Takdir Purba

Malam Pertama

Suara-suara itu seketika diam saat Sundari masuk ke dapur dan memeriksa masakan yang sudah siap untuk dihidangkan.

Lepas Dzuhur, beberapa tetangga dan tamu yang diundang mulai berdatangan. Ada sekitar lima puluh orang yang sudah duduk bersila di ruang tamu rumah Sundari. Meski Bagja tidak memberikan undangan secara resmi, tetap saja banyak warga yang ingin datang. Nama keluarga Adrafi dan Atmaja sangat sulit dipisahkan dari kedekatan dengan warga. Kedua nama itu merupakan tokoh yang disegani di Cipari. 

Tidak ada tarub yang dipasang. Untungnya, ruang tamu Sundari cukup untuk menampung seluruh tamu yang datang. Mereka menikmati hidangan, membahas kondisi Cipari pasca adanya serbuan dari warga Winduherang yang disusul dengan longsor di Munjul Nini, berbagi cerita terutama sepak terjang Sukma Atmaja dan keberhasilan Bagja yang kini menjadi menantunya, mengucapkan selamat kepada pengantin, tak lupa melontarkan berbagai pertanyaan bagaimana Bagja bisa menikah dengan Galuh.

Beberapa pemuda tak dapat menyembunyikan perasaan cemburu dan iri kepada Bagja. Sudah menjadi rahasia umum kalau banyak perempuan lajang di Cipari yang berharap bisa menjadi istri Bagja. Memperkecil peluang para pemuda mendapatkan pasangan sesuai kriteria idaman mereka.

Lalu, tak ada angin tak ada hujan, tak ada pertanda apa-apa tiba-tiba saja Bagja menikahi Galuh. Perempuan dengan spek yang sangat jauh di atas rata-rata perempuan lajang di Cipari. Cantik, mandiri, berpendidikan tinggi, memiliki karir mentereng (setidaknya begitu yang dilihat dan didengar orang-orang di Cipari), juga berasal dari salah satu keluarga terpandang yang dihormati warga.

Bagja yang mapan dan rupawan, bersanding dengan Galuh yang cantik, membuat keduanya menjadi pasangan serasi dari semua sisi. Setidaknya, begitulah pandangan warga yang mengetahui pernikahan Bagja dan Galuh. Hanya segelintir orang tua yang merupakan sesepuh di Cipari yang tahu betapa berat beban yang ada di pundak pasangan pengantin baru tersebut.  

***

Malam pertamanya sebagai istri dijalani Galuh dengan suasana yang jauh dari kata romantis. Langit Cipari benar-benar gelap, tertutup awan mendung yang tebal, seolah-olah alam sedang berkabung atau mungkin sedang bersiap untuk sebuah badai. Listrik tiba-tiba saja padam, kamar Bagja yang kini menjadi kamar mereka berdua, hanya diterangi oleh nyala lilin yang menari-nari ditiup angin yang menyelinap lewat celah ventilasi.

Bagja duduk di pinggir tempat tidur. Ia sudah berganti pakaian mengenakan kaos putih polos dan celana pendek. Sementara Galuh yang sudah memakai daster rumahan kesayangannya, berdiri di pojok ruangan.

"Galuh," panggil Bagja pelan.

Galuh menoleh. Di bawah temaram cahaya lilin, siluet wajah Bagja tampak lebih menawan.

"Aku tahu ini bukan pernikahan yang kamu impikan. Aku juga tahu kamu masih belum menyerah pada keadaan," Bagja berhenti sejenak, menatap bayangannya di dinding. "Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak akan memaksamu menjadi apa yang tidak kamu inginkan. Kita harus mulai terbuka dan bicara apa pun yang kita rasakan."

"Apa yang tadi Aa rasakan saat mengucapkan ijab? Jangan bilang kalau Aa nggak merasakan apa-apa." Galuh mengalihkan pembicaraan.

Bagja terdiam cukup lama. Ia menatap telapak tangannya sendiri, tangan kanan yang tadi menggenggam tangan Bapak. "Aku merasa seperti ada sesuatu yang ditarik dari dalam sini,” Bagja menunjuk dadanya. “Seperti aku baru saja menandatangani kontrak dengan sesuatu yang… ah aku nggak tahu bagaimana menyebutnya. Aku merasa, perjanjianku bukan cuma dengan Bapak, tapi dengan leluhur kita. Mungkin, malah jauh lebih tua dari leluhur kita. Seolah-olah ada sesuatu yang baru saja... bangun. Baru saja bergerak."

"Aku juga A. Aku merasakannya. Seperti ada yang memanggilku. Menurut Aa, apa kejadian yang diramalkan itu sudah mulai terjadi? Apa Batara Giri atau leluhur lainya sudah memanggil kita?"

“Nggak tahu. Aa nggak bisa menebak-nebak. Kita juga tidak diberi tahu pertanda seperti apa yang akan muncul. Sudah, nggak usah jadi pikiran. Lebih baik kita istirahat.”

Galuh mengangguk pelan, tetapi tubuhnya tetap tidak bergerak. Ia masih berdiri di pojok ruangan seperti orang asing yang tersesat di rumah orang lain. Hening menggantung di antara mereka. Dari luar terdengar suara jangkrik yang bersahut-sahutan dan sesekali suara anjing menggonggong dari arah ujung kampung.

Bagja menggeser tubuhnya sedikit ke tengah tempat tidur.

"Kalau kamu nggak nyaman tidur satu ranjang, Aa bisa tidur di bawah."

Galuh langsung menggeleng cepat.

"Nggak usah. Ini juga rumah Aa. Maksudku… sekarang rumah kita." Kalimat terakhir itu terdengar canggung keluar dari mulut Galuh.

Bagja tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat Galuh semakin gugup.

"Kamu lapar?" tanya Bagja.

"Sedikit. Tapi lebih capek daripada lapar."

"Sama. Rasanya hari ini panjang banget."

Bagja berdiri lalu mengambil termos berisi air hangat dan dua gelas enamel yang tadi dibawakan Sundari sebelum mereka masuk kamar. Ia menyeduh teh tawar hangat.

"Minum dulu. Dari tadi kamu belum banyak minum," ujar Bagja sambil menyerahkan gelas.

Jemari mereka bersentuhan sesaat. Aneh. Galuh merasakan getaran halus yang langsung menjalar sampai ke dadanya. Bukan getaran seperti ketika menyentuh Menhir. Tidak sedahsyat itu. Namun cukup membuat napasnya tercekat sepersekian detik.

Bagja tampaknya juga merasakan hal yang sama karena laki-laki itu sedikit menegang.

"Aa ngerasain?" bisik Galuh.

Bagja mengangguk pelan. "Iya."

Mereka saling diam lagi.

Galuh menyesap teh hangatnya perlahan. Kehangatan cairan itu membantu menenangkan pikirannya yang sejak pagi seperti dipenuhi ribuan suara. Pernikahan, longsor, demo warga, ramalan, Menhir, semua bercampur menjadi satu.

"Aa takut nggak?" tanya Galuh tiba-tiba.

"Takut soal apa?"

"Soal semua ini."

Bagja tertawa kecil tanpa suara.

"Kalau dibilang nggak takut, bohong. Aa takut. Takut banget malah. Tapi hidup Aa dari dulu juga nggak pernah benar-benar tenang. Setelah Bapak meninggal, Aa pikir masalah terbesar dalam hidup cuma soal mempertahankan kandang sapi. Ternyata setelah itu datang Covid. Datang PMK. Datang masalah limbah. Datang longsor. Sekarang datang kamu."

Galuh memicingkan mata.

"Aku masalah?"

"Masalah terbesar." Bagja tersenyum menggoda.

Galuh spontan mengambil bantal kecil lalu melemparkannya ke arah Bagja.

"A!"

Bagja menangkap bantal itu sambil tertawa pelan. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka berlangsung, suasana di antara keduanya sedikit mencair.

"Tapi serius, Galuh. Kehadiran kamu justru bikin Aa merasa lebih tenang."

Galuh terdiam. Kalimat itu sederhana. Tidak terdengar seperti rayuan murahan. Justru karena terlalu sederhana, kalimat itu terasa jauh lebih tulus.

Angin malam kembali berembus dari ventilasi. Nyala lilin bergoyang liar. Bayangan tubuh mereka bergerak-gerak di dinding kamar.

Tiba-tiba suara kentongan terdengar dari kejauhan.

Tong! Tong! Tong! Tiga kali. Bagja langsung menoleh ke arah jendela.

"Itu kentongan ronda?" tanya Galuh.

Bagja mengerutkan kening.

"Bukan."

"Maksudnya?" 

"Kentongan ronda nggak pakai pola seperti itu."***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!