The Quest for The Lost Inheritors
Perpisahan Dengan Bangsa Nymph
Parewa, putri yang lahir dari nyanyian Titelénta selama 40 hari 40 malam pada mata air yang mengalir menuju danau Töjolyr, mengantar keberangkatan Aldérin dan Findarel hingga mulut gua menuju gerbang keluar dari kota Cilticpën. Ia menjadi perwakilan sang ratu, karena Titelénta tidak bisa menemui Aldérin juga Findarel, karena penyakit yang dideritanya.
Titelénta yang mendadak sakit tiga hari setelah proses ur’aravel irfin, masih belum sadarkan diri, hingga waktunya bagi Aldérin dan Findarel melanjutkan perjalanan. Tidak ada yang tahu, bagaimana cara agar menyadarkan kembali sang ratu, yang seolah-olah sedang tidur damai. Dan hal itulah yang membuat raut Parewa diliputi kecemasan, tetapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tegar dan menutupinya dari dua elf itu.
“Apa ratu Titelénta masih belum juga siuman?” tanya Aldérin memastikan.
Parewa menggeleng lemah. “Dia seolah tertidur dengan damai. Setidaknya, itu memberikan rasa tenang meski hanya sedikit di hatiku. Dia pasti mampu bertahan atau kuharap demikian.”
“Aku bisa tinggal di sini beberapa hari lagi dan memberikan sedikit pengobatan kepada Yang Mulia Ratu,” tawar Aldérin. “Setidaknya mengurangi rasa sakit yang dideritanya.”
Penyakit misterius yang diderita oleh Titelénta sudah berlangsung sangat lama, bahkan sang putri pun tidak yakin jika dengan pengobatan elf bisa sembuh. Ini sudah jelas berkaitan dengan batu Ratera, dan Satera.
Hanya dengan menyucikan kembali batu tersebut, Parewa yakin kesehatan ratu Titelénta akan berangsur membaik. Karena itu, lebih baik bagi para kaum nymph membiarkan Aldérin segera berangkat dengan misinya. Daripada menunda-nunda, dan berakhir dengan kata terlambat.
Parewa menggeleng. “Kuhargai keinginanmu, Ver (Tuan) Aldérin, tetapi harus kutolak tawaranmu, karena kalian berada di dalam ketergesaan. Aku tak mau penyakit ibuku menghambat perjalanan kalian, kami di sini akan berusaha sebisa mungkin mengobatinya.”
“Ini semua karena aku,” sesal Findarel.
“Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu?” tanya Parewa keheranan.
“Jika saja ratu Titelénta tidak memaksakan ur’ aravel ilfin, maka dia akan baik-baik saja. Seharusnya aku tetap menolak, meski ia bersikeras,” cicit Findarel.
“Oh, tidak seperti itu maksud arah pembicaraanku, Anak Manis.” Parewa menggeleng. “Jangan menyalahkan dirimu, Elianon kecil. Itu adalah sesuatu yang sudah menjadi kewajiban ibuku, meski harus membahayakan nyawanya. Kami adalah wali, bagi bandul pejuang elianon.”
Meski Parewa berusaha menenangkan hati Findarel, bocah elf itu masih terlihat resah, dan merasa tidak enak hati. Dia hanya menunduk lesu.
“Betulkah tidak akan apa-apa jika kami berangkat sekarang?” tanya Aldérin.
“Ya, akulah yang memastikan akan hal itu, Ver Aldérin. Kami sudah menjadi beban berat bagimu, karena menggantungkan harapan akan keselamatan bangsa kami, aku tak menginginkan beban lain harus kau pikul,” jawab Parewa. “Kami akan baik-baik saja. Percayalah.”
Ketegasan dari Parewa terasa membangkitkan semangat kedua elf dari kota Lamvorels untuk menyelesaikan misi mereka lebih cepat.
“Baiklah jika begitu,” putus Aldérin. “Kami pergi sekarang, jagalah kesehatan Yang Mulia Ratu dan seluruh koloni nymph air, Putri Parewa.”
“Terima kasih, Ver Aldérin. Jagalah dirimu dan Findarel dengan baik. Doa kami senantiasa menyertaimu.”
Parewa menyerahkan kantung kecil yang terbuat dari sisik ikan, berwarna perak dan berkilauan ketika cahaya matahari menempanya.
“Ini sedikit hadiah dari kami, tidaklah banyak, ettapi kuharap cukup bermanfaat. Tiga belas batu Erfeja, jika kau kesulitan mencari air, maka tanamkan batu ini ke dalam tanah. Mata air akan muncul ke permukaan seharian penuh, selama matahari masih bersinar di langit.”
Itu adalah hadiah tak terkira, sesuatu yang sangat berharga bagi Aldérin.
Aldérin dan Findarel membungkukkan badannya. “Terima kasih, atas kebaikanmu.”
“Begitu pun kami, Ver Aldérin.” Parewa pun membungkuk dalam. “Kami akan selalu menanti dan menunggu kabar baik darimu.” Parewa mengalihkan perhatian pada Findarel, telapak tangannya menyentuh lembut dada elterhel itu. “Kau membawa benda yang tak ternilai harganya dan sangat penting, jagalah baik-baik dan berhati-hatilah dalam langkahmu, Findarel.”
“Akan kuingat selalu pesanmu, Putri Parewa.”
“Arheo, Parewa Ail (Selamat tinggal, Putri Parewa),” pamit Aldérin, menggunakan bahasa nymph.
“Arheo, Ver Aldérin, nash Findarel ben Elverel (Selamat tinggal, Tuan Aldérin, Findarel kecil putra Elverel).”
Dan kini, di antar oleh tiga ajudan besar Titelénta, Yardah; Anjuan; dan Drufel, Aldérin dan Findarel meninggalkan Cilticpën dengan pengharapan besar dari para nymph agar mereka dapat kembali lagi dan menyelamatkan bangsa air itu dari kehancuran dengan membawa batu Ratera.
Kini, semakin berat bagi Aldérin untuk memulai lagi perjalanannya. Kematian dan serangan di Lamvorels sudah mengiris-ngiris perasaan dan ketika memasuki kota nymph air, ia dihadapkan pada sekoloni bangsa yang tengah sekarat. Bahkan ia tidak tahu, apa semua kejadian menyedihkan ini adalah cobaan atau kutukan dari dunia langit.
Namun, Aldérin tidak boleh menyerah, ia harus terus melangkah.
Selain mencari tiga warna hati yang menjadi petunjuk dari Iroaél, membuka lagi jalur persatuan di antara bangsa-bangsa, sekarang Aldérin harus mengemban misi baru, yaitu mengambil batu Ratera di daerah Utara. Satu-satunya petunjuk bagi Aldérin adalah sebuah peta yang usianya lebih dari 450 tahun, meski Aldérin ragu, apabila peta itu bisa menolong.
Setelah 450 tahun kemudian dan sudah lebih dari 500 tahun ia tidak pernah keluar dari Lamvorels sebelum serangan bangsa dëia, segalanya bisa berubah dalam kurun waktu selama itu.
Aldérin harus ekstra hati-hati di dalam perjalanannya.
Tiga misi besar harus dilakukan, dan ia tidak boleh gagal. Karena jika hal itu terjadi, maka keberadaan bangsa-bangsa selain dëia, akan musnah. Yang pasti, dia baru menemukan pemilik hati pertama, yang ia yakini adalah Findarel. Dia harus menjaga keselamatan bocah itu, jangan sampai terjadi sesuatu.
Seingat Alderin, setelah zaman peperangan dulu, ada pewaris dari tiga hati—di mana Silmo sudah dikatakan menghilang secara misterius. Kemungkinan besar, mereka akan menemukan pewaris dari kaum manusia, dan harus mencari pewaris lain di kaum dwarf.
Sayangnya, Aldérin tidak mungkin memutar jalan dan kembali menuju kota para dwarf, dia yakin bahwa bangsa dëia justru tengah berusaha menggempur kota para dwarf. Yang pasti, Aldérin harus menyegerakan pencarian mereka, karena banyak bangsa yang justru bergantung pada keberhasilannya dalam mencari para pewaris Pelanthum Irior.
“Apa kau sudah siap memulai perjalanan panjang ini, Findarel?” tanya Aldérin. Ketika keduanya telah meninggalkan kota nymph air dan berpamitan dengan ketiga ajudan Titelénta.
Findarel mengangguk dan tersenyum getir. “Aku bertanya-tanya di dalam hati, Ial. Bagaimana keadaan di Lamvorels dan keluarga kita?” ujarnya, tiba-tiba.
Aldérin menggeleng. “Aku tidak tahu, Findarel. Namun, apa pun yang terjadi di Lamvorels, kau harus yakin, bahwa selama kita hidup, kita harus berusaha membantu teman-teman kita.”
“Selama aku masih bisa bernapas dan berjuang, aku takkan pernah menyerah, Ial,” timpal Findarel, tegas. “Ini demi keluarga dan teman-temanku ….”
“Itulah yang ingin kudengar.” Aldérin tersenyum. “Tidak akan menyerah.”