Takdir Purba
PERBEDAAN IBU DAN GALUH
Setelah Watu berdiri dengan megah, Giri tidak berhenti di situ. Dia mulai menyusun lingkaran batu yang berjarak tepat lima langkah dari pusat Watu. Giri menghitung jarak tersebut dengan langkah kakinya sendiri, langkah yang dia yakini sebagai ukuran keselarasan manusia dengan bumi.
Sejak hari itu, ditandai dengan berdirinya Watu, melalui restu Batara Kersa dan semesta, lahirlah Batara Giri. Sang penerus Batara Kersa sekaligus penjaga keseimbangan di kaki Gunung Ciremai.
Batara Giri menciptakan sebuah ruang diskusi purba. Di bawah naungan Watu, masyarakat Cipari mulai menyelesaikan sengketa lahan, merencanakan musim tanam, dan merayakan kelahiran serta kematian. Watu menjadi pusat gravitasi sosial. Batara Giri mengubah bongkahan andesit menjadi sebuah arsip hidup.
Setiap malam, Batara Giri sering terlihat duduk sendirian di samping Watu. Berbicara dengan Watu seperti seorang anak yang sedang mengadu kepada ibunya. Dan Watu akan menjawab melalui getaran di ulu hati Batara Giri, menceritakan tentang hujan yang membawa berkah atau musim kemarau yang panjang, kapan waktunya berburu makanan atau kapan waktunya diam tanpa kegiatan. Ucapan Giri mulai menjadi keputusan bagi kelompoknya.
Kedudukan Giri sebagai Batara makin kuat ketika Sora—perempuan yang menjadi pendampingnya—melahirkan lima belas anak yang seluruhnya adalah laki-laki. Kelompoknya memiliki penerus dalam jumlah banyak sekaligus mengaliri darah Batara.
Tahun-tahun berlalu, usia mulai menggerogoti raga Batara Giri. Namun, kekuatan batinnya justru semakin tajam. Ketika masanya akan segera berakhir, Giri melihat orang-orang mulai menemukan cara-cara baru untuk bertahan hidup—cara-cara yang menjauhkan mereka dari kedekatan dengan batu.
***
“Bapak sudah bicara dengan Galuh?” Ibu langsung bertanya tepat ketika Bapak baru saja menutup pintu kamar di belakangnya.
“Sudah.”
“Dia tetap dengan keputusannya?”
“Bu, Galuh sudah dewasa. Dia punya hak untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri.”
“Bapak sejak dulu selalu saja begitu. Lihat, anak gadis Bapak sekarang jauh lebih jago membantah omongan kita.”
Bapak mendekat ke arah Ibu yang sedang duduk di bibir ranjang. Pelan, diusapnya kepala Ibu, mencoba memberikan ketenangan.
“Bapak paham apa yang jadi pikiran dan kekhawatiran Ibu. Tapi, mari kita beri kesempatan kepada Galuh untuk menemukan jalannya. Sejauh ini, kita sudah berhasil mendidik Galuh dengan baik. Kenapa sekarang Ibu malah bersikap seperti ini?”
Ibu diam. Kesepuluh jari tangannya saling berpilin di pangkuan. Kadang saling meremas.
Bapak melepaskan tangannya dari kepala Ibu. Tangan itu kini menggenggam jemari Ibu.
“Bapak nggak bakalan ngerti perasaan Ibu.” Ada isak yang terselip dalam suara Ibu.
“Bagian mana yang Bapak nggak ngerti?”
“Umur Galuh itu sudah nggak muda lagi, Pak. Ibu capek dengerin omongan saudara-saudara kita yang selalu menanyakan kapan Galuh menikah. Kita punya anak cuma satu, Pak. Umur Galuh juga bukan nambah muda. Boro-boro nikah, pacar aja dia nggak punya. Ibu sudah kebelet pengin punya cucu. Apa yang kurang dari anak kita, sampai nggak ada laki-laki yang mendekatinya. Kemarin-kemarin Ibu masih bisa membela Galuh dengan alasan dia mengejar kariernya. Sekarang? Ibu mau jawab apa? Lambat laun juga orang-orang akan tahu kalau Galuh sudah tidak bekerja. Apalagi saudara-saudara kita.”
“Bu, urusan jodoh bukan kewenangan kita. Jodo pati bagja cilaka mah urusan Gusti. Piraku harus Bapak jelasin lagi? Ada satu masalah yang ganggu pikiran Bapak dibanding urusan jodoh.”
“Nggak ada masalah yang lebih penting dari jodoh sama pekerjaan Galuh.”
“Galuh bilang, waktu dia di Kalimantan dua tahun lalu, dia mimpi didatangi Abah. Kata Galuh, Abah nyuruh dia pulang ke rumah Abah. Bapak jadi kepikiran. Jangan-jangan mimpi Galuh itu waktunya pas banget sama rumah Abah yang sedang dirobohkan. Abah datang sebagai peringatan.”
“Pak, dari dulu juga Ibu udah wanti-wanti, rumah Abah jangan dijual. Kita mah orang Cipari, pantang ngajual imah kolot. Pamali. Matak pareumeun obor. Buktinya, sekarang kejadian kan? Keluarga Bapak beneran paremeun obor.”
“Ibu tahu sendiri, Bapak mah nggak pernah setuju rumah itu dijual. Tapi Bapak bisa apa? Semua ahli waris setuju. Kecuali Bapak. Proses jual belinya aja Bapak nggak tahu. Tiba-tiba ditelepon dan dikasih tahu tentang pembagian uang hasil penjualan. Untung Bapak nggak terima seperak pun. Kalau Bapak terima, mungkin nasib Bapak sama aja kayak saudara yang lain. Nggak berkah.”
“Terus, kenapa mimpi Galuh mengganggu pikiran Bapak?”
“Sejak rumah dijual sepuluh tahun lalu, Galuh tidak pernah ziarah ke makam Abah. Padahal, dia selalu menyempatkan datang ke makam Aki. Kalau lebaran pun, dia pulang ke Cipari hanya sebentar. Kita masih di sana, dia pulang duluan. Bapak tahu, Galuh marah. Dia punya banyak kenangan di rumah Abah. Mungkin, Abah memang ingin Galuh pulang.”
“Mau apa Galuh di Cipari? Dagang nggak bisa. Nyawah nggak bisa. Pelihara sapi apalagi. Jadi pegawai biasa mana mungkin dia mau. Galuh nggak bisa hidup di Cipari.”
“Tapi getihna getih Cipari. Ibu turunan pedagang tapi nggak bisa dagang. Ibu juga nggak nyawah atau pelihara sapi. Kalau Bapak memang dari Pakuwon. Trahnya para kuwu. Hehehe.”
“Ah Bapak juga nggak jadi kuwu atau pejabat.”
“Namanya juga garis tangan, Bu. Nasib orang beda-beda. Tadi juga Galuh bilang, besok dia mau ke Cipari. Bapak nggak nanya mau apa. Biarkan aja dia mencari jawaban.”
“Bapak kasih izin?”
“Memangnya kita bisa melarang? Sudah, Bu. Jangan adu urat terus. Nanti Galuh malah makin jauh dari kita.”
“Sejak dulu, Ibu tidak pernah bisa memahami jalan pikiran anak kita.”
“Galuh dan Ibu itu sama. Bapak yang pusing.”
“Maksud Bapak apa?”
“Sudah waktunya makan malam. Bapak lapar.”
Bapak ke luar kamar, menghindari pertengkaran dengan Ibu. Dua perempuan yang keras kepalanya setara itu memang sulit sekali ditaklukkan. Bapak beranjak kembali menuju ruang baca. Pikirannya penuh dengan berbagai dugaan kenapa Abah datang di mimpi Galuh. Penyesalan campur aduk dengan perasaan berdosa kembali merayapi tiap sudut hati Bapak.
Surat wasiat yang ditulis oleh Abah melintas di kepalanya. Jelas tertulis pesan Abah, jangan pernah menjual rumah Abah. Siapa pun yang berani menjual, hidupnya tidak akan berkah.
Abah memiliki delapan orang anak. Nomor satu dan nomor delapan sudah meninggal lebih dulu. Tersisa enam bersaudara. Ide untuk menjual rumah datang dari anak nomor dua dan nomor tiga. Sebagai anak nomor lima, Bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu pula anak nomor empat, nomor enam, dan nomor tujuh. Semuanya kalah dengan dua kakak tertua mereka. Tidak sampai lima tahun setelah Emak meninggal, rumah Abah sudah terjual.
Berbeda dengan cucu Abah yang lain, Galuh memiliki kedekatan emosional dengan rumah tersebut. Galuh kecil pernah menghabiskan masa anak-anak sampai remajanya bersama Abah di Cipari. Kebetulan saat itu ibunya Galuh sedang menempuh pendidikan S-2 dan S-3 di Australia. Bapak juga sebagai pegawai negeri di Departemen Kehutanan, sedang sibuk mutasi sana sini. Solusi terbaiknya, Galuh tumbuh di bawah asuhan Abah dan Emak.
***