Takdir Purba

BATARA GIRI

Tubuh andesit Menhir adalah rekaman diam dari ribuan proses matahari yang terbit dan tenggelam, menyerap sari-sari energi dari inti bumi dan menyimpannya dalam lapisan mineral yang padat. Manusia modern menyebut Menhir sebagai sebuah monumen batu dari masa megalitikum, tetapi sejatinya Menhir adalah antena purba yang menunggu daya listrik dari kesadaran manusia yang tepat agar bisa berfungsi kembali.

Batara Giri adalah manusia pertama yang terhubung langsung dengan Menhir.

Di masa ketika waktu belum diukur dengan angka, dan matahari hanya ditandai dengan perubahan bayangan di atas lumut, Cipari adalah sebuah hamparan belantara yang angker sekaligus sakral. Hutan itu tumbuh tepat di pangkuan Gunung Ciremai, sebuah gunung yang oleh penduduk purba diyakini sebagai rahim bagi segala jenis batuan dan air. Di sanalah, di antara pepohonan raksasa yang tajuknya menutupi langit, Giri dilahirkan.

Kelahiran Giri tidak ditandai dengan tangisan yang memecah kesunyian hutan. Saat ia keluar dari rahim ibunya, bayi itu hanya diam. Matanya yang jernih langsung menatap sebongkah batu andesit yang menjadi alas tidur ibunya.

Orang-orang di kelompoknya merasa cemas; seorang bayi yang tidak menangis dianggap sebagai pertanda buruk. Namun, seorang tetua adat melihat sesuatu yang lain. Mata tuanya melihat tangan kecil Giri meraba permukaan batu yang kasar itu dengan gerakan yang lembut, seolah-olah ia sedang mengenali seorang kawan lama yang telah menunggunya selama ribuan tahun.

Giri lahir dari seorang perempuan suci pelayan Gunung Ciremai bernama Watu yang menikah dengan Batara Kersa. Hanya beberapa saat setelah kelahiran Giri, Watu meninggal dunia. Jiwanya diserap oleh batu yang menjadi alas tidurnya. Simpul takdir antara Giri dan batu andesit tunggal itu pun dimulai.

Giri tumbuh berbeda. Di saat anak-anak seusianya belajar menggunakan tombak kayu untuk memburu kelinci, Giri lebih suka menghabiskan waktu di di kaki bukit, duduk bersila di depan batu andesit yang aromanya sudah dia kenali sejak detik pertama dia dilahirkan. Batu yang menyimpan jiwa Watu. 

Bagi penduduk Cipari saat itu, batu adalah benda mati. Paling-paling hanya berguna untuk menghancurkan cangkang kacang atau dijadikan perapian. Namun bagi Giri, batu adalah entitas yang bernapas dalam frekuensi yang dengan dirinya.   

Memasuki usia remaja, Giri mulai memahami bahwa dunia ini tersusun dari berbagai macam suara. Ada suara angin yang cerewet, suara air yang selalu terburu-buru, dan suara api yang penuh amarah. Namun, di bawah semua kegaduhan itu, ada suara yang paling mendasar: suara diamnya batu.

Kemampuan dan pemahaman Giri tentang batu mulai terbukti ketika kelompok mereka membutuhkan alat-alat baru. Giri tidak memukul batu dengan serampangan. Ia akan memegang sebuah batu kali, menutup matanya, dan mulai mengetuk-ngetuk permukaannya dengan jemari.

Giri mengulik tentang serat, sebuah konsep yang tidak dipahami oleh orang lain. Bahwa, setiap batu memiliki alur batinnya sendiri. Jika dipukul di titik yang salah, batu itu akan hancur menjadi debu yang tak berguna. Namun, jika dipukul di titik yang tepat, batu itu akan terbuka, menyajikan bentuk yang indah dan fungsional.

Giri meyakini bahwa batu adalah guru kesabaran. Batu tidak bisa dipaksa. Kita harus mencintai seratnya sebelum bisa mengubah bentuknya.

Setiap hari, Giri berlatih menyelaraskan seluruh sel di tubuhnya dengan frekuensi batu. Detak jantung Giri perlahan melambat, menyesuaikan diri dengan denyut energi yang merambat dari inti bumi.

Peran besar Giri sebagai pemahat dimulai ketika suatu malam dia mendengarkan “panggilan” yang sangat dalam dari arah bukit tertinggi di pemukiman mereka. Itu bukanlah suara manusia, bukan pula suara hewan buas. Itu adalah getaran frekuensi rendah yang membuat dadanya sesak. Giri mendaki bukit itu dalam kegelapan, hanya dipandu oleh naluri sensorisnya yang sudah terasah tajam.

Di puncak bukit, tempat dulu dia dilahirkan, Giri menemukan andesit besar tempat jiwa Watu bersemayam. Sebagian dari tubuh batu itu kini sudah tertimbun tanah. Permukaan yang tidak tidak tertimbun tanah dipenuhi lumut.

Saat telapak tangan Giri menyentuh permukaan batu itu, dia merasa bagaikan sedang menyentuh jantung dunia sendiri. Giri melihat masa depan yang tidak pernah ada dalam bayangannya. Ribuan tahun ke depan, ribuan wajah manusia yang silih berganti berdiri di depan batu ini, ribuan tangisan dan tawa yang akan terekam dalam mineralnya.

Sejak itu, setiap pagi sebelum memulai hari, Giri akan datang mengunjungi batu yang akhirnya dia beri nama Watu. Sesuai dengan nama ibunya yang dia dengar langsung dari Batara Kersa.

 “Kau adalah saksi,” bisik Giri pada Watu. “Kau adalah ingatan yang tak pernah tidur.”

Giri memutuskan untuk membangunkan Watu. Dia ingin Watu berdiri tegak, menantang langit, dan menjadi antena yang menghubungkan manusia dengan kekuatan Gunung Ciremai.

Giri mendatangi Batara Kersa. Manusia suci yang darahnya mengalir dalam tubuh Giri. Batara Kersa adalah pemimpin tertinggi kelompok mereka yang hidup di Cipari. Giri meminta petunjuk sekaligus restu agar dirinya bisa memindahkan Watu ke tempat yang tertinggi di pemukiman mereka.

“Jangan kau paksa,” Batara Kersa memberikan nasihat. “Watu menyimpan jiwa perempuan yang melahirkanmu. Kau harus membuat energi dan pikiranmu sama dengannya.” 

Sesuai petunjuk Batara Kersa, selama empat puluh hari empat puluh malam, Giri tidak makan dan tidak minum. Dia duduk bersila di depan batu besar itu, melakukan apa yang dia sebut sebagai “penyesuaian frekuensi”.

Di hari ke empat puluh satu, tanah di bawah tempat duduk Giri bergetar hebat. Sebuah retakan mengangkat sebagian tubuh Watu yang selama ini terbenam dalam tanah.

Watu terangkat sepenuhnya.

Giri mulai membersihkan bagian bawah Watu yang penuh lumut. Mengusap sekeliling Watu dan mendengarkan suara serat demi serat. Perlahan Giri memahat beberapa bagian tubuh Watu dengan ritme yang sangat teratur. Tiap dentuman palu batunya—tuk ... tuk ... tuk...—diselaraskan dengan napasnya. Lambat, berulang, dan penuh kesabaran. Setiap serpihan kecil yang jatuh adalah bentuk pelepasan beban dari masa lalu batu tersebut.

Masyarakat Cipari mulai berkumpul di sekelilingnya. Mereka melihat Giri bukan lagi sebagai pemahat biasa, melainkan sebagai penghubung dengan kekuatan gaib. Mereka terpesona melihat bagaimana Giri bisa bekerja berjam-jam tanpa lelah, seolah-olah energinya tidak berasal dari makanan, melainkan langsung diserap dari panas matahari dan dinginnya tanah melalui pori-pori kulitnya.

Pada hari keempat puluh lima, saat matahari tepat berada di puncak kepala, Giri berdiri. Ia menaruh tangannya di sisi batu andesit raksasa itu. “Berdirilah,” perintahnya dalam hati.

Dengan dorongan yang tampak mustahil bagi kekuatan fisik manusia biasa, Watu perlahan-lahan mulai miring, lalu tegak berdiri di lubang yang telah disiapkan Giri. Seluruh penduduk Cipari bersorak, tetapi Giri hanya terdiam, napasnya tersengal, matanya berkaca-kaca. Ia telah berhasil menegakkan pasak bumi pertama di tanah kelahirannya.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!