The Quest for The Lost Inheritors

Ramalan Ioraél

Sekelebat cahaya melintasi jagat kelam.

Tetapi tak begitu cepat, karena gerakannya tertangkap oleh sepasang mata berwarna kelabu yang dingin itu. Sosoknya berdiri tenang di keremangan malam, tanpa merasa heran sedikit pun akan kedatangan sinar tersebut; seolah-olah ia memang telah menanti, jauh-jauh sebelumnya.

Dipejamkannya kedua mata; seiring cahaya biru cerah, yang memasuki jarak pandangnya itu, melintas sapuan biru gelap angkasa. Dalam beberapa detik saat ia menutup mata, ribuan bayangan menabrak bertubi-tubi batinnya. Menunjukkan air mata dan kedukaan; sakit juga letih; lelah yang dimangsa keputusasaan. Dadanya terasa amat sesak.

Saat kelopak matanya terbuka, mendadak saja warna bola matanya yang kelabu, berubah menjadi putih. Lalu bayangan lain datang, seperti kepingan-kepingan ingatan dari tiap-tiap makhluk di muka bumi bermunculan di benaknya; saling silang tanpa arti.

Namun, ia melihat dengan jelas yang ditampakkan padanya, sosok-sosok asing—tetapi sama sekali tak asing baginya. Si sosok bijak; sosok teguh hati; sosok kasih sayang; dan yang terakhir, sosok pemberani. Elf; kurcaci; manusia; dan dëia.

Atas dasar bayangan sosok-sosok tersebutlah, kini ia mengerti pesan yang telah disampaikan padanya. Setelah cahaya itu menghilang menerobos malam nan pekat, bola matanya kembali menjadi kelabu lagi. Lalu ia termenung, dengan kedua tangan bertelekan pada sebuah tongkat panjang; tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ioraél.” Suara itu tiba-tiba saja menggema di batinnya. Suara yang merdu, halus dan jernih. Suara yang memberikan kenyamanan dan kehangatan; genggaman tangan erat akan persahabatan; jauh dari penderitaan.

“Apa yang kau lihat, Ioraél?” Suara itu kini memberikan pertanyaan. Seolah sedang bermain teka-teki, seolah membuka kesempatan untuk ia yang berdiri tegap di depan kastil kecilnya mengungkapkan pendapat.

Ya dia! Iroaél si Maula Angin; Penjaga Gerbang Akhir; Sang Kelabu.

Pemimpin dari para pemimpin bangsanya, dulu sekali. Namun, kini ia hanyalah sosok penyendiri; sosok yang enggan untuk mengecap lagi kekuasaan, sekalipun hal tersebut diciptakan untuk kebaikan.

Iroaél adalah sosok yang datang dari negeri jauh, dan ketika dia menginjakkan kakinya di Khâli, ia tidak pernah mengetahui, sebenarnya rahasia apa yang direncanakan dunia langit kepadanya.

“Cahaya biru yang cerah itu, membuatku khawatir,” bisiknya, lirih. Ia mencengkeram tongkat panjang hitamnya. “Oh Avinlár, apakah kematian besar akan datang?”

“Mungkin.” Suara di batinnya lagi menggema. Angin berbisik, menghembuskan dingin yang menusuk. “Mungkin, Iroaél.”

Iroaél mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. “Na, lega’ra tair’ga (Sekarang, tunjukkan padaku),” sahutnya, lantang. Dari mata tongkat yaitu batu hitam, muncul cahaya berwarna keabuan.

Warna-warna datang.

Dari tiap-tiap warna terlihat banyak sosok; kecil, besar; tinggi, pendek; hitam, putih; gelap, terang, dan begitu banyak, hingga membingungkan mata manapun, kecuali matanya sendiri.

“Bencana besar bagi semua, bahkan aku pun akan merasakan akibatnya,” Ioraél bergumam pelan. “Tetapi, roda terus berputar; dari sakit kan datang sembuh; dari derita kan datang bahagia. Seseorang kan menjadi sang penyelamat ….”

“Kau tahu apa yang harus dilakukan, Iroaél?” Suara itu datang kembali di batinnya. Ia mengangguk dan mengiyakan jawabannya di dalam hati. Dan gema dari sang suara berkata lagi,“Baguslah, biarkan anginmu membuka jalan.”

Suara itu lenyap kini. Dan hanya dirinya, tak ada siapa pun, bahkan tidak ada bisikan siapa-siapa lagi. Ia melangkah masuk ke dalam kastil, menutup pintunya rapat-rapat.

Saatnya telah tiba, batinnya berkata.

Ia memasuki sebuah ruang gelap dan besar. Tepat di ujung depan, di dinding yang kokoh, sebuah gerbang berpintu ganda terbuat dari es terlihat. Gerbang yang tak pernah terbuka semenjak ia menginjakkan kakinya di dunia Khâli. Dan tugasnyalah menjaga gerbang tersebut. Hingga saatnya dia kembali pulang.

Gerbang itu sedikit demi sedikit mencair, tetapi tak tampak sama sekali ada bayangan, bahkan sekelebat apa pun. Ia termangu, dan mengingat kembali pesan-pesan yang diembannya. Gerbang itu akan terbuka suatu saat nanti.

Gerbang Air, itulah namanya.

Gerbang yang bukan terbuat dari kayu atau besi kokoh, melainkan diciptakan dari air yang jernih, air yang membuka jalan bagi siapa pun yang melewatinya, dan mereka akan mengarungi ruang juga waktu. Di mana hanya kaum-kaum terpilih yang dapat melalui gerbang tersebut.

Gerbang itu langsung membeku ketika ia dan kaumnya keluar dari sana, saat meninggalkan dunia Élfarä. Dan Avinlár    Sang Tunggal    pun menjelaskan, akan adanya saatnya gerbang lagi terbuka, ketika sosok-sosok pembawa cahaya membenarkan apa yang telah hancur dan membangunnya kembali. Ia tahu, sekarang sudah hampir saatnya.

Terdengar bisikan-bisikan halus ….

Muncullah beberapa titik cahaya dari sudut-sudut dinding kastilnya, cahaya yang berwarna-warni. Putih, hitam, merah, kuning, biru, hijau, perak dan emas. Dan warna-warna itu berubah menjadi sosok-sosok yang tinggi tegap, berjubah putih, berperawakan serupa. Hanya warna ikat kepala dengan hiasan batu kecil di dahi, yang membedakan diri mereka masing-masing.

Mereka menganggukkan kepalanya, memberi salam pada dia yang berdiri di depan gerbang membeku. Memberikan salam pada Iroaél.

“Anaiya (Salam),” ucap mereka, serempak.

“Alsaina (Salam untukmu),” balas Iroaél. Ia mengulaskan senyuman simpul dingin, meski dalam sekilas tersirat ungkapan kegetiran.

“Kami segera datang begitu melihat cahaya itu,” kata si sosok emas.

“Avinlár memberikan tugas pada kita, benarkah itu, Iroaél?” tanya sosok biru. Suaranya dalam, mewakili air yang biru. “Apa yang ia tugaskan?”

“Tugas yang sangat berat, bahkan mungkin keberadaan kita di sini dapat terancam karenanya,” jawabnya, datar. “Ini adalah pengorbanan besar.”

“Dan semua disebabkan oleh hitam dan putih,” kata si sosok merah. Suaranya nyaring, penuh semangat dan membara, bak api panas. “Jika tak pernah ada kegelapan atau cahaya, hal ini dapat dilewati dengan baik.” Ia menunjuk pada sosok hitam dan putih.

“Hidup takkan pernah lengkap tanpa hati yang hitam maupun putih,” balas si sosok perak. “Kau pun terikat pada mereka, jangan menyalahkan.”

“Kita semua saling terkait,” timpal si sosok hijau. Wajahnya yang terlihat begitu segar, akhirnya menyunggingkan senyum. “Sudah waktunya bagi kita menjalankan apa yang Iroaél inginkan dari kita semua. Jangan berdebat lagi.”

“Apa yang harus kami lakukan, Iroaél?” tanya sosok emas.

“Menunggu.” Iroaél menatap sosok hitam dan putih yang sama sekali tak mengeluarkan suara. “Menunggu mereka melakukan tugas, karena Avinlár telah memberitahukan apa peranan mereka setelah cahaya biru cerah itu datang. Kalian tidak memiliki peran di sini, hanya mereka.”

Sosok putih menatap sosok hitam. “Sekarang adalah saat untuknya membuka jalur gelap,” sahutnya. “Dan tugasku adalah menunggu hingga salah satu takdir menjatuhkan pilihannya, saat itulah waktuku untuk membuka jalur putih.”

Yang lain terkejut bukan main, mereka memberikan gumaman keras, meminta penjelasan kepada Iroaél atas tugas si sosok hitam dan putih yang sama sekali tak masuk di akal mereka.

“Kalian telah membangun dunia ini dengan baik, tetapi kita tak mungkin menguasai dunia,” kata Iroaél. Dia menerawang, “Avinlár pernah mengatakan, begitu dunia ini merasakan kesempurnaan, apakah itu menjadi buruk atau baik, di saat itulah kita dapat kembali ke Élfarä.”

“Kita bekerja keras membangun kembali dunia ini. Lalu kita biarkan hitam dan putih merusak apa yang telah kita perjuangkan? Apa begitu saja?” tanya si sosok merah. “Dan membiarkan makhluk-makhluk lain berbuat sesuka hati?”

Iroaél menggeleng. “Itulah sebabnya, Avinlár memerintahkan hitam dan putih menjalankan peran mereka,” katanya. “Keberadaan kaum kita sudah seharusnya berakhir, kini makhluk lain yang harus menjejakkan kisah di dunia ini. Dan peranan terakhir, adalah milik mereka.

Iroaél menunjuk ke arah sosok hitam dan putih.

“Memberikan kesempatan kepada tiap makhluk di dunia ini untuk memilih antara jalan kegelapan dan jalan cahaya, karena di dalam hati para makhluk di dunia ini, mereka memiliki sisi hitam dan sisi putih. Seperti kita di masa lalu, hal itu takkan mungkin dihindari atau diabaikan,” lanjut Iroaél.

“Lalu apa yang dilihat oleh pandanganmu, Iroaél?” tanya si sosok hijau.

Iroaél tak segera menjawab, yang ia lakukan hanya termenung seolah enggan untuk memberikan pernyataan pahit. Lalu dia mendesah pelan, mengembuskan napasnya yang berat. “Peperangan besar,” jawabnya, beberapa saat kemudian.

Yang lain terhenyak, kecuali si sosok hitam dan putih yang sudah tahu benar bahwa hal itu akan terjadi. Mungkin kedua Len Arna tersebut takkan berperang antara satu sama lain, tetapi makhluk-makhluk yang berada di bawah warna mereka yang melakukannya.

“Peperangan besar?” tanya si sosok merah. Matanya seolah membara kembali, seketika warna itu menghilang sesaat kemudian. “Kita tahu benar peperangan akan berakhir dengan kematian dan kesengsaraan, bahkan kita pernah melalui itu.”

“Dan kenapa hal itu harus terjadi di dunia ini?” tanya si sosok biru. “Bukankah kita seharusnya menghalau peperangan, bukan membiarkannya terjadi?”

Iroaél tidak segera menjawab, ia membiarkan sosok-sosok yang lain berkata-kata dalam gumaman mereka dan setelah semuanya hening, ia pun menjelaskan.

“Dunia ini tidaklah kosong ketika kita datang, sudah ribuan jiwa menuliskan kisah mereka; ribuan tangan mengulaskan warna mereka di dunia ini, bahkan peperangan besar pun tidak dapat terelakkan hingga dunia ini menjadi hancur dan sekarat,” kata Iroaél. “Ketika kita tiba, dunia ini berada di ambang pembaharuan.”

“Hal yang takkan mungkin terjadi di dunia kita,” bisik si sosok emas.

“Aryä uar glas neth (Dunia kita sudah mati),” balas si sosok kuning dengan suara yang begitu sedih.

“Tidak seperti dunia ini,” kata si sosok hijau. “Harapan masih tersimpan, meski kita tak tahu, apa yang akan menjadi putusan akhir semua makhluk yang menghuni dunia ini.”

Iroaél mengangguk setuju, mengulaskan senyum dinginnya kemudian. Ia pun menatap dalam kepada sosok-sosok yang lain, satu persatu.

“Ini bukan dunia milik kita, tugas kita hanya membangunnya kembali; apakah mereka yang hidup di sini akan senantiasa menjaga atau tidak, ini bukanlah urusan kita, sebagai pemberi warna,” kata Iroaél. Ia tersenyum lagi. “Jangan menyesali akan apa yang mereka lakukan kini dan kelak, karena apa yang kita lakukan di sini adalah sesuatu hal yang tak bisa kita lakukan untuk dunia milik kita yang hilang.”

“Tetapi, Iroaél ….”

Sebelum si sosok merah memberikan pendapatnya, Iroaél sudah mengangkat tangannya, pertanda bahwa tidak ada yang harus diperdebatkan kembali, karena memang begitu yang seharusnya terjadi. “Peperangan akan tetap berlangsung.”

Iroaél terdiam sesaat, seolah dia pun sebenarnya menentang keberadaan perang, tetapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Ini merupakan satu cobaan bagi semua umat, meski tak ada jawaban yang pasti, bagaimana akhirnya kelak.

“Namun, harapan ada di hati mereka, kita tak perlu khawatir akan hal itu. Avinlár mengatakan, sang pembawa cahaya akan datang.”

“Bagaimana kita tahu sang pembawa cahaya akan datang, ketika dunia ini sudah hancur karena perang besar?” sahut si sosok perak. “Ini sama sekali tidak masuk di akal, Iroaél.”

“Jika tiga hati telah bersatu,” jawab Iroaél. “Maka hati terakhir akan muncul. Saat itulah, sang penyelamat menyelesaikan tugas pertama dan terakhirnya.”

“Apabila tiga hati tidak bersatu, apa kita akan melihat dunia ini hancur oleh peperangan? Dan tetap tak melakukan apa-apa?” tanya si sosok kuning.

“Bahkan makhluk yang terbijak dan memiliki pandangan terluas pun tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi, kelak. Semua tergantung kepada nasib yang didorong oleh mereka yang membutuhkan harapan,” jawab Iroaél.

“Meski aku tak memahami pemikiranmu, tetapi ini merupakan ramalanmu. Itulah yang menjadi kepercayaanku akan semua hal yang menurutku mustahil ini,” gumam si sosok emas.

“Ketahuilah, bahwa pandanganku pun kadang mengabur,” timpal Iroaél. Dia menatap satu persatu dari kaumnya. “Aku hanya melihat sosok-sosok yang penuh harapan dalam penglihatanku. Merekalah yang akan mengubah dunia. Apakah mereka para pemilik hati yang hilang, aku pun tak mengetahuinya.”

Yang lain masih mempertanyakan teka-teki yang dilontarkan oleh si sosok abu itu, pada saat itulah Iroaél segera mengalihkan perhatiannya pada si sosok hitam dan si sosok putih yang sama sekali diam dalam kebisuan mereka.

“Nah, pergilah! Lakukan tugas kalian,” sahut Iroaél kepada si sosok hitam dan putih. “Tidak perlu ada penyesalan karena tak ada yang perlu disesali.”

“Tunggu!!” kata si sosok merah. “Aku tak mau menunggu dan diam begitu saja! Maka, bagi siapa pun yang memilih hitam aku akan memberikan apiku untuk menyertai mereka.”

“Bukankah kau mengatakan bahwa kita tak perlu ikut campur dalam urusan makhluk dunia ini?” tanya Iroaél. “Apa itu tak bertentangan dengan kata-katamu?”

“Aku tak peduli,” kata si sosok merah. Ia menatap pada si sosok hitam. “Ambil apiku, dan berikan pada mereka yang memilih di jalanmu.”

Si sosok hitam mengangguk dan meraih setitik cahaya merah yang diberi oleh si sosok merah. Cahaya merah pun menghilang ke balik jubahnya.

“Berikan cahaya perakku untuk mereka yang memilih jalanmu,” kata si sosok perak pada si sosok putih. “Mereka akan lebih kuat jika hatinya diterangi.”

Sosok perak menangkupkan kedua belah tangannya, memberikan seberkas cahaya keperakan pada si sosok putih. Dengan sebuah anggukan anggun, si sosok putih menerimanya, meraihnya dengan hati-hati, dan sinar itu menghilang, masuk ke dalam balik jubahnya.

“Campur tangan Len Arna cukup sampai di sini,” kata Iroaél. “Tidak ada lagi.”

“Luidor (selamat tinggal), Iroaél,” kata si sosok hitam dan putih, berbarengan.

“Luiya …. (selamat tinggal).

Sosok hitam dan putih menghilang sekejap, yang lain hanya diam tertegun, seolah memikirkan apa yang akan terjadi, kelak.

Lalu di luar, terdengar gemuruh mengguruh pelan. Seolah menjadi bunyi gong awal dari teka-teki yang terlahir ketika cahaya biru muncul di angkasa.

Iroaél menatap kembali ke Gerbang Air, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!