini sekarat puluhan ribu tahun lalu.” Kóle mengeluh pelan. “Seharusnya aku menyadari dari awal. Kalian adalah makhluk pecinta elf. Menjawab pertanyaan kalian, sama saja membantu para elf !!!”
“Kami tidak mencintai siapa pun, kami hanya mencintai warna yang ada dalam dunia ini. Kami adalah Len Arna, para pemberi warna. Itu saja,” sahut si sosok hitam.
“Jika memang begitu, kenapa kalian datang padaku? Kenapa kalian tidak pergi dan mendatangi makhluk lain?” tanya Kóle. “Apa yang kalian inginkan dariku sebenarnya? Hanya memilih? Ooh … aku yakin ada ribuan rencana di balik itu.”
“Dengarlah, Kóle. Kami tak menginginkan apa pun darimu, karena tugas kami hanya meminta kau untuk menjawab, selebihnya itu merupakan jalan yang harus ditempuh oleh dirimu dengan sendirinya,” sahut si sosok putih.
“Lalu apa maksud kalian? Jelaskan padaku.”
Si sosok putih dan hitam berpandangan. Mereka tahu, tak semestinya yang mereka lakukan diberitahukan kepada penghuni dunia, akan tetapi apabila mereka bersikeras untuk menutup mulut, maka Kóle akan lebih keras kepala lagi untuk tidak menjatuhkan pilihan.
“Dunia tengah diberi ujian, Kóle,” jawab si sosok hitam. “Kau, dan bangsamu diberi kesempatan untuk mengubah masa depan. Di lain pihak, bangsa lain pun kami berikan pilihan yang sama denganmu, pada akhirnya … dunia akan berubah, di mana satu atau dua bangsa sekaligus akan menjadi penguasanya.”
“Jadi kalian menginginkan adanya peperangan baru?” Gigi-gigi Kóle pun bergemerutuk seiring ingatannya mengacu kembali pada bangsa elf. “Kalian ingin peperangan antara bangsaku dan bangsa elf di ulang kembali dan melihat siapa yang benar-benar pecundang sampai akhir?” tanyanya, geram.
“Kami hanya menjalankan apa yang harus kami jalani,” ujar si sosok putih, bijak. Lalu ia pun menjelaskan. “Tak sebersit pun menginginkan peperangan di dalam hati kami. Jika kau memilih, maka ada dua pilihan untukmu, Kóle, seperti yang kami katakan padamu sebelumnya: membuka mata hati, atau mengikuti kata hati. Semua adalah keputusanmu.”
Kóle diam kembali. Para Len Arna tak memikirkan keberadaan siapa pun, lalu apa yang harus disia-siakan? Bahkan ia memilih hitam atau putih, mereka takkan peduli.
Jika Kóle memilih untuk mengikuti kata hatinya, ia akan mengumbar amarah, melepas kepedihan dan membalas kekalahan. Ia akan membinasakan semua yang pernah membuat perasaan sakit kepada bangsanya. Dan kekuasaan akan menjadi abadi di genggamannya, hanya di tangannya sendiri.
Namun, jika ia memilih untuk membuka hatinya, bukan hal yang mustahil jika bangsa lain mau menerima bangsanya lagi. Lagipula, peperangan di masa lalu itu adalah masa lalu, tak perlu diperpanjang kembali. Kóle bisa membagi dunia dengan bangsa lain, tanpa perlu adanya pertumpahan darah.
Bukankah selama ini yang ia inginkan hanyalah kembali dianggap di dunia? Ia tak ingin keterasingan, ia menginginkan seluruh dunia mengetahui bahwa bangsa dëia masih ada dan merupakan bagian dari bumi itu sendiri.
“Apa yang terjadi setelah ini jika aku memilih salah satu dari kalian?”
“Roda kehidupan tetap berjalan sebagaimana mestinya, namun ujian akan berlaku seiring dengan putusan yang kau pilih,” jawab si sosok putih. “Kami akan mengundurkan diri dari hadapanmu dan takkan ikut campur urusan keduniawian.
“Namun, kita semua akan kembali berkumpul, ketika masa puncak ujian berakhir. Pada masa tersebut, baik bangsamu dan bangsa lain yang diberikan pilihan sama, akan diadili atas segala perbuatan yang telah dilakukan.”
“Saat itulah, diputuskan siapa yang berhak atas kemenangannya di dunia ini. Tidak melihat apakah kau berhati hitam, berhati putih; berjiwa gelap atau terang,” tambah si sosok hitam.
“Aku mengerti,” ujar Kóle. “Jika ini memang untuk masa depan ….”
“Pilihlah dengan bijak,” tutur kedua sosok itu berbarengan.
Kedua tangan Kóle bergetar hebat ketika ia berusaha mengangkatnya.
“Demi Nihlá …,” bisik Kóle.
Ketika bayangan tangannya di cermin memilih, Kóle bisa merasakan sentuhan tangan seseorang yang mencengkram jari-jarinya dengan lembut.
“Maka terjadilah,” kata si sosok putih.
Sosok putih menatap ke sosok hitam, lalu bayangannya pun menghilang. Dan yang tinggal hanyalah Kóle dan sosok hitam yang memegang tangan kirinya.
“Keputusan ini memang seharusnya kulakukan,” bisik Kóle, suaranya bergetar amat hebat, antara senang sekaligus geram. “Akan kubinasakan elf, bangsa yang telah menghancurkan bangsaku. Apakah menurutmu, ini keputusan yang bijaksana, Len Arna?”
“Jika menurutmu begitu.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Itu terserah padamu, mulai saat ini. Bukan sesuatu yang menarik perhatianku atau kepentinganku,” jawab si sosok hitam.
“Baiklah.” Kóle menyeringai.
“Sebelum aku pergi, Fel’ Caran memberiku pesan untukmu, Kóle.” Lalu dari tangan si sosok hitam muncul warna kemerahan. “Api untuk amarahmu ….”
Kóle merasakan sensasi panas luar biasa meluncur merasuki tubuhnya yang semakin lama makin membakar hingga ke seluruh tulang. Bahkan ia sampai terbungkuk karena menahan sakit yang amat sangat.
“Dan dariku … kegelapan yang kau pilih,” bisik si sosok hitam.
...
Kóle terbangun, dan samar-samar melihat raut Nihlá yang terlihat cemas. Ia terbaring di lantai, dengan tubuh dipenuhi peluh dan rasa panas menusuk ke seluruh tulang, tapi Kóle merasakan gejolak energi besar berkecamuk di dalam dirinya. Panas dan begitu kuat.
”Kau tidak apa-apa?” tanya Nihlá. Kóle menggeleng. “Aku melihat cahaya biru melintas di langit beberapa saat lalu, dan ketika hendak mengatakan padamu, kulihat kau berbaring tak sadarkan diri. Benar kau baik-baik saja?” Lagi-lagi Nihlá memastikan.
“Tidak pernah lebih baik dari sekarang.” Kóle pun tersenyum.