The Quest for The Lost Inheritors
Ur’ aravel Ilfin
Findarel duduk di atas hamparan daun teratai yang tebal dan lebar di sisi Barat dari danau Töjolyr, ia dinaungi pohon rowan besar-besar yang tumbuh pada tanah basah, ia seperti berdiam diri di dalam perahu yang ditambatkan talinya di daratan, bergeming. Bocah itu memperhatikan beberapa sosok nymph muda yang asyik bermain di danau, bahkan mereka masih bisa bersuka cita padahal nyawa mereka sedang terancam bahaya.
Betapa hebatnya Titelénta menutupi segala hal yang berbau ancaman, bahkan masih bisa melindungi kotanya meski ia sendiri tengah sekarat. Findarel mempelajari hal baru, bahwa nymph memiliki tekad sekuat baja meski mereka tampak lemah.
Dan banyak hal baru lainnya, semenjak ia tinggal di Cilticpën selama beberapa hari. Ia baru mengetahui bahwa nymph air tidak selamanya tinggal di dalam air, mereka pun bisa tinggal di daratan cukup lama, oleh sebab itulah kota mereka tak tergenangi air seluruhnya. Nymph juga suka bernyanyi, seperti halnya elf. Meski mereka tak menyimpan kenangan juga sejarah dan lebih suka menanggalkannya sebagai hari kemarin tanpa perlu diingat kembali.
“Findarel.” Panggilan Drufel mengalihkan perhatian bocah itu dari air. Nymph berambut ikal sepinggang berwarna hitam itu tersenyum manis. “Pagi yang sangat cerah, bukankah begitu?”
Findarel mengangguk. “Ya, hangat dan menyenangkan hatiku,” balasnya.
“Begini, Findarel. Yang Mulia Ratu ingin kau segera menemuinya, ada yang ingin dia bicarakan secara pribadi denganmu,” ungkap Drufel tanpa basa-basi.
“Tetapi, aku seharusnya menunggu Ial yang sedang bersama Yardah, aku tidak diperkenankan ke mana-mana tanpa Ial Aldérin.”
“Hanya sebentar,” pinta Drufel.
Findarel mengangguk patuh. “Baiklah.”
Setelah melalui jalan setapak, genangan air dan melewati selokan besar yang berarus deras, akhirnya Findarel tiba di kediaman sang ratu dengan baju setengah basah kuyup. Ia kembali duduk di atas kura-kura raksasa dan menunggu gelisah sang ratu yang belum berada di singgasananya. Drufel meninggalkannya seorang diri, tanpa ada siapa pun. Findarel tengah memikirkan Lamvorels hingga sebuah cengkraman lembut di bahu membuyarkan lamunannya.
“Jangan mengenang apa yang membuat pahit di hatimu, anakku. Tataplah ke depan dan jalani hidup sekarang, karena takkan ada jalan untuk mengulang yang telah lalu,” ujar Titelénta. Ia tersenyum letih, lalu duduk di tepian singgasananya.
“Aku hanya merasa rindu pada rumahku,” ujar Findarel, kikuk. “Lalu apa yang bisa kulakukan untukmu, Yang Mulia?” tanya Findarel, mengalihkan pembicaraan.
“Sebenarnya, ada satu hal yang mengganjal hatiku sejak kau datang,” jawab Titelénta. Lalu telunjuk kanannya menunjuk ke arah dada Findarel. “Benda itu membawa energi besar, bahkan aku pun merasa kekuatannya mempengaruhiku, tentu saja pengaruh yang baik bagi batinku.”
“Lalu?” Sedikit curiga, Findarel mencengkram Estion miliknya.
“Kau belum bisa mengendalikannya, bukan?” tanya Titelénta. Findarel tidak menjawab. “Aku bisa membantumu untuk mengendalikannya, ah … maksudku, Estion. Benda berharga milik Andilosh, si elianon pejuang,” lanjut Titelénta.
“Bagaimana kau bisa—”
“Bisa mengetahuinya?” potong Titelénta. “Aku memiliki pengetahuan yang kau sendiri belum mencapainya karena faktor usia, anakku. Aku mengetahui banyak hal di masa lampau, meski kini pengetahuanku akan dunia luar sudah terbatas.”
Titelénta menangkap kegelisahan di dalam diri Findarel.
“Aku takkan mengambil milikmu, anakku,” ujar Titelénta. “Aku hanya ingin membantumu.”
“Apa Yang Mulia bisa lakukan untuk membantuku?”
“Sebenarnya, untuk memanggil Estion dan mengendalikannya, terlebih dahulu kau harus mengetahui dan mengenal Estion itu sendiri. Tanpa mengenal sosoknya atau mengingat sejarahnya secara baik, akan sangat sulit untuk tahu kapan Estion akan muncul dan memberikan kekuatannya.” Titelénta berhenti sejenak, menarik napas dan mengembuskannya, berat. “Yang harus kau lakukan adalah melakukan pengenalan pertama.”
“Tetapi, aku pernah melihat sosoknya! Ia pernah muncul,” ujar Findarel.
“Oh Findarel, maksudku percakapan pertama kalinya dengan Estion, bangsa kalian menamakan pengenalan resmi ini sebagai ur’aravel ilfin, pertemuan awal, untuk menjalin persahabatan yang takkan pernah berakhir hingga saatnya bagi pewaris yang baru. Ur’aravel ilfin sekaligus dilakukan ketika penyerahan klan bagi elianon,” jelas Titelénta.
“Bagaimana aku bisa melakukan hal sesulit itu? Bahkan aku tak tahu kapankah Estion akan muncul lagi,” ujar Findarel. “Kedatangan dan juga perginya sama sekali tak diduga.”
“Karena itulah aku di sini,” ujar Titelénta. “Estion belum sepenuhnya menganggapmu sebagai pewaris dari Andilosh, itu dikarenakan pewaris sebelumnya—yang kukira ayahmu—belum mempertemukanmu dengan Estion secara resmi. Maka reaksi yang pernah dilakukan Estion sebelumnya, hanya semata-mata mengikuti perintah terakhir dari Elverel.
“Aku akan membuka pintu dunia roh untuk mempertemukan kalian, dan menetapkan bahwa kau adalah pewaris tetap dari Andilosh. Maka dengan itu, kau bisa mengendalikan Estion dan meminta bantuannya, kapan pun di saat kau dalam keadaan terdesak.”
“Tetapi, Yang Mulia.” Findarel membuat jeda. “Membuka pintu dunia roh akan menguras energi yang besar, itu berbahaya, bahkan oleh ahli sihir terkuat sekalipun!”
“Aku harus melakukannya,” ujar Titelénta. “Sejak dulu, nymph dipercaya sebagai wali, apabila pewaris sebelumnya dari bandul para pejuang elianon belum mewariskan kepada pewaris sesudahnya, maka kamilah yang akan melakukannya. Melakukan ur’aravel ilfin.”
“Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi padamu, Yang Mulia,” kata Findarel, resah.
“Itu adalah risiko yang harus kulakukan.” Titelénta mengatakan hal itu penuh tekad. “Nah, keluarkanlah bandul Estion milikmu dan simpan di atas telapak tanganmu, Findarel.”
Findarel mengikuti perintah Titelénta, ia melepaskan rantai bandul dari lehernya dan meletakkannya di atas telapak tangan. Titelénta memejamkan mata sembari menghirup napas dalam-dalam, Kedua tangannya masuk ke dalam air, tak lama berselang, pusaran air kecil berputar dengan sendirinya di tempat di mana tangan Titelénta terendam.
Estion bereaksi, garis-garis di bandulnya bergerak, dan mulai berpendar.
Seperti kabut, asap putih tebal meluncur keluar dari bandul dengan cepat dan menciptakan sebentuk sosok. Estion muncul kembali.
“Achela, Estion,” sapa Titelénta, agak terengah-engah.
“Achela, nymphala (nymph),” balas Estion.
Dalam bahasa elf, Titelénta membuka pembicaraan resmi dengan Estion, “Kau telah mengetahui, bahwa dia adalah pewaris setelah Elverel, ayahnya, di mana itu berarti dia adalah pewaris baru dan kau adalah pelindungnya.
“Maka sejak saat ini, kuresmikan kau sebagai pelindung bagi Findarel Éldërhel, kau terikat padanya begitu pun dengan dirinya, hingga saatnya ia melepaskan hak kewarisannya kepada seseorang yang ia anggap sebagai pewaris selanjutnya.”
“Aku mengerti.” Estion menatap ke arah Findarel dan tersenyum.
“Findarel namaku, senang berjumpa denganmu, Estion,” sapa Findarel, kikuk.
“Begitu pun diriku, fir Andilosh,” balas Estion, lembut. “Aku telah meleburkan kesetiaanku kepadamu saat kita berjumpa untuk pertama kalinya.”
“Dan kau tahu apa kewajibanmu, Estion?” tanya Titelénta.
Estion mengangguk. “Aku adalah milikmu sepenuhnya, Findarel putra Elverel. Maka jangan sungkan memanggilku jika bahaya menyulitkanmu,” jawabnya.
“Semoga kedamaian juga keselamatan senantiasa menaungi ikatan kalian. Et uruta taur-di, ef ratra Fiamäl das Avinlár (Tugasku selesai sebagai wali, atas berkat Fiamäl dan Avinlár),” kata Titelénta, mengakhiri proses ur’aravel irfin.
“Alhavel daith therre uil-gwennath ef-tarsin (Atas nama mereka sumpahku terikat),” ucap Estion. Ia pun menyentuh ujung dagu Findarel—meski Findarel tidak bisa merasakan sentuhannya—seolah bocah itu adalah putra kesayangannya, lalu sosoknya pun menghilang seiring sapuan kabut kembali ke dalam bandul.
“Selesai,” gumam Titelénta, lega. Ia tersenyum, tampak puas dengan pekerjaannya. “Tetapi, ingat satu hal Findarel. Estion bukanlah budakmu, dan ia bukan pula roh yang bisa kau gunakan kekuatannya semena-mena. Estion memiliki kekuatan yang besar, bahkan bisa membunuhmu.
“Oleh karena itu, untuk menyeimbangkan kekuatanmu dan kekuatannya, kau harus belajar memasuki dunia roh. Lepaskan semua hal yang berbau dunia, maka kau bisa menemui Estion di dunia alam bawah sadarmu. Kau harus membangun persahabatan dengannya. Jadikanlah Estion sebagai bagian dari dirimu, karena sesungguhnya, ia telah meleburkan dirinya kepadamu. Seiring waktu, Elianon … kau akan bisa melakukannya.”
Findarel membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih, Yang Mulia,” katanya, santun. “Aku berjanji, takkan menggunakan Estion semena-mena. Di saat kekuatan hitam menyelimuti, barulah aku akan memanggilnya. Di saat bahaya menebarkan teror, barulah aku akan meminta bantuannya. Dan saat kedamaian tiba nanti, akan kugunakan Estion demi kebaikan semua.”
“Itu adalah janji yang sangat mulia. Dan aku pun berterima kasih atas kebaikan juga kearifan bangsa kalian, untuk menyucikan kembali batu Ratera.” Titelénta memberikan senyum. “Nah, sebaiknya kita menikmati penganan, apa kau keberatan ikut denganku?”
“Aku sama sekali tidak keberatan, Yang Mulia.”
“Baguslah, ayo kita pergi.”
Namun, mendadak Titelénta tidak bisa mempertahankan tubuhnya, ia oleng dan terjatuh ke dalam air. Seiring kesadarannya menyusut, Titelénta masih bisa mendengar gaung jeritan Findarel yang memanggil namanya.